Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 - Cari Kerja
Malam itu, lampu kota Jakarta berpendar indah di balik jendela restoran mewah tempat Zayn dan Anggun duduk berhadapan.
Restoran itu elegan. Cahaya temaram, alunan musik lembut, dan suasana eksklusif yang membuat siapa pun merasa berada di dunia yang berbeda. Anggun terlihat sangat menikmati suasana itu. Ia tersenyum, memainkan gelas wine di tangannya, sementara matanya sesekali menatap Zayn dengan penuh arti.
“Sudah lama ya kita nggak seperti ini,” ucap Anggun ringan.
Zayn tersenyum tipis. “Iya... sudah lama.”
Awalnya canggung. Namun perlahan, percakapan mereka mengalir. Dari hal ringan, kenangan masa lalu, hingga candaan-candaan kecil yang dulu sering mereka lakukan.
Anggun memang pintar membawa suasana. Dia tahu kapan harus menggoda, kapan harus serius, dan kapan harus membuat Zayn tertawa.
Tanpa sadar, Zayn pun mulai larut. Untuk beberapa jam, dia benar-benar lupa. Lupa pada Naomi dan Davin. Lupa pada semua kekacauan yang dia tinggalkan. Tawa kecilnya terdengar lebih sering. Bahkan sesekali dia terlihat santai, sesuatu yang jarang terlihat sejak beberapa hari terakhir.
“Lihat? Kamu itu butuh refreshing,” kata Anggun sambil menunjuknya dengan garpu.
Zayn mengangguk kecil. “Mungkin.”
“Bukan mungkin. Tapi pasti,” sahut Anggun cepat. “Kamu terlalu serius sama hidup.”
Zayn tersenyum lembut. Malam semakin larut, dan entah bagaimana, langkah mereka tidak berhenti di restoran.
Lampu kota masih menyala saat mobil mereka berhenti di depan sebuah hotel berbintang. Tidak ada banyak kata. Tidak ada penjelasan panjang. Hanya keputusan yang diambil dalam diam.
Zayn dan Anggun sudah dipastikan saling tertarik. Ketika mereka sudah tiba di sebuah kamar hotel, ciuman panas langsung terjadi. Di iringi dengan saling melepas pakaian satu sama lain.
Keesokan paginya, sinar matahari menembus tirai tipis kamar hotel. Zayn terbangun perlahan. Beberapa detik dia hanya menatap langit-langit, mencoba mengingat di mana dirinya berada. Lalu semuanya kembali. Restoran dan tawa Anggun malam tadi.
Zayn menutup matanya kembali, menghela napas panjang. Ada keheningan aneh di dalam dirinya. Bukan rasa bersalah yang keras seperti sebelumnya. Tapi juga bukan ketenangan.
Di sampingnya, Anggun masih tertidur. Wajahnya terlihat damai. Zayn bangkit perlahan dari tempat tidur. Ia berjalan ke jendela, membuka sedikit tirai. Cahaya pagi langsung menyilaukan matanya. Di saat itu, tanpa diundang, bayangan Naomi muncul lagi. Wajahnya saat menangis. Suara pecahnya.
“Anakku tidak rusak…” Kalimat itu terngiang.
Zayn mengepalkan tangannya. “Cukup...” gumamnya pelan. Ia mencoba mengusir semua itu lagi.
...***...
Di apartemen sederhana milik Jihan, Naomi duduk di sofa kecil dengan laptop di pangkuannya. Davin tertidur di sampingnya dalam kereta bayi.
Hari itu lebih tenang. Namun pikirannya tidak berhenti bekerja. Ia tidak bisa terus bergantung pada Jihan. Dia tidak bisa hanya menunggu.
“Aku harus kerja...” ucap Naomi. Tangannya mulai bergerak. Membuka situs lowongan kerja. Scroll demi scroll.
Namun kenyataan tidak mudah. Banyak pekerjaan membutuhkan pengalaman tertentu. Banyak yang tidak fleksibel untuk ibu dengan bayi.
Naomi menggigit bibirnya. Tapi dia tidak menyerah. Sampai akhirnya matanya berhenti pada satu iklan.
Lowongan: Home Cleaning Service
Naomi membaca dengan teliti. Pekerjaannya adalah membersihkan rumah klien. Jadwal cukup fleksibel. Gaji tidak besar, tapi cukup. Ia terdiam beberapa detik.
Ini jauh dari kehidupannya dulu. Dulu dia adalah dokter residen. Dulu dia dipuji. Dulu dia punya masa depan yang jelas.
Naomi menatap Davin. “Aku akan lakukan apa saja untukmu,” bisiknya pelan. Tanpa ragu lagi, dia mendaftar.
Beberapa hari kemudian, Naomi berdiri di depan sebuah bangunan sederhana dengan papan bertuliskan jasa kebersihan. Tangannya menggenggam tas, sementara Davin dia gendong dengan hati-hati. Ia menarik napas panjang.
“Pasti bisa..." ujarnya pada dirinya sendiri. Ia melangkah masuk.
Di dalam, suasananya cukup ramai. Beberapa wanita terlihat sedang bersiap dengan peralatan kebersihan. Seorang wanita paruh baya duduk di balik meja.
