Berlatar di Seoul, Seo Yerin adalah wanita karier sempurna yang hidupnya hancur setelah diracuni oleh suaminya sendiri dan dikhianati sahabat dekatnya. Namun setelah kematiannya, ia secara misterius kembali ke masa lalu tepat di hari saat dirinya dilamar.
Apa yang akan dia lakukan selanjutnya? Pertama, dia menghajar orang yang melamarnya tepat di hadapan semua orang dan merencanakan balas dendam kepada sahabat dan semua orang yang membuatnya menderita.
Namun di tengah usahanya mengubah takdir, ia tanpa sadar terlibat dengan seorang pria berbahaya dari dunia bawah tanah—seorang mafia dingin yang juga sedang menyiapkan balas dendamnya sendiri.
Apakah pembalasan dendamnya dapat membawanya menuju kebahagiaan? Atau malah membuatnya semakin terseret ke dalam jurang neraka? Saksikan perjalanan Yerin hanya di novel ini ☺️☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SuciptaYasha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 Kenangan masa lalu
Langit terasa begitu luas dan hampa. Di sebuah sudut taman yang sunyi, seorang anak laki-laki berusia delapan tahun duduk memeluk lututnya dengan hati berat.
Dunianya baru saja runtuh setelah kehilangan ibu yang dia sayangi.
Anak itu hanya bisa menangis dalam keheningan. Namun, keheningan itu pecah oleh suara langkah kaki kecil di atas rerumputan.
Seorang gadis kecil, mungkin baru berusia lima tahun, berdiri di depannya dengan gaun merah muda yang cerah—kontras yang menyakitkan bagi suasana hatinya.
"Kenapa kakak menangis?" suara itu kecil, polos, dan jernih.
Anak laki-laki itu tidak bergeming. Ia hanya menatap tanah, berharap bumi terbuka dan menelannya.
Gadis itu yang diabaikan menjadi jengkel. Ia melihat ke sekelilingnya dan melihat sebuah bunga liar yang tumbuh di sisi taman.
Dengan kaki mungilnya, gadis kecil itu memetik bunga dan memberikannya pada anak laki-laki itu.
"Kalau sedih, harusnya pegang ini."
Anak laki-laki itu terdiam sejenak, perlahan ia mengangkat kepalanya dan melihat senyum cerah gadis kecil itu yang penuh dengan kehidupan. Seperti bunga matahari yang tumbuh di padang pasir yang gersang, seperti itulah perasaan yang dirasakan oleh anak laki-laki itu.
"Ayo berteman. Namaku Seo Yerin. Kalau kita berteman, Kakak tidak akan sendirian lagi."
Anak laki-laki itu terdiam. Di bawah sinar matahari yang lembut, anak laki-laki itu seolah mendapatkan harapannya kembali untuk tetap hidup.
Namun, saat ia hendak menyambut tangan itu—
TING TONG!
Yo-han tersentak. Kelopak matanya terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang mewah namun terasa dingin.
Ia terduduk dengan napas pendek, butiran keringat dingin menghiasi keningnya. Sambil memijit pangkal hidungnya yang berdenyut, ia bergumam dengan suara parau, "Mimpi itu lagi..."
TING TONG! TING TONG!
Bel apartemen kembali berbunyi dengan tidak sabaran. Di balik pintu, Jeong-won berdiri sambil menenteng kotak p3k.
Ia melirik jam tangan, lalu menempelkan telinga ke pintu. "Apa dia masih tidur di jam segini? Tidak biasanya," gumam Jeong-won heran.
Ceklek.
Pintu terbuka, Jeong-won sedikit terpaku melihat sosok Yo-han dengan rambut berantakan dan aura yang jauh lebih gelap serta suram dari biasanya.
Matanya merah bukan karena amarah, tapi karena kurang tidur dan bayang-bayang masa lalu.
"Sampai kapan kau mau berdiri di sana?" ucap Yo-han dingin, suaranya seperti es yang retak.
"Ah! Bos! Anda sudah bangun rupanya."
Jeong-won buru-buru masuk sebelum pintu tertutup di wajahnya. Ia mulai berceloteh untuk mencairkan suasana.
"Saya membawakan sup penghilang pengar jika Anda butuh, tapi melihat wajah Anda sekarang, sepertinya Anda lebih butuh pengusir setan."
Yo-han tidak menanggapi lelucon garing asistennya. Ia duduk di sofa, menjulurkan tangan kirinya yang masih terbalut perban seadanya yang kini sudah berubah warna karena rembesan darah kering.
Jeong-won mengernyit saat membuka perban itu. Luka di sana masih menganga, bengkak dan kemerahan.
"Anda tidur dengan kondisi luka terbuka seperti ini? Seharusnya Anda memanggilku. Meski sudah larut malam, saya akan langsung datang."
