NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Merek

Cinta Tanpa Merek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: Net Profit

Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.

"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.

"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Blong

Mata Ara memerah. Napasnya tersengal di sela tangis yang tak kunjung reda. Ziano yang duduk di depannya sampai bingung sendiri harus gimana. Mau nenangin takut salah, mau diem malah makin diliatin orang-orang sekitar kayak penjahat.

“Aa jahat...” lirih Ara sambil menyeka air matanya asal.

“Hah? kok gue jadi jahat?”

“Aa nyuruh aku cerita...”

“Lah gue mana tau endingnya bikin satu angkringan pengen mukulin gue.” bisik Ziano pelan.

Bukannya membaik, Ara malah kembali nangis. Ziano buru-buru menggeser kursinya mendekat.

“Udah... udah... gue minta maaf.” ucapnya canggung sambil menyodorkan tisu.

“Lo nggak usah cerita juga nggak apa-apa.”

Ara menggeleng cepat. “Nggak... aku mau cerita...”

Ziano terdiam. Gadis itu menunduk dalam sambil memainkan plastik tisu di tangannya.

“Tiga tahun lalu...” suara Ara bergetar.

“Teh Nayes sama Aa Rudi kecelakaan.”

Hening. Bahkan suara motor dan obrolan orang sekitar terasa menjauh.

“Waktu itu aku masih SMP, kelas tiga. Seperti biasa aku pulang sekolah naik angkot...” lanjutnya lirih.

“Di jalan macet banget. Sopir angkot ngomel karena ada kecelakaan.”

Flashback itu muncul lagi begitu jelas di kepala Ara.

Cuaca siang waktu itu panas menyengat. Seragam sekolahnya bahkan masih lengkap, dasi biru itu belum sempat dilepas. Di dalam angkot semua penumpang berdiri ingin melihat ke depan. Suara klakson saling bersahutan karena macet begitu panjang. Angkot yang ditumpanginya pun terjebak disana. Dari arah berlawanan sama sekali tak ada kendaraan yang melaju, kecuali motor yang masih lewat dengan pelan.

"Aya naon ieu teh kat macet kieu teu biasana?" (ada apa sih sampe macet kayak gini? nggak biasanya.) tanya supir angkot pada pengendaran sepeda motor yang lewat.

"Yeuh, liren kedap. Aya naon? nu cilaka apa?" (nih berhenti dulu sebentar, ada apa sih? ada yang cilaka apa?) tebak supir angkot sambil menghentikan salah satu pengendara.

Salah satu pengendara yang rupaya kenalan si amang berhenti, “Aya nu cilaka di parapatan payun. Mobilna ringsek pisan...” (Ada yang kecelakaan di perempatan depan, mobilnya ringsek banget)

“Karunya euy nu di jero...” (Kasihan yang di dalem)

“Aya budak leutik oge cenah...” (ada anak kecil juga katanya)

"Aya korban teu eta?" (ada korban nggak itu?) tanya amang supir angkot.

"Duka, mang. Urang mah teu wani liren komo ningali, sok gemper ning. Tapi jiga na ripuh euy." (nggak tau, mang. Aku nggak berani berhenti apalagi lihat, suka gemetar. Tapi kayaknya parah sih.)

Awalnya Ara nggak terlalu peduli. Ia cukup berempati dan berdo'a semoga tak ada korban jiwa. Pasalnya perempatan di depan sana memang lumayan sering terjadi kecelakaan. Perlahan kemacetan itu mulai teratasi, kendaraan kembali melaju meski pelan.

"Duh kat ringsek kitu." (Duh sampe ringsek gitu) ucap supir yang sedang mengobrol dengan penumpang yang duduk di sampingnya.

Ara tak terlalu memperhatikan karena jujur ia juga takut melihat darah, suka kebayang-bayang dan berakhir nggak doyan makan. Namun karena semua penumpang heboh melihat ke arah kecelakaan ia jadi penasaran. Sampai akhirnya ia ikut menengok dan mendapati mobil hitam yang sudah penyok parah di depan truk besar.

Dadanya langsung sesak. Sangat sesak Ingin teriak tapi tertahan. Karena ia kenal betul kendaraan itu. Ia sampai memastikan berulang kali mellihat plat kendaraan itu. Z 1236 TT.

Mobil milik keluarga Marcel, sahabatnya sejak kecil. Bahkan ayah dan ibu Marcel saja sudah seperti orangnya tuanya sendiri.

“Amang... berhenti!” Ara langsung berdiri panik.

“Mang punten! punten!” (Mang permisi! permisi!)

Bahkan sebelum angkot benar-benar berhenti, Ara sudah turun dan berlari menembus kerumunan warga. Tangannya dingin, "Ya allah abi umi semoga nggak apa-apa."

Ara merasa kakinya makin lemas dan dunia terasa runtuh saat melihat pintu mobil yang hancur itu. Bukan Abi dan Umi Marcel yang ada disana, melainkan kakak iparnya.

“Aa Rudi...” Suara Ara langsung pecah.

Rudi terjepit di kursi depan dengan wajah penuh darah. Ara menggelengkan kepala tak percaya. Ingatanya kembali pada perbincangan pengendara saat macet tadi. Ada anak kecil. Kalo ada A Rudi berarti ada teh Nayes dan Lusi juga. Seketika Ara ambruk di depan mobil hancur itu. Matanya menelisik sekitar, mencari keberadaan kakak dan keponakan kecilnya.

“Ara...” suara Rudi serak.

“Lusi...” Hanya itu. Hanya nama anaknya.

Ara langsung histeris, saat mendapati kakaknya ternyata sudah berada di tepi jalan. “Teh! Teh bangun!”

