Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16# Gavin Yang Menyebalkan
"Tuan, Tuan Muda Valen sudah kembali," ucapnya sambil terengah-engah.
"Kenapa kau tampak begitu panik?" tanya Gavin seraya mengerutkan kening.
"Itu... dia membawa seorang wanita," jawab pelayan itu, yang sebenarnya tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di keluarga Aditama.
"Baiklah, persilakan mereka masuk," ucap Papa Hans dengan tatapan tenang.
"Pa, Kakak benar-benar sudah menikah ya? Aku hampir tidak percaya, rasanya ini semua hanya mimpi," ujar Gavin dengan wajah polos, tampak sedikit bingung.
Pelayan itu mengangguk, lalu bergegas kembali ke pintu utama untuk menyambut tamu baru mereka sekaligus nyonya muda di rumah itu.
"Pa, bagaimana penampilanku? Sudah bagus, kan?" tanya Gavin, seolah dialah yang paling bersemangat.
"Terserah kau saja," jawab sang Papa, yang sudah paham betul tabiat anak bungsunya itu.
Sementara itu...
"Wah, ternyata rumah ini berbeda dari yang aku bayangkan. Jauh lebih besar dibanding rumah keluarga Gunawan," batin Ayla seraya menatap sekeliling halaman dan bangunan megah milik keluarga Aditama.
Ia berjalan mengikuti Valen dari belakang, sementara sopir mengangkat koper dan membawanya masuk.
Di depan pintu, sudah berdiri seorang pelayan yang siap menyambut kedatangan Valen dan Ayla, yang kini resmi menjadi sepasang suami istri.
"Tuan Muda, Anda sudah kembali," sapa pelayan itu dengan sopan.
"Hm," jawab Valen singkat tanpa menoleh sedikit pun.
Pelayan itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah Ayla, kemudian menyapa, "Silakan masuk, Nyonya Muda. Tuan Hans sudah menunggu di dalam," ucapnya seraya mempersilakan dan mengambil alih koper dari tangan sopir.
Tak butuh waktu lama, mereka pun tiba di ruang tengah yang luas dan mewah.
Di sana terlihat dua orang pria sedang duduk di sofa, tak lain adalah Papa Hans dan Gavin.
"Aku sudah memenuhi permintaanmu," ucap Valen kepada ayahnya.
Sementara itu, Ayla hanya menundukkan kepalanya.
Papa Hans memberi isyarat kepada pelayan untuk membawa koper Ayla ke kamar, lalu kembali menatap kedua orang yang baru datang itu.
"Tunjukkan surat nikahnya," perintah Papa Hans.
"Wah, wanita ini terlihat masih sangat muda. Kenapa dia terus menunduk seperti itu?" batin Gavin, yang sedari tadi memperhatikan Ayla dengan rasa penasaran.
Tanpa banyak bicara, Valen menyerahkan akta nikah yang ia dapatkan di kantor catatan sipil, agar ayahnya semakin yakin.
"Sudah selesai, kan? Aku lelah. Aku mau ke kamar dulu," ucap Valen, lalu mendorong kursi rodanya dan pergi meninggalkan ruangan.
Ayla tampak bingung dan canggung, tak tahu harus berbuat apa di hadapan keluarga Aditama, apalagi Valen malah meninggalkannya sendirian.
"Kau Ayla?" tanya Papa Hans dengan nada lembut.
"I-iya," jawab Ayla sambil tetap menunduk.
"Ayo duduk. Aku ingin bicara sebentar denganmu," ajak sang ayah mertua, yang membuat jantung Ayla kembali berdebar kencang.
Terpaksa, Ayla duduk di sofa yang berhadapan dengan Papa Hans dan Gavin.
"Hei, kenapa tubuhmu terlihat sekecil ini?" tanya Gavin ceplas-ceplos.
Ayla menatapnya dengan tatapan kesal. Sungguh, ucapan pemuda itu benar-benar membuatnya sebal.
"Gavin, diam!" tegur Papa Hans.
