NovelToon NovelToon
Peluru, Cinta, Dan Kerupuk Kaleng

Peluru, Cinta, Dan Kerupuk Kaleng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
​Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saingan Cinta dari Masa Lalu Leon

Pagi di Mansion Vancort biasanya dimulai dengan suara denting peralatan makan perak atau instruksi militer Marco kepada tim penjaga. Namun, pagi ini, atmosfer di ruang makan utama terasa lebih dingin daripada es di dalam gelas wiski Leon. Penyebabnya bukan karena rencana serangan baru dari Black Cobra, melainkan kehadiran seorang wanita yang duduk di ujung meja dengan keanggunan yang tampak sangat terencana.

​Wanita itu bernama Elena Moretti. Putri dari klan Moretti yang berbasis di Italia, rekan bisnis lama keluarga Vancort. Elena adalah definisi dari kecantikan yang tajam—rambut hitam legam yang disanggul sempurna, gaun desainer berwarna krem yang memeluk tubuhnya dengan sopan namun provokatif, dan sepasang mata yang menatap segala sesuatu seolah-olah ia adalah pemilik sah dari ruangan tersebut.

​"Leon, kau terlihat sedikit lebih... lelah daripada terakhir kali kita bertemu di Roma," ucap Elena dengan suara yang lembut namun penuh penekanan. Ia menyesap tehnya, lalu matanya melirik ke arah Ailen yang sedang sibuk mencoba mengupas telur rebus menggunakan sendok teh dengan cara yang sangat berisik. "Dan aku berasumsi... ini adalah 'anomali' yang banyak dibicarakan orang belakangan ini?"

​Ailen berhenti mengetuk telur. Ia menatap Elena, lalu menatap Leon yang duduk di kursi kebesarannya dengan wajah datar. "Mas Leon, ini siapa? Sales asuransi dari Italia ya? Kok bajunya rapi bener pagi-pagi begini?"

​Leon berdehem, suaranya terdengar tidak nyaman. "Ailen, ini Elena. Kami... bertumbuh bersama saat aku masih menjalani pelatihan di Eropa. Elena, ini Ailen Gavril. Tunanganku."

​Elena tersenyum, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Tunangan. Kata yang sangat kuat untuk seseorang yang baru kau kenal beberapa bulan, Leon. Ingatkah kau saat ayahmu bilang bahwa seorang Vancort membutuhkan pasangan yang setara? Seseorang yang bisa membedakan antara pistol Beretta dan pembersih lantai?"

Ailen merasakan ada gelombang panas yang tidak enak di dadanya. Bukan karena cemburu—setidaknya itu yang ia katakan pada dirinya sendiri—tapi karena nada bicara Elena yang seolah menganggap Ailen adalah kotoran di sepatu mahalnya.

​"Wah, Mas Leon hebat ya, punya temen yang pinter banget," sahut Ailen sambil akhirnya berhasil mengupas telurnya. "Tapi Maaf ya Mbak Elena, Mas Leon sekarang lebih suka sama yang bisa bikin martabak telor daripada yang cuma bisa bedain pistol. Soalnya pistol kalau dimakan rasanya pahit, Mbak. Keras lagi."

​Elena tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kaca. "Lucu sekali. Tapi dalam dunia kita, Leon, selera humor tidak akan menyelamatkanmu dari peluru pengkhianat. Aku datang ke sini karena ayahku ingin kita memperbarui aliansi. Dan kau tahu aliansi terbaik selalu dikukuhkan dengan... komitmen yang lebih dalam."

​Leon meletakkan garpunya dengan denting yang keras. "Moretti, aliansi bisnis tidak ada hubungannya dengan kehidupan pribadiku. Ailen adalah pilihanku."

​"Pilihan yang emosional, Leon. Bukan pilihan yang strategis," balas Elena tanpa gentar. Ia berdiri, berjalan memutari meja, dan dengan berani meletakkan tangannya di bahu Leon. "Aku akan tinggal di sini selama beberapa hari untuk urusan administrasi. Aku harap 'tunanganmu' ini tidak keberatan jika aku mengajakmu bernostalgia tentang masa-masa kita di Sisilia."

​Ailen melihat tangan Elena di bahu Leon. Insting "Gadis Panti"-nya mulai meronta. Ia berdiri, membawa piring telurnya, dan berjalan mendekati Elena.

​"Mbak Elena, kalau mau nostalgia silakan aja. Tapi tolong tangannya dijaga ya, Mas Leon ini baru sembuh luka lengannya. Nanti kalau kena kuku Mbak yang tajam itu terus infeksi, Mbak mau tanggung jawab nyuciin perbannya?" Ailen menyisipkan diri di antara Elena dan Leon dengan gerakan yang sangat natural namun tegas.

