"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."
Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.
Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.
Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan Emas Berdarah
Dua puluh prajurit Garda Emas Kekaisaran makin merapatkan barisan mereka. Ujung tombak mereka yang mengkilap bergetar halus, memancarkan energi Qi tajam yang siap menembus apa saja di depan mereka.
Di bawah penerangan lampion aula yang bergoyang-goyang, zirah emas mereka kelihatan berkilau, kontras banget sama suasana mencekam yang bikin para pengunjung penginapan di pojokan nggak berani napas keras-keras.
"Serang! Jangan kasih dia celah buat gerak!" teriak si wakil kapten dari barisan belakang sambil mengayunkan pedangnya komando.
Mendengar aba-aba itu, lima prajurit di barisan paling depan langsung menerjang maju secara serentak. Tombak-tombak panjang mereka meluncur lurus dengan kecepatan tinggi, mengincar titik-titik vital di tubuh Ling Chen—leher, dada, dan kedua pahanya.
Serangan mereka kompak banget, menutup semua ruang buat menghindar ke kiri maupun ke kanan.
Mu Rong'er yang nonton dari jarak lima langkah di belakang sampai meremas ujung jubah merah mudanya sendiri. "Tuan Muda Ling, awas!" teriaknya refleks, meskipun di dalam hati dia tahu kalau kekhawatirannya ini mungkin bakal berakhir sia-sia lagi kayak yang sudah-sudah.
Sreeet~
Ling Chen bahkan nggak melangkah mundur satu tapak pun. Pas lima ujung tombak itu tinggal berjarak beberapa sentimeter dari bajunya, dia cuma memiringkan tubuhnya dengan gerakan yang luwes banget, mirip kayak daun yang meliuk pas ditiup angin malam. Lima tombak itu lewat begitu aja di samping tubuhnya, cuma memotong udara kosong.
"Gerakan kalian terlalu kaku," ucap Ling Chen santai, suaranya kedengaran jelas banget di tengah bisingnya gesekan zirah besi.
Sebelum lima prajurit itu sempat menarik kembali senjata mereka, tangan kanan Ling Chen yang tadinya diam di gagang pedang akhirnya bergerak. Dia nggak mencabut pedangnya sepenuhnya, cuma mendorong gagangnya keluar sekitar beberapa senti dari sarungnya.
TING!
Sebuah gelombang energi transparan sewarna biru tua melesat keluar dari celah pedang yang terbuka itu. Gelombang itu tipis banget, tapi efeknya luar biasa gila.
KRAAAK!
Lima gagang tombak yang terbuat dari kayu besi pilihan langsung hancur berantakan jadi serpihan halus. Nggak berhenti sampai di situ, gelombang energi itu menghantam dada lima prajurit terdepan, bikin baju zirah emas mereka yang tebal langsung retak seribu dan meledak. Tubuh kelima orang itu terlempar ke belakang kayak boneka kain yang talinya putus, menabrak barisan di belakangnya sampai formasi rapat mereka langsung berantakan.
"Sialan! Monster apa sebenarnya bocah ini?!" wakil kapten itu melotot kaget, mukanya yang tadi merah padam karena marah sekarang langsung berubah pucat kayak kertas kafan.
Dia sering ikut perang di perbatasan, sering juga berhadapan sama master-master dari sekte luar, tapi dia belum pernah melihat ada orang yang bisa menghancurkan senjata dan zirah Garda Emas cuma pakai getaran energi pedang yang bahkan belum dicabut sepenuhnya dari sarungnya.
"Jangan pelit-pelit, maju semua atau aku yang bakal samperin kalian satu-satu," kata Ling Chen sambil berjalan pelan mendekati sisa prajurit yang masih tegak berdiri. Setiap langkah kakinya yang santai malah terasa kayak ketukan jam kematian di telinga mereka.
"Semua... semua maju! Gunakan serangan jarak jauh! Jangan biarkan dia mendekat!" teriak si wakil kapten dengan suara yang sudah mulai pecah karena panik.
Sisa belasan prajurit itu langsung buru-buru mundur beberapa langkah, mereka melepaskan perisai berat mereka lalu menarik kapak lempar kecil dari pinggang masing-masing. Dengan sisa seluruh tenaga Qi yang mereka miliki, belasan kapak berputar itu dilemparkan secara bersamaan ke arah Ling Chen, menciptakan hujan besi tajam yang berdesing mengerikan di dalam aula penginapan.
Wus! Wus! Wus!
Mu Rong'er yang melihat hal itu langsung memeluk Kuro lebih erat lagi. "Kuro, siap-siap kalau kita harus bantu!" bisik histeris.
