NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Keesokan paginya, semburat cahaya matahari menembus kaca jendela, membangunkan Darren dari tidurnya.

Pria paruh baya itu mengerjapkan mata, perlahan menyesuaikan diri dengan langit-langit kamar tamu yang terasa asing namun nyaman.

Begitu kesadarannya pulih, aroma harum kue yang digoreng langsung menggelitik indra penciumannya.

Darren bangkit dari ranjang dan melangkah keluar kamar.

Di meja makan kecil, ia mendapati Jihan sudah duduk dengan rapi.

Gadis itu tampak sangat menikmati donat kentang berbalur gula halus di tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang segelas susu hangat.

Kumis putih dari sisa susu tercetak lucu di atas bibirnya.

Melihat Darren keluar, Jihan langsung meletakkan donatnya dan tersenyum cerah.

"Pagi, Darren! Ini punyamu, aku sudah buatkan donat kentang dan susu hangat untuk sarapanmu."

Darren tersenyum tipis, hatinya menghangat melihat pemandangan itu.

Audah sangat lama tidak ada orang yang menyiapkan sarapan dengan ketulusan seperti ini untuknya.

"Oh ya, handuk dan peralatan mandi baru sudah aku siapkan di dalam kamar mandi. Kamu bisa mandi sekarang," tambah Jihan dengan ceria.

"Terima kasih, Jihan."

Namun, sebelum melangkah ke kamar mandi, Darren menghentikan langkahnya sejenak dan menatap Jihan.

"Setelah ini, lekaslah pakai gaun yang indah. Hari ini kita akan mengurus pernikahan kita."

Jihan seketika menghentikan kunyahannya. Ia menatap Darren dengan tatapan polos, lalu menunjuk ke arah daster katun bermotif bunga-bunga yang sedang dikenakannya.

"Gaun yang indah? Aku tidak punya, Darren. Aku hanya punya baju-baju biasa seperti ini di lemari."

Darren tertegun sejenak ketika mendengar perkataan dari Jihan.

Ia melihat kesederhanaan Jihan, lalu menghela napas panjang. Tentu saja, ia lupa kalau Jihan bukanlah wanita-wanita sosialita yang biasa ia temui. Namun, Darren Bramantyo tidak akan membiarkan calon istrinya menikah dengan pakaian seadanya.

Darren merogoh saku celananya, mengambil ponselnya yang sejak semalam ia matikan.

Begitu ponsel itu menyala, puluhan panggilan tak terjawab dari anak-anaknya langsung bermunculan—semuanya ia abaikan.

Darren langsung mencari satu nama di kontak dan menekannya.

"Halo, Pak Darren?"

Suara di seberang telepon terdengar sangat terkejut sekaligus lega. Itu adalah Ira, sekretaris pribadinya yang sangat andal.

"Bapak ada di mana? Anak-anak Bapak sejak semalam mencari Bapak ke kantor—"

"Ira, dengarkan aku baik-baik," potong Darren dengan suara rendah namun penuh otoritas mutlak seorang CEO.

"Batalkan semua jadwalku hari ini. Sekarang juga, belikan sebuah gaun pengantin wanita yang paling indah dan elegan, sesuaikan ukurannya untuk gadis bertubuh subur. Setelah itu, siapkan petugas KUA dan semua keperluan pernikahan untuk hari ini."

Di seberang telepon, Ira sempat terdiam beberapa detik, syok setengah mati mendengar bosnya yang dingin tiba-tiba minta disiapkan pernikahan dalam waktu beberapa jam.

"M-menikah, Pak? Lalu, bagaimana dengan keluarga Bapak?"

"Rahasiakan ini dari siapa pun, Ira. Dan yang paling penting, jangan sampai ada satu pun anak-anakku yang mengetahui hal ini. Mengerti?" ucap Darren tegas.

Ira yang sudah terlatih profesional langsung menguasai keterkejutannya. Ia menganggukkan kepalanya di balik telepon.

"Baik, Pak. Saya mengerti. Semua akan siap dalam waktu dua jam. Saya akan segera mengirimkan semuanya ke lokasi Bapak."

Darren menutup sambungan teleponnya dengan senyum puas.

Ia menoleh ke arah Jihan yang masih menatapnya dengan mulut sedikit terbuka karena bingung.

"Mandilah duluan, Jihan. Sebentar lagi gaun indahmu akan datang," ucap Darren lembut, bersiap memulai babak baru dalam hidupnya.

Setelah Jihan selesai mandi dan bersiap, giliran Darren yang membersihkan diri.

Begitu Darren keluar dari kamar mandi dengan kemeja yang sudah dirapikan seadanya, terdengar ketukan pelan di pintu depan rumah.

Jihan bergegas membukanya. Di ambang pintu, berdiri seorang wanita karier berpenampilan sangat modis dan rapi, membawa beberapa kotak besar berlogo desainer ternama.

Wanita itu adalah Ira. Saat pintu terbuka dan menatap sosok Jihan yang bertubuh subur dengan daster bunganya, Ira sempat mematung dan mengerjapkan matanya beberapa kali.

