Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.
Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.
Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 21
Malam kian larut di pusat Kota Bogor, namun kehangatan di dalam kamar tidur kedua penthouse itu seolah enggan mereda. Di atas ranjang besar yang berantakan, Clarissa Alexandra berbaring dengan napas yang masih tersisa satu-satu.
Kulit porselennya yang seputih susu kini dihiasi rona merah padam, berkilat halus oleh sisa peluh keintiman yang baru saja mereka lalui.
Tank top hitam dan celana jins ketatnya sudah tergeletak tak berdaya di atas lantai marmer.
Tubuh molek sang CEO kini hanya ditutupi oleh sebagian selimut beludru kelabu, memperlihatkan siluet punggungnya yang seksi dan lekuk pinggulnya yang menawan.
Farrel duduk di tepi ranjang, memunggungi Clarissa. Kemeja hitamnya sengaja dibiarkan terbuka, memamerkan otot dada dan perutnya yang semakin tegas dan kokoh.
Ia mengambil sebatang rokok, menyalakannya, lalu mengembuskan asap pekat ke langit-langit kamar dengan tatapan penuh kepuasan.
"Farrel..." Suara Clarissa terdengar begitu serak dan manja, kehilangan seluruh wibawa seorang wanita karier yang biasa memerintah ribuan karyawan.
Ia menggeser tubuhnya mendekat, memeluk punggung kokoh Farrel dari belakang, dan menyandarkan wajah cantiknya di bahu pria itu.
"Kamu bener-bener monster... Kamu gak kasih aku celah buat napas sedikit pun tadi."
Farrel terkekeh rendah, suara beratnya bergetar di dada. Ia memutar tubuhnya sedikit, mengusap pipi mulus Clarissa dengan jemarinya yang hangat.
"Itu harga yang harus lu bayar karena udah masuk ke dalam dunia gua, Clarissa. Mulai hari ini, Mandala Group tetap berjalan di bawah kendali lu, tapi lu harus tahu siapa pemilik asli di balik layar."
Clarissa mengangguk patuh, matanya yang sayu menatap Farrel dengan pandangan penuh pengabdian total.
Efek karisma Farrel yang telah ditingkatkan membuat pesonanya benar-benar tidak bisa ditolak oleh logika wanita mana pun.
【 Ting! Keintiman fisik tingkat tinggi dengan Target Clarissa Alexandra telah selesai! 】
【 Tingkat Kesukaan Clarissa Alexandra melonjak dari 75% menjadi 88% (Setia dan Patuh Sepenuhnya)! 】
【 Ding! Selamat! Pengguna mendapatkan hadiah atas penaklukan Target Kedua secara mendalam: 】
1. Dana Tunai Tambahan: Rp 500.000.000 (Lima Ratus Juta Rupiah) langsung masuk ke rekening BCA.
2. Peningkatan Stat Kecepatan: +2 Poin.
3. Keterampilan Khusus Baru: 'Indra Pendeteksi Kebohongan' (Akan aktif otomatis saat berinteraksi dengan siapa pun).
Farrel tersenyum sinis melihat panel virtual yang melayang di sudut matanya.
Kekuatannya kini semakin mutlak.
Di bawah kekuasaan Grup Garuda Hitam, ia telah memegang kendali atas transportasi umum melalui PT Bogor Transportasi Utama, jalur keamanan jalanan bekas ormas Hardi, dan kini lini properti raksasa melalui Mandala Group.
Bogor perlahan tapi pasti sudah berada di dalam genggamannya.
Farrel mengecup bibir ranum Clarissa sekilas, lalu bangkit dari ranjang dan memakai pakaiannya kembali. "Istirahatlah. Gua ada urusan faksi yang harus diselesaikan di lobi bawah."
Ketika Farrel melangkah keluar ke ruang tengah, malam luar jendela sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
Di sana, Tiger sudah berdiri tegap bersama seorang pria paruh baya mengenakan kemeja batik rapi yang tampak tegang.