​Elena mundur satu langkah, menatap daster bermotif stroberi yang dikenakan Ailen dengan pandangan ngeri. "Kau... kau memakai daster di ruang makan utama Vancort?"

​"Lho, ini namanya efisiensi, Mbak! Habis makan bisa langsung tidur lagi, atau kalau ada musuh lari juga enak, nggak ribet kayak gaun Mbak yang kalau buat lari pasti nyangkut di pintu," jawab Ailen bangga.

Elena tidak menyerah. Siang harinya, ia menantang Ailen di ruang latihan menembak bawah tanah—tempat yang sebenarnya baru saja ingin digunakan Leon untuk melatih Ailen.

​"Jika kau memang pantas berada di sisi Leon, kau harus membuktikan bahwa kau bukan sekadar beban," ucap Elena sambil memegang sebuah pistol semi-otomatis dengan keahlian yang jelas terlatih. "Kita lihat siapa yang memiliki bidikan lebih baik."

​Leon berdiri di pinggir, wajahnya tegang. Ia ingin melarang, namun Ailen memberikan tanda jempol. "Boleh, Mbak. Tapi kalau saya menang, Mbak harus janji nggak boleh pake parfum yang baunya kayak bunga kuburan itu lagi ya? Hidung saya bersin terus dari tadi."

​Elena mendengus. Ia membidik sasaran sejauh 25 meter. Dor! Dor! Dor! Tiga peluru tepat mengenai lingkaran merah di tengah. Elena menatap Ailen dengan sombong.

​Ailen maju. Ia memegang pistol pemberian Leon dengan sedikit kaku—ini adalah pertama kalinya ia benar-benar menembak setelah insiden panti. Ia menarik napas panjang, mengingat kata-kata Leon tentang "ketenangan hati."

​Namun, saat Ailen hendak menarik pelatuk, seekor lalat hinggap di hidungnya.

​"Aduh!" Ailen bersin dengan keras. Dor!

​Peluru itu melesat jauh dari sasaran utama. Namun, peluru itu mengenai rantai penyangga papan sasaran, membuatnya putus dan jatuh tepat menimpa papan sasaran Elena hingga hancur berkeping-keping.

​"Eh... Maaf, Mbak. Saya nggak sengaja ngehancurin papan Mbak. Tapi secara teknis, papan Mbak udah nggak bisa dipake lagi kan? Berarti saya yang menang karena papan saya masih berdiri?" tanya Ailen dengan wajah tanpa dosa.

​Elena ternganga. "Itu... itu bukan keahlian! Itu keberuntungan murni!"

​"Mbak Elena sayang, di dunia mafia, keberuntungan itu lebih mahal daripada peluru," sahut Ailen sambil meniup ujung pistolnya ala film aksi.

Meskipun Ailen tampak menang, malamnya ia merasa gelisah. Ia melihat Leon dan Elena berbincang di balkon tentang dokumen-dokumen lama dalam bahasa Italia yang tidak ia mengerti. Mereka terlihat sangat serasi—dua orang yang lahir di kegelapan yang sama, berbicara dalam bahasa yang sama.

​Ailen duduk di tangga, memeluk lututnya. Ia mulai merasa kecil. Apa benar ia hanya "anomali" yang lewat? Apa benar Leon lebih membutuhkan seseorang seperti Elena yang bisa menjadi mitra tempur sesungguhnya?

​Tiba-tiba, sebuah bayangan menutupi langkahnya. Leon berdiri di sana, sudah tidak bersama Elena.

​"Kenapa duduk di sini? Lantainya dingin," ucap Leon, duduk di samping Ailen.

​"Mas... Mbak Elena cantik ya? Pinter nembak lagi. Kalau Mas sama dia, mungkin Black Cobra udah musnah dari kemarin-kemarin," bisik Ailen.

​Leon menarik napas panjang. Ia mengambil tangan Ailen dan menggenggamnya. "Elena adalah masa lalu yang dipaksakan oleh keluargaku. Dia adalah cermin dari diriku yang lama—kaku, penuh perhitungan, dan dingin. Tapi kau tahu kenapa aku tidak memilihnya?"

​Ailen menggeleng.

​"Karena aku tidak butuh cermin. Aku sudah cukup bosan melihat kegelapan dalam diriku sendiri. Aku butuh cahaya, Ailen. Aku butuh seseorang yang bisa membuatku tertawa saat dunia sedang runtuh. Aku butuh gadis yang lebih peduli pada kebersihan perbanku daripada kemurnian garis keturunanku."

​Leon mengecup punggung tangan Ailen. "Elena memang bisa membedakan pistol, tapi kau... kau bisa membuatku merasa bahwa pistol itu tidak perlu digunakan jika ada jalan lain. Itu adalah kekuatan yang tidak dimiliki klan Moretti mana pun."