Antara sadar dan tak sadar Ara berjalan pelan ke arah kakaknya. Ia mengguncang tubuh kakaknya sambil menangis keras di tengah jalan raya. "Teteh..."

“Ada ambulans nggak sih?! Tolong!”

Orang-orang di sekitar mulai menenangkan Ara yang histeris. "Neng yang sabar dulu. Ambulan sudah dihubungi dari tadi. Neng nya yang tenang. sabar"

Apa itu sabar? tenang? jika bahkan untuk bernafas saja Ara merasa berat. Semua terasa kacau hingga akhirnya ia tak sadarkan diri setelah mendengar sirine ambulan.

Ara menerima tisu yang diberikan Ziano dan terseyum sekilas.

"Nggak usah senyum gitu, kalo mau lanjut nangis ya nangis aja, nggak apa-apa." ucap Ziano.

Ara kembali terisak, "aku nggak tau pastinya kelanjutnya gimana. Soalnya pas aku bangun udah di rumah."

"Aku di rumah sama Ambu, jagain Lusi. Alhamdulillah Lusi nggak apa-apa, soalnya di halangin sama teh Nayes katanya."

"Tapi malemnya Teh Nayes sama A Rudi meninggal di rumah sakit." tangis Ara makin pecah. Orang-orang di sekitar mereka makin menatap Ziano dengan sinis.

Ziano hanya menanggapi dengan menganggukan kepala canggung, ia lantas fokus kembali pada cerita Ara. Tak apa meskipun ia disangka sedang menyakiti hati kekasihnya.

"Sehari setelah pemakaman, ada polisi datang ke rumah. Ngejelasin kalo kecelakaan itu diduga karena rem mobil blong."

"Sejak saat itu sikap Abah berubah ke keluarga Marcel. Bagi Abah, Teh Nayes sama A Rudi meninggal gara-gara keluarga Marcel."

"Kayak yang mikir kalo aja keluarga Marcel nggak minjamin mobilnya, karena dari awal teh Nayes sama A Rudi mau naik motor aja. Cuma kata Abi nya Marcel pake mobil aja kasihan Lusi kalo kepanasan. Kalo mobilnya dicek dulu, kalo aja remnya nggak rusak, mungkin teh Nayes sama A Rudi masih ada. Lusi nggak akan jadi yatim piatu."

“Aku tau keluarga Marcel nggak salah secara langsung...” suara Ara kembali pecah.

“Tapi Abah nggak bisa nerima.” Air matanya jatuh lagi.

“Setiap lihat Marcel... Abah selalu inget Teh Nayes."

"Terus efeknya aku sama Marcel malah nggak boleh temenan lagi. Abah sama Ambu juga ribut berkepanjangan sama Umi dan Abi nya Marcel. Awalnya Abi Marcel juga maklum disalah-salahin sama Abah tapi nggak tau kenapa lama-lama malah jadi pada ribut."

Ziano terdiam. Kini semuanya masuk akal. Kenapa Aki begitu keras. Kenapa Marcel selalu ditolak. Dan kenapa Ara terlihat terjebak di tengah semuanya. Tangis Ara makin pecah. Orang-orang di sekitar mulai memperhatikan mereka lagi.

Ziano mengusap wajah frustrasi. “Ya ampun, Ra...” gumamnya pelan.

“Lo tuh bikin gue nggak tega.” Ara malah makin nangis.

“Udah... jangan nangis lagi...” Ziano buru-buru menggeser kursinya mendekat, “Orang-orang ngira gue selingkuh ini.”

1
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣
Rita
ngga kebalik😂
Shee_👚
kamu yang punya perasaan dan merasa tersaingi kenapa harus bikin masalah dengan orang yang tak tau tentang perasaanmu. kalau kamu laki² tunjukin kamu itu lagi² tulen😏
Shee_👚
udah mau minggu🤔🤔

ini gimana kak?🙏
Shee_👚: di maklumi kak🤗
total 2 replies
Shee_👚
ck si marcel mulai ngedrama deh🙄
Shee_👚
meninggalkan jejak, jeli pasti langsung girang jingkrak²🤣🤣🤣
Shee_👚
di kira baju🤣🤣🤣🤣
Shee_👚
gak kangen katanya🤣🤣🤣
jeli gemes banget, kara plek keteplek🤣🤣
Shee_👚
tenang kak, aku setia nungguin🤭
Shee_👚
itu jaman kaka dulu SMP tidur depan tv yang biasanya tidur bareng mulai SMP di pisah karena dah besar
Shee_👚
bingung ya no🤭
titissusilo
idihhhhh jijay....blm tau sapa ziano...
Linda Ayu Tong-Tong
huh dasar jahat kamu cel..belum tau si razia itu anak horang kaya🤣🤣🤣
ryani yuliawati
ceritanya seru keren banget mksih ya thor tuk ceritanya 💜💜💜💜💜💜😘😘😘😘 suka karakter A ano & ara keselnya ama marcel
sikepang
cinta marcel ke ara buat dia gelap mata ne nama y😳
Esther
Siap2 saja kamu dibenci Ara kalau sampai dia tahu soal rencanamu Cel
RiriChiew🌺
ini nih yg gak disuka sama sifat Marcel tuh , yaa kalau suka Ara bilang bukannya membenci orang yg gak salah apa² . anehh bin repot
Febri Nayu
idihhh cemburu diaaa
diiih diih
Vike Kusumaningrum 💜
Jahat banget kamu Cel, masalah hati g ada yang bisa maksa euy. masih untung dibiarin ketemuan sm Ano g diaduin ke Aki, malah ngelunjak kamu.
Shee_👚: marcel dah di kasih susu malah balas tuba🙄
total 1 replies
Maria Kibtiyah
klw ara tau trus kecewa ma kamu baru nyesel lu marcel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!