Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal OSPEK
Bibir kecil yang penuh itu sudah dipoles dengan warna cerry yang merah muda segar. Dagu terbelah milik Jeviza tertutup stiker jerawat.
Sial, sangat sial sekali Jeviza ketika untuk pertamanya akan mengikuti kegiatan kampus sebagai mahasiswi baru di sana harus mengalami jerawat yang tiba-tiba muncul ketika bangun tidur. Ia merutuki dirinya yang mengabaikan membersihkan wajahnya sebelum tidur kemarin malam.
Setelah diajak Puspa dan Arlo keliling jogja dan menikmati makanan khas jogja, gudek juga bakpia, Jeviza tidak sempat lagi membersihkan wajahnya karena lelah, gadis itu langsung tidur setelah menyempatkan berganti pakaian, dan pagi ini disaat dirinya mulai mengikuti kegiatan kampus atau ospek, munculah bintik kecil pas di dagunya yang terbelah, sangat mengganggu kecantikannya.
"Je! Buruan! Mas Arlo udah nunggu nih!" Puspa berteriak dari lantai bawah, tepat di depan tangga menuju ke atas.
Karena kamar Jeviza memang tidak di tutup pintunya, gadis itu bisa mendengar dengan sangat jelas.
"Done kak Pus, tunggu!"
Jeviza berlari kecil menuju ke bawah, ikut duduk di meja makan bersama Puspa dan Arlo.
"Sarapan di sini nggak pakai susu sama roti aja ya Je, tapi juga nasi, kakak beliin bubur ayam depan minimarket tadi."
Jeviza mengangguk saja. Toh, ia juga tidak begitu suka susu dan roti lagi, enek belasan tahun mami Ayumi hanya menyuguhkan sarapan susu roti terus.
"Not bad."
Tangan Jeviza langsung mengambil bubur ayam yang memang sudah disuguhkan untuknya. Lalu menyuapkan dengan sangat semangat.
"Udah nggak ada yang ketinggalan, Je?" Arlo yang sedari sibuk dengan sarapannya menoleh ke arah Jeviza.
"Kayaknya udah deh mas Ar, tag name, pakaian putih hitam, sama rambut kepang 2," ujarnya diangguki oleh Arlo.
Puspa menggeleng melihat penampilan Jeviza dari atas sampai bawah. Matanya menyipit melihat stiker jerawat di dagu gadis itu.
"Kenapa muka lo?"
Jeviza terbengong, lalu meraba stiker di dagunya. "Jerawat, anjir banget nongol pas mau masuk kampus."
Puspa dan Arlo terkekeh. Lalu mereka kembali melanjutkan sarapannya.
"Masih mending nyempil di situ, dari pada kakak dulu di hidung banget, mana pas mau ketemu sama mas Ar lagi." Puspa melirik Arlo yang tiba-tiba tersenyum mengingat kejadian dulu dimana keduanya awal-awal bertemu.
"Tetep cantik kok," balas Arlo memuji.
Jeviza langsung gerah mendengarnya, bukan karena iri, tetapi masih pagi sudah disuguhkan dengan kebucinan pasangan suami istri di depannya ini.
"Hari ini bareng mas Arlo dulu ya dek, besok-besok kalau adeknya mas Ar, uda ke sini lagi lo bisa bareng dia."
Jeviza menghentikan kunyahannya, menatap Puspa dengan serius. "Emang ada mahluk lain di sini selain kita kak?" tanyanya polos.
Puspa mendelik, sementara Arlo sudah meledakan tawanya.
"Sembarangan banget, mahluk satu ini tuh bukan sembarangan mahluk, kamu lupa kamar yang ditempati Jova waktu itu kan kamar dia, pokoknya nanti kamu juga tau."
"Dia satu kampus sama kamu Je," beritahu Arlo hampir saja membuat Jeviza tersedak.
"Hah? Sekampus? Maba juga mas?"
Arlo menggeleng, diselingi tawa kecil. "Dia kating kamu, nanti juga ketemu."
Jeviza hanya mengangguk saja, ia tidak bertanya lagi dan lebih memilih untuk melanjutkan sarapannya. Mungkin akan jauh lebih baik kalau ada orang yang seumuran dengannya di rumah itu, apa lagi kata Arlo tadi kakak tingkatnya, Jevi bisa saja meminta bantuan jika mereka bisa akrab atau berhubungan baik.