Elena Moretti ternyata bukan hanya datang untuk bernostalgia. Di tengah malam, Marco mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan. Elena terlihat mencoba mengakses ruang penyimpanan data pribadi Leon di perpustakaan.

​Saat Leon dan tim Alpha mengepungnya, Elena justru tertawa. "Kau pikir aku ke sini hanya untuk mendapatkan cintamu, Leon? Ayahku menginginkan daftar informanmu. Jika kau tidak mau menikahiku untuk menggabungkan kekuatan, maka aku akan mengambil kekuatanmu secara paksa."

​Namun, saat Elena membuka brankas rahasia Leon menggunakan alat peretas canggihnya, ia terkejut. Di dalam brankas itu bukan terdapat daftar informan, melainkan ribuan bungkus kerupuk jengkol dan koleksi sandal jepit yang sudah dilabeli nama Ailen.

​"Apa-apaan ini?!" teriah Elena.

​Ailen muncul dari balik rak buku sambil memegang ember berisi air sabun. "Yah, Mbak... Mas Leon kan udah bilang, rahasia paling berharga di rumah ini bukan lagi soal bisnis. Lagipula, brankas informan yang asli udah saya pindahin ke bawah kandang ayam di belakang panti. Nggak bakal ada yang nyangka di sana."

​Elena tertangkap basah. Leon menatapnya dengan dingin. "Moretti, aliansi kita berakhir malam ini. Marco, antar Nona Elena ke bandara. Pastikan dia tidak membawa apa pun kecuali harga dirinya yang sudah hancur."

Sebelum Elena diseret keluar, Ailen mendekatinya. Ia memberikan sebuah kantong plastik kecil berisi telur rebus yang tadi pagi gagal ia kupas dengan sempurna.

​"Nih, Mbak, buat bekal di pesawat. Biar Mbak tahu, hidup itu nggak selamanya harus sempurna dan elegan. Kadang-kadang, telur yang kupasannya berantakan rasanya tetep enak kok kalau makannya pake hati," ucap Ailen dengan senyum tulus.

​Elena menatap telur itu, lalu menatap Ailen dengan pandangan yang sulit diartikan—antara benci dan kagum—sebelum akhirnya pergi meninggalkan Mansion Vancort selamanya.

​Leon mendekati Ailen, merangkul bahunya. "Kau benar-benar tidak terduga, Ailen. Menaruh daftar informan di bawah kandang ayam?"

​"Hehe, itu ide spontan aja Mas. Soalnya informan Mas kan banyak yang kayak ayam, suka berkicau tapi kalau ada bahaya langsung lari," canda Ailen.

​Leon tertawa, lalu mencium dahi Ailen. "Sepertinya aku harus benar-benar waspada. Bukan karena musuh, tapi karena tunanganku sendiri jauh lebih cerdik daripada intelijen Italia."

​Malam itu, Mansion Vancort kembali tenang. Saingan cinta dari masa lalu telah pergi, meninggalkan pelajaran berharga bagi Leon: bahwa masa depan tidak ditentukan oleh dengan siapa kita dibesarkan, tapi oleh dengan siapa kita ingin menua—bahkan jika orang itu hobi memakai daster stroberi di ruang makan utama.

1
Riska Baelah
ap pun msalh ny slalu berakhir dng manis🤣😄🤣😄🤭👍
kya martabak komplit👍👍👍
Riska Baelah
suka bnget sama leon mna bos kaya, sabar lg ngadepin si aelin kekasih semprul ny😄🤣😄🤭👍👍👍👍
Riska Baelah
🤣😄🤣😄😄😄🤣🤭
Riska Baelah
ya gak d kenyataan gak d dunia novel yg nma ny perempuan, klu liat diskon gak akan thannnn🤣😄🤣😄🤣🤭
Riska Baelah
swettt😍😍😍😍
Riska Baelah
sempat2 ny leon ailen ciuman d tengah perang yaaa🤣😄🤣😄🤭
Riska Baelah
😍😍😍😍😍
Riska Baelah
lnjut👍👍👍👍
Riska Baelah
😍😍😍😍😍😍
Riska Baelah
kk ini ya bisa bnget buat kata2"
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍
Riska Baelah
gimana cara ny mati sambil ketawa😄🤣😄🤣🤭 ad2 aj kk ini👍
Riska Baelah
🤣😄🤣😄🤣🤭👍
Riska Baelah
kk, ap ini kisah ank ny karin sama vittorio,,yg d sebelah
Riska Baelah: kirain, soal ny blum rela jg klu vittorio d tamatin🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!