NovelToon NovelToon
RED FLAG

RED FLAG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: ujang Bonang@_@

​"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
​Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
​Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
​Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
​Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
​Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Runtuhnya Takhta Malaikat

****

Suara isak tangisku yang terekam jelas dua minggu lalu menggema di setiap sudut ruang kepala sekolah, bersahut-sahutan dengan kalimat dingin sarat ancaman yang keluar dari mulut Devan. Setiap kata yang berputar dari alat perekam hitam di atas meja itu seolah menjadi palu hakim yang memukul hancur reputasi sempurna yang selama ini dibangun oleh sang Ketua OSIS.

Wajah Pak Malik perlahan memerah. Gurat-gurat kekecewaan yang mendalam tercetak jelas di dahi beliau saat rekaman itu mencapai bagian di mana Devan secara gamblang memaksa aku menjadi pacarnya demi merobek surat pemecatan Saka. Beliau mematikan rekaman tersebut setelah durasi berputar selama lima belas menit. Keheningan yang kembali hadir terasa jauh lebih mencekam daripada sebelumnya.

"Devan Dirgantara," suara Pak Malik terdengar sangat berat dan bergetar menahan amarah yang luar biasa. Beliau melepas kacamatanya, lalu menatap Devan dengan pandangan yang belum pernah kulihat seumur hidupku. "Bapak bener-bener gak menyangka... murid yang selama ini Bapak banggakan, Ketua OSIS yang selalu menjadi teladan di sekolah ini, ternyata memiliki tabiat sekejam ini di balik punggung guru."

Devan masih tertunduk kaku di atas kursinya. Kedua telapak tangannya mencengkeram lutut celana abu-abunya dengan sangat kuat hingga kainnya tampak kusut. Topeng malaikatnya telah hancur berkeping-keping di atas meja jati ini. Saat dia perlahan mendongak untuk menatap Pak Malik, kilat mata ramahnya sudah hilang total, digantikan oleh tatapan dingin beracun yang dipenuhi rasa frustrasi yang mendalam.

"Pak Malik, rekaman itu diambil di luar konteks. Saya melakukan itu semua demi kebaikan Mikaela—"

"Cukup, Devan! Jangan berbohong lagi di depan Bapak!" bentak Pak Malik keras, memotong pembelaan Devan tanpa amlapun. "Suara di dalam rekaman ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kamu telah melakukan tindakan intimidasi, penyalahgunaan wewenang jabatan OSIS, dan pemalsuan laporan terkait insiden pemukulan Saka!"

Pak Malik menarik selembar kertas putih kosong dan sebuah pulpen dari laci mejanya, lalu menuliskan beberapa baris kalimat dengan gerakan yang sangat tegas dan cepat.

"Mulai detik ini, Bapak mencopot jabatan kamu sebagai Ketua OSIS SMA Tunas Bangsa secara tidak hormat," vonis Pak Malik telak, membuat Devan tersentak mundur di kursinya seolah baru saja dihantam balok es. "Semua hak organisasi kamu dicabut, dan besok pagi, setelah upacara rutin, kamu akan berdiri di depan lapangan untuk mengumumkan pengunduran diri kamu di depan seluruh murid."

"Pak, please... jangan lakukan ini. Masa depan saya—"

"Kamu tidak memikirkan masa depan Saka saat kamu mengancam Mikaela, Devan!" potong Pak Malik dingin. "Dan untuk tindakan kamu yang nekat mengejar mereka secara ugal-ugalan di jalan raya semalam hingga merusak fasilitas umum, Bapak menjatuhkan sanksi skorsing selama dua minggu penuh untuk kamu. Surat panggilan untuk orang tua kamu akan dikirimkan sore ini juga."

Aku memejamkan mata erat-erat, mengembuskan napas panjang yang terasa sangat lega. Beban berat yang selama dua minggu ini menghimpit dadaku hingga membuatku sulit bernapas, perlahan-lahan menguap tanpa sisa. Sangkar emas itu akhirnya runtuh seutuhnya, dan diktator sekolah yang mengurungku kini resmi menerima hukumannya sendiri.

"Saka Aditya, Mikaela," Pak Malik beralih menatap kami berdua dengan pandangan mata yang melunak. "Bapak meminta maaf karena sempat salah menilai situasi dan menyudutkan kalian akibat laporan palsu ini. Laporan pelanggaran kriminal Saka tadi malam resmi Bapak batalkan karena terbukti tidak sah. Kalian berdua silakan kembali ke kelas masing-masing."

Saka mengangguk sopan, memberikan penghormatan singkat kepada Pak Malik dengan gerakan yang sangat rapi dan tertata—sebuah kepatuhan sistem yang kini justru berhasil menyelamatkan hidupnya. "Terima kasih banyak, Pak Malik," ucap Saka dengan suara baritonnya yang mantap.

Saka berbalik, lalu berjalan lebar menuju pintu keluar ruang kepala sekolah. Aku segera bangkit dari kursi, melangkah cepat menyusulnya tanpa sudi melirik sedikit pun ke arah Devan yang masih terduduk lemas di kursinya dengan tatapan mata kosong yang hancur total. Takhta sang malaikat sekolah telah runtuh sepenuhnya sore itu.

Suasana koridor gedung administrasi siang itu terasa sangat sepi karena jam istirahat pertama baru saja berakhir. Aku berjalan beriringan di sebelah Saka, menyusuri jalan setapak berkerikil yang memisahkan gedung IPA dan IPS. Angin sepoi-sepoi pasca-hujan bertiup lembut, memainkan ujung rambut pendek baru Saka yang rapi.

Langkah kaki Saka mendadak terhenti di bawah pohon beringin besar yang rindang dekat lapangan basket *outdoor*. Dia berbalik, menatapku lurus-lurus dengan mata elangnya yang kini tidak lagi memancarkan kedinginan atau luka dikhianati. Binar mata perlindungan yang hangat yang sangat kurindukan selama belasan tahun ini akhirnya kembali hadir seutuhnya.

"Lo... lo beneran gak apa-apa, Mik?" tanya Saka pelan, suaranya terdengar sangat tulus dan sarat akan rasa cemas yang mendalam.

"Gue gak apa-apa, Sak. Malah sekarang gue ngerasa lega banget," jawabku sambil tersenyum lebar, sebuah senyuman tulus pertama yang bisa kukeluarkan setelah dua minggu penuh hidup dalam kepalsuan. Aku merogoh saku rok seragamku, mengeluarkan dompet kecil hitam, lalu mengambil gelang perak dengan bandul bintang kecil pemberiannya dari dalam sana.

Aku mengulurkan gelang itu ke hadapan wajahnya. "Sesuai janji gue semalam di bawah jembatan layang... sekarang lo pasang lagi gelang ini di tangan gue. Dan kali ini, gue gak bakal pernah menyembunyikannya lagi di balik jaket atau jam tangan dari siapa pun."

Seringai manis yang sangat familiar langsung terukir di wajah tampan Saka. Dia mengambil gelang perak itu dari tanganku, lalu dengan gerakan tangan yang sangat lembut dan hati-hati, dia melingkarkannya kembali di pergelangan tangan kanan milikku. Sentuhan jarinya yang hangat membuat jantungku kembali berdesir dengan cara yang sangat berbeda dari debaran ketakutan saat bersama Devan.

"Gue berjanji, Mik," bisik Saka posesif, menatap mataku dari jarak dekat setelah berhasil mengunci pengait gelang tersebut. "Mulai detik ini, gak akan ada lagi ular manipulatif atau kurungan mana pun yang bisa menjauhkan lo dari gue. Kalau Devan berani bergerak lagi setelah masa skorsingnya habis... dia harus berhadapan sama cara ugal-ugalan gue yang sesungguhnya di luar sistem sekolah."

Gue tertawa kecil, menggenggam jemari kokoh Saka dengan erat di bawah rindangnya pohon beringin. Rahasia telah terbongkar, takhta Devan telah runtuh, dan kebebasanku telah kembali. Namun, di balik rasa kemenangan yang manis ini, aku menyadari satu hal. Sifat *red flag* perlindungan posesif dari seorang Saka Aditya tidak pernah benar-benar hilang. Dia hanya menyembunyikannya di balik seragam rapinya yang baru, bersiap untuk meledak kembali kapan saja jika ada orang lain yang berani menyentuh hak miliknya yang paling berharga. Perang dingin asmara ini telah selesai dimenangkan oleh si berandal patuh aturan, dan aku... dengan sukarela menyerahkan diriku untuk dilindungi oleh keagresifannya yang tulus seumur hidup.

### **Komentar Penulis (Author's Corner)**

> **Oh my god, lega dan puas banget parah di Bab 19 ini, guys!** Sesuai permintaan pembaca setia **@ujang_Bonang**, bab ini sengaja ditulis dengan narasi yang super panjang, padat, dan mendalam untuk menuntaskan klimaks keruntuhan takhta Devan Dirgantara di ruang kepala sekolah! Eksekusi pencopotan jabatan Ketua OSIS secara tidak hormat dipadukan dengan hukuman skorsing dua minggu bener-bener jadi balasan yang setimpal buat seluruh aksi manipulasi beracunnya selama ini.

> Momen di bawah pohon beringin pas Saka memasangkan kembali gelang perak berbentuk bintang kecil ke pergelangan tangan Mika bener-bener bikin baper dan meleleh banget, kan? Sifat protektif dan posesif Saka yang tulus akhirnya berhasil memenangkan hati Mika seutuhnya dari jeratan kurungan emas Devan. Sifat *red flag* yang dikemas dalam perlindungan tulus emang selalu punya daya tarik tersendiri!

>

>

1
listia_putu
lanjut
Sri Dewi
terimakasih kaka jangan lupa promosikan ke teman nya soalnya ini novel pertamaku dengan genre ini jangan lupa di like ya kk
Indah Sari Nurwahyuningtyas
seru bngt panik dan rasa takutnya dapet dari ceritanya jadi yg baca ikut ngerasain jugaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!