"Maaf," gumam Gavin seraya menutup mulutnya sendiri.
"Ayla, kau benar-benar anak kandung keluarga Gunawan?" tanya Papa Hans lagi.
"I-iya," jawab Ayla singkat.
"Pa, dia takut," bisik Gavin pelan.
Namun Papa Hans hanya meliriknya sekilas, lalu kembali berbicara kepada Ayla.
"Jangan takut, Ayla. Aku sudah mengetahui semuanya tentang keluargamu, termasuk bagaimana mereka lebih menyayangi anak angkat dibanding anak kandung sendiri. Jadi, aku tidak akan mempermasalahkan latar belakangmu. Di sini, kau bisa hidup tenang bersama kami. Kami akan berusaha memberikan apa yang tidak bisa diberikan keluarga Gunawan padamu. Aku bukan orang jahat. Dengan menikahi putraku, kau tentu sudah paham apa yang diharapkan, bukan?" ujar Papa Hans panjang lebar.
"Pa, jangan bicara terlalu banyak dulu. Pelan-pelan saja. Biarkan Kak Valen yang menjelaskan hal itu nanti," sela Gavin lagi.
Kali ini, Papa Hans setuju dengan pendapatnya, melihat kondisi Ayla yang masih merasa asing dan canggung.
"Maafkan aku, Ayla. Aku tidak bermaksud menekanmu di pertemuan pertama ini. Tidak apa-apa, kau hanya perlu hidup tenang di rumah ini dan membantu merawat Valen," ucap Papa Hans dengan nada yang lebih lembut.
"Terima kasih, Om Hans. Aku akan menjalankan kewajibanku dalam pernikahan ini dan tidak akan mengecewakan kalian," jawab Ayla. Ia mulai merasa sedikit lebih tenang, karena bisa merasakan bahwa Papa Hans bukan orang yang berbahaya.
"Kalau begitu, istirahatlah di kamar. Kau pasti lelah setelah perjalanan jauh. Aku juga minta maaf, karena Valen tidak menginginkan pernikahan ini dirayakan. Untuk sementara, kalian hanya memiliki surat nikah tanpa pesta apa pun," ucap Papa Hans dengan nada sedikit bersalah.
"Tidak apa-apa, itu sama sekali tidak menjadi masalah," jawab Ayla seraya menggelengkan tangan.
"Baguslah kalau begitu. Kau terlihat sangat pengertian. Gavin, antarkan dia ke kamar kakakmu," perintah Papa Hans kepada anak bungsunya.
"Baiklah," jawab Gavin, lalu segera berdiri.
"Ayo," ajaknya kepada Ayla.
"Permisi, Om," pamit Ayla.
"Tunggu dulu. 'Om'? Kau sudah resmi menjadi menantuku. Jangan panggil om, panggil saja Papa," ucap Papa Hans sambil tersenyum hangat.
"B-baiklah," jawab Ayla singkat, lalu berjalan mengikuti Gavin dari belakang.
Namun di tengah perjalanan, Gavin tiba-tiba berhenti dan berbalik menatap Ayla.
"Sial, kenapa dia berhenti dan menatapku seperti itu?" batin Ayla. Sejak pertama bertemu, ia sudah merasa kesal dan tidak nyaman dengan sikap adik iparnya itu.
"Hei, si mungil," panggil Gavin.
"Aku?" tanya Ayla sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Lalu siapa lagi? Coba lihat dirimu. Kurus, pendek. Apa kau jarang makan? Berapa usiamu sebenarnya?" tanya Gavin sambil menyentuh pipi Ayla dengan ujung jarinya.
Ayla berpikir, setelah pergi dari keluarga Gunawan ia akan hidup tenang dan tidak diganggu lagi. Namun siapa sangka, di kediaman Aditama justru ada orang yang lebih menyebalkan dibanding siapa pun di keluarganya dahulu.
Padahal, tanpa disadari oleh Ayla, justru dengan sifatnya yang begitu itulah, Gavin kelak akan menjadi teman baiknya di kediaman ini.
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya