NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HAK YANG DIPUTUS

Rukmi menatap suaminya layaknya ksatria. Sakta menaiki andong miliknya. Kendaraan yang selalu membawanya kemana saja. Ia membawa kain-kain jualannya dengan andong itu.

Kereta itu berjalan mengikuti derap langkah kaki kuda. Sesekali Sakta melecuti binatang itu agar cepat berlari.

Gapura istana sudah terlihat, beberapa masyarakat menyapanya. Tentu saja, selain dia adalah adik ipar dari punggawa ternama. Dirinya juga seorang pedangan kain ternama di kerajaan itu.

"Sampurasun Ki Sakta!"

"Rampes!" sahut Sakta ramah.

'Mau kemana?" tanya pria itu.

"Oh ini, saya mau menawarkan kain dari Negeri Selatan. Sutra asli, siapa tau Sri Baginda Raja berminat," jawab Sakta.

Memang di dalam andongnya ada kain itu yang ia beli dari pedagang juga.

"Sugeng sonten, kula kepingin mlebet mriki badhe ngaturaken kain dhateng Baginda Raja!" ujar Sakta ketika dihadang prajurit penjaga.

Sakta mengeluarkan plakat khusus pedagang. Memang untuk pedangan besar sepertinya ia memiliki tanda itu agar bisa masuk istana.

"Kami periksa dulu,Ki Sakta!" ujar salah satu prajurit.

Sakta turun dari andongnya, setelah diperiksa dan tak ada yang mencurigakan. Sakta naik kembali dan memacu tali kekang kudanya pelan.

Binatang itu meringkik pelan dan berjalan ke dalam aula istana.

Sampai sana, kesayangannya tentu dinanti beberapa istri-istri pejabat. Keramaian itu mampu membuat Sri Baginda Ratu keluar dan melihat apa yang terjadi.

"Ada apa ramai-ramai begini?" tanyanya.

"Ini Paduka Gusti Kanjeng Ratu. Ki Sakta membawa kain sutra terkenal dari Negeri Selatan!" jawab salah satu dayang.

Perempuan cantik nan anggun itu pun keluar. Semua abdi dalem dan para dayang mengikuti. Ketika di luar, keramaian itu mendadak sunyi karena semua istri-istri pejabat duduk bersimpuh sambil menundukkan kepalanya, termasuk Sakta.

"Sugeng Sonten Gusti Kanjeng Ratu Sandika!" seru semuanya hormat.

"Sugeng Sonten, sudah jangan seperti itu. Ayo bangun!" suruh Sandika ramah.

"Mayur Nuwun, Gusti Kanjeng Ratu!" seru semua perempuan termasuk Sakta.

Mereka pun berdiri, Sakta naik dan mengeluarkan kain-kain miliknya. Hari sedikit panas, beberapa dayang membuka payung dan melindungi ratu mereka agar tak terkena sinar matahari.

Lalu ketika Sandika sedang melihat-lihat kain di tangan Sakta. Tiba-tiba seorang panembahan datang dan meminta mereka masuk ke dalam istana.

"Nyuwun pangapunten dhumateng Sri Baginda Ratu. Sang Prabu Raja nyuwun Sri Baginda Ratu mlebet kaliyan para tamu sanesipun lan milih kain ing salebetipun!"

"Oh baiklah. Tolong bantu Ki Sakta membawa semua kain-kain itu ke dalam!" ujar Sandika lalu mengajak semua istri-istri pejabat masuk ke dalam istana.

Sakta memindai ruangan yang seperti aula besar itu. Beberapa prajurit berdiri berjaga-jaga di berbagai lorong. Tak banyak perhiasan berarti di sana. Hanya ukiran-ukiran kayu dari berbagai kerajaan yang pernah dikumpulkan, terpajang.

"Berapa harga kain-kain ini Sakta?" tanya Sandika.

"Oh pertungkai lengan dua keping perak Yang Mulia Ratu!" jawab Sakta.

"Ki Sakta, kamu disuruh menghadap Sri Baginda Raja!" seorang prajurit mendatangi Sakta dan membawanya ke sebuah tempat.

Sandika sangat paham apa yang akan terjadi. Ia memilih diam dan membiarkan seluruh urusan diurus suaminya.

Sakta setengah diseret ke singgasana raja. Lalu ketika sampai, tubuhnya didorong begitu saja hingga jatuh ke lantai.

"Beginilah kalian memperlakukan ipar dari punggawa ternama Abda Sedah Nirah!' teriak Sakta marah.

"Lancang sekali mulutmu menyebut nama Punggawa terbaikku, Sakta!" suara berat Prabu Laksa terdengar.

Sakta yang ada di lantai langsung bersimpuh. Tapi ia tetap protes, ia datang seperti biasa menawarkan kain.

"Maaf Baginda Raja, Hamba datang sebagai pedagang. Tapi kenapa diperlakukan seperti pencuri!" protesnya.

"Berhenti merasa penting Sakta!" seru Prabu Laksa menahan amarah.

Tiba-tiba suasana di aula singgasana itu mendadak mencekam. Para prajurit sudah bersiap menarik pedang mereka. Sakta langsung ciut nyalinya.

"Katakan apa maksud kedatanganmu, Sakta!" tanya Prabu Laksa ingin memastikan dugaannya.

"Ampun Gusti Raja, hamba hanya datang sebagai wakil dari Srikandi, keponakan hamba dan anak dari Kanda Abda!" jawab Sakta sangat berani.

Prabu Laksa berdecih, ia sangat tau siapa Rukmi. Adik kandung Abda itu memang kain sendiri tabiatnya dibandingkan Abda.

Tadinya Abda dididik sama dengan Rukmi. Begitu dimudahkan, ayah dari Abda adalah seorang tumenggung bernama Surajaya Nirah. Hidup berkecukupan sejak kecil, tak membuat Abda sombong.

Lalu ketika sang ayah meninggal dunia. Terjadilah perebutan harta. Rukmi meminta harta lebih banyak di banding sang kakak. Abdapun memilih menurut, ia mengambil rumah peninggalan sang ibu di lereng bukit.

Ibunya yang renta diusir keluar rumah besar oleh Rukmi dan beberapa kerabat. Abda yang merawat sang ibu hingga tutup usia.

Kini di hadapan Prabu Laksa, Sakta yang jadi suami Rukmi. Berdiri dihadapannya.

"Katakan Sakta!" serunya tak sabaran.

"Hamba selaku paman dari Srikandi. Menuntut hak atas nama Srikandi!" seru Sakta begitu berani.

"Hak?"

"Sri Baginda pasti tidak tau. Jika upeti Kanda tidak sampai ke Srikandi kan?" tanya Sakta sedikit menyeringai menatap beberapa Menteri yang duduk di sana.

"Oh ya?" Prabu Laksa menatap Sakta yang begitu percaya diri.

"Benar Sri Baginda! Saya yakin, terlebih jika Kanda Abda sudah tiada ...."

"Siapa yang bilang kalau Ki Abda telah tiada!" tanya Prabu Laksa gusar.

Sakta terdiam, ia memang belum mengetahui betul. Apa benar kakak iparnya itu sudah gugur.

"Tapi menurut istri saya ...."

"Apa kau melihat sendiri jenazah Ki Abda, Sakta?" tanya Prabu Laksa menahan marah.

Wajah Prabu mulai menghitam, ia akan menghukum siapapun yang membocorkan kematian punggawa terbaiknya itu.

"Tapi kalaupun Kakanda Abda masih hidup. Dia pasti sudah membantu Srikandi membelah kayu!" seru Sakta yang membuat Prabu Laksa terkejut.

"Aku mau minta hak ...."

"Sakta!" teriak Prabu Laksa murka.

Hanya wilayah singgasana saja yang bergetar hebat.

"Kau sama sekali tak punya hak untuk meminta kepemilikan Abda!" ujarnya rendah dan menekan siapapun.

Sakta nyaris semaput mendengar teriakan rajanya. Mukanya langsung pucat, ia tau telah melakukan kesalahan besar.

"Sakta ... Kau masih mau bernafas di kerajaan ini kan?" Sakta menelan ludah.

Di sana wajah Prabu Laksa sudah menghitam akibat menahan ilmu pemusnahnya.

Semua prajurit ketakutan, begitu juga para menteri. Gusti Ratu Sandika yang berdiri di pintu hendak masuk. Tapi langsung dicegah beberapa dayang.

"Suamiku ...," Sandika mengelus pintu jati berukir itu dengan penuh kecemasan.

Sementara di dalam Sakta sudah buang air seni karena ketakutan. Bau Pesing menyeruak ke seluruh ruangan.

"Pergi kau dari sini. Asingkan dirimu selama lima tahun!' seru Prabu Laksa sambil menutup hidungnya dengan lengan.

"Tapi ... hamba punya anak dan istri ..."

"Cis ... Kelakuan mu di kedai Nyimas Padan Laran belum ketahuan Rukmi, Sakta. Aku bisa saja membuat salah satu perempuan di sana mendatangi rumah itu dan mengaku sebagai selirmu!" Sakta melotot, ia tak menyangka jika perbuatan bejatnya diketahui sang raja.

"Soal kehidupan istrimu. Aku membeli seluruh kainmu dan dari hasil itu akan diberikan setiap bulan untuk keluargamu, termasuk Srikandi!" Sakta menelan ludah.

"Ki Pondohan!' seorang pria berbaju batik dan memakai blangkon. Ada keris menyelip di punggungnya.

"Bawa dia ke rumahnya dan awasi dia sampai dia pamit dan meninggalkan kerajaan ini!" lanjutnya memberi titah.

"Daulat Gusti Prabu!"

Sakta kembali diseret, beberapa abdi dalem langsung membersihkan tempat itu dan menyemprotkan dupa agar menghilangkan bau pesing.

Sandika masuk dan mendekati suaminya. Wajahnya penuh kecemasan. Ia menatap Prabu Laksa yang masih sedikit menghitam.

"Kangmas Raja," panggilnya cemas.

Wajah kehitaman Prabu Laksa perlahan menghilang. Barulah Sandika berani memeluknya.

"Tenanglah Kangmas," ujarnya sedih.

'Andai aku punya kanuragan tinggi. Aku tak perlu takut dengan ilmu pemusnah raga milik Kangmas," gumamnya dalam hati mengeluh.

Bersambung.

Ugh ...

Next?

1
Benny Badaruddin
keren
Deyuni12
hiiii
nyi padan serem akh
lanjut
Anita Barus
windu...windu. berharalmemanasi Ki abda Ter nyata kiabda malah senang dan memberi selamat PD mempelai 🤣🤣🤣🤣🤣
Anita Barus
raja pasti akan menuruti.apa yg di mau Ki abda .
Anita Barus
maka nya dia selalu saja mengganggu Srikandi weleh. weleh
Anita Barus
oh ternyata windu sejak dulu SDH jatuh cinta PD Ki abda namun di tolak .cinta bertepuk sebelah tgn to .
Anita Barus
ada2saja si windu ini masak sama keponakan suami nya sendiri cemburu kenapa pula sambil nangis nyebut ayahanda Srikandi dsr w😄Ong edan
Anita Barus
berarti ki abda sengaja menumbal kan diri nya utk melindungi kerajaan
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjutkan
Deyuni12
seruuuuu
Deyuni12
lanjutkan
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
Bibi Rukmi antara kesambet atau dapet hidayah😄
vania larasati
lanjut
Deyuni12
lanjut kan
vania larasati
lanjut
Anita Barus
sesuai dgn namanya srikandi.dia pasti menemukan penghianat pengecut trsbut
Anita Barus
akan kah Srikandi menuntut balas .lanjut Thor
Anita Barus
hati Srikandi pasti hancur saat mengetahui ayah nya gugur .dan tau pasti ada penghianat didlm pasukan tersbt .apakah penghianat itu Sasongko .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!