Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IKATAN JANJI DAN TANGGAL BAHAGIA
Dua hari berlalu begitu cepat sejak malam penuh kejutan dan air mata bahagia itu. Kabar bahwa Angkasa dan Arum resmi bertunangan bukan lagi sekadar gosip, melainkan sebuah kenyataan yang kini sedang dipersiapkan dengan matang.
Acara pertunangan mereka diselenggarakan dengan sederhana namun penuh makna, sesuai dengan keinginan kedua belah pihak. Hanya keluarga dekat dan orang-orang terkasih yang diundang, menciptakan suasana yang hangat, intim, dan penuh doa baik.
Sejak kecil, Angkasa hidup sebatang kara. Orang tuanya sudah tiada sejak ia masih duduk dibangku SMA, dan tak ada kerabat dekat lain yang ia miliki. Namun, kekurangan itu sama sekali tidak membuatnya kesepian atau minder. Selama ini, keluarga Dewa lah yang selalu ada untuknya, menganggapnya sebagai bagian dari keluarga sendiri, bahkan menyayanginya layaknya anak kandung.
Maka dari itu, jauh-jauh hari Angkasa sudah meminta tolong pada Dewa, dan khususnya pada Bapak serta Ibu Dewa, untuk mau mewakili dan mendampinginya sebagai keluarga dalam acara sakral ini. Permintaan itu diterima dengan hati terbuka dan haru oleh kedua orang tua Dewa. Bagi mereka, Angkasa memang sudah dianggap anak sendiri, sahabat baik anak mereka yang sudah lama menjadi bagian dari hidup mereka.
Dan hari itu, di ruang tamu rumah Arum yang sudah tertata indah dengan hiasan sederhana namun cantik, acara pertunangan berlangsung dengan khidmat dan penuh kebahagiaan. Di satu sisi, Pak Bimo, Bu Saras, dan Arum yang tampak anggun mengenakan busana serasi berwarna lembut, wajahnya bersinar cerah dengan cincin pertunangan yang sudah melingkar indah di jari manisnya. Di sisi lain, Angkasa yang tampak gagah dan berwibawa, didampingi oleh Bapak dan Ibu Dewa yang duduk di sebelah kanan dan kirinya, serta Dewa sendiri yang tersenyum bangga di belakang sahabatnya itu.
Prosesi pemasangan cincin, penyampaian pesan dan harapan, hingga doa bersama berjalan lancar dan khidmat. Tak ada rasa canggung, semuanya terasa menyatu dan utuh. Bapak Dewa menyampaikan salam hormat dan terima kasih kepada Pak Bimo serta Bu Saras, mengucapkan rasa syukur karena mereka bersedia menerima Angkasa, anak yang mereka anggap sendiri, menjadi menantu mereka. Bu Dewa pun tak kalah haru, berpesan pada Arum untuk saling mengerti dan saling menjaga bersama Angkasa. Pak Bimo dan Bu Saras pun sangat berterima kasih pada keluarga Dewa, berterima kasih karena selama ini mereka sudah menyayangi dan merawat Angkasa dengan sepenuh hati.
Acara pun selesai dengan penuh rasa syukur. Tamu-tamu undangan perlahan berpamitan, meninggalkan ruang tengah yang kini hanya berisi orang-orang terdekat saja. Suasana menjadi lebih santai, hangat, dan penuh obrolan ringan namun sangat berarti.
Di ruang tamu yang kini lebih lengang itu, terbentuklah satu lingkaran kebahagiaan yang indah. Angkasa dan Arum duduk bersebelahan di sofa utama. Tangan keduanya saling bertaut erat di atas pangkuan, jari-jemari mereka menyatu seolah tak ingin terpisahkan lagi. Cincin di jari manis mereka berkilauan seirama dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibir mereka berdua. Di sebelah Angkasa duduk Bapak dan Ibu Dewa, sementara di sebelah Arum duduk Pak Bimo dan Bu Saras. Dewa sendiri duduk di kursi terdepan, menyandarkan punggungnya dengan santai sambil tersenyum melihat pemandangan langka itu.
"Alhamdulillah... Akhirnya selesai juga acara intinya. Lancar dan berkah semua," ucap Bapak Dewa membuka percakapan dengan nada puas dan lega. Ia menatap Pak Bimo di hadapannya dengan pandangan bersahabat.
"Terima kasih banyak ya, Pak, Bu... sudah mau menerima Angkasa dengan tangan terbuka. Angkasa ini anak baik, Pak. Dia kuat, dia rajin, dan dia setia. Kami yang sudah menganggap dia anak sendiri, sangat bersyukur sekali akhirnya dia mendapatkan tempat dan keluarga yang sebaik Bapak dan Ibu sekalian, serta mendapatkan Arum yang cantik dan sopan ini."
Pak Bimo tersenyum lebar sambil mengangguk tulus. "Kami yang harusnya berterima kasih sama Bapak sama Ibu. Kalianlah orang tua yang sesungguhnya buat Angkasa selama ini. Kalianlah yang sudah bikin dia jadi anak sebaik sekarang. Kami cuma menyempurnakan kebahagiaan Angkasa sama Arum aja. Kami percaya penuh sama Angkasa, percaya dia bakal jagain Arum dengan sebaik-baiknya."