Pria batik itu adalah Gunawan, Direktur Operasional PT Bogor Transportasi Utama yang dikirim oleh sistem untuk mengelola bisnis transportasi Farrel.
"Lapor, Tuan Besar Farrel," Tiger membungkuk hormat sembilan puluh derajat.
"Mayat-mayat di lobi dan di kediaman Jenderal Hermawan sudah dibersihkan total tanpa sisa oleh tim pembersih."
"Pihak kepolisian daerah telah merilis berita bahwa Jenderal Hermawan meninggal akibat serangan jantung mendadak di ruang kerjanya. Tidak ada jejak yang mengarah pada kita."
Farrel duduk di kursi kebesaran sofa tunggal, menyilangkan kakinya dengan anggun.
"Bagus. Gunawan, gimana perkembangan di terminal?"
Gunawan maju satu langkah, tubuhnya sedikit membungkuk karena merasakan tekanan karisma Farrel yang luar biasa pekat di dalam ruangan.
"Melapor, Tuan. Setelah Hardi tumbang, seluruh jalur setoran dari tiga ratus trayek angkot di Bogor Tengah kini sudah dialihkan ke rekening penampungan Grup Garuda Hitam.
Namun... ada satu masalah baru, Tuan."
"Katakan," perintah Farrel pendek, matanya menatap tajam.
"Wilayah Bogor Barat dan Utara saat ini dikuasai oleh Ormas Cakar Bumi di bawah pimpinan seorang gembong bernama Bramantyo."
"Mereka mendengar kabar runtuhnya faksi Hardi dan Hermawan. Bramantyo merasa terancam dan malam ini juga, mereka mulai menyisir dan mengintimidasi para supir angkot kita di perbatasan jalan baru."
"Mereka mengancam akan membakar armada kita jika kita tidak membagi dua wilayah setoran," jelas Gunawan dengan pelipis yang sedikit berkeringat.
Farrel mengetuk-ngetukan jarinya di sandaran sofa marmer. Seringai kejam kembali terukir di wajah tampannya.
"Bramantyo... Cakar Bumi," gumam Farrel rendah. "Baru aja satu kutu busuk gua remuk, kutu yang lain udah gatal mau minta diinjek."
【 Ting! Tugas Utama Baru Terbuka: Ratakan wilayah kekuasaan Ormas Cakar Bumi dan taklukan pimpinan mereka, Bramantyo! 】
【 Syarat Tambahan: Sistem mendeteksi adanya Target Wanita Ketiga yang berada di dalam pusaran konflik Ormas Cakar Bumi malam ini! 】
【 Analisis Target Wanita Ketiga: Amelia Putri (21 tahun). Tingkat Kecantikan: 94/100 (Sangat Sempurna/Mahasiswi Kedokteran IPB & Anak Gadis dari Mantan Walikota Bogor).
Status: Perawan. Situasi saat ini: Sedang dikepung oleh belasan anggota Ormas Cakar Bumi di sebuah klinik darurat 24 jam di daerah perbatasan Bogor Utara karena menolak memberikan obat-obatan terlarang dari apotek klinik! 】
Membaca deskripsi dari sistem, mata Farrel berkilat sedingin badai kutub. Mahasiswi kedokteran, anak mantan walikota, dengan tingkat kecantikan 94? Ini adalah mangsa paling sempurna yang pernah disiapkan oleh sistem untuknya.
Farrel bangkit berdiri dengan sentakan bertenaga. Kemeja hitamnya berkibar pelan saat ia berjalan menuju lemari senjata taktis tersembunyi di dinding apartemen.
"Tiger," panggil Farrel, suaranya menggelegar penuh otoritas militer yang mematikan.
"Siap, Tuan Besar!" jawab Tiger dengan mata berbinar haus darah.
"Siapkan tiga mobil Land Cruiser. Bawa dua puluh personel elit bersenjata lengkap."
"Malam ini... kita gak cuma bakal nyelametin seorang dewi, tapi kita juga bakal potong cakar dari Ormas Cakar Bumi sampai mereka merangkak seperti anjing di kaki gua!"