Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.
Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.
Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.
"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Jauh di Yogyakarta, suasana di kantor cabang Pratama Group mendadak tegang.
Tuan Wijaya, klien terbesar sekaligus rekan bisnis paling setia Diandra, membanting map dokumen ke atas meja. Wajahnya merah padam menahan amarah.
"Saya tidak mau tahu! Hubungi Pratama sekarang juga!" bentak Tuan Wijaya pada sekretarisnya.
Kabar mengenai komanya Diandra telah sampai ke telinganya, namun yang membuatnya benar-benar murka adalah kehadiran Mita.
Wanita itu datang dengan gaya angkuh, mencoba mengambil alih negosiasi proyek logistik bernilai triliunan rupiah.
"Logaritma sistem keamanan dan sandi enkripsi pengiriman ini hanya Diandra yang tahu," gumam Tuan Wijaya.
"Hanya dia yang punya otak untuk menyusun algoritma serumit ini."
Di ruang kendali, Mita berdiri dengan percaya diri di depan layar monitor utama.
Ia merasa ini adalah kesempatannya untuk membuktikan bahwa ia tidak kalah hebat dari kakak tirinya.
"Minggir, biarkan aku yang membukanya. Aku sering melihat Mbak Diandra mengetik sandi ini," ucap Mita sinis kepada para teknisi.
Mita mulai menekan serangkaian angka dan huruf pada keyboard.
Satu percobaan... salah.
Dua percobaan... gagal.
Pada percobaan ketiga, layar monitor tiba-tiba berubah menjadi merah pekat. Bunyi alarm peringatan melengking di seluruh ruangan.
[ACCESS DENIED. SYSTEM PERMANENTLY LOCKED.]
"Apa yang kamu lakukan, Mita?!" teriak Tuan Wijaya yang baru masuk ke ruangan.
"Kamu baru saja mengunci seluruh data operasional kami! Hanya pemilik kunci enkripsi asli yang bisa membukanya sekarang!"
Mita pucat pasi. Ia tidak tahu bahwa Diandra memasang jebakan logika; sandi itu berubah setiap kali ada percobaan akses yang salah.
Kini, tanpa Diandra, proyek besar itu lumpuh total.
Sementara itu, di sebuah kota kecil, bel akhir sekolah berbunyi nyaring.
Diandra berjalan keluar dari gerbang sekolah bersama Anita. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat ia kenali terparkir tepat di depan gerbang.
Sesosok pria dengan setelan rapi turun dari kursi kemudi. Itu adalah Diko.
"Gia!" panggil Diko dengan suara tegas.
Diandra refleks menoleh. "Diko? Ada apa?"
Diko seketika mengernyitkan keningnya. Langkahnya yang semula mantap mendadak ragu.
Ia menatap gadis SMA itu dengan tatapan menyelidik.
"Bagaimana Anda bisa tahu nama saya?" tanya Diko curiga.
Ia belum pernah bertemu dengan gadis bernama Gia ini sebelumnya, dan namanya bukan konsumsi publik yang mudah diketahui anak sekolah.
Diandra tersentak. Ia merutuki bibirnya yang terlalu cepat berucap.
Ia segera menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang dibuat bingung.
"Hanya menebak. Nama Anda terdengar seperti nama asisten di film-film yang sering saya tonton," kilah Diandra dengan alasan yang sangat lemah.
Diko tidak tampak percaya, namun ia memiliki perintah yang lebih penting.
"Tuan Pratama ingin bertemu dengan Anda. Ada sesuatu yang ingin ia konfirmasikan."
Anita, yang berdiri di samping Diandra, menyikut lengan sahabatnya itu dengan heboh.
"Gia! Itu mobil orang kaya! Dan pria itu, dia sopan sekali. Ikut saja, siapa tahu ini berhubungan dengan kecelakaanmu!"
Diandra menatap Diko, lalu menatap mobil itu. Ia tahu ini adalah kesempatannya untuk kembali masuk ke lingkaran hidup Pratama.
"Baiklah, aku akan ikut," ucap Diandra tenang.
Ia masuk ke dalam mobil mewah itu dengan gerakan yang sangat alami—gerakan seorang wanita yang terbiasa duduk di kursi belakang mobil eksekutif, bukan seorang siswi SMA yang seharusnya terlihat norak atau canggung.
Diko yang memperhatikan dari kaca spion batinnya semakin bergejolak. Siapa gadis ini sebenarnya?
Di ruang VVIP, Pratama baru saja menutup telepon dari Tuan Wijaya dengan tangan yang gemetar menahan amarah.
Kabar dari Yogyakarta benar-benar menghancurkan sisa kesabarannya.
"Sial!!" umpat Pratama sambil memukul dinding rumah sakit.
Ia menatap tubuh Diandra yang masih diam membisu di balik masker oksigen.
"Sayang, tolong lekas sadar. Mita telah menghancurkan segalanya. Hanya kamu yang bisa membuka kunci itu," bisiknya parau, menggenggam tangan istrinya dengan rasa putus asa yang mendalam.
Tanpa Diandra, perusahaan akan menghadapi tuntutan hukum besar karena kegagalan sistem operasional di tangan Mita.
Di area parkir bawah tanah rumah sakit, mobil hitam yang dikendarai Diko berhenti dengan halus.
Saat Diko keluar untuk membukakan pintu, Diandra—yang masih dalam tubuh Gia—bersiap turun. Namun, pendengarannya yang tajam menangkap bisikan mencurigakan dari balik pilar beton di dekat mobil mereka.
Dua pria bertubuh kekar dengan jaket hitam dan topi rendah tampak berkomunikasi melalui earpiece.
Diandra menahan napas, mengisyaratkan Diko untuk tetap diam di tempat.
"Ingat rencana kita," bisik salah satu pria itu dengan suara berat yang mengerikan.
"Kita habisi Pratama, setelah itu, baru istrinya yang sedang koma. Jangan tinggalkan jejak."
Pria yang satunya lagi menganggukkan kepala, sambil meraba sesuatu yang menonjol di balik pinggangnya—sebuah pisau lipat atau mungkin senjata api.
Jantung Diandra seolah berhenti berdetak. Mita! Ini pasti ulah Mita yang ingin melenyapkan saksi mata dan pewaris tunggal sekaligus agar ia bisa menguasai kekayaan Pratama Group sepenuhnya.
"Mas Pratama..." gumam Diandra.
Ketakutan akan kehilangan suaminya untuk kedua kalinya membuat energi Diandra meluap.
Tanpa memedulikan teriakan Diko yang memanggil namanya, Diandra segera keluar dari mobil dan berlari sekencang mungkin menuju pintu masuk darurat.
"Gia! Tunggu! Mau ke mana kamu?!" teriak Diko bingung, namun Diandra sudah melesat jauh.
Ia tidak menggunakan lift karena terlalu lambat. Ia menaiki tangga darurat, kakinya yang kecil terus dipaksa melangkah meski paru-parunya mulai terasa terbakar.
Pikirannya hanya satu: ia harus sampai ke ruang perawatan sebelum para pembunuh itu menemukan suaminya.
"Tunggu aku, Mas! Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu!" batin Diandra berteriak di tengah deru napasnya yang memburu.
Sesampainya di koridor lantai VVIP, Diandra melihat Pratama sedang berdiri di depan mesin kopi otomatis, tampak lengang dan tak menyadari bahaya yang mendekat dari ujung koridor yang lain.
Dua pria tadi sudah terlihat muncul dari balik pintu darurat yang berbeda.
"MAS PRATAMA, MERUNDUK!" teriak Diandra dengan suara yang menggelegar di seluruh koridor.
Mendengar teriakan yang begitu penuh otoritas, Pratama secara refleks merunduk, menjatuhkan cangkir kopinya hingga pecah berserakan.
Dua pria berjaket hitam itu menarik senjata dari balik pinggang mereka, namun gerakan mereka kalah cepat dengan insting Diandra.
Diandra menerjang maju. Dengan gerakan yang sangat terlatih—pengetahuan yang ia dapatkan dari kelas bela diri privat yang dulu sering ia ikuti bersama Pratama—ia merogoh saku dalam jas suaminya. Ia tahu suaminya selalu membawa senjata api kecil untuk berjaga-jaga.
DOR!
DOR!
Dua tembakan tepat sasaran mengenai bahu dan kaki kedua pembunuh itu sebelum mereka sempat menarik pelatuk.
Senjata mereka terpelanting ke lantai. Koridor rumah sakit yang sunyi mendadak pecah oleh suara ledakan peluru dan rintihan kesakitan.
Pratama membelalakkan matanya. Ia menatap gadis SMA di depannya yang masih memegang senjata dengan tangan stabil, napas yang teratur, dan sorot mata yang dingin tanpa ketakutan sedikit pun.
"Gia, apa yang baru saja kamu lakukan?" bisik Pratama tercekat.
Gerakan itu, keberanian itu, tidak mungkin berasal dari seorang remaja panti asuhan.
Diandra tidak menjawab pertanyaan itu. Ia menoleh ke arah Diko yang baru saja sampai dengan napas terengah-engah.
"Diko, pindahkan tubuhku ke tempat lain yang lebih aman dan jaga tubuhku dengan nyawamu!" perintah Diandra tegas.
Ia menunjuk ke arah tubuh aslinya (Diandra) yang masih terbaring di dalam kamar. Diandra tahu, jika para pembunuh ini gagal menghabisi Pratama di koridor, mereka akan mencoba menghancurkan tabung oksigen atau menyuntikkan racun ke infus tubuh komanya.
Diko terpaku. "Tubuh, Anda? Maksudnya Ibu Diandra?"
"Jangan banyak tanya! Lakukan sekarang sebelum polisi atau kaki tangan Mita yang lain datang!" bentak Diandra, suaranya menggelegar layaknya seorang pimpinan tertinggi.
Diko, yang entah mengapa merasa harus patuh pada perintah gadis kecil ini, segera mengangguk.
"Baik! Saya akan memindahkan Ibu ke rumah aman milik keluarga."
Pratama masih berdiri dalam kebingungan yang luar biasa, namun Diandra segera menyambar lengannya.
"Ayo Mas, kita pergi dari sini sekarang! Mereka punya tim cadangan di bawah. Kita harus keluar lewat jalur logistik sebelum mereka memanggil yang lainnya!"
Pratama hanya bisa mengikuti tarikan tangan kecil itu.
Saat mereka berlari menyusuri koridor, jantung Pratama berdegup kencang.
Cara gadis ini memanggilnya "Mas", cara dia memerintah Diko, dan insting perlindungannya yang luar biasa...
"Diandra?" gumam Pratama di tengah pelarian mereka.
"Apakah itu benar-benar kamu?"
Diandra tidak menoleh, ia terus menarik Pratama menuju pintu keluar rahasia. "Simpan pertanyaanmu, Mas. Fokus untuk tetap hidup, karena aku tidak mau menjadi janda di dua kehidupan sekaligus!"