"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Sedan mewah Rolls-Royce Phantom itu akhirnya berhenti di pelataran valet sebuah pusat perbelanjaan kelas atas di jantung ibu kota.
Mall mewah yang hanya dikunjungi oleh kaum berduit dan sosialita papan atas itu tampak berkilau di bawah siraman lampu kristal.
Mahendra turun terlebih dahulu, lalu dengan jantan mengulurkan tangan kekarnya untuk menyambut Luna.
Genggaman tangan pria berusia setengah abad itu begitu erat dan protektif, seolah enggan membiarkan sepeser pun pandangan pria lain beralih pada istri kecilnya.
Mereka berjalan berdampingan membelah koridor mall, melewati jajaran butik merek internasional yang berkelas.
Langkah tegap Mahendra akhirnya berhenti di depan sebuah butik pakaian dalam dan gaun tidur couture nomor satu di Paris.
Begitu mereka melangkah masuk, para pelayan butik langsung membungkuk hormat, mengenali sosok Mahendra Dirgantara sebagai salah satu pelanggan VIP mereka.
"Selamat malam, Tuan Besar Dirgantara. Ada yang bisa kami bantu?" sapa kepala butik dengan sangat ramah.
"Tinggalkan kami. Aku ingin memilihkan sendiri pakaian untuk istriku," titah Mahendra dengan suara baritonnya yang berat dan penuh otoritas.
"Baik, Tuan. Silakan."
Luna hanya bisa berdiri dengan canggung di samping suaminya.
Alih-alih membiarkan Luna memilih sendiri, Mahendra justru melangkah maju dengan posesif.
Jemari kekarnya bergerak lincah di antara deretan gantungan baju, memilah satu per satu gaun tidur berbahan sutra prancis premium dengan ketelitian seorang penguasa sejati.
Hingga akhirnya, pilihan Mahendra jatuh pada selembar slip dress malam berwarna merah marun gelap dengan potongan dada rendah dan aksen renda hitam transparan di bagian punggungnya.
Kain sutra itu begitu halus, berkilau, namun juga sangat minim.
Mahendra berbalik, lalu menyodorkan gaun tidur itu tepat di depan tubuh Luna.
"Cobalah yang ini, Sayang. Warna ini pasti akan terlihat luar biasa di kulit putihmu."
Luna membelalakkan matanya sempurna. Ia menerima gaun itu dengan jemari yang mendadak gemetar.
Begitu mengangkatnya, kain itu terasa seringan kapas dan sangat menerawang.
"Mas, ini tipis sekali?" cicit Luna dengan wajah yang seketika merona merah padam hingga ke leher. Suaranya berbisik panik, takut terdengar oleh pelayan butik di luar.
"Ini bahkan hampir transparan, Mas. Aku, tidak biasa memakai baju seperti ini."
Mahendra menatap reaksi polos istri kecilnya dengan kilat jenaka sekaligus gairah yang tertahan di sepasang mata tajamnya.
Pria matang itu melangkah maju satu pijakan, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulinnya mengurung indra penciuman Luna.
Merundukkan kepalanya sedikit, Mahendra berbisik rendah tepat di samping telinga Luna dengan nada suara yang begitu seksi dan mengintimidasi.
"Tidak masalah, Sayang. Ini untuk tidur," ucap Mahendra dengan senyuman tipis yang sangat penuh arti di sudut bibirnya.
"Lagi pula, di dalam kamar penthouse kita, hanya ada aku dan kamu. Tidak ada orang lain yang akan melihat seberapa tipis kain ini melekat di tubuh indahmu."
Luna menelan salivanya dengan susah payah, benar-benar mati kutu di bawah tatapan dominan sang suami yang berusia lima puluh tahun namun memiliki energi yang begitu menjebak.
Pipinya kian terasa membara, menyadari bahwa pernikahan beda usia ini perlahan-lahan mulai membawanya masuk ke dalam babak baru penuh keintiman yang mendebarkan di balik pintu kamar yang tertutup rapat.
"Baiklah, aku akan mencobanya," cicit Luna pasrah.
Dengan wajah yang masih merah padam seperti udang rebus, ia meremas gaun tidur sutra merah marun tipis itu dan berbalik dengan cepat.
