Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 18
Makan malam pertama Amelia di rumah keluarga Harrison cukup canggung. Pertama, karena statusnya kini bukan sekadar tante dari Emi melainkan adalah tunangan Caelan. Kedua, karena makan malam itu ternyata cukup formal. Anna dengan apik menyiapkan makanan pembuka, makanan utama, hingga desert, seolah sedang mengadakan jamuan resmi. Dan alasan terakhir, karena keberadaan keluarga Weston terutama Joan dan Clara yang sepertinya menargetkan Amelia.
“Omong-omong, kau bekerja di mana Amelia?” tanya Clara setelah makanan pembuka disajikan.
Alih-alih menyantap sup jamur hangat yang gurih, Amelia terpaksa meletakkan kembali sendok dan menjawab pertanyaan Clara dengan menahan malu. “Aku tidak punya pekerjaan tetap, hanya mengerjakan pekerjaan sambilan agar tetap bisa menjaga Emi.”
“Artinya, kau tidak bekerja. Lalu bagaimana kau membiayai hidupmu dan Emi? Kau punya warisan atau tabungan?” Clara melanjutkan dengan pertanyaan lain.
“Selama ini, Caelan cukup banyak membantu untuk biaya hidup Emi,” jawab Amelia.
“Jadi kau tidak bekerja dan menumpang hidup dengan-“
Caelan langsung memotong kalimat Clara. “Itu sudah kewajibanku untuk membiayai Emi. Henry sudah tidak ada, artinya aku dan orangtuaku wajib merawat Emi. Benar kan, Pa?”
Simon mengangguk setuju dan menambahkan. “Caelan membantu biaya hidup Emi merupakan hal yang wajar. Kewajiban untuk membesarkan Emi bukan hanya tanggung jawab Amelia. Kami sebagai keluarga dari pihak ayah, memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk memastikan kesejahteraan Emi.”
Namun, sepertinya Clara belum mau menyerah. “Bagaimana dengan ibunya Emi? Di mana dia?”
“Olivia meninggal dunia beberapa bulan yang lalu. Jadi, aku yang merawat Emi, tapi karena aku tidak mampu merawatnya sendiri, maka aku menemui Caelan untuk meminta bantuan.” Amelia memilih memberikan jawaban jujur yang membuat Keluarga Weston sangat tertarik untuk mengulik lebih jauh.
“Jadi, kau sengaja datang pada Caelan untuk berbagi tanggung jawab?” tanya Joan. Lalu wanita itu melanjutkan dengan nada tajam. “Ah, bukan berbagi tanggung jawab, tapi menyerahkan seluruh tanggung jawab, bahkan tanggung jawab untuk masa depanmu juga.”
Amelia sudah siap menjawab ketika Caelan lebih dulu berbicara, “Aku sangat bersyukur Amelia mendatangiku hari itu. Kalