NovelToon NovelToon
Dilema Cinta Kedua

Dilema Cinta Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Single Mom / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: Larasa

Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.

Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Masa lalu

"Nayara Lova Zavendra."

"Dia lagi?"

"Iya, sama pacarnya Yudha Wirayasa, mereka cabut berdua lagi. Gue masih ngga habis pikir sama si cewek kelas sepuluh itu bodoh atau gimana? Kok mau-mau aja ngikutin cowoknya kayak cewek ngga bener aja, tapi dengar-dengar sih... dia mau aja di bawa kemanapun asal sama cowoknya."

"Lo serius? Gila... gue juga punya pacar, tapi gue ngga mau di ajak sama cowok gue tanpa tujuan yang jelas."

"Gue juga gitu, mungkin ngga sih kalau dia udah nyerahin semuanya ke Yudha?"1

Remaja laki-laki itu menghela nafas kasar karna selama beberapa bulan terakhir telinganya tanpa sengaja terus saja mendengar cerita yang kian hari bertambah baik dari teman-teman kelas atau di luar kelas.

Tapi ia tak menampik kalau yang mereka bicara sesuai dengan fakta yang ada. Di matanya sepasang muda mudi itu seperti tidak bisa di pisahkan sejak resmi jadian dua bulan lalu.

Gatra tidak ikut-ikutan mencari tahu tentang mereka, tapi tidak sengaja mendengar di setiap gerombolan murid yang di temuinya. Terhitung sudah tujuh kali termasuk hari ini mereka kedapatan cabut berdua. Lebih tepatnya Nayara lebih dulu tidak masuk kelas lalu di susul Yudha yang izin ke Guru.

Mereka tidak satu kelas, Nayara kelas sepuluh, Yudha kelas sebelas. Mereka berdua adalah adik kelas yang hampir setiap hari memiliki gebrakan baru. Sampai saat ini teman-teman lain belum bisa menebak-nebak tujuan pasangan itu melakukannya, apa hanya karna luapan rasa sayang yang begitu besar atau karna hal lainnya.

Misalnya tidak menyukai guru yang mengajar saat itu? Tak ada yang tahu, tapi beberapa Guru yang tidak bertugas di bidang itu sudah sering bicara dengan mereka yang tak ada perubahannya.

"Bosan ngga lo, Gatra?" Tanya Dirga, teman sebangku Gatra semasa SMA tapi hanya di kelas dua belas saja sebab di kelas sebelumnya mereka ada di kelas yang berbeda.

"Saking bosannya kayak mau muntah karna dengar mereka lagi," balas Gatra dengan ekspresi yang meyakinkan. "Tapi gue ngga mau negur mereka karna kesannya gue ikut campur dan dari tadi dengerin cerita enggak jelas mereka."

"Sama lagi, entah kenapa sekarang gue rasa murid di sekolah kita mendadak pada jadi detektif yang ngga di gaji."

Gatra mengangguk. "Mereka udah kayak ngga punya kerjaan lain aja."

"Keluar yuk, sebenarnya gue muak bangat di sini lama-lama." Ajak Dirga.

"Ini masih jam pelajaran kalau lo lupa."

"Tugas gue udah selesai lo pastinya udah juga kan? Lagian, lima belas menit lagi lonceng bunyi, ngga papalah kita keluar duluan atau mampir ke kelasnya Hakim sama Felix."

Gatra terdiam, mempertimbangkan tawaran Dirga. Sebenarnya ia sangat ingin menuruti keinginan sahabatnya, tapi masalahnya adalah posisinya ketua OSIS yang tak mungkin memberikan kesan yang buruk pada anak-anak lainnya.

Di tambah lagi teman-teman sekelasnya tidak ada yang keluar kelas jadi tak mungkin ia memberikan contoh buruk pertama kalinya.

"Pasti masalah nama baik lagi. Yaelah, bosan bangat gue sumpah." Keluh Dirga sambil mengarahkan pandangan pada penghuni kelas, tiba-tiba ia punya ide. "Teman-teman, semua tugas kalian udah pada selesai kan?"

"Udah!"

"Oke, kalau gitu gue sama Gatra yang bakal antar ke kantor." Usul Dirga asal yang tak mendapatkan protes dari taman sekelasnya. Mereka asyik bergosip, membicarakan hobi, pacar bahkan ada yang bermain bola di dalam kelas tak di larang selagi tidak keluar kelas. "Gatra, ayo buruan."

Merekapun keluar kelas tak lupa membawa tugas yang berjumlah delapan belas buku. Tujuan mereka ke kantor guru sekaligus mencari ketenangan karna di kelas di dominasi oleh para perempuan yang sedang menggosipkan adik kelas mereka.

"Gue rasa kedua orang itu makin di bicarain makin seneng," kata Dirga tak bisa menahan rasa jengkelnya. "Kayak bangga udah bikin sekolah gempar bukannya malu karna tanpa gaya pacaran mereka di bicarain sama banyak orang. Tapi beruntungnya mereka bukan anak dari orang biasa jadi hal ini ngga akan pernah ngaruh ke masa depan mereka."

"Kita ngga tahu masa depan, Dirga." Gatra bukan membela mereka, tapi pola pikir remaja yang berjalan di sampingnya terlalu sempit. "Sekarang mereka mungkin sama-sama anak dari raja bisnis di negara kita bahkan sampai di beberapa negara lainnya serta gue juga denger kalau orang tua mereka tahun depan juga mau mencalonkan diri sebagai penjabat penting di negara, tapi tapi dunia ini berputar, Ga. Mereka ngga akan selalu ada di atas."

Dirga berhenti berjalan untuk menepuk pundak sahabat beberapa kali. "Gatra, omongan lo cocoknya di pakai sama orang kayak kita! Sementara mereka beda, Bro! Bisnis yang di kerjakan keluarga itu udah ada sejak zaman buyut jadi udah kokoh tak tergoyahkan. Gue juga yakin mainnya mereka tak selalu bersih."

"Jangan omongin itu di tempat umum!" Gatra menatap sekitarnya koridor yang masih kosong karna masih jam belajar.

"Kenapa? Jangan bilang bisnis keluarga lo juga ngga sebersih–"

"Sembarang! Tapi Kayaknya mereka panjang umur," kata Gatra tak nyambung. "Tuh lihat Bu Dini lagi marahin mereka di bawah tiang bendera."

"Memang ngga tertolong mereka berdua." Dirga menggeleng menatap sepasang kekasih di mana si laki-laki berdiri di depan si gadis. Seolah-olah sedang melindungi kekasih hatinya dari terik matahari serta bertatapan langsung dengan Guru Bahasa yang sedang memarahi mereka. "Jangan kasih ampun, Bu!" Teriak Dirga sengaja begitu Guru meninggalkan mereka.

"Lo apa-apaan sih, Ga!" Tegur Gatra takut mereka di marahi karna berkeliaran di jam belajar di tambah lagi dengan kenyataan kalau dirinya adalah ketua OSIS yang tanggapi tawa oleh Dirga.

"Aman, Gatra. Anak-anak beberapa udah keluar kelas. Tuh tuh liat Romeo dan Julietnya noleh, apa lagi di cowok kayak marah banget sama kita. Apa lo? Berani sama kakak kelas?" Dirga kembali memancing.

"Lo ngga tahu apa-apa jadi pergi sana!" Balas Yudha.

"Ngga sopan banget sama kakak kelas! Kalian memang ngga punya malu karna sudah bikin satu sekolah gempar!"

"Lo..." Remaja dengan wajah merah karna terbakar matahari atau karna emosi tak melanjutkan kata-katanya karna merasakan tangannya di sentuh seseorang. Nayara menatap Yudha sambil menggeleng pelan.

Sementara Gatra melihat perdebatan serta diam-diam menikmati pelajaran kecil yang di berikan Dirga ikut tertawa kecil. Ia tak merasa kasihan karna sadar hukuman itu pantas mereka dapatkan.

Bahkan Gatra tersenyum atau ikut tertawa kala anak-anak lain yang baru keluar kelas ikut mengolok-olok mereka lalu tanpa menghentikan aksi anak lain, ia bersama Dirga melanjutkan jalan menuju kantor Guru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!