Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.
Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.
Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.
Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Menahan serangan.
Aku berhenti berlari ketika dirasa sudah cukup jauh dari sekumpulan musang itu, aku mengatur nafasku sesekali membenarkan pakaianku yang terkena angin saat berlari.
Bila biasanya aku hanya memakai pakaian sederhana yang ringan dan mudah diatur, kali ini aku harus benar-benar berusaha keras merapihkannya sebelum kembali ke rombongan nona Huang.
"Aduh rambutku acak-acakkan," gumamku sambil merapihkan rambutku dan teringat kembali pada seorang pria yang membantuku menembak anak panah.
Siapa sebenarnya pria itu? Namun dari tinggi dan postur tubuh serta perawakannya, aku seperti pernah melihatnya.
Tapi kapan dan dimana ya? Aku bergumam sendiri.
Karena tidak mau ambil pusing, aku tidak lagi memikirkannya. Aku segera mengambil barang-barang belanjaanku dan juga boneka hadiah dari permainan panah, lalu berjalan kembali menuju tempat dimana nona Huang sudah menungguku.
...***...
"Nona muda, itu nona Qiuye." tunjuk Bibi Lan ketika melihatku menghampiri.
"Bibi, Nona."
"Qiuye, kau darimana saja? Kenapa penampilanmu berantakan sekali?" tanya Nona Huang menatapiku.
"Hamba dari sana Nona, ini untuk Nona." Aku memberikan beberapa kudapan manis yang ku beli di pedagang tadi.
"Ini untukku?" tanya Nona Huang merasa terharu.
"Ya, hamba dengar dari Bibi Lan kalau anda suka sekali sama kue osmanthus ini. Jadi hamba belikan satu kotak penuh untuk anda dan anda tidak perlu berdesak-desakan kesana," jawabku bangga.
"Terima kasih ya Qiuye," balas nona Huang senang. "Kau beli boneka juga?" tanyanya kemudian.
"Oh boneka ini hamba dapat dari permainan panahan," jawabku menunjukkan.
"Kau main panahan? Memangnya kau bisa memanah?" tanyanya ragu.
"Tentu saja, boneka ini buktinya."
"Baiklah, Qiuye ku memang hebat. Sini duduklah, mari kita makan dulu sebelum pulang."
"Baik Nona," jawabku patuh.
Setengah hari telah berlalu, setelah menyelesaikan makan siang. Aku dan rombongan nona Huang kembali ke kediaman. Lalu selama diperjalanan pulang, aku menceritakan kembali semua pengalamanku di pesta rakyat.
Termasuk menghadapi si musang saat berada dipermainan memanah.
"Lucu sekali melihat wajah si musang itu berubah merah seperti bokon9 monyet dan dia pergi dengan rasa malu setelah aku mengoyak habis pakaiannya," ucapku bercerita.
Nona Huang terkekeh mendengar ceritaku dan berkata kalau aku begitu nakal dan sangat arogan. Akan tetapi ia merasa senang karena ini pertama kalinya melihatku tertawa lepas bersama dengannya.
Seakan-akan ia merasa aku sudah melupakan semua kesedihanku.
"Qiuye, kau terlihat sangat cantik bila sedang tersenyum."
"Benarkah Nona," balasku sedikit malu.
"Tentu saja benar, maka dari itu Qiuye berjanjilah padaku kau akan selalu ceria seperti ini," pinta nona Huang.
"Baiklah Nona," patuhku berjanji.
Bersamaan dengan hal tersebut tiba-tiba saja rombongan nona Huang terhenti.
"Ada apa Bibi Lan? Kenapa rombongan kita berhenti?" tanya Nona Huang dari dalam kereta.
"Entah Nona, hamba juga tidak tahu."
"Coba cari tahu Bi," pinta nona Huang.
"Baik Nona," patuh Bibi Lan lalu berjalan ke depan barisan untuk melihat apa yang sedang menahan perjalanan mereka.
Tak butuh waktu lama, Bibi Lan kembali dengan raut cemas. "Bahaya Nona, kita dihadang perampok!"
"Apa? Rampok?"
Lindungi Nona muda! ... Lindungi Nona muda!
Teriakan para penjaga di depan terdengar hingga ke dalam kereta, pun dengan mereka yang sudah berbaris rapat menjaga keamanan.
Akan tetapi pasukan berbaju serba hitam berjumlah cukup banyak, hingga penjaga kediaman Huang kalah telak.