"Obati saja," perintah Yo-han singkat.
Jeong-won menghela napas. Selama bertahun-tahun menjadi tangan kanan Yo-han, ia sudah lebih mahir menangani luka robek daripada mengurus berkas.
Tangannya dengan lincah menyuntikkan anestesi, ia mulai menjahit robekan di kulit itu dengan ketelitian seorang ahli bedah, lalu membungkusnya kembali dengan perban bersih.
"Sudah selesai," ucap Jeong-won pada akhirnya.
Yo-han bangkit sambil berkata. "Kita akan langsung berangkat setelah aku bersiap-siap."
Jeong-won hanya bisa mengiyakan meski banyak hal yang masih ingin dia bicarakan. Tentang apa yang terjadi semalam dan kenapa bosnya itu membuang mobil kesayangannya.
Satu jam kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil Jeong-won dan hendak menuju kediaman utama Keluarga Geumryeon.
Asistennya itu fokus mengemudi, sementara Yo-han duduk di kursi belakang sambil menyandarkan kepala pada kaca jendela dan menatap jalanan Seoul yang sibuk.
Saat mobil melewati area pertokoan mewah, Yo-han tiba-tiba duduk tegak. Ia melihat siluet seorang wanita berambut panjang dengan gaun putih berdiri di depan sebuah butik.
"Berhenti!" teriak Yo-han.
Jeong-won menginjak rem mendadak hingga ban berdecit. Yo-han menoleh cepat ke belakang, matanya menyisir trotoar, mencari sosok itu.
Namun yang ia temukan hanyalah kerumunan orang asing. Tidak ada wanita bergaun putih. Tidak ada mata biru yang dan senyum menjengkelkan yang mengejeknya.
"Ada apa, Bos? Apa ada musuh?" tanya Jeong-won waspada sambil memegang kemudi dengan erat.
Yo-han terdiam sejenak, lalu kembali bersandar dan menghela napas panjang sambil menggeleng. "Bukan apa-apa. Jalan saja."
Dalam hati, Yo-han merutuk. 'Kenapa wanita itu tidak bisa hilang dari kepalaku?'
'Bos sangat aneh hari ini, atau cuma perasaanku saja?' pikir Jeong-won.
"Putar musik," perintah Yo-han, mencoba mengalihkan pikirannya yang kacau.
"Siap, Bos!" balas Jeong-won.
Irama piano yang lembut mulai mengalun pelan.
Jeong-won langsung antusias "Ini lagu yang sedang tren akhir-akhir ini, sangat populer di kalangan remaja."
"Di bawah cahaya bulan yang terang🎶Aku berlutut, membawa janji yang suci🎶 Jadilah pendamping hidupku, oh sayangku🎶 Maukah kau menikah denganku?🎶"
Jeong-won mulai menggerakkan kepalanya mengikuti irama, bahkan ikut bersenandung pelan. "Maukah kau menikah denganku... ooh~"
"Ganti," potong Yo-han tajam. Matanya menatap horor ke arah speaker.
"Siap!" balas Jeong-won sambil menekan tombol 'next'.
Lagu kedua dimulai dengan petikan gitar yang tak kalah romantis:
"Cincin di jemarimu, tanda cinta abadi🎶 Lonceng gereja berbunyi, kita bersatu di pelaminan🎶Katakan 'I Do', dan mari menua bersamaaaa🎶
Jeong-won kembali bersemangat, suaranya naik satu oktav. "Katakan 'I Do'! Mari kita menikahhh!!"
"GANTI!" bentak Yo-han, wajahnya sekarang benar-benar merah karena emosi yang tertahan.
"Siap!"
Jeong-won menekan tombol lagi secara acak. Namun, seolah alam semesta sedang bekerja sama dengan Yerin untuk menyiksanya, lagu berikutnya justru lebih parah: sebuah lagu duet tentang janji suci pernikahan yang hangat.
"MATIKAN!" Yo-han berteriak dengan nada tinggi yang jarang ia keluarkan.
Klik. Sunyi seketika.
Jeong-won menelan ludah, menatap spion tengah dengan ngeri. Ia melihat bosnya sedang menutup wajah dengan kedua tangan, tampak seperti orang yang baru saja lolos dari trauma berat.
'Ini bukan cuma perasaanku saja, dia memang benar-benar aneh hari ini. Apa dia habis kena tolak lamaran atau semacamnya?' pikir Jeong-won.
biasa'a akan mengulangkan kejadian" sblm'a
keren crita'a
bagus alur'a... jgn smp gk lanjut ya thor
oowh... ternyata anak pungut yg menguasai dunia bawah calon'a yerin, gpp yg penting kuat smua
😂🤭
betul g yaa🤔
lanjuuut thor💪
aah inilah org yg akan menolong yerin, seorang dr dunia bawah