" Boleh kah aku bertanya satu pertanyaan?" Nymera Elvaretta Lennox "
" Katakan?" prince Rafael Benitez"wajahnya dingin, tatapan matanya tajam.
" Tolong katakan apa kurang nya aku kak? sampai kakak tak bisa melihatku sebagai seorang wanita" tatapan matanya sendu.
" karena kau hanyalah gadis manja" .
Perlahan,gadis bernama Nymera Elvaretta Lennox itu melangkah mundur, matanya menatap sendu pria di depan nya,pria yang sejak kecil ia kagumi dan ia tau telah di jodohkan dengan nya.
Dengan bibir tersenyum, bukan senyuman indah dan manis, melainkan senyuman menyakitkan, bahkan bibirnya terlihat sedikit bergetar saat dengan lirih ia berkata " Terimakasih telah menyadarkan ku, selamat tinggal, semoga kakak terus bahagia" masih sekuat tenaga ia mengucapkan kalimat perpisahan.
setelah sedikit membungkukkan tubuhnya, sebagai cara menunjukkan penghormatan kepada keluarga kerajaan,gadis cantik yang akrab disapa Mera itu berbalik dan melangkah meninggalkan pria yang masih menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arisha Langsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08
" kenapa?" Cecilia yang tau sahabat nya berbohong langsung memberondong nya dengan pertanyaan yang menuntut.
" Apanya?" tanya Meera berpura-pura seakan tak memahami maksud dari pertanyaan sang sahabat.
" Kamu itu ga pandai bohong Meera, keliatan banget di mata aku,orang lain mungkin bisa kamu bohongi tapi tidak dengan aku,kita tu temenan udah hampir genap sembilan tahun" ya Meera dan Cecilia kenal sejak pertama kali keduanya masuk sekolah dasar.
" Pengen aja" jawab Meera singkat,ia terlihat begitu santai saat menjawab.
" Pengen atau ada yang panas? kamu cemburu kan ?" tebak Cecilia tanpa ingin di bantah.
" Cemburu? aku? pada siapa? seorang Meera tak perlu cemburu pada wanita manapun,kamu lupa itu? " ujar Meera dengan gaya angkuhnya.
Ya tak dapat di pungkiri,Meera termasuk gadis yang nyaris sempurna,ia cantik,baik,pintar, terlahir dari keluarga kaya raya dan Meera belum pernah terlibat skandal dengan pria manapun kecuali tentang kedekatan nya dan kabar pertunangan nya dengan Rafael,tak ada catatan hitam dalam hidup gadis itu bahkan saat ia sudah berusia 15 tahun.
Cecilia menggeleng melihat kelakuan dan ucapan sombong sahabat nya,ia tau Meera tak pernah serius dengan gaya dan ucapan angkuhnya, namun Cecilia tetap mengakui apa yang Meera ucapkan.
" ialah si paling sempurna,calon istri pangeran Rafael Benitez,siapa yang tidak mengenal prince Rafael Benitez" timpal Cecilia menimpali.
" Nah itu tau" jawab Meera cuek,ia menunjukkan senyuman termanis nya,senyuman yang bisa dengan mudah menipu orang-orang di sekitarnya,namun tak berlaku untuk kedua orang tuanya dan sahabatnya Cecilia.
kedua gadis cantik itu meninggalkan kantin,waktu istirahat sudah hampir selesai,hanya tersisa beberapa menit lagi,dan mereka harus segera kembali ke kelas.
" Aku ke toilet sebentar ya,kamu duluan aja" Meera melangkah berbelok ke arah toilet, setelah mendapatkan anggukan dari Cecilia.
" Yakin ga perlu aku temenin?" tanya Cecilia lagi memastikan sebelum langkah Meera semakin menjauh.
Dengan yakin Meera mengangguk,sebelah tangan nya terangkat membentuk huruf O, menyatukan jari telunjuk dan jempol nya seraya terus melangkah.
Cecilia menggeleng melihat kelakuan sahabatnya,ia tau apa yang akan Meera lakukan di dalam toilet, menangis, sahabatnya itu sangat manja dan cengeng,setiap ada masalah pasti akan menangis terlebih jika itu tentang Rafael,Meera lemah tentang pria itu dan Cecilia merasa kasihan melihat semuanya.
" Kamu pasti akan bahagia Mer,dengan atau tanpa pangeran Rafael,tapi please jangan paksakan perasaan mu untuk nya, sepertinya dia mencintai Camelia" bisik Cecilia dalam hatinya seakan ia tengah berbicara pada Meera, memberitahukan pada sahabatnya tentang apa yang ia lihat dan pikirkan.
Sedangkan di dalam kamar mandi sekolah,Meera tengah mengusap kasar wajahnya yang masih terlihat sedikit sembab,ia menatap nanar matanya yang masih terlihat sedikit memerah dan terdapat jejak air mata nya.
Setelah merasa cukup baik-baik saja Meera memutuskan untuk keluar,ia berjalan pelan menyusuri koridor menuju kelasnya, wajahnya menunduk.
" Bisa kita bicara sebentar?" ucapan seseorang menghentikan langkahnya dan membuatnya mengangkat wajahnya, menatap wajah seorang wanita yang ia yakini berbicara padanya.
" tentang?" tanya Meera pelan,ia bukan gadis yang pandai berdebat, terlebih dengan orang asing,ia tau siapa wanita di hadapannya itu,wanita yang tengah begitu gencar di beritakan tengah dekat dengan tunangan nya.
" Tentang kita,aku kamu dan pangeran" jawab wanita itu tenang,nada bicaranya begitu halus, lembut dan tertata, terlihat dan terdengar begitu anggun dan berkelas.
Meera tersenyum tipis setelah mendengar jawaban dan alasan wanita itu" aku merasa tak ada yang perlu kita bicarakan" jawab Meera tegas,ia tak ingin mendengar apapun dari wanita itu.
Meera melanjutkan langkahnya ingin meninggalkan Camelia di koridor sepi itu,tapi ucapan wanita anggun itu menghentikan langkah Meera,bahkan Meera sempat tertegun sejenak.
" Pangeran tidak menyukai wanita manja dan kekanak-kanakan,dia seorang calon pemimpin bangsa,sudah pasti yang ia inginkan adalah seorang wanita mandiri dan bijaksana,bukan gadis manja yang bahkan semuanya masih bergantung pada orang lain,dan tentang berita itu,kamu bisa menyimpulkan nya sendiri tak perlu aku atau pangeran Rafael menjelaskan nya,aku harap kamu cukup tau diri" ucap Camelia cepat.
Meera tersenyum tipis ia tak menanggapi hal tersebut,ia justru kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan wanita yang ia anggap pengganggu nya.
Sedangkan Camelia tersenyum penuh arti saat tadi melihat punggung kaku Meera setelah mendengar ucapan nya,ia merasa bahwa ia akan berhasil mendapatkan apa yang selama ini menjadi impian nya.
" Hanya bocah ingusan,persis seperti apa yang papa katakan " batin Camelia tersenyum penuh arti,ia membalikkan tubuhnya melangkah ke arah yang sama dengan Meera,namun ia berbelok di salah satu persimpangan, gedung mereka terpisah oleh beberapa gedung kesiswaan dan pengurus yayasan.
Tak ada yang menyadari sejak tadi seseorang melihat pertemuan dua wanita itu,namun ia tak ingin menghampiri,lebih tepatnya tak akan membuat keberadaan nya di ketahui,ia hanya mengawasi dari jarak yang cukup aman, memastikan wanita kesayangan nya baik-baik saja.
Pria itu ikut melangkah meninggalkan tempat itu setelah Meera meninggalkan Camelia, awalnya ia ingin menghampiri Meera untuk menyapa gadis pujaannya itu,wanita yang ia sukai dan kagumi secara diam-diam,ia bahkan tak habis pikir dengan dirinya yang cukup berani mengagumi gadis itu, yang ia bahkan sudah sangat tau semua itu tidak akan bisa ia dapatkan,selain patah hati dan berakhir sakit.
" tak ada yang tak mungkin, mencintai bukan berarti harus memiliki,aku pasti akan bahagia melihat kamu bahagia" lirihnya dalam hati seraya tersenyum miris " kau benar-benar pria bodoh dan pengecut" umpatnya untuk dirinya sendiri.
Sedangkan Meera berusaha keras menormalkan ekspresi wajahnya agar tak terlihat kesedihan dan keterkejutan nya,ia memilih menyimpan nya sendiri semua yang barusaja Camelia ungkapkan padanya.
" Kamu bisa Meera,tak semua masalahmu harus kamu ceritakan pada orang" Batinnya meyakinkan diri.
" Pangeran Rafael menyukai wanita dewasa dan bijaksana" kata-kata itu kembali terngiang di telinga nya,sangat mengganggu nya.
eeh katanya tidak cintaa
tpi koq cemburuuu🤣🤣🤭🤭🤭
dia hanya rubah yang licik
apakah kamu penggemar rahasia
sebab Iya ingin anaknya masuk dalam kawasan keluarga istana
bukan sekedar pelayan, yang di anggap rendahan🤭😔
kira kira siapa si dia
bikin penasaran aja
ngelunjak ya
minta di geprek kau
dan ternyata Dai si penghianat kerajaan
ada disampingmu Rafael
ular kadut
apakah dia termasuk anak bangsawan
sampai dgn percaya dirinya
selalu mengincar pangeran
ternyata ada pria lain yang Akan melindungi meera
dan Rafael seolah menerima perjodohan itu
hanya karena ingin menutupi bhubungannya dgn camel🤭🤭
ish is tak patut
tak patut
Baru juga lihat Meera ketawa ketiwi sama kaka2 OSIS, udah kebakaran jenggot aja. Gimana kl Gio atau cwo lain bisa deketin Meera ?
ah elah EL EL...gemes pengen cubit ginjalmu EL 😂😂