Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 25 : PERTAHANAN SANG ARSITEK DAN BENANG YANG KUSUT
Pagi di butik "Clarissa Mode" milik Mama Clarissa biasanya dihiasi dengan suara desingan mesin jahit yang berirama dan aroma kain sutra yang baru disetrika. Namun, pagi ini, melodi kerja itu digantikan oleh suara sepatu bot yang menghentak keras di atas lantai kayu ek. Empat orang petugas berseragam dinas lingkungan hidup, didampingi dua orang oknum polisi yang tampak kaku, berdiri di tengah lobi butik.
"Kami menerima laporan otentik bahwa butik ini membuang limbah pewarna kain berbahan kimia berbahaya langsung ke saluran pembuangan warga," ucap salah satu petugas dengan wajah tanpa ekspresi, sambil menyodorkan surat perintah penyegelan sementara.
Mama Clarissa tampak pucat pasi, tangannya yang memegang gunting kain gemetar hebat. "Tapi... kami selalu menggunakan pewarna alami dari ekstrak tumbuhan, Pak. Kami punya sertifikatnya!"
"Simpan penjelasan Anda di kantor. Sekarang, kami akan menyegel tempat ini," sahut petugas itu kasar.
Tepat saat petugas itu hendak menempelkan garis kuning di pintu depan, sebuah mobil SUV hitam berhenti dengan mendadak di depan butik. Anya Clarissa melompat keluar, masih mengenakan rompi proyeknya dan sepatu bot yang sedikit berlumpur karena ia baru saja meninjau lokasi penanaman pohon.
"Berhenti!" teriak Anya, suaranya menggelegar, penuh dengan otoritas yang biasanya ia gunakan untuk membungkam mandor yang nakal.
Anya melangkah masuk, berdiri tegak di depan Mamanya yang hampir pingsan. Ia menatap tajam ke arah petugas tersebut. Sebagai seorang arsitek lanskap, Anya adalah pakar dalam hal drainase dan analisis dampak lingkungan (AMDAL).
"Atas dasar apa Anda menyegel tempat ini tanpa uji laboratorium di tempat?" tanya Anya dingin.
"Kami punya laporan dari saksi ahli, Nona," jawab petugas itu meremehkan.
"Saksi ahli siapa? Apakah mereka sudah mengecek Interceptor limbah kami?" Anya berjalan menuju bagian belakang butik, diikuti oleh para petugas yang tampak bingung. Anya membuka sebuah penutup beton kecil di dekat area pencucian.
"Lihat ini," Anya menunjuk ke dalam sistem penyaringan. "Ini adalah sistem bio-filtrasi yang saya rancang sendiri. Menggunakan eceng gondok dan filter karbon aktif. Air yang keluar dari sini bahkan lebih bersih daripada air selokan di depan kantor Anda. Jika Anda menemukan bahan kimia berbahaya, itu pasti kiriman dari luar yang sengaja dimasukkan ke dalam pipa kami."
Anya mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan rekaman CCTV rahasia yang ia pasang minggu lalu setelah insiden alat penyadap. Dalam rekaman itu, terlihat dua orang tak dikenal menuangkan cairan pekat ke dalam pipa pembuangan luar butik pada jam dua pagi.
"Ini adalah sabotase. Dan jika Anda melanjutkan penyegelan ini, saya—sebagai istri dari Devan Arkatama—akan memastikan firma hukum Arkatama menuntut instansi Anda atas pencemaran nama baik dan kelalaian prosedur dalam waktu satu jam dari sekarang. Apakah Anda ingin mempertaruhkan jabatan Anda untuk pesanan seseorang bernama Valerie?"
Nama 'Valerie' yang disebut Anya membuat para petugas itu saling lirik dengan wajah panik. Ketegasan Anya dan bukti teknis yang ia berikan membuat mereka tidak punya pilihan selain menarik kembali garis segel tersebut.
"Kami... kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut, Nyonya Arkatama. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya," ucap mereka sambil bergegas pergi meninggalkan butik.
Setelah ketegangan mereda, masalah baru muncul. Karena ketakutan akan isu limbah, sebagian besar karyawan butik yang merupakan warga sekitar memilih untuk melakukan mogok kerja sementara. Padahal, hari ini adalah deadline penyelesaian seragam untuk sebuah acara gala dinner kementerian.
"Anya, bagaimana ini? Tinggal sisa kita bertiga, dan jahitan payetnya belum selesai!" isak Mama Clarissa.
Tiba-tiba, pintu depan terbuka. Devan Arkatama masuk, masih mengenakan setelan jas kantornya yang kaku. Ia mendengar kabar tentang penggerebekan itu dan langsung membatalkan rapatnya.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Devan pendek.
Anya menatap suaminya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Kamu? Membantu di butik? Devan, ini bukan soal logistik kapal, ini soal detail benang."
"Logistik dan menjahit itu sama, Anya. Keduanya membutuhkan ketelitian dan pola yang tepat," jawab Devan sombong sambil melepas jasnya dan menggulung lengan kemeja putihnya.
Mama Sarah yang ternyata sudah ada di dapur butik untuk membawakan bekal, langsung memberikan instruksi. "Nah, Devan! Kamu bagian pasang payet kristal di gaun merah ini! Hati-hati, tangannya jangan kasar kayak pegang tali jangkar!"
Devan duduk di kursi jahit yang kecil, sebuah pemandangan yang sangat konyol. Pria setinggi 185 cm dengan otot dada yang bidang, kini duduk membungkuk memegang jarum kecil dan manik-manik mengkilap.
"Aduh! Sakit!" Devan memekik saat jarinya tertusuk jarum untuk ketiga kalinya.
"Makanya, lihat lubangnya, Devan! Jangan lihat monitor saham terus!" seru Mama Sarah sambil asyik memotong kain.
Anya tertawa terpingkal-pingkal melihat suaminya yang sangat frustrasi dengan benang yang kusut. "Tuan CEO, sepertinya kapalmu lebih mudah dikendalikan daripada selembar kain ini, ya?"
"Diamlah, Anya. Benang ini sepertinya punya dendam pribadi padaku," gumam Devan sambil mencoba menjilat ujung benang agar bisa masuk ke lubang jarum—sebuah gerakan yang diajarkan Mama Sarah dengan paksa.
Hingga sore hari, mereka berempat bekerja sama. Devan akhirnya berhasil memasang payet meskipun hasilnya sedikit miring (yang kemudian diperbaiki diam-diam oleh Anya). Mama Sarah sibuk menyetrika sambil menyanyi lagu dangdut, dan Mama Clarissa kembali tersenyum melihat kekompakan keluarga barunya.
...****************...
Malam harinya, Devan dan Anya pulang ke mansion dengan tubuh yang sangat pegal. Jari-jari Devan penuh dengan plester luka karena tertusuk jarum.
"Terima kasih sudah membela Mama hari ini, Anya," ucap Devan saat mereka sedang bersantai di sofa. Ia menarik kepala Anya untuk bersandar di bahunya.
"Itu tugasku, Devan. Tapi aku khawatir Valerie tidak akan berhenti di sini. Dia sudah mulai berani menggunakan aparat," jawab Anya cemas.
Devan mengepalkan tangannya yang terluka. "Aku sudah menyiapkan serangan balik. Besok, aku akan merilis bukti keterlibatan Valerie dalam pencucian uang investor Prancis-nya ke interpol. Dia ingin bermain kotor? Aku akan pastikan dia tidak punya tempat untuk bersembunyi di dunia ini."
Namun, di tengah kemesraan itu, ponsel Anya bergetar. Sebuah foto masuk dari nomor pribadi Valerie. Foto itu memperlihatkan Mama Clarissa sedang berjabat tangan dengan seorang pria misterius di sebuah kafe gelap, bertahun-tahun yang lalu.
Keterangan fotonya tertulis: "Tanya Mamamu, siapa sebenarnya ayah biologis yang dia sembunyikan darimu selama ini. Apakah kamu masih merasa sebagai 'Clarissa' yang terhormat?"
Anya membeku. Rahasia apa lagi yang disimpan Mamanya? Dan mengapa Valerie bisa tahu segalanya?