“Itu pasti kepala tempat ini,” pikir Naomi.
Naomi mendekat pelan. “Permisi, Bu... saya Naomi. Saya dipanggil untuk wawancara.”
Wanita itu mengangkat wajah. Namanya Bu Fitri. Tatapannya langsung turun ke arah Davin. Alisnya sedikit berkerut.
“Kamu bawa bayi?” tanyanya langsung.
Naomi sedikit gugup, tapi tetap mengangguk. “Iya, Bu. Tidak ada yang menjaga.”
Bu Fitri bersandar di kursinya. Ekspresinya berubah ragu.
“Kerjaan ini tidak ringan,” katanya. “Kamu harus pindah dari satu rumah ke rumah lain. Kadang capek. Kadang waktunya panjang.”
Naomi mengangguk cepat. “Saya siap, Bu.”
“Dan kamu bawa bayi?” ulang Bu Fitri.
Nada suaranya bukan kasar, tapi jelas tidak yakin.
Naomi menggigit bibirnya. “Saya akan usahakan tidak mengganggu pekerjaan,” katanya cepat. “Saya bisa menyesuaikan waktu. Atau kalau perlu... saya bisa cari solusi lain.”
Bu Fitri menatapnya lebih lama.
“Kenapa kamu butuh pekerjaan ini?” tanyanya tiba-tiba.
Naomi terdiam. Ia bisa saja berbohong. Tapi entah kenapa, dirinya memilih jujur.
“Saya... butuh biaya untuk anak saya,” katanya pelan. “Untuk pengobatan dan hidup kami.”
Ruangan itu sedikit hening. Bu Fitri menatap Davin lagi.
“Lalu ayahnya?” tanyanya singkat.
Naomi menunduk. “Tidak ada.”
Jawaban itu sederhana. Tapi cukup menjelaskan segalanya.
Bu Fitri menghela napas panjang. Wajahnya melunak sedikit, tapi masih ada keraguan.
“Kamu tahu ini bukan pekerjaan mudah dan butuh tanggung jawab besar kan?” tanyanya lagi.
Naomi mengangguk. “Saya tahu, Bu.”
“Dan kamu tetap mau?”
Naomi mengangkat wajahnya. Matanya masih menyimpan luka, tapi kini juga ada tekad. “Iya. Saya mohon, Bu... Ibu juga perempuan. Saya harap bisa mengerti. Setidaknya beri saya satu kesempatan untuk mencoba..." mohonnya.
Bu Fitri terdiam. Beberapa detik yang terasa panjang. Ia lalu bersandar kembali di kursinya.
“Kamu punya pengalaman bersih-bersih?”
Naomi hampir tersenyum pahit. “Tentu saja, Bu. Dulu waktu di kampung, saya sering bantu orang tua bersih-bersih. Pas tinggal di kota juga saya selalu bersih-bersih sendiri," jawabnya jujur.
Bu Fitri menghela napas lagi. Kali ini lebih pelan. “Kamu kelihatan bukan dari dunia ini,” katanya tiba-tiba.
Naomi sedikit bingung.
“Maksud saya... kamu bukan orang yang biasanya kerja di sini,” lanjut Bu Fitri. “Cara bicaramu, cara kamu bawa diri... beda.”
Naomi tidak menjawab. Sebab dia memang sengaja hanya memakai ijazah SMA nya untuk melamar pekerjaan ini.
Sebenarnya Naomi bisa saja bekerja sebagai dokter umum. Mengingat dia sudah lulus dan memiliki ijazah dokter. Namun entah kenapa Naomi masih belum percaya diri melakukannya. Terlebih, sudah lama dia tidak melakukan praktik. Di sisi lain, menjadi dokter itu punya jam terbang tinggi. Naomi takut itu akan mengganggu jadwalnya dengan Davin.
“Kenapa kamu bisa jatuh sampai sini?” tanya Bu Fitri lagi.
Naomi menunduk. Jelas jawabannya karena hidup tidak selalu adil. Tapi dia tidak mengatakannya.
“Saya hanya... sedang mulai lagi dari awal,” jawabnya pelan.
Kalimat itu membuat Bu Fitri diam. Lalu wanita itu menghela napas panjang.
“Oke,” katanya akhirnya.
Naomi langsung mengangkat kepala.
“Saya beri kamu kesempatan,” lanjut Bu Fitri. “Tapi masa percobaan dulu.”
Mata Naomi langsung berkaca-kaca.
“Terima kasih, Bu...” ucapnya cepat.
“Jangan terima kasih dulu,” potong Bu Fitri. “Kalau kamu tidak kuat, kamu sendiri yang akan berhenti.”
Naomi mengangguk. “Saya pasti akan berusaha!"
Bu Fitri melirik Davin lagi. “Dan soal bayi ini...” katanya ragu.
Naomi langsung menegang.
bahkan aq baca dri awal sampai sekarang sering nangesss,
😭😭 soalnya gak gampang ngurus bayi seperti Davin..
semngatt kak dan sukses selalu novelmu 🥰🥰😘😘