Luna melangkah terburu-buru masuk ke dalam kamar ganti eksklusif di sudut butik, lalu menutup tirai beludru tebalnya rapat-rapat demi menyembunyikan detak jantungnya yang kian menggila.
Di dalam bilik yang dilapisi cermin besar itu, Luna menatap gaun tidur minim di tangannya dengan napas memburu. Namun, baru saja ia hendak membuka kancing blus kerjanya, keheningan di luar bilik mendadak pecah oleh suara tawa manja yang melengking tinggi.
"Mahendra sayang! Kamu di sini juga? Oh my God, kebetulan sekali!"
Gerakan tangan Luna seketika membeku. Dari balik tirai tebal, ia bisa mendengar dengan sangat jelas kedatangan dua wanita sosialita cantik dari kalangan atas—para wanita yang selama ini dikenal publik sebagai bagian dari barisan pemuja rahasia yang mencintai dan mengincar status Nyonya Besar dari sang konglomerat legendaris.
Mahendra yang sedang berdiri tegap sembari menunggu istrinya hanya menoleh datar.
Wajah matangnya kembali memasang topeng sedingin es yang berwibawa.
Pria paruh baya itu hanya menganggukkan kepalanya sekilas, memberikan respons formal yang sangat dingin tanpa niat untuk mendekat sedikit pun.
Namun, keramahan minimalis dari Mahendra sudah cukup untuk membuat kedua wanita itu kegirangan dan mencoba terus mengambil perhatian sang Titan Bisnis.
Di dalam kamar ganti, Luna yang mendengar interaksi itu seketika menghentikan aktivitasnya.
Ia urung melepas pakaiannya. Sambil memeluk gaun tidur sutra merah di dadanya, Luna mengerucutkan bibirnya dalam-dalam.
Sepasang netra beningnya menatap tajam ke arah tirai dengan gurat kekesalan yang mendadak membakar dadanya.
Ada rasa hangat, perih, sekaligus dongkol yang bergejolak di dalam hati Luna.
"Giliran aku yang dekat-dekat Pak Dika di kantor langsung cemburu buta sampai mengamuk," gumam Luna lirih dengan nada merajuk, menyindir suaminya sendiri di dalam hati.
"Sampai membunyikan klakson dan menjemput tepat waktu. Tapi di luar, dia sendiri malah dikelilingi wanita-wanita cantik seperti ini!"
Luna mendengus pelan, memutar bola matanya dengan kesal.
"Isshh... dasar Don Juan tua!" umpatnya sangat lirih, merutuki karisma luar biasa suaminya yang berusia lima puluh tahun namun masih saja mampu menyedot perhatian wanita kemanapun ia melangkah.
Tanpa sadar, sebiji benih kecemburuan yang pertama kini mulai tumbuh di dada Luna, membuktikan bahwa pesona maskulin Mahendra perlahan tapi pasti telah berhasil menggeser seluruh bayang-bayang masa lalunya.
"Sayang, keluarlah. Aku ingin melihatmu," panggil Mahendra dari luar. Suara baritonnya yang berat terdengar begitu tenang, sengaja dikeraskan agar memotong obrolan tak penting dari dua wanita sosialita yang sejak tadi mencoba merayunya.
Di dalam bilik ganti, Luna menarik napas dalam-dalam. Meski hatinya masih dongkol dan cemburu, ia tidak ingin terlihat lemah.
Luna segera memakai gaun tidurnya dan dengan gerakan anggun, Luna membuka tirai beludru tebal itu dan memperlihatkan dirinya kepada sang suami.
Gaun tidur sutra merah marun itu melekat sempurna di tubuh indah Luna.
Potongannya yang pas membentuk siluet tubuhnya dengan sangat menawan, sementara renda hitam di bagian atas mengintip kontras dengan kulit putih bersihnya.
Luna berdiri tegak dengan tatapan mata yang beralih ketus, sengaja mengabaikan dua wanita di samping suaminya.
Mahendra seketika terpaku. Sepasang mata tajam sang Titan Bisnis menggelap, memancarkan kilat gairah dan kekaguman yang mutlak tanpa bisa ditutupi.
