"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.
Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.
Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.
"Hey!"
"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.
"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 39
Kenan perlahan menatap Anya, memberikan kode berharap Anya dapat mengertinya. Bahwa interview mereka telah selesai.
"Sudah. Baru saja selesai!" ungkap Kenan, menjelaskan situasinya kepada Bara yang merasa penasaran.
Anya mengerenyitkan dahinya. Merasa bingung dengan kondisinya saat ini. Ia merasa tidak menjawab pertanyaan seputar dunia pekerjaan apapun dari Kenan.
"Iya, kan, Anya?" tanya Kenan, penuh harapan agar Anya dapat mengerti kondisinya.
Anya kembali meringis tersenyum. Dan mengikuti kemauan Kenan yang tidak pernah ia mengerti apa maksudnya.
"Iyaa, haha~" kata Anya.
"Baiklah. Karena sekarang Anya sudah resmi bekerja di perusahaan ini sebagai asisten kebersihan ... aku ingin tugas pertama Anya menyiapkan kopi untuk ku. Tiba-tiba aku merasa kantuk," ungkap Bara, memberi perintah pertama langsung kepada Anya yang baru saja di terima bekerja.
"Hm? ... hanya itu?" tanya Kenan merasa bingung. "Kamu jauh-jauh datang kemari hanya untuk dibuatkan kopi oleh Anya?" sambung Kenan yang semakin merasa tidak mengerti jalan pikir Bara.
"Iya. Aku tunggu di ruangan ku Anya. Segera," ucap Bara dingin, dengan ekspresinya yang datar sebelum pergi berlalu begitu saja meninggalkan ruangan Kenan.
Ketika Bara sudah pergi, Anya dan Kenan kembali saling pandang. Di tengah-tengah Anya yang merasa masih bingung apakah dirinya sudah benar-benar diterima bekerja atau belum.
"Aku sudah bisa bekerja pak?" tanya Anya, memastikan kondisinya kembali saat ini yang sangat tidak jelas.
"Seperti yang kamu dengar. Interview ini hanya formalitas. Dan kamu sudah diterima bekerja di perusahaan ini ... selamat bekerja Anya," ujar Kenan, memberi senyum kepada Anya agar ia bersemangat di hari pertamanya bekerja.
Tok ...
Tok ...
Tok!
"Permisi ..." ucap salam Anya, mengetuk pintu ruangan Bara dengan nampan yang berisi secangkir kopi pesanan Bara. Anya bekerja dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin melakukan kesalahan kecil apapun di hari pertamanya bekerja di perusahaan besar seperti Ara Tech ini.
Bara yang sedang duduk dengan komputer di depannya, mendengar suara wanita dari luar ruangannya. Tanpa memalingkan wajahnya, Bara berkata singkat dan pelan.
"Masuk."
Kemudian perlahan Anya dengan hati-hati membuka pintu ruang kerja Bara. Menjaga keseimbangan tubuhnya agar kopi yang ia pegang dengan satu tangan tetap aman.
Anya melihat Bara tengah sibuk bekerja sendiri di depan komputernya. Tanpa melihat kehadiran Anya, atau mungkin ia hanya sedang fokus mengerjakan sesuatu yang penting.
Anya berjalan mendekat ke depan meja Bara. Meletakkan kopi pesanan Bara di samping berkas banyak yang tersusun rapih di sampingnya.
Setelah selesai menyajikan kopi untuk Bara, Anya tidak langsung pergi. Ia menunggu apakah ada perintah lagi untuknya atau tidak.
Namun melihat Bara yang sama sekali tidak merespon atau bahkan melirik kopi tersebut, rasanya memang sudah tidak ada lagi yang harus Anya lakukan.
Anya memperhatikan Bara, dengan kedua tangan di bawah yang terus memegang nampan dengan erat. Ia benar-benar gugup sekarang. Melihat perubahan sifat Bara seperti orang lain yang baru saja ia jumpai.
"Kenapa dia tidak mengatakan apa-apa?" gumam Anya dalam hati, sedikit mengeluh melihat sikap Bara yang mengacuhkan dirinya. Anya benar-benar melihat orang yang berbeda. Pria dingin, dan berwajah datar dengan semua keseriusan di wajah Bara saat ini.
"Kalau begitu, saya—"
"Terimakasih, ya."
Di saat-saat terakhir Anya hendak melangkah pergi, ia mendengar ucapan terimakasih yang keluar dari mulut Bara. Pria itu melihat sekilas Anya meninggalkan pekerjaan sibuknya. Lantas, Anya tersenyum kikuk ketika pandangan mereka baru saja bertemu sebentar.