"Ira, perkenalkan. Ini calon istriku, Jihan," ucap Darren yang tiba-tiba muncul di belakang Jihan, memperkenalkan dengan nada bangga.

Ira yang masih terkejut setengah mati langsung tersadar dari lamunannya.

Ia menganggukkan kepalanya dengan sopan.

"Ah, i-iya, Pak. Salam kenal, Nona Jihan. Saya Ira."

Ira segera mengalihkan pandangannya ke arah kotak-kotak gaun yang dibawanya.

"Mari, Nona Jihan, saya bantu memakainya di dalam kamar," ucap Ira dengan ramah.

Begitu mereka berdua masuk ke dalam kamar Jihan, Ira mulai membuka kotak gaun pengantin putih satin yang anggun. Namun, melihat ukuran tubuh Jihan, Ira sempat menggigit bibir bawahnya ragu.

"Semoga, ada yang cukup ya, Mbak. Eh, maaf! Bukan maksud saya untuk—"

Jihan tersenyum tipis, sangat memaklumi keterkejutan sekretaris calon suaminya itu.

"Tidak apa-apa, Mbak Ira. Saya sudah biasa, kok."

Dengan ketelatenan dan dibantu sekuat tenaga, Ira perlahan menaikkan kain gaun itu ke tubuh Jihan. Sreeet.

Dengan usaha ekstra, Ira menarik ritsleting gaun pengantin tersebut hingga terpasang dengan sempurna di tubuh Jihan.

Gaun itu ternyata melekat sangat pas, menonjolkan lekuk tubuh Jihan dengan sangat anggun.

Sementara di ruang tamu, suasana perlahan mulai ramai.

Petugas penghulu dari KUA telah datang dan bersiap di meja akad yang sederhana.

Sesuai perintah rahasia Darren, Ira juga telah mengundang beberapa saksi yang bisa dipercaya—mulai dari sopir pribadi Darren hingga beberapa anak buah kepercayaan dari kantor yang diperintahkan untuk menjaga ketat area rumah agar tidak bocor ke telinga anak-anak Darren.

Di dalam kamar, Ira dengan lihai membantu Jihan berdandan.

Sentuhan riasan tipis namun segar membuat wajah polos Jihan memancarkan kecantikan yang alami.

Sampai akhirnya, pintu kamar terbuka. Jihan melangkah keluar perlahan, didampingi oleh Ira.

Darren yang sedang berdiri menanti di ruang tamu seketika menghentikan napasnya.

Pria paruh baya itu menelan salivanya dalam-dalam saat melihat kecantikan Jihan.

Gaun putih itu membuat Jihan tampak seperti malaikat yang turun ke rumah sederhananya.

Tidak ada lagi sisa-sisa kesedihan akibat pengkhianatan Albert semalam; yang ada hanyalah binar ketulusan.

Jihan tersenyum manis ke arah penghulu dan para tamu yang hadir—meskipun tamu itu hanya terdiri dari sopir dan anak buah Darren yang tampak duduk dengan khidmat.

Darren dan Jihan kemudian duduk berdampingan di hadapan meja akad.

Penghulu tersenyum, lalu menjabat tangan kekar Darren dengan erat setelah memeriksa seluruh berkas pernikahan.

"Saudara Darren Bramantyo, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Jihan Angela binti Almarhum Murry, dengan mas kawin dua puluh juta dollar dibayar tunai!" ucap penghulu dengan suara lantang.

Darren menjabat tangan penghulu dengan mantap tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya.

"Saya terima nikah dan kawinnya Jihan Angela binti Almarhum Murry dengan mas kawin dua puluh juta dollar dibayar tunai!"

"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu.

"Sah!"

"Sah!"

Suara sah bergemuruh di dalam ruangan kecil itu. Jihan yang awalnya khusyuk mendengarkan langsung membelalakkan matanya.

Jantungnya berdetak maraton, bukan hanya karena ia sudah resmi menjadi seorang istri, melainkan karena ia mendengar nominal mahar yang baru saja diucapkan suaminya.

"Dua puluh juta dollar?!" gumam Jihan menghitung cepat di dalam otaknya.

Jihan menoleh ke arah Darren dengan tatapan syok dan tidak percaya, sementara Darren hanya membalas tatapan itu dengan senyuman hangat, lalu mengecup kening Jihan dengan lembut penuh rasa sayang.

Setelah seluruh rangkaian acara akad nikah selesai, penghulu, Ira, beserta para tamu undangan dari kalangan anak buah kepercayaan Darren pun berpamitan.

Sebelum mereka melangkah keluar pagar, Darren dengan murah hati memberikan amplop tebal sebagai ucapan terima kasih atas bantuan dan kerahasiaan yang mereka jaga dengan baik.

Kini, suasana rumah sederhana itu kembali sunyi. Hanya menyisakan mereka berdua yang telah resmi menyandang status sebagai suami istri.

