NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11

(Flashback H-35 sebelum pernikahan)

Rumah keluarga Roux malam ini dipenuhi kilauan cahaya. Lampu-lampu tampak menggantung indah di taman depan rumah besar mereka, memantulkan warna hangat di atas permukaan kaca dan lantai marmer. Musik terdengar mengalun pelan, cukup untuk menyatu dengan suara percakapan dan tawa para tamu yang datang silih berganti. Dan tercium aroma bunga segar bercampur dengan wangi makanan yang tersaji, menciptakan suasana yang hidup dan hampir sempurna.

Aku turun dari mobil bersama keluargaku dengan perasaan yang sejujurnya sudah campur aduk sejak tadi—antusias, tapi juga cemas tentang sesuatu yang terus mengganggu pikiranku. Malam ini, gaun yang kupakai terasa pas di tubuhku, langkahku tampak stabil, dan senyumku tertata sebagaimana mestinya. Namun, semua itu tetap tidak berhasil menenangkan sesuatu yang terus bergerak di dalam dadaku.

Karena aku tahu, bahwa malam ini bukan hanya tentang pesta. Tapi, malam ini, juga tentang dia. Mason Roux.

Rumah itu jauh lebih hidup malam ini, dengan musik yang mengalun pelan, lampu-lampu yang menggantung di taman depan dan suara tawa bercampur dengan denting gelas kristal yang khas. Namun anehnya, di tengah semua kehangatan itu, aku tetap hanya mencari kehadiran satu orang. Dan, tidak butuh waktu lama untukku bisa menemukannya.

Mason berdiri di antara beberapa tamu, mengenakan setelan hitam yang membuat sosoknya terlihat semakin tegas dan mempesona. Ia tampak tenang, dengab berbicara seperlunya dan sesekali mengangguk atau tersenyum tipis. Seolah semua hal di sekitarnya memang sudah seharusnya berjalan sesuai kendalinya.

Setelah beberapa saat, tatapan kami pun bertemu. Tatapan itu hanya berlangsung sebentar, tapi cukup untuk membuat jantungku berdegup lebih cepat. Namun seperti biasa, ia langsung memalingkan wajahnya. Seolah aku tidak pernah benar-benar ada di sana.

Aku menahan napas pelan, dan melangkah masuk dengan langkah kaki yang kupaksakan tegar. Sarah langsung menyambut kami dengan hangat begitu mendapati kedatangan kami, diikuti Rowan yang berdiri di sampingnya dengan senyum yang tidak pernah benar-benar hilang dari wajahnya.

“Hazel,” ucap Sarah, menggenggam tanganku dengan lembut. “Kau benar-benar terlihat cantik malam ini.”

“Terima kasih, Sarah.” jawabku pelan.

Ia tidak melepaskan tanganku begitu saja. Justru membawaku masuk lebih dalam, dan memperkenalkanku pada beberapa tamu yang datang.

“Ini Hazel,” katanya, seolah aku bukan hanya tamu biasa.

Aku membalas sapaan mereka satu per satu, sembari menjaga sikapku agar tetap tenang dan tetap terlihat pantas. Namun semuanya berubah saat seseorang berkata. “Jadi ini calon istri Mason?”

Kalimat itu jatuh begitu saja di antara kami. Hingga aku pun sontak terdiam. Bukan karena tidak tahu harus menjawab bagaimana, tapi karena aku tahu jawabannya tidak sesederhana itu.

Sebelum aku sempat membuka suara, Sarah tersenyum kecil. “Belum,” katanya ringan. “Tapi kami berharap begitu.”

Harapan. Kata itu terasa lebih berat dari yang seharusnya. Dan tanpa sadar, aku menoleh ke arah Mason. Kini, aku melihatnya, dengan rahangnya yang tampak mengeras. Ia tidak mengatakan apa pun, tapi ekspresinya cukup jelas untuk dimengerti.

Aku tidak ingin hanya berdiri di satu tempat sepanjang malam, jadi aku mendekatinya dengab tidak terburu-buru dan tidak mencolok. Melainkan hanya mendekat seperti seseorang yang memang punya alasan untuk berada di sana.

Ia berdiri di dekat meja minuman, sembari memegang gelas di tangannya. Lalu aku pun berhenti di sampingnya. “Kau bahkan tidak mau menatapku sejak aku datang.”

Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap jatuh pada cairan di dalam gelasnya. “Karena aku tidak tahu harus mengatakan apa.”

Aku menghela napas pelan. “Kau bisa mulai dengan mengatakan sesuatu selain diam.”

Ia akhirnya menoleh. Hingga tatapannya kini bertemu denganku—tatapan yang terasa dingin, tegas, dan tidak goyah.