Fisik prima Luna dalam balutan kain tipis pilihannya benar-benar melampaui ekspektasi tertingginya.
Namun, pemandangan indah itu langsung dirusak oleh jeritan tidak terima dari salah satu wanita sosialita di sana.
"Dia siapa, Mahendra?!" tanya wanita itu.
Ia menatap wajah Luna dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan penuh penghinaan dan rasa iri yang membakar.
Mahendra langsung mengalihkan pandangannya. Topeng sedingin es kembali terpasang di wajah matangnya saat ia merangkul posesif pinggang Luna, menarik tubuh istrinya agar merapat pada dada bidangnya.
"Perkenalkan, dia istriku. Nyonya Luna Anastasya Dirgantara," ucap Mahendra.
"APA?! TIDAK MUNGKIN!!" pekik kedua wanita itu berbarengan.
Wajah mereka seketika pucat pasi laksana ditampar kenyataan pahit.
Mereka tidak percaya bahwa Don Juan legendaris yang selama ini menutup hati, justru menjatuhkan pilihan pada gadis muda yang asing di lingkaran sosialita mereka.
Luna yang merasa risih dan tidak nyaman dilihat seperti seonggok daging pameran oleh kedua wanita itu langsung melepaskan rangkulan Mahendra.
Dengan gerakan cepat, ia kembali masuk ke dalam ruang ganti dan menutup tirai.
Di dalam bilik, dengan hati yang masih kesal karena drama para pemuja suaminya, Luna segera melepaskan gaun tidur tipis itu dan kembali mengenakan pakaian kerjanya.
Setelah selesai, ia keluar dari bilik ganti dan langsung menyodorkan gaun tidur sutra tersebut tepat ke hadapan suaminya.
Mahendra menerima kain sutra itu, lalu menatap wajah ketus Luna yang mengerucutkan bibirnya dalam-dalam.
Bukannya marah, senyuman miring yang sangat seksi justru terbit di sudut bibir tegas pria berusia 50 tahun itu.
"Sepertinya, istri kecilku sedang cemburu, hm?" goda Mahendra dengan kekehan rendah yang menggetarkan dadanya.
Luna hanya mendengus pelan dan membuang muka, enggan menjawab.
Melihat tingkah menggemaskan istrinya, Mahendra langsung berbalik dan memanggil kepala butik dengan lambaian tangan yang elegan.
"Bungkus gaun tidur ini. Tambahkan juga tiga setel pakaian kerja terbaru, tas kulit, dan sepatu hak tinggi ukuran istriku. Masukkan semuanya ke dalam tagihan Black Card-ku," titah Mahendra mutlak, memanjakan Luna tanpa tanggung-tanggung sebagai bentuk permohonan maaf terselubung.
"Baik, Tuan Besar. Segera kami siapkan," sahut pelayan butik dengan anggukan patuh.
Luna yang sudah terlanjur kesal dan merasa lapar setelah seharian menguras energi di kantor audit, tidak berniat menunggu suaminya menyelesaikan pembayaran.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Luna berbalik dan berjalan lebar meninggalkan Mahendra di dalam butik, melangkah menuju ke arah lift untuk mencari food court di lantai atas mall mewah tersebut.
Mahendra yang melihat istrinya berjalan pergi hanya menggelengkan kepala dengan senyuman gemas.
Ia membiarkan Luna berjalan duluan sementara ia menunggu barang belanjaan selesai dikemas oleh pengawal pribadinya.
Sesampainya di area food court yang luas dan dipenuhi aroma menggoda, Luna langsung memesan makanan kenyamanannya yang lain untuk meluapkan kekesalannya.
Ia berjalan ke salah satu kedai, lalu menyebutkan pesanannya kepada pelayan dengan nada ketus yang tertahan.
"Mbak, saya pesan mie goreng Singapore satu porsi, sama es jeruk manisnya satu ya," ucap Luna.
Setelah membayar, Luna membawa nomor mejanya dan duduk di sudut ruangan yang agak sepi, menopang dagunya sembari menunggu pesanan datang—sekaligus menunggu suaminya yang perkasa itu menyusul langkahnya dengan tumpukan barang belanjaan mewah.
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi