NovelToon NovelToon
Jangan, Dia Datang!

Jangan, Dia Datang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Misteri
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Rain (angg_rainy)

Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.

Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…

Entitas urban legend itu akan datang.

Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.

Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?

Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25 : Karma Andre

Naja tidak langsung membunuh Andre, dia terus mendekati pria itu dengan wujudnya yang menyeramkan. Sementara di belakangnya, roh gadis yang mati akibat Andre terus mengikuti. Langkah Andre menjadi gemetar, dia bahkan terjatuh dan terseok-seok saat mencoba menjauh.

Naja tersenyum melihat roh itu. "Apa kamu mau memberi dia pelajaran, bocah?" tanya sosok itu hangat dengan suara dingin.

Roh itu hanya memandang kosong dengan wajah pucat. Dia menatap Andre dengan penuh dendam yang berdarah-darah. Tangannya terangkat menunjuk pria itu dengan kesal.

"Kamu ... Kamu yang sudah buat hidup aku hancur," ujar sosok itu, suaranya nyaring dan rendah. Dia bersuara penuh rasa kecewa karena kekasaran yang dilakukan Andre padanya dulu.

Andre mengatupkan kedua tangannya, dia menatap roh gadis itu dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan, aku. Aku menyesal sekarang, ampuni aku. Beri aku kesempatan," ucapnya memohon.

Namun, Naja justru menendang kakinya hingga Andre terjungkal. Naja tidak berhenti sampai di situ. Dia menginjak punggung Andre dengan kasar hingga pria itu muntah mengeluarkan darah. Pandangan kedua mata itu tampak berkunang-kunang dan perutnya seperti terasa mual.

Melihat Andre yang sudah tidak berdaya, Naja tersenyum menatap roh gadis itu.

"Nah cantik, sekarang kamu mau melakukan sesuatu untuk dia ‘kan? Daripada aku yang balas, kayaknya masalah kalian ini personal deh?" tanya Naja sekali lagi.

Roh gadis itu memiringkan kepala, bola matanya memutih. Dia segera mengambil vas bunga yang ada di dekat sana. Dengan penuh amarah, dia mengangkat vas itu tinggi-tinggi di atas tubuh Andre.

Andre makin merinding ketakutan, tanpa sadar dia meneteskan air mata. Pria itu terpojok, tidak berdaya. Dengan sisa napasnya, dia berusaha berkata secara terbata-bata.

"Mohon ampuni aku, aku tahu aku salah. Kau juga bukan gadis jahat kan? Kamu tidak akan tega membunuhku seperti itu," ucap Andre dengan memelas.

Namun, roh gadis yang mendengar permintaan maaf itu justru makin dendam. "Apa katamu? Menyesal? Pria seperti mu mana tau arti penyesalan?" sinis roh itu dengan suara tinggi.

"Kau seperti sampah hanya berisi hal-hal buruk yang membuat lingkungan sekitar kotor karena kebusukan mu sendiri. Jika kau menyesal, seharusnya kau sudah bertobat dari dulu," jelas roh itu sekali lagi.

Ucapan itu diangguki oleh beberapa murid yang pernah ditindas oleh Andre sendiri. Tak mau membuang waktu, Naja pun menghampiri roh itu supaya melampiaskan semua emosinya. Dan di detik itu juga, sosok itu melemparkan vas bunga yang cukup besar pada Andre yang tidak berdaya. Pria itu seketika tewas berlumuran darah dengan kondisi jantung yang rusak akibat hantaman vas bunga. Bersamaan dengan itu, roh gadis itu menghilang.

Naja tersenyum melihat itu semua. Setelah puas bertepuk tangan dan terkikik ringan, dia berbalik menatap murid-murid yang ada di sana.

"Teman-teman, ingat quotes dari mbak Naja yang cantik ini ya. Jangan takut pada ketidakadilan. Takutlah kalau sikap burukmu membawamu ke jalan kematian," ucap sosok itu menasehati mereka.

Suasana menjadi hening saat Naja menghilang. Sekolah tidak lagi mempersiapkan pelajaran di hari ini karena sibuk mengurus kematian Andre. Di hari pemakaman pria itu, tidak tahu kenapa suasana menjadi sedikit dingin.

Di acara pemakaman, Satria diam-diam memandang Naja yang ada di sela-sela kerumunan orang. Naja kembali berwujud seperti gadis cantik seperti biasa, berdiri di bawah salah satu payung hitam sambil menyeruput susu coklat.

Satria tersenyum kecil menatap Naja, seolah berkata terima kasih. Melihat itu, Naja hanya membalas senyuman tipis sambil mengedipkan matanya membuat hati Satria sedikit bahagia.

Seluruh murid dan guru hadir di pemakaman hanya formalitas, mereka tidak benar-benar menangisi kematian Andre. Bukan karena mereka tidak punya hati, tetapi karena pria itu pernah membuat hari-hari mereka terasa seperti hukuman. Selama Andre masih ada, sekolah tidak pernah benar-benar menjadi tempat aman.

***

Sesaat di bumi ini seperti tenang. Tidak ada masalah lagi setelah kematian Andre. Bahkan sekolah terasa lebih ceria dan bersemangat karena tidak ada lagi sosok yang menindas seperti yang dilakukan pria itu.

Selain itu semua, kepala sekolah yang baru memiliki sikap tegas dan bijaksana membuat sekolah jauh dari masalah. Tidak ada lagi perbuatan buruk seperti korupsi, bully, atau pembunuhan di sekolah ini. Semua aturan di bangun ulang dengan tegas.

Satria juga selalu menolong murid-murid lain yang kesusahan. Sesekali, dia membantu jika ada kasus yang membuat mereka bebas dari hukuman guru. Sementara itu, Naja juga sering berpindah-pindah menangani kasus-kasus yang ada di sana.

Sistem verdict yang tadi eror dan suka dimanipulasi, kini sudah diperbaiki oleh kepala sekolah lewat beberapa profesor yang ahli. Aplikasi penilai moral itu sudah kembali normal. Mengetahui itu, Naja pun menjadi senang dan memberikan kepala sekolah baru itu hadiah dengan sihirnya.

Hadiah itu berupa laptop canggih dan smartwatch untuk masing-masing siswa agar dapat memudahkan sistem pendidikan di sekolah ini. Hal ini membuat semua murid di sekolah makin cerdas dan berbakat. Namun, Satria selalu menasehati teman-temannya supaya terus berbuat baik, bukan hanya fokus pada kecerdasan.

***

Hari ini, karena senang, Naja pun mengajak Satria jalan-jalan di taman yang cukup sejuk. Mereka terlihat cukup dekat. Bahkan, Naja juga merasa nyaman dengan lelaki tersebut.

Suasana taman itu cukup indah, angin berembus menerbangkan dedaunan yang ada di antara bunga yang sedang bermekaran. Di sana juga ada beberapa wahana permainan yang disukai anak kecil. Naja tanpa sadar tersenyum saat melihat anak-anak yang sedang bermain bersama di sana.

"Apa kau senang?" tanya Satria lembut sambil menatap Naja yang tersenyum pada anak-anak yang ada di sana.

Naja menganggukkan kepala. Dia menghela napas sambil memainkan jemari. "Iya, aku senang sekali," jawabnya dengan hati berseri-seri.

Mendengar itu, Satria pun ikut tersenyum. "Aku juga senang melihatmu senang."

"Untuk sesaat, dunia terasa tenang," ucap Naja sambil berjalan memandang sekitar yang tampak tenang.

Satria menyenggol Naja dengan sedikit jahil. "Tenang karena jauh dari masalah bukan?" godanya.

Naja seketika mengangguk. Melihat itu, Satria justru terkekeh.

"Biasanya setiap hari kau sibuk menangani kasus," sindir Satria membuat Naja menatapnya kesal. Akan tetapi, gadis itu hanya mengangkat bahu tak acuh.

"Aku tidak peduli ucapanmu saat ini, aku hanya ingin istirahat dari dunia yang terus bergemuruh," tegas Naja. Dia berjalan maju beberapa langkah menjauhi Satria.

Satria segera berlari kecil menghampiri Naja. Lelaki itu tersenyum kecil. "Baik-baik, aku minta maaf."

"Okey. No problem."

Pandangan Satria tiba-tiba tertuju pada salah satu wahana bermain dengan tema superhero. Dia tertawa pelan lalu menyenggol bahu Naja yang ada di sampingnya. Naja mengerutkan kening tapi Satria hanya tersenyum menunjuk wahana itu.

"Melihat itu, aku jadi teringat denganmu sebagai pahlawan," ucap Satria.

Naja menggelengkan kepala pelan sambil menahan senyum. Dia mengalihkannya pandangannya dari Satria. "Idih, jangan norak deh! Aku bukan pahlawan," bantah gadis itu.

Satria mengerutkan menatap Naja, matanya menatap gadis itu seolah tidak percaya dengan kata-katanya. "Kalau bukan pahlawan terus apa?"

Naja menundukkan pandangan. Sayap di punggungnya ingin keluar tapi dia tahan.

"Humm… aku nenek sihir penuntut keadilan dan—" ucapnya terpotong saat terjadi kerusuhan tiba-tiba di taman, membuat mereka berdua terpaksa mencari tempat aman.

1
SuryaNingsih
tuh kann ini tu tanah mereka tapi mau di rampas gitu
SuryaNingsih
Mau digusur demi bangun mall? ga ad hati klian ni
SuryaNingsih
Manaa🤣🤣
SuryaNingsih
naja itu santai tapi ngeselin tapi lucu🤣
SuryaNingsih
ooh si Naja nya mah udah tau ya🤣 cuma bru gentayangin aja
SuryaNingsih
sempet ketawa sama tepuk tangan🤣 lucu bgt ya🤣🤣
SuryaNingsih
jalur kakaen di desa penari kali ni andre🤭
SuryaNingsih
ramah pas ada maunya
SuryaNingsih
Lah yo si Andre dlu nganu 😡
Rosalina Ayyaee
Enak bgt jd Naja? dia smacem utusan tuhan ya?
Rosalina Ayyaee
Hadehh pak kepala dinasnya malah ky gt
Rosalina Ayyaee
Berhati lembut🤣 dia abis bunbun org🤣🤣
Rosalina Ayyaee
dia ngga mau kasus evan keulang lg salah tangkep
Rosalina Ayyaee
Hmm kek nya pembangunannya di tanah ilegal ya😡
Rosalina Ayyaee
seperti biasa mba Naja ini ngeselin tingkahnya🤣 tp bner sih kan yg di bully ya cewe itu
Rosalina Ayyaee
ooh semacem urban legend gt ya thor jd dy bales smua org gk cuma yg dsklh ini sj
Rosalina Ayyaee
Masih bgitu ya cuma dpn org dy pura2 pncitraan doang
Rosalina Ayyaee
Ya ampun andre kaya gitu dulunya😡
Rosalina Ayyaee
ya pasti wong korupsi kok
Wulandarry
Lhaa mala lari dy🤣 sukur dh d ksi sangsi sosial😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!