“Aku sudah mengatakan semuanya sejak awal, Hazel.” katanya. Kalimat itu terdengar tenang. Namun maknanya, tidak pernah ringan.

Aku menatapnya tanpa ingin mundur. “Tidak,” kataku pelan. “Kau hanya terus mengatakan apa yang kau tidak inginkan.” sahutku.

Ia tidak menyela. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang berbeda, yaitu sedikit jeda dan sedikit retakan. “Kau belum pernah mengatakan apa yang sebenarnya kau takutkan.”

Hening pun mengisi jarak di antara kami. Ia tidak menjawab perkataanku. Namun kali ini, ia juga tidak pergi. Dan itu cukup untuk membuatku tetap berdiri di sana.

Hingga akhirnya, suara langkah kaki dari arah tangga menarik perhatian banyak orang. Aku pun sontak menoleh ke arah tangga. Dan di sana, tampak seorang gadis tengah menuruni tangga dengan langkah ringan, mengenakan gaun gelap yang sederhana namun tampak anggun. Rambutnya tergerai, dan senyumnya langsung berubah hangat saat melihat seseorang.

“Mason!” pekiknya.

Namanya disebut dengan cara yang berbeda—dan entah bagaimana rasanya terdengar lebih dekat dan lebih akrab. Aku menoleh kembali ke arah Mason. Dan untuk pertama kalinya, malam itu aku melihat sesuatu berubah di wajah Mason. Ia tidak tersenyum lebar. Namun ekspresinya tampak melunak dna hangat.

Ia pun langsung mendekat. Dan gadis itu langsung memeluknya. “Aku baru sampai. Kau bahkan tidak menjemputku.”

“Kau bilang tidak perlu,” jawab Mason singkat.

“Aku berubah pikiran.”

Nada bicara mereka ringan, tampak seperti tidak ada jarak atau kehati-hatian. Seolah mereka memang sudah terbiasa berada di dunia yang sama. Dan saat itulah aku menyadari sesuatu yang sederhana, tapi menyakitkan. Bahwa gadis itu jelas sangat mengenalnya. Bahkan dengan cara yang belum pernah bisa kulakukan.

“Jennifer, ini Hazel.” , suara Sarah menarikku kembali. Dan Gadis itu menoleh padaku. Ia menatapku beberapa detik, lalu tersenyum dengan manis dan sopan. Namun tidak sepenuhnya hangat.

“Jadi kau Hazel.”

“Ya, Jennifer. Dan kau?” balasku.

"Ah benar. Kami belum pernah menceritakan tentang Jennifer padamu. Jennifer ini adik Mason.", sahut Sarah, berusaha memperjelas sesuatu yang tampak membuatku sedikit bingung.

“Aku sudah sering mendengar tentangmu, belakangan ini.”, sahut Jennifer. Kalimat itu terdengar biasa. Namun ada sesuatu di dalamnya yang tidak bisa kuabaikan. Seperti ada lapisan lain, yang sengaja tidak diucapkan.

Aku pun membalas senyumnya. Namun di dalam hatiku, ada sesuatu yang mulai bergerak perlahan dan rasanya tidak nyaman.

Tidak ada obrolan panjangan yang terjalin di antara kamu setelahnya. Tapi sepanjang malam ini, aku melihat mereka terus bersama. Jennifer dan Mason. Mereka tampak berdiri berdekatan, berbicara pelan, dan sesekali tertawa.

Seharusnya kedekatan mereka adalah hal yang wajar. Hubungan adik-kakak yang hangat, seperti yang kumiliki dengan Jake. Tapi, entah mengapa aku merasakan sesuatu yang mengganjal di hatiku, dan aku tidak benar-benar tahu apa itu. Yang jelas, Mason terlihat lebih hidup, saat bersama Jennifer,

Aku berdiri sedikit jauh, memperhatikan tanpa benar-benar ingin terlihat sedang memperhatikan. Saat ini, aku tidak sedang cemburu. Hanya saja, aku merasa tersingkir dan tidak memiliki harapan. Kukira Mason memang pria yang dingin, tapi nyatanya bersama adiknya, Jennifer, ia bisa bersikap lebih hangat. Yang artinya, sikap dinginnya itu mungkin memang hanya ia tujukan padaku.

“Kalau kau terus menatapnya seperti itu, kau akan patah hati sebelum pernikahan itu bahkan terjadi.” bisik seseorang di telingaku. Aku pun sontak menoleh. Dan Jacob sudah berdiri di sampingku.

“Tidak perlu terlalu khawatir, Hazel. Gadis itu hanya adik tirinya. Dia tidak akan merebut Mason darimu.”, goda Jake.

