Demi memastikan calon tunangan yang akan dijodohkan orang tuanya, Bella terpaksa menyamar bekerja di perusahaan milik Gilang, pria yang dipilih oleh sang papa untuk menjadi suaminya.
Satria Wijaya,, papa Bella adalah seorang pengusaha kaya raya dan Bella adalah anak semata wayang pasangan Satria dan Hani. Bella tentu tidak ingin calon suaminya, bersedia menikah dengannya hanya karena harta dan ia pun ingin memastikan jika pria yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pria setia.
Namun, kesalahpahaman terjadi. Gilang justru menganggap Bella adalah wanita simpanan Satria karena Satria lah yang meminta Gilang untuk mempekerjakan Bella sebagai sekretaris Gilang tanpa melalui proses pengrekrutan karyawan pada umumnya.
Lantas, bagaimana perjalanan kisah mereka selanjutnya? Ikuti saja kisah Bella dan Gilang dalam novel Sekretaris Palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpesona
Ibu Hani mengikuti putrinya yang baru saja tiba setelah melakukan penyamaran di kantor PT. Mahesa Persada. Tak sabar ingin mendengar cerita dari Bella tentang Gilang, calon menantunya.
Dia mengikuti Bella sampai kamar, bahkan tak menunggu Bella membersihkan tubuhnya terlebih dulu setelah seharian beraktivitas di kantor Gilang.
"Bella, gimana calon menantu Mamih itu? Orangnya baik, kan? Kamu suka nggak sama dia?" Sifat alami seorang wanita yang ingin bergosip saat ini melanda Ibu Hani.
Sembari membuka kancing pakaiannya, Bella menatap sang mama. ""Sebaiknya Mamih jangan berharap banyak, deh." Bella berpikir Gilang seorang CEO dingin yang tak melirik pada wanita mana pun. Nyatanya, Gilang terindikasi mulai tertarik kepadanya.
Kalimat yang diucapkan Bela bernada pesimis dan membuat ekspresi bahagia Ibu Hani ingin mengetahui cerita tentang Gilang berubah menjadi meredup.
"Memangnya dia kenapa?" tanya Ibu Hani penasaran.
"Dia nggak sesuai harapan Mamih," jawab Bella
"Tapi, Papih bilang dia orang yang paling tepat untuk kamu, Bel." Saat Bella memutuskan untuk menyamar menjadi sekretaris di kantor Gilang, sejujurnya Ibu Hani berharap, Bella dan Gilang akan benar-benar saling jatuh cinta.
"Papi itu ahli dalam mengurus perusahaan, belum tentu ahli dalam memilih calon menantu," sahut Bella melepas pakaian bagian atasnya membiarkan tubuhnya hanya memakai bra yang belum ia lepas.
"Mamih Tenang aja, deh. kalau memang sudah waktunya, Bella akan pilihkan menantu terbaik untuk Mamih." Bella merangkul pundak ringkih Ibu Hani, mencoba menenangkan hati ibunda tercinta. "Bella mau mandi dulu, Mih. Ngobrolnya nanti disambung lagi kalau Bella udah mandi." Lalu kakinya bergerak menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Sementara Ibu Hani memilih keluar kamar untuk memberi perintah kepada ART agar segera menyiapkan makanan untuk Bella.
***
Pergantian posisi sekretaris di perusahaan Mahesa Persada seketika menjadi buah bibir di kalangan karyawan perusahaan tersebut. Bukan hanya karena terkesan mendadak, bahkan Dita pun baru diberitahu beberapa hari saja sebelum kedatangan Bella. Tapi, karena orang yang kini duduk sebagai sekretaris Gilang adalah orang asing, di luar karyawan perusahaan itu. Padahal, hampir semua karyawan wanita lajang di sana sangat berharap menggantikan posisi Dita.
Bisa selalu dekat dengan bos mereka yang berwajah tampan, tentu saja itu diimpikan setiap karyawan di sana. Bukan hanya yang berstatus single, pria yang sudah berkeluarga pun sangat menginginkannya.
Seperti pagi ini, ketika Bella melangkah masuk ke ruang lobby. Fiska dan rekannya saling berbisik. Apalagi melihat penampilan Bella yang tampak stuning memakai dress warna Baby Blue dengan tas dan sepatu warna serupa. Penampilan Bella sebagai karyawan baru yang berbeda dari karyawan lainnya membuat mereka langsung menyindir Bella.
"Lihat, deh! Mau ke kantor apa mau pergi pesta?"
"Lagaknya udah kayak bos aja!"
Sindiran Fiska dan rekannya tertangkap pendengaran Bella. Namun, Bella mengabaikannya dan tetap melangkah dengan percaya diri menuju lift.
Ketika masuk ke lift dan membalikkan tubuhnya menghadap ke luar lift. tatapannya tajam ke arah Fiska dan rekannya yang masih asyik menggunjingkannya. Mereka benar-benar tak menyadari, jika orang yang digunjingkannya kelak mempunyai pengaruh besar di perusahaan tempat mereka bekerja.
"Silakan terus membicarakanku, aku akan menghitung dosa-dosa kalian!" sudut bibir Bella terangkat tipis dibarengi ancaman kepada orang-orang yang menggunjingkannya.
Bella sudah sampai di meja kerjanya. Tampak bersih dan rapi karena sebelum karyawan tiba di kantor, petugas OB sudah melakukan tugasnya terlebih dahulu.