Tanpa berniat bertanya lebih jauh lagi, dan bahkan gender dari orang yang dimaksudkan pun tidak Jeviza tanyakan. Gadis itu memilih untuk melanjutkan sarapannya.
"Mas, makasih ya uda dianterin," ujar Jevi keluar dari mobil Arlo.
"Aman, mas berangkat dulu ya Je, semoga lancar untuk hari ini."
Jeviza mengangguk dengan senyum tipis, melambaikan tangannya bersamaan dengan mobil Arlo yang mulai menjauh.
Setelahnya ia menatap gerbang besar di depannya yang terbuka dengan sempurna. Banyak mahasiswa baru yang mengenakan pakaian dengan warna sama sepertinya, ia tersenyum tipis menatap banyaknya orang baru juga waja baru di depannya.
Hari baru, dan kehidupan baru
Langkah Jevi pelan dan mantab menuju ke kampusnya, beruntung ia datang tepat waktu dan tidak perlu ada drama terlambat di hari pertamanya mengikuti ospek.
"Semua maba diwajibkan berkumpul di depan kampus."
Suara dari megafon menggema, tidak terlalu keras memang, tetapi cukup jelas untuk didengar.
Jevi ikut berlari untuk berkumpul di pelataran kampus bersama dengan ratusan mahasiswa baru yang datang dengan pakaian dan atribut sama sepertinya.
"Semua diharapkan duduk yang rapih dan tenang."
Suara itu kembali menggema, membuat para mahasiswa baru langsung menurut, tidak ada yang berani membantah pada kakak tingkat mereka. Seakan kegiatan OSPEK kali ini bisa membahayakan ketenangan mereka.
"Hai," sapa seorang gadis duduk di sebelah Jevi.
Jevi menoleh, lalu tersenyum tipis. "Hai," ramahnya sangat singkat dan terkesan tidak basa-basi.
"Ambil jurusan apa?" tanya gadis tersebut melirik Jevi.
"Teater, kamu?"
"Mau jadi artis ya?" tanya gadis itu membuat Jevi terkekeh pelan.
Tidak, Jevi tidak ingin jadi artis, ia mulai tertarik dengan dunia peran, bukan sebagai pemerannya, tetapi orang yang terlibat dalam pembuatan film atau yang lainnya.
"Gue sastra inggris," lanjutnya diangguki Jevi.
"Bay the way kita belum kenalan. Gue Sisil, lo siapa?"
Jevi tersenyum tipis, melirik ke arah kertas besar yang terdapat di depan gadis itu, lalu melirik ke arah dirinya sendiri, sama seperti gadis yang baru menyebutkan namanya, di depan dada Jevi juga terpampang besar namanya.
"Jeviza, lo boleh panggil Jevi," ujarnya menerima jabatan tangan Sisil.
"Fix nih kita temenan ya sekarang," ujar Sisil diangguki Jevi dengan kerlingan mata.
Keduanya tampak tertawa ringan di tengah-tengah mahasiswa yang lain. Namun sepertinya nasib baik sedang tidak berpihak pada mereka, tawa kecil keduanya terdengar sampai ke panitia OSPEK. Dan kini keduanya menjadi pusat perhatian.
"Kalian yang di sana, maju!"
Jevi dan Sisil saling menatap, sebelum akhirnya mengangguk dan berdiri untuk maju ke depan.
Berdiri di depan ratusan mahasiswa yang lain membuat nyali Jevi dan Sisil menciut, wajah-wajah baru yang masih sangat asing di depan mereka kini berfokus hanya pada mereka. Tanpa sengaja obrolan kecil keduanya menjadikan mereka pusat perhatian.
"Ma-maaf kak." Sisil memberanikan diri untuk meminta maaf.
"Tahu apa kesalahan kalian?" tanya panitia diangguki keduanya.
"Apa coba? Kamu yang jawab?" tanya seorang mahasiswi berparas cantik yang kini tengah menatap Jevi.
Meski gugup, sebisa mungkin Jevi mengeluarkan suaranya.
"Kita ngobrol disaat kaka lagi jelasin," ujarnya berusaha tenang, agar nada suaranya tidak terdengar gugup.
"Sekali lagi, maaf kak, kita salah," ujar Jevi lebih berani lagi.
"Lo mau hukum mereka langsung apa nunggu si ketua dulu?" tanya mahasiswa yang tadi memanggil nama mereka diawal untuk maju.
"Bentar, nunggu Ke, dulu aja."
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!