Para perampok itu menghabisi semua nyawa penjaga kediamanan Huang, hingga tersisa beberapa pelayan wanita dan juga kami yang ada di dalam kereta.
"Qiuye ..." kecemasan terlihat dari raut wajah nona Huang, begitu pun dengan diriku. Tapi aku telah berjanji akan menjaganya semampuku.
"Tenang Nona, hamba akan selalu menjaga Nona." Aku berusaha menjaga nona Huang dan menahannya agar tidak turun dari kereta.
"Siapa kalian? Dan kenapa menahan jalan kami!" ucap Bibi Lan menanyakan maksud para pembunuh itu, karena tidak ada satu pun dari mereka yang mengambil harta berharga bawaan keluarga Huang.
"Serahkan nona perdana menteri pada kami, maka kalian boleh pergi!"
"Jangan harap! Langkahi dulu mayat kami!" cegah Bibi Huang dan beberapa pelayan wanita membentuk barisan.
"Baiklah, kalau itu mau kalian maka akan kami turuti." salah satu perampok itu mengangkat pedangnya dan hendak menyerang Bibi Lan.
Sehingga aku harus bergegas turun agar bisa menahan serangannya.
TRANGG!!!
Suara pedangku beradu dengan pedangnya.
"Nona Qiuye!"
"Qiuye!"
Pekik histeris Bibi Lan dan nona Huang melihatku menahan serangan dari pria dewasa.
"Bibi, cepat bawa pergi Nona! Aku akan berusaha menahan mereka disini!" pintaku agar Bibi Lan dan Nona Huang pergi.
"Tidak Qiuye aku tidak bisa meninggalkanmu!" Nona Huang menolak dan takut terjadi apa-apa padaku.
"Percayalah pada hamba Nona, cepatlah pergi dan cari bantuan!"
Aku mendorong pedangku agar terlepas dan segera menghindar, lalu ku coba menyerang sisi lain dan begitu pula dengan lawanku.
"Dasar gadis tidak tahu diri, kami tidak ada urusan denganmu. Cepat menyingkirlah!" sentak pria itu mencoba mengejar nona Huang dan aku terus berusaha menahannya dengan berbagai macam serangan.
Bibi Lan tidak punya pilihan selain menarik paksa nona Huang agar pergi dan berharap aku baik-baik saja.
Tapi aku sadar akan kemampuanku, tenaga mereka tidak sebanding denganku dan aku mulai kehabisan tenaga. Terlebih keahlian pedang mereka tidak bisa diremehkan, hingga pada akhirnya satu sayatan mengenai bahuku.
Aku meringis kesakitan dan darah mulai mengucur turun hingga membasahi pergelangan tanganku. Rasanya begitu perih, tapi aku tidak boleh menyerah untuk saat ini sebelum nona Huang menjauh.
"Cepatlah bawa pergi nona Huang sejauh mungkin," gumamku.
"Sial!" umpat pria itu kesal karena aku terus menghalangi jalannya.
"Hadapi aku dulu!" Aku kembali menyerang pria itu, namun sejurus kemudian aku terkapar tidak berdaya karena satu tusukan lain mengenai perutku.
"Qiuye!!" jeritan nona Huang sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Aku hanya bisa berdoa agar dia selamat dan segera mendapat bantuan dari seseorang.
Air mataku mengalir, tetapi bukan hanya karena menahan rasa sakit akibat luka ini. Melainkan karena aku bukanlah siapa-siapa.
Di dunia ini aku tidak punya keluarga kandung, bahkan aku tidak tahu siapa dan ada dimana mereka berada. Entah sebenarnya aku ini telah dibuang atau memang tidak diinginkan dari awalnya.
Tapi satu hal lain aku teringat ayahku tabib Jiang, air mataku semakin mengalir deras ketika mengingat dirinya.
Jadi inikah akhir hidupku?
Aku merasa bersalah karena telah melawan ayahku dan aku belum sempat berbakti padanya.
"Ayah maafkan aku," ucapku lemah.
Sedetik kemudian seorang pria berbaju putih datang mengangkat tubuhku dan membawaku pergi menjauh dari kekacauan. Aku menatapnya lemah, tanganku pun sulit untuk berpegangan padanya.
"Ku mohon bertahanlah ..."
Hanya suara itu yang ku dengar darinya, setidaknya aku merasa sedikit lega karena bala bantuan telah tiba dan tak lama kemudian mataku terpejam karena rasa kantuk mendera.
...Bersambung....