Bella melihat lampu di ruangan kerja Gilang masih padam. Pegawai office boy belum ada yang berani masuk ke dalam ruangan CEO sebelum sekretaris tiba di kantor. Setelah menaruh tas kerja di mejanya, ia lalu melangkah ke ruangan kerja Gilang untuk menyalakan lampu dan membuka pintu yang masih terkunci, kemudian menghubungi office boy untuk membersihkan dan merapikan ruangan bos sebelum Gilang sampai di kantor.
Lima belas menit setelah Bella sampai di kantor, Jimmy lebih dulu tiba dibandingkan Gilang. Hal yang bisa dimaklumi karena Gilang adalah Bos mereka.
"Selamat pagi, Pak Jimmy." Bella menyapa seraya bangkit dari duduk. Senyumnya mengembang menunjukkan sikap ramah pada salah satu orang penting di perusahaan itu.
"Pagi, Bella." Jimmy memperhatikan penampilan Bella yang tampak anggun dengan dress yang dipakainya. Senyumnya mengembang karena pandangannya dimanja dengan sosok Bella yang terlihat cantik jelita. "Kamu cantik dengan pakaian itu." Selama dia ikut dengan Gilang bekerja di Mahesa Persada, dia jarang melihat sekretaris Gilang, baik Dita maupun sekretaris sebelumnya memakai pakaian seperti Bella. Meskipun tak ada aturan yang mengikat sekretaris untuk memakai seragam kantor, mereka lebih memilih pakaian formal perpaduan setelan rok dan blazer atau blazer dengan celana panjang jika ingin berpakaian bebas.
"Terima kasih atas sanjungannya, Pak." Bela kembali duduk. Sementara Jimmy justru menyandarkan tubuhnya di tepi meja kerja Bella, dengan pandangan mata yang belum lepas menatap wanita itu. "Apa kamu sudah punya pacar atau sudah menikah?" tiba-tiba di Jimmy menanyakan hal yang lebih pribadi pada Bella.
Ting
Suara lift khusus yang biasa dipaki elite perusahaan berbunyi. Gilang keluar dari lift dan melangkah menghampiri Jimmy yang sedang berbicara dengan Bella.
"Jangan tanya urusan pribadi di kantor, Jim!" tegurnya pada Jimmy telah mengabaikan peringatannya kemarin untuk tidak memanfaatkan kesempatan mendekati Bella. Saat ia keluar lift, ia mendengar pertanyaan itu dari mulut Jimmy.
"Selamat pagi, Pak." melihat kedatangan Gilang, Bella kembali bangkit dan menyapa Gilang seperti yang ia lakukan ketika menyapa Jimmy.
Tatapan mata Gilang kini berpindah pada Bella. Tak beda jauh dengan Jimmy, Gilang juga dibuat terkesiap melihat penampilan Bella, terlebih melihat senyuman yang mengembang di bibir wanita itu.
Sementara Jimmy langsung memperbaiki posisinya karena ia yakin Gilang pasti akan menegurnya kembali.
"Ini waktunya kerja, bukan waktunya bergosip apalagi tebar pesona!" Gilang menyindir Jimmy, membuat Jimmy menyeringai.
"Oke, Bos!" Jimmy menyahuti lalu melangkah masuk ke ruangannya.
Gilang kembali menatap Bella yang masih berdiri di balik mejanya.
"Masuklah ke ruangan saya!" perintah Gilang kemudian bergerak ke arah ruangan kerja CEO.
"Baik, Pak." Bella mengikuti langkah Gilang yang masuk ke ruangan, lalu berhenti di depan meja kerja Gilang setelah Gilang duduk di kursi singgasananya.
Netra Gilang kini memperhatikan kembali penampilan Bella dari atas sampai bawah. Dia benar-benar tak mengira Bella akan memakai dress itu untuk bekerja.
"Ada apa, Pak?" tanya Bella, menyadari mata pria dihadapannya seolah sedang menelanj4nginya dengan tatapan lekat.
"Hmmm, apa Dita tidak memberitahu kamu soal pakaian di kantor?" Gilang terkesiap karena terbuai dengan penampilan anggun Bella.
"Mbak Dita bilang berpakaian rapih dan sopan, Pak," jawab Bella seraya mengecek penampilannya sendiri. "Maaf, apa pakaian yang saya pakai kurang sopan, Pak?" tanyanya kemudian.
"Tidak! Bukan itu maksud saya!" sanggah Gilang. "Sial, pakaiannya itu justru bisa membuat banyak pria seperti Jimmy tergoda," gumam Gilang dengan mengusap ujung hidung dengan telunjuknya. Tak menyadari jika dirinya pun terpesona.
"Mbak Dita bilang nggak ada peraturan khusus untuk seragam sekretaris, Pak. Lagi pula saya belum mendapat seragam dari sini." Bella menjelaskan kenapa dirinya tidak memakai seragam kantor.
"Ya, tidak masalah. Tapi, mungkin kamu bisa memakai setelan formal saja, supaya tidak jadi perbincangan karyawan di sini." Gilang menyampaikan keberatan dengan outfit yang dipakai Bella hari ini, yang menurutnya terlalu sempurna untuk seorang sekretaris.
❤️❤️❤️
bakal makin gencar gak nih Bella menggoda Gilang setelah dengar cerita Jimmy😁
.