"Adik tiri?", tanyaku, memastikan ulang. Entah kenapa kata itu seakan berhasil mengusikku.

"Ya. Jennifer adalah adik tiri Mason. Untuk lebih jelasnya, kau bisa membaca artikel tentang keluarga mereka.", jawab Jake, denga sikap sambil lalu. ", tapi yang jelas, kau tidak perlu merasa terlalu cemas seperti ini, Hazel."

"Aku tidak sedang cemas. Aku hanya..." , kalimatku terhenti begitu saja, sebab aku sendiri pun bingung menafsirkan apa yang sedang kurasakan saat ini.

"Lagipula, aku masih memegang janjiku untuk menghajarnya, kalau pria itu sampai berani menyakitimu." , balas Jake, sembari menatapku sebentar, lalu menghela napas kecil.

Beberapa saat setelahnya, aku akhirnya menjauh ke arah balkon. Di luar sini, udara malam terasa lebih jujur daripada suasana di dalam. Aku berdiri sembari mencoba menenangkan pikiranku sendiri. Namun langkah kaki di belakangku membuatku menoleh.

Jennifer. Ia berdiri tidak jauh dariku. “Mason tidak suka dipaksa.” , katanya langsung, tanpa pembukaan apapun.

Aku pun sontak menatapnya. “Aku tidak memaksanya.” , balasku dengan nada yang kuusahakan terdengar datar.

“Benarkah?” Ia tersenyum tipis. “Karena sejak kecil, setiap kali ada sesuatu yang tidak ia inginkan, semua orang tetap memaksanya menerimanya.”

Aku pun diam. Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang tidak bisa langsung kutolak.

“Dan sekarang…” lanjutnya pelan, “…ada kau.”

Tidak ada nada marah dalam suaranya. Juga tidak ada sindiran yang terdengar terang-terangan. Namun justru karena itu, kata-katanya terasa lebih tajam. Dan untuk pertama kalinya, seseorang mengucapkan sesuatu yang selama ini hanya berani kupikirkan dalam diam. Bagaimana jika Mason benar-benar hanya merasa terjebak?

Aku tidak berani menjawab. Karena aku tidak yakin bahwa aku punya jawaban untuk itu. Malam pun semakin larut, dan aku akhirnya keluar menuju taman, seorang diri. Ayah dan Ibu tampak masih sibuk berbincang dengan Rowan dan Sarah di dalam sana. Sementara Jake—aku tidak bisa menemukannya sejak terakhir kali ia menghampiriku beberapa saat yang lalu.

Lampu-lampu kecil menggantung di atasku, hingga menciptakan bayangan lembut di tanah. Dan suara musik dari dalam rumah terdengar samar di luar sini. Saat ini, aku berdiri di beranda rumah keluarga Roux bersama beberapa tamu lainnya.

Aku menarik napas pelan, sampai langkah kaki itu datang lagi. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik langkah kaki itu. Dan beberapa detik kemudian, Mason sudah berdiri di sampingku, dalam jarak yang tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh.

Beberapa detik berlalu tanpa kata. Lalu aku mulai berbicara. “Ini pertama kalinya aku melihatmu tertawa seperti itu... dengannya.”

Ia mengernyit sedikit. “Jennifer?”

Aku mengangguk. “Setidaknya… kau terlihat seperti dirimu sendiri saat ada dia.”

Hening pun menyusup di antara kami. Lalu ia menjawab. “Jennifer...dia memang membawa banyak kebahagiaan di keluarga kami.”

Kalimat itu terdengar sederhana, namun dampaknya tidak. “Dan, dia sudah hadir di sepanjang hidupku.”

Aku sontak menahan napas. Karena aku tahu, bahwa aku tidak bisa bersaing dengan sesuatu seperti itu. Namun saat ini aku tidak pergi, dan aku tidak mundur.

“Kalau begitu…” suaraku pelan, tapi tidak goyah, “…biarkan aku menjadi sesuatu yang lain.”

Ia berhenti, dan aku menatapnya. “Aku tidak harus menjadi rumahmu.”

Ada jeda yang cukup lama untuk membuatku merasakan setiap detik yang berlalu. “Aku hanya ingin menjadi seseorang yang akhirnya kau pilih.” lanjutku.

Mason tidak menjawab ucapanku. Namun kali ini, ia juga tidak langsung pergi. Dan untukku, itu sudah cukup untuk malam ini.

1
Dew666
👄
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Yellow Sunshine: Tebakan yang menarik. Stay tuned ya! Kita lihat, apakah kisah Mason-Hazel akan happy atau sad ending 🤗
total 1 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!