Dihianati oleh kekasih yang dicintai memang begitu menyakitkan, apalagi kekasih yang ia percaya akan membuat dirinya bahagia ternyata diam diam menjalin hubungan dengan sepupunya. Namaku Alisha Azura inilah kisah cintaku dan perjalanan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ersy 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Sedangkan Fandi saat ini dirawat dirumah sakit yang sama dengan Alisha. Fandi baru saja selesai menjalani operasi hidung, sebab tulang hidungnya retak dan mengakibatkan hidung Fandi bengkok cukup parah. Karena pukulan Santa tidaklah main main pada malam itu. Kedua orang tuanya berulang kali bertanya namun Fandi tidak mau berkata jujur penyebab hidungnya terluka. Karena bagi Fandi kejadian malam itu cukup memalukan untuknya. Saat ini Fandi baru saja selesai minum obat setelah makan malam disuapin mamanya. "Fandi, mama dan papa mau pergi dulu, tadi papa dapat undangan makan malam dari rekan bisnis papa. Nanti mama dan papa kesini lagi, kami janji hanya menghadiri jamuan makan malam cuma sebentar setelah itu mama datang lagi kesini" ucap Siska mama Fandi lembut. Fandi yang mendengar ucapan mamanya hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. "Oya Fandi, selama kamu dirawat disini kok mama tidak melihat Alisha sama sekali, apakah dia tidak tau kalau kamu dirawat disini?" tanya Siska penasaran. Fandi yang ditanyai langsung gelagapan karena bingung harus menjawab pertanyaan mamanya. "Fandi kamu tidak lagi bertengkar kan sama Alisha?" tanya Siska penuh selidik karena Siska melihat expresi wajah putranya langsung berubah menegang. "Eh tidak kok ma, hubungan kami baik baik saja. Alisha belum datang kesini karena Fandi sengaja tidak ngasih tau Alisha takutnya dia kawatir dengan keadaan Fandi sekarang" jawab Fandi berbohong.
Siska mengernyit heran mendengar jawaban putranya "Loh bagus dong kalau dia kawatir dengan keadaan kamu, itu tandanya dia benar benar sayang sama kamu kan kamu kekasihnya. Biar dia bisa bantuin mama jagain kamu disini secara bergantian" sahut Siska. "Jadi menurut mama, Fandi sekarang jadi beban mama gitu" jawab Fandi sedikit tersinggung dengan ucapan mamanya. "Bukan begitu nak, maksud mama..." belum selesai Siska melanjutkan ucapannya Fandi langsung memotong "Udahlah ma, Fandi sudah baik baik saja kok, mama enggak usah repot-repot jagain Fandi lagi. Lagi pula Fandi bisa diurus sama suster dan dokter disini " ketus Fandi. Siska yang mendengar perkataan putranya hanya menghela nafas panjang" Maafkan mama nak, yaudah mama pergi dulu nanti mama kesini lagi. Kalau ada perlu apa apa langsung kabari mama atau papa ok" ucap Siska sebelum pergi tidak lupa mengecup kening putranya. Bagi Siska Fandi adalah putra kesayangannya karena dia putra satu satunya yang ia miliki.
Setelah kepergian mamanya, ruangan tersebut berubah sunyi dan sepi bahkan suara detak jarum jam terdengar jelas. Fandi berulang kali membuang nafas berat seolah membuang beban pikiran yang cukup berat. "Maafkan Fandi ma, bukan maksud Fandi berkata kasar kepada mama. Fandi hanya bingung dengan perasaan Fandi saat ini, setiap mengingat kejadian itu hari hariku semakin kacau. Alisha maafkan mas sayang, mas janji kalau kamu sudah sembuh mas akan meminta maaf sama kamu dan berusaha memperbaiki hubungan kita. Mas nyesel sayang, mas berharap kamu mau memaafkan mas. Mas akan berusaha menerima keadaan kamu saat ini, karena biar bagaimanapun yang kamu alami adalah kesalahan mas" gumam Fandi pelan. Tiba tiba ponsel Fandi bergetar panggilan masuk dari seseorang. Fandi mengambil ponselnya dari atas nakas dan melihat siapa yang menghubunginya dan ternyata panggilan dari Vania. Fandi tidak ingin menerima panggilan tersebut namun rupanya perempuan itu tidak menyerah begitu saja. Berulang kali Vania menghubunginya sampai sampai Fandi merasa kesal dibuatnya. "Sebenarnya dia mau apa sih, enggak tau apa orang mau istirahat ganggu aja" gerutu Fandi pelan karena bibir dan hidungnya langsung berdenyut nyeri saat ia berbicara. "Sssstt sial hidungku, sebenarnya Santa itu perempuan apa laki laki sih pukulannya nggak main main rasanya" desis Fandi seraya menyentuh hidungnya berdenyut nyeri apalagi bibirnya bengkak sobek cukup parah.
