Leonardo De Luca adalah penguasa Madrid yang memiliki segalanya, kecuali masa depan. Di balik kemegahan tahtanya, ia menyimpan rahasia kelam tentang infertilitas yang membuatnya merasa seperti tanah gersang tanpa harapan akan pewaris. Baginya, garis keturunan De Luca telah menemui jalan buntu.
Hingga ia bertemu Olivia, seorang gadis penjual bunga yang hidup di antara harum kelopak dan ketabahan akar. Di mata Olivia, Leonardo bukanlah singa yang menakutkan, melainkan jiwa yang haus akan kehidupan. Pertemuan ini adalah awal dari sebuah keajaiban; tentang bagaimana cinta seorang penjual bunga mampu menumbuhkan benih kehidupan di celah batu karang yang paling keras sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan di ambang gerbang
Butuh waktu hampir dua jam bagi Olivia untuk bisa bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya terasa seberat timah, dan setiap langkah menuju kamar mandi terasa seperti perjuangan melawan gravitasi. Leonardo, dengan energi yang seolah tidak habis setelah malam yang panjang, membantunya mandi dengan ketelitian yang posesif—memastikan airnya tidak terlalu panas dan handuknya membungkus tubuh istrinya dengan rapat.
Saat Olivia akhirnya turun ke ruang makan utama, ia mengenakan gaun kasmir panjang berkerah tinggi. Ia harus menutupi jejak-jejak kemerahan yang ditinggalkan Leonardo di leher dan bahunya. Begitu ia melangkah masuk, Donna Isabella, Margaret, dan Arthur sudah duduk mengelilingi meja besar yang dipenuhi hidangan sarapan mewah.
"Olivia! Akhirnya kau turun, Nak," seru Margaret, bangkit untuk memeluk putrinya. Namun, langkah Margaret terhenti sejenak saat melihat cara Olivia berjalan yang sedikit kaku dan wajahnya yang pucat namun merona.
Sebagai seorang ibu, Margaret segera menangkap sinyal itu. Ia melirik Leonardo yang berjalan tepat di belakang Olivia, tangannya tidak pernah lepas dari pinggang istrinya, seolah-olah Olivia akan jatuh jika tidak ia pegang. Aura Leonardo pagi itu sangat berbeda; ia tampak seperti singa yang baru saja mengenyangkan perutnya—tenang, namun jauh lebih berbahaya.
"Duduklah, Olivia. Kau tampak sangat lelah," ucap Isabella dengan senyum penuh arti yang membuat Olivia ingin menenggelamkan wajahnya ke dalam sup.
Arthur berdehem, menatap menantunya. "Kami datang untuk berpamitan, Leonardo. Pesawat ke London berangkat tiga jam lagi. Dokter bilang aku sudah cukup kuat untuk pemulihan di rumah, dan kau sudah menyediakan perawat pribadi untuk kami di sana."
"Semua sudah diatur, Sir," jawab Leonardo lugas. Ia menarik kursi untuk Olivia, lalu duduk tepat di sampingnya, sangat dekat hingga bahu mereka bersentuhan. "Mobil baja dan pengawalan akan mengantar kalian sampai ke pintu pesawat. Tim keamananku di London sudah siaga di rumah kalian."
Olivia menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. "Ayah benar-benar harus pulang sekarang?"
"Kami tidak bisa merepotkanmu terus di sini, Nak. Kau sudah punya hidup baru. Tugasmu sekarang adalah mengurus suamimu," Arthur tersenyum, meski matanya menunjukkan sedikit kekhawatiran melihat betapa posesifnya Leonardo mencengkeram tangan Olivia di bawah meja.
Setelah sarapan yang singkat dan penuh tekanan itu, mereka semua berjalan menuju pelataran mansion. Tiga SUV hitam sudah terparkir dengan mesin menyala.
Di ambang pintu mobil, Margaret membisikkan sesuatu ke telinga Olivia saat mereka berpelukan. "Dia pria yang sangat kuat, Olivia. Ibu bisa melihat kau hampir tidak bisa berdiri. Jaga dirimu baik-baik. Jangan biarkan dia menelanmu sepenuhnya."
Olivia hanya bisa mengangguk lemah. Ia melihat ayahnya menjabat tangan Leonardo untuk terakhir kalinya.
"Jaga putriku, De Luca. Jika aku mendengar dia menangis karena perbuatanmu, aku tidak peduli seberapa kuat kau di Madrid, aku akan datang menjemputnya," ancam Arthur, sebuah keberanian pria tua yang membuat Leonardo tertegun sejenak sebelum mengangguk hormat.
"Itu tidak akan terjadi, Sir," balas Leonardo dingin namun tulus.
Mobil pun melaju meninggalkan mansion. Olivia berdiri mematung menatap gerbang raksasa yang tertutup rapat, merasa separuh nyawanya ikut pergi ke Inggris. Ia merasa kesepian di tengah kemewahan ini.
Tiba-tiba, ia merasakan lengan kekar melingkar di perutnya dari belakang. Leonardo menyandarkan dagunya di bahu Olivia, menghirup aroma rambut istrinya dengan napas yang berat.
"Mereka sudah pergi," bisik Leonardo. "Sekarang, tidak ada lagi gangguan. Tidak ada lagi tamu. Hanya ada kau dan aku di rumah ini."
"Leonardo, aku ingin ke rumah kaca. Aku butuh bekerja agar tidak sedih," ucap Olivia, mencoba melepaskan diri.
"Tidak," jawab Leonardo singkat. Ia memutar tubuh Olivia hingga mereka berhadapan. "Kau terlalu lemas untuk memegang gunting bunga. Kau akan kembali ke kamar. Kita punya banyak waktu untuk merayakan kesembuhanku tanpa interupsi dari siapa pun."
Olivia menatap mata suaminya dan menyadari bahwa sejak orang tuanya pergi, Leonardo tidak lagi merasa perlu menahan diri di depan siapa pun. Posesifitasnya kini menjadi hukum tertinggi di mansion itu.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...