Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.
Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 "SUDAH MULAI KUAT TERNYATA..."
"Nisa..."
.....
.....
.....
"Nisaaa... Bangunlah..."
.....
.....
.....
Ke dua mataku berkedip perlahan... Saat mendengar panggilan itu...
Dan...
"AAAAAAAAAAAA!!!!! HAAHH... HAAHH... HAAHH..."
Aku langsung terduduk, seolah terbangun secara paksa...
Seketika itu juga, aku langsung memperhatikan seluruh tubuhku dengan cepat. Meraba seluruh bagian.
Tanganku utuh?
Kakiku... Utuh?
Perutku... Tak terjadi apa-apa...
Semuanya utuh kembali...
Lalu aku segera menoleh ke kanan dan ke kiri. Kembali aku takut jika ternyata diriku terbangun di tempat tadi dengan segala keberingasan bangsa lelembut itu.
Akan tetapi... Aku mendapati diriku sudah berada di tempat yang sangat jauh berbeda...
Aku berada... Di sebuah tempat yang lebih mirip dengan pendopo sebuah kerajaan...
Di sekelilingku adalah taman indah, yang dipenuhi oleh bunga-bunga yang masih kuncup. Tak ada satu pun bungan yang mekar.
Lalu... Mataku melihat tubuhku ternyata sedang duduk di sebuah kasur, dengan rangka kayu dan juga tirai yang terbuka lebar.
Dan... Sedetik kemudian...
Dayang Putri hadir di hadapanku...
"Nisa..." ucapnya.
Dayang Putri masih berpenampilan seperti seorang ratu kerajaan seperti sebelum aku menjadi santapan bangsa lelembut itu, sambil menatapku dengan senyuman.
Aku masih seperti orang yang linglung. Tak merespon dirinya.
"Nisa..." kembali Dayang Putri memanggilku.
Kini, aku malah merasa takut saat melihatnya. Aku seperti merasa melihat sosok yang tak pernah dekat denganku. Padahal aku tahu bahwa ia adalah Dayang Putri, sosok perewanganku selama ini.
Aku menatapnya sambil sedikit mengacuhkan wajahku...
Lalu... Tiba-tiba...
Dari arah belakang Dayang Putri, muncul lagi satu sosok yang sangat mirip seperti dirinya. Wajahnya sama. Tatapan matanya sama. Rambutnya terurai lurus, sama. Penampilannya pun sama persis layaknya seorang ratu kerajaan. Semuanya sama.
Lalu sosok itu mulai tertawa sinis, sambil menatap Dayang Putri di sampingnya.
"Hihihi... Sudah kubilang padamu Dayang Putri, hatinya masih kosong... Hihihi..."
"Kau benar, Sekar Mayang..." jawab Dayang Putri sambil tetap menatap ke arahku.
Ternyata... Sosok satu lagi itu adalah Sekar Mayang...
"Sampai kapan kau akan keras kepala Dayang Putri? Apa kau tak merasa kasihan padanya?" ucap Sekar Mayang yang kini menatapku.
Aku masih saja terduduk di atas kasur di tengah pondok kerajaan ini. Entah bagaimana isi pikiranku. Rasanya seperti kosong.
"Jika kau mengizinkan, akan ku bantu..." Ucap Sekar Mayang selanjutnya.
"Tidak perlu... Bukankah kau sendiri yang bilang, bahwa itu adalah tugasku untuk mengisi kekosongan di hatinya?" balas Dayang Putri.
"Hahaha... Benar... Tapi sepertinya kau akan sedikit kesulitan Dayang Putri..." ucapan Sekar Mayang tampak terasa sedikit meledek Dayang Putri.
"Kau tak bisa melihat masa depan." balas Dayang Putri.
"Jangan sombong kau Dayang Putri. Justru akulah yang lebih kuat darimu, karena aku bisa melihat masa lalu." balas Sekar Mayang lagi.
Entah perasaan apa yang tiba-tiba merasuk dalam batinku. Tiba-tiba saja aku membentak mereka berdua.
"Diam kalian!"
Sontak, Dayang Putri dan Sekar Mayang terdiam sambil menoleh ke arahku bersamaan. Mereka seperti dua anak kembar identik yang baru saja dibentak oleh Ibunya.
Entah ada kekuatan kesadaran apa lagi berikutnya yang mengalir dalam batinku, aku berkata dengan tegas pada mereka berdua...
"Kalian bisa memiliki kekuatan masing-masing, tapi kalian tak akan pernah melebihi kekuatan Sang Pencipta!"
Dayang Putri tampak sedikit melebar tatapannya, namun tanpa senyuman sedikitpun. Hanya tatapan yang tajam lurus ke arahku.
Berbeda dengan Sekar Mayang, ia malah tampak tersenyum, memandangku, lalu berkata...
"Sudah mulai kuat ternyata... Hihihi..."