Karena panggilannya enggak terjawab tak lama Vania mengirim pesan untuk Fandi.
Ting...
Satu pesan masuk ke nomor Fandi.
"Kak Fandi kamu dimana, kenapa telfon aku nggak diangkat" pesan dari Vania.
Me : Dirumah orang tua ku
Vania: Aku datang kesana ya kak, aku kangen sama kakak
Me: Jangan, aku mau istirahat sudah malam
Vania: kakak pasti bohong kan, enggak biasanya kakak tidur jam segini. Pokonya aku mau datang langsung ke rumah orang tua kakak
Me: Jangan ngeyel, aku enggak suka diganggu
Pesan Fandi tidak dibalas hanya dibaca saja oleh Vania. "Nih cewek keras kepala banget dibilangin, beda banget sama Alisha yang lembut dan penurut" gumam Fandi teringat dengan mantan kekasihnya.
\>\>\>\>\>\>\>\>
Sedangkan disisi lain, saat ini Vania bersiap akan pergi ke rumah Fandi. Vania memakai dress selutut berwarna cream bermotif dan rambutnya ia biarkan tergerai. Saat menuruni tangga ia melihat suasana rumah begitu sepi karena kedua orang tuanya tidak ada dirumah. "Huft.. selalu seperti ini, lagi lagi aku seolah hidup tanpa orang tua" gerutu Vania kesal. "Beruntung aku sudah berhasil mendekati kak Fandi, jadi aku enggak merasa kesepian lagi" gumam Vania tersenyum kecil. Sejak ia bertemu Fandi di club malam, 1 Minggu yang lalu hubungan Fandi dan Vania semakin dekat. Karena sejak pertama kali Alisha memperkenalkan Vania kepada Fandi waktu itu Vania sudah berniat merebut Fandi dari Alisha sepupunya sendiri. Bahkan Vania rela menjadi salah satu teman ranjang Fandi. Setiap hari mereka menghabiskan waktu berdua di apartemen Fandi. Namun sejak kejadian 2 hari lalu saat mereka kepergok oleh Alisha, sikap Fandi berubah dingin. Setiap Vania mengajak bertemu Fandi selalu menolak dengan alasan pekerjaan. Padahal Fandi sedang dirawat dirumah sakit, Fandi tidak ingin Vania mengetahui keadaannya yang menurutnya sangat memalukan sekali.
Tak lama kemudian Vania sudah sampai didepan pintu pagar tinggi rumah Fandi. Seorang satpam menyapanya dengan ramah "Mau bertemu sama siapa non?" tanya satpam tersebut. Vania yang ditanyai langsung menjawab "Mau bertemu kak Fandi, apakah kak Fandi ada dirumah pak?" tanya Vania balik.
Satpam langsung menjawab "Den Fandi nya tidak ada dirumah non" jawab satpam tersebut. Vania yang mendengar jawaban satpam tersebut wajahnya langsung berubah kecewa. "Kalau boleh tau kak Fandi kemana ya pak?" tanya Vania lagi. "Den Fandi sudah 2 hari dirawat dirumah sakit non" jawab satpam jujur. Vania terkejut mendengar kabar tersebut "Kak Fandi sakit apa pak, kalau boleh tau kak Fandi dirawat dirumah sakit mana pak?" tanya Vania kawatir.