"Sama-sama. Ka-kalau begitu, saya permisi dulu pak," kata Anya. Dengan semua kegugupan di wajahnya saat di pandang Bara sekilas. Anya berbalik badan untuk melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Baru saja Anya selangkah pergi ingin meninggalkan Bara, lagi-lagi suara Bara berhasil membuat Anya terdiam dan berbalik memandangnya.
"Hmm ... Anya, tunggu! Apa kamu melihat ponsel saya?" tanya Bara, langsung menyapu pandangannya ke atas meja kerja dia yang ramai dengan beberapa atk dan dokumen-dokumen kantor.
Anya memperhatikan Bara yang terlihat sibuk mencari ponselnya sendiri. Di balik semua kesempurnaan yang Bara miliki, sifat pelupanya masih menjadi kekurangan yang ada pada Bara.
Sebuah hembusan nafas pelan keluar dari mulut Anya tiba-tiba. Ketika Anya mengetahui bahwa ponsel yang sedari tadi Bara cari, ada di dalam sakunya sendiri. Dan Bara malah terlihat sibuk terus mencari apa yang terlihat di hadapannya.
"Huh ... ponselnya ada di saku bapa dari tadi."
Bara langsung melihat sakunya. Mengambil ponsel yang sedari tadi tidak kunjung ia temukan.
"Terimakasih, yaa," kata Bara. Melihat Anya karena telah berhasil menemukan ponsel yang sedari tadi tidak berpindah tempat dari sakunya.
Anya melihat meja Bara yang sedikit berantakan sekarang. Dan ia membenarkan kembali, merapihkan berkas-berkas dan beberapa bingkai foto yang terlihat kurang presisi di mata Anya.
"Jika boleh saya benarkan, ini seharusnya tidak disini ..." kata Anya, sambil terus merapihkan tata letak barang yang tidak enak di pandang menurut Anya.
Bara memperhatikan kegiatan Anya. Bersedekap tangan diatas dada seraya menyandarkan punggungnya di kursi kerja.
Tidak hanya merapihkan tata letak barang yang ada diatas meja kerja Bara. Anya juga merapihkan beberapa jejeran buku yang tidak tersusun dengan rapih diatas rak samping Bara.
Pengalamannya yang sudah lama bekerja menjadi asisten kebersihan rumah tangga, membuat Anya terlihat sangat profesional dalam bekerja. Dan hal itu menjadi perhatian khusus bagi Bara yang terus melihat Anya bekerja dengan fokus.
"Aku tidak mengira, ada orang yang bisa tahan melihat barang-barang yang tidak rapih seperti ini ..." gumam Anya pelan, seraya terus melakukan pekerjaannya menyusun buku diatas rak.
Sampai, pada bagian salah satu buku yang terlihat cukup sulit untuk Anya letakkan kembali. Anya harus sedikit berjingjit untuk menggapai rak buku diatasnya.
"Sshh ... aduh," kata Anya pelan melihat keatas, masih berusaha meletakkan kembali posisi buku tersebut agar terlihat rapih.
Di tengah-tengah kesulitan Anya. Datang satu tangan dari belakang Anya yang mencoba membantu Anya meletakkan buku tersebut.
"Biar ku bantu."
Kini Bara tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Anya. Ketika tangan mereka yang sedang menuju atas sempat bersentuhan.
Deg ...
Deg ...
Deg ...
Jantung Anya kembali berdetak dengan tidak normal seperti biasanya. Dan hal ini bukan yang pertama kali Anya rasakan setiap dirinya berada sangat dekat dengan Bara.
Ketika Bara sudah membantu meletakkan kembali buku tersebut. Anya berbalik badan, dalam kondisi yang masih sangat dekat oleh Bara yang belum menurunkan tangannya dari atas rak buku.
Pandangan mereka bertemu untuk beberapa saat. Dan lagi-lagi, jantung Anya kembali berdegup kencang ketika sorot mata Bara menatapnya.
Kini jarak mereka hanya terhalang oleh kedua tangan Anya yang mengatup berada di depan dadanya. Ia tidak mengira akan berada di dalam posisi seperti ini dengan Bara.
"Kamu ..." kata Bara pelan, masih menatap Anya dan malah membuat kedua pipi Anya memerah sekarang tanpa sebab.
Deg ... Deg ... Deg ...
Jantung dan ekspresi Anya benar-benar tidak bisa ia kontrol sekarang. Di saat, di hadapan Anya ada sosok Bara yang tampan berdiri dengan jarak sangat dekat.
Beberapa kali juga terlihat, Anya menelan salivanya sendiri di tengah ia merasakan perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya sekarang.