Darren membalikkan tubuhnya, menatap Jihan yang masih mengenakan gaun pengantin putih satinnya yang megah.

Pria paruh baya itu tersenyum simpul, lalu mengeluarkan sebuah kartu hitam eksklusif dan sebuah dokumen resmi kepemilikan aset atas nama Jihan.

"Jadi, sekarang kamu sudah percaya kalau suamimu ini benar-benar seorang CEO?" tanya Darren sambil menyerahkan bukti mas kawin fantastis senilai puluhan juta dollar itu kepada istrinya.

Jihan mengerjapkan matanya, memandangi kartu di tangannya dengan takjub.

Alih-alih histeris atau pingsan karena mendadak jadi miliarder, Jihan justru tertawa kecil.

Dengan santai, ia meletakkan kartu berharga ratusan miliar itu di atas meja, lalu kembali mengambil sisa donat kentang yang ia buat tadi pagi dan menggigitnya dengan lahap.

Bagi Jihan, perut yang kenyang tetaplah prioritas utama.

Melihat tingkah polos istrinya, Darren menggelengkan kepala sambil terkekeh pelan.

Ia melangkah mendekat, lalu berbisik lembut di dekat telinga Jihan.

"Ayo, kita ke kamar," ajak Darren dengan nada rendah yang menggoda.

Jihan seketika tersedak donat kentangnya. Ia menatap Darren dengan pandangan curiga.

"Ke kamar? Untuk apa?" tanya Jihan waswas.

Darren menaikkan sebelah alisnya, senyum jahil terukir di wajah tampannya.

"Iya, ke kamar untuk ganti pakaian, Sayang. Atau, jangan-jangan kamu sudah menginginkan hal yang lain?"

Wajah Jihan seketika memerah sempurna sampai ke telinga.

Ia langsung memukul pelan lengan kekar Darren. "Darren! Jangan mesum, ya!"

Dengan salah tingkah dan langkah yang sedikit terburu-buru akibat gaunnya yang ketat, Jihan berjalan cepat masuk ke dalam kamarnya.

Namun, baru beberapa langkah di dalam kamar, Jihan mendadak kesulitan.

Tangannya tidak sampai untuk menjangkau ritsleting yang ada di punggungnya.

Jihan menghela napas pasrah, lalu sedikit melongokkan kepalanya ke luar pintu.

"Darren, bantu aku bukakan ritsleting gaun ini, dong."

Darren mengedipkan sebelah matanya dengan penuh pesona, membuat jantung Jihan kembali berdesir.

Pria paruh baya itu melangkah lebar menyusul istrinya masuk ke dalam kamar.

Darren berdiri tepat di belakang punggung Jihan. Jemari kekarnya menyentuh kepala ritsleting logam yang terjepit erat di antara kain satin.

Darren menariknya sedikit, namun ritsleting itu tampak tidak bergeser karena menahan lekuk tubuh subur Jihan yang padat.

Darren terkekeh pelan di belakang tengkuk Jihan, embusan napas hangatnya membuat Jihan merinding.

"Sayang, tahan napasmu dulu sebentar, agar aku bisa menurunkannya."

Jihan memutar bola matanya, namun tetap menuruti perintah suaminya.

Ia menarik napas dalam-dalam dan menahannya.

Syuuutt.

Creekkk...

Dengan satu tarikan mantap, Darren berhasil menurunkan ritsleting tersebut hingga tuntas.

Begitu kain gaun itu melonggar, Darren menatap punggung dan tubuh subur istrinya dari pantulan cermin di depan mereka.

Bukannya merasa ilfeel, mata Darren justru memancarkan binar kekaguman yang amat dalam.

"Kamu sangat menggemaskan sekali, Sayang..." bisik Darren, memuji bentuk tubuh Jihan yang berisi.

Mendengar pujian yang begitu tulus—sangat berbeda dengan hinaan mantan kekasihnya semalam—hati Jihan membuncah oleh rasa bahagia.

Tanpa aba-aba, Jihan membalikkan badannya dan langsung memeluk tubuh kekar suaminya dengan sangat erat karena gemas.

Greb!

Darren yang tidak siap dengan serangan pelukan mendadak itu langsung terdorong ke belakang.

Tubuh Jihan yang subur dan kuat benar-benar mengunci pergerakannya, menekan dadanya yang sebenarnya belum pulih benar dari rasa lelah semalam.

"S-sayang... lepaskan dulu... aku tidak bisa bernapas..." rintih Darren dengan suara tercekik, wajahnya memerah karena kehabisan oksigen akibat pelukan maut sang istri.

Melihat ekspresi tersiksa suaminya yang lucu, Jihan langsung melepaskan pelukannya dan tertawa terbahak-bahak hingga kamarnya yang kecil dipenuhi oleh suara tawanya yang renyah.

Darren ikut tersenyum sambil meraup wajahnya, menyadari bahwa hidupnya ke depan tidak akan pernah membosankan lagi bersama istri barunya ini.

1
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!