"Den Fandi dirawat dirumah sakit Citra Medika" jawab satpam. "Baiklah pak kalau begitu terimakasih atas informasinya ya pak, permisi pak" ucap Vania sebelum masuk kedalam mobilnya. "Iya non sama sama" jawab satpam ramah. Setelah itu mobil Vania pergi meninggalkan rumah Fandi.
"Kak Fandi sakit apa ya, perasaan 2 hari lalu baik baik saja. Apa kak Fandi kecapean ya, kan waktu itu Kak Fandi ngajak bercinta berulang kali bahkan aku sampai kuwalahan mengimbangi permainan kak Fandi. Aku yakin kak Fandi bukan pemain kemarin sore, dia sangat pandai memuaskan pasangannya. Tapi, kira kira kak Fandi melakukan itu bersama Alisha juga nggak ya, kok aku ngerasa enggak rela ya kak Fandi bercinta dengan wanita lain meskipun Alisha pacarnya kak Fandi" gerutu Vania tiba tiba hatinya merasa kesal membayangkan Fandi bercinta dengan sepupunya.
Setelah perjalanan belasan menit kemudian mobil yang dikendarai Vania sampai dirumah sakit besar Citra Medika. Setelah memarkirkan mobilnya Vania berjalan menuju resepsionis untuk menanyakan kamar rawat Fandi. Setelah mendapat informasi kamar rawat Fandi, Vania langsung bergegas memasuki lift menuju lantai 3 ruang Fandi dirawat saat ini. Tidak lupa Vania membawa buah tangan satu ranjang buah buahan segar yang sempat ia beli di toko buah.
Setelah menemukan kamar melati nomor 2, tanpa mengetuk pintu Vania langsung membuka pintu.
Ceklek...
Saat pintu terbuka perlahan nampak kamar rawat kosong dan tak lama pintu kamar mandi terbuka lebar. Nampak Fandi keluar dari dalam dengan membawa tiang infus ditangan kirinya. Fandi begitu terkejut saat melihat kedatangan Vania dikamar rawatnya. "Vania, kamu ngapain kesini" desis Fandi pelan bahkan suaranya nyaris tak terdengar cukup jelas. Vania yang melihat keadaan Fandi tidak kalah terkejutnya "Kak Fandi..!!?? Ya ampun kakak kenapa kok bisa sampai seperti kak. Terus hidung kakak kenapa diperban juga, kak habis jatuh atau apa" cerocos Vania memberondong beberapa pertanyaan sehingga Fandi merasa jengah sendiri.
"Pulanglah" ucapnya pelan tanpa menjawab pertanyaan Vania. "Enggak..!! Vania enggak akan pulang, justru Vania ingin menjaga dan merawat kakak sampai sembuh" jawab Vania tegas. Fandi yang mendengar jawaban Vania bukannya merasa senang justru membuatnya kesal. "Pulang, aku bisa urus diriku sendiri" ucap Fandi ketus seraya kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang pasien dan bersiap akan istirahat tanpa memperdulikan kehadiran Vania. Entah mengapa hati Vania terasa tercubit mendengar penolakan Fandi barusan. Vania tidak langsung pulang, justru gadis itu berjalan mendekati ranjang pasien dan meletakkan parsel berisi buah buahan diatas nakas. Fandi tidak memperdulikan kehadiran Vania, Fandi menarik selimutnya dan tidur membelakangi Vania. Kedua mata Vania berkaca-kaca melihat sikap acuh Fandi.
Setelah 1 jam kemudian Fandi yang awalnya pura pura tidur pada akhirnya ia tertidur pulas karena efek obat dokter. Sedangkan Vania masih setia menjaga Fandi meskipun kehadirannya tidak digubris oleh Fandi. Vania merebahkan tubuhnya diatas sofa empuk yang ada didalam ruangan tersebut. Karena kamar yang ditempati Fandi kamar rawat VVIP mewah jadi didalam ruangan tersebut sangat lengkap termasuk satu set sofa mewah.