Tapi Kuro cuma membuka sebelah mata emasnya, mengeluarkan suara "Kyuu~" yang malas banget, lalu kembali merem. Si bola bulu hitam ini tampaknya sudah tahu kalau level serangan kayak gini jangankan melukai Ling Chen, menyentuh ujung jubahnya aja nggak bakal bisa.
Menghadapi hujan kapak lempar di depannya, Ling Chen akhirnya benar-benar menarik pedang hitam karatan itu keluar dari sarungnya.
Sreeeng!
Bilah pedang yang kelihatan tua dan penuh karat itu mengeluarkan suara lengkingan panjang yang jernih banget, seolah-olah singa purba yang sudah tidur ribuan tahun di dalam tanah akhirnya bangun kembali. Ling Chen mengayunkan pedangnya satu kali dalam gerakan melingkar di depan dadanya.
Teknik Pedang Kaisar: Pusaran Angin Kehampaan.
Seketika, sebuah badai angin mini berwarna biru tua berputar cepat di sekeliling tubuh Ling Chen. Belasan kapak lempar yang dilemparkan para prajurit tadi langsung tersedot masuk ke dalam pusaran angin tersebut, kehilangan arah arusnya, lalu berputar-putar mengikuti kendali energi pedang Ling Chen.
"Aku kembalikan barang-barang kalian," ucap Ling Chen dengan senyum tipis yang dingin.
Dengan satu dorongan ujung pedangnya ke depan, belasan kapak lempar itu melesat balik ke arah para prajurit dengan kecepatan dan kekuatan yang berlipat-lipat ganda dari sebelumnya!
JLEB! JLEB! JLEB!
"AAAAAAKKK!"
Jeritan histeris langsung memenuhi seisi aula penginapan. Belasan prajurit Garda Emas itu nggak sempat menghindar sama sekali. Kapak-kapak lempar milik mereka sendiri menembus zirah emas dan dada mereka dengan telak. Satu per satu dari mereka bertumbangan di atas lantai granit hitam, darah segar mengalir deras, merembes ke sela-sela ubin dan mengubah aula mewah itu jadi kolam darah dalam hitungan detik.
Sekarang, di tengah aula yang penuh dengan mayat itu, cuma tersisa si wakil kapten yang posisinya sudah terduduk lemas di lantai dengan kaki yang gemetaran parah. Pedang di tangannya bahkan sudah jatuh terlepas karena telapak tangannya terlalu basah oleh keringat dingin.
Ling Chen berjalan santai melewati tumpukan mayat prajurit, ujung pedang hitamnya yang masih meneteskan darah diseret di atas lantai batu, menciptakan suara decitan yang bikin ngilu di telinga.
"Kam-kau... kau beneran gila... Pangeran Agung... Pangeran Agung pasti bakal bantai seluruh keluargamu..." bisik si wakil kapten dengan suara parau, air mata ketakutan mulai meleleh di pipinya melihat sosok Ling Chen yang kelihatan kayak dewa kematian berwujud pemuda fana.
"Keluargaku?" Ling Chen berhenti tepat satu langkah di depan wakil kapten itu, natap dia pakai pandangan hampa. "Keluarga yang kau maksud itu sudah terusir dari kota asalnya karena kebodohan mereka sendiri. Dan untuk Pangeran Agungmu... beritahu dia, kalau dia mau giok ini, suruh dia datang sendiri bawa kepalanya ke hadapanku."
SLASH!
Tanpa nunggu balasan atau permohonan ampun lagi, bilah pedang hitam Ling Chen bergerak secepat kilat menyayat leher si wakil kapten sampai tewas seketika. Tubuh pria itu ambruk ke samping, menambah daftar panjang korban keganasan sang mantan Kaisar Pedang malam ini.
Ling Chen mengibaskan pedangnya sekali untuk membersihkan sisa darah yang menempel di bilahnya, lalu memasukkannya kembali ke dalam sarungnya dengan bunyi klik yang rapi. Dia menoleh ke arah Mu Rong'er yang masih berdiri terpaku di anak tangga terakhir dengan muka yang agak pucat.
"Ayo jalan, tempat ini sudah terlalu kotor dan bau, kita cari tempat lain yang lebih tenang buat lewat sisa malam ini," ajak Ling Chen enteng, seolah-olah dia baru saja menyelesaikan urusan sepele di pasar daripada membantai satu peleton pasukan elit kekaisaran.
Mu Rong'er menelan ludah susah payah, dia buru-buru melangkah cepat ngikutin Ling Chen keluar lewat pintu depan penginapan yang sudah hancur, menembus kabut malam Ibukota yang sebentar lagi dipastikan bakal gempar karena kejadian berdarah ini.