Bu Saras menggandeng tangan Bu Dewa dengan hangat. "Iya benar, Bu. Kami senang banget lihat Angkasa dari dulu. Sopan, hormat, kerjanya keras. Kami nggak pernah ragu sama dia. Sekarang, setelah acara tunangan selesai, tinggal satu langkah lagi nih, Bu... menuju hari bahagia mereka berdua."
Pembicaraan pun beralih ke topik utama selanjutnya: penentuan tanggal pernikahan.
Angkasa menatap kedua orang tua itu dengan tatapan penuh harap dan rasa hormat. Ia meremas lembut tangan Arum yang ada di genggamannya, seolah memberi kekuatan pada dirinya sendiri maupun pada gadis di sampingnya.
"Pak, Bu... Bapak,Ibu,Dewa juga... Sebenarnya saya sama Arum pengennya gak mau lama-lama nunggu. Kami sama-sama udah mantap, udah sama-sama siap menjalankan rumah tangga. Cuma, kami serahkan sepenuhnya sama Bapak sama Ibu soal tanggalnya. Kapan waktu yang Bapak sama Ibu rasa paling pas, paling baik, dan paling berkah... saya sama Arum ikut aja," ucap Angkasa dengan sopan dan rendah hati.
Pak Bimo mengangguk paham, lalu menatap Bu Saras sejenak seolah bertukar pikiran.
"Kami juga sama, Nak. Kami juga pengennya gak usah terlalu lama, biar niat baik ini cepat disempurnakan sama Yang Maha Kuasa. Lagian, kalian berdua kan udah sama-sama dewasa, udah punya penghasilan dan kemampuan. Bapak udah tanya ke Pak Modin juga kemarin, ada beberapa tanggal bagus di bulan depan."
Pak Bimo menoleh ke arah Bapak Dewa. "Bagaimana menurut Bapak? Ada saran atau pertimbangan nggak? Soalnya kan Bapak juga keluarga dekat Angkasa sekarang, keputusan Bapak sama pentingnya sama keputusan kami."
Bapak Dewa mengusap dagunya perlahan, lalu tersenyum yakin. "Kalau menurut saya sih... makin cepat makin baik, Pak. Biar anak-anak ini cepat sah, cepat berkumpul dalam ikatan yang halal. Kalau bulan depan katanya ada tanggal bagus, kenapa gak diambil aja? Kalau dipikir-pikir, persiapannya juga nggak perlu yang terlalu mewah atau ribet, yang penting sakral dan lancar. Angkasa kan anak yang mandiri, dia pasti sanggup menyiapkan semuanya."
Bu Saras tersenyum lega. "Nah, sepakat dong ya? Ibu juga berpendapat begitu. Bulan depan itu pas banget. Cuaca biasanya lagi bagus, banyak rezeki katanya. Gimana menurut kalian berdua?" tanyanya beralih pada Angkasa dan Arum.
Arum yang sedari tadi mendengarkan dengan senyum bahagia, kini mengangkat wajahnya. Ia melirik sekilas ke arah Angkasa, lalu menatap orang tuanya dengan mata berbinar.
"Arum ikut apa kata Bapak sama Ibu aja. Arum siap kapan pun," jawabnya lirih namun tegas, pipinya kembali merona merah indah.
Angkasa pun mengangguk mantap, hatinya terasa penuh sekali. Mendengar keputusan itu, rasanya ia ingin sekali melompat kegirangan. Tanggung jawab terbesarnya kini tinggal satu langkah lagi.
"Siap, Pak, Bu... Kalau keputusannya bulan depan, saya siap sepenuhnya. Saya bakal kerjain semua persiapannya dengan sebaik-baiknya, biar hari itu jadi hari paling indah buat Arum, buat keluarga Bapak Ibu, dan buat Bapak Ibu Dewa juga. Saya janji bakal berusaha sekuat tenaga biar semuanya lancar dan berkah," ucap Angkasa dengan penuh tekad.
Di samping mereka, Dewa yang sedari tadi diam akhirnya bersuara sambil tertawa renyah.
"Wah, asik dong! Berarti saya harus siap-siap jadi wakil orang tua sekaligus jadi pengapit pengantin nih nanti! Tenang aja Pak, Bu... Saya bantu Angkasa persiapkan semuanya. Biar Angkasa nggak kewalahan, saya sama keluarga saya bantuin penuh deh. Yang penting Angkasa sama Arum bahagia dan segera sah!"
Semua orang di ruangan itu pun tertawa bahagia. Kesepakatan sudah bulat. Bulan depan, tepatnya di tanggal yang baik dan berkah yang akan ditetapkan nanti, Angkasa dan Arum akan resmi bersatu di pelaminan, mengikat janji sehidup semati.
Angkasa menatap Arum lekat-lekat, matanya berbicara banyak hal: rasa syukur, rasa bahagia, dan rasa cinta yang tak terhingga. Di tangannya, ia menggenggam masa depannya. Di hadapannya, ada orang-orang yang menyayanginya layaknya darah daging sendiri.
Kehidupan Angkasa yang dulu sepi dan sebatang kara, kini penuh sesak oleh kasih sayang. Dan semua itu, berawal dari sebuah pertemuan tak terduga dan buku catatan yang tertukar, hingga akhirnya ia menemukan rumah sejatinya: Arum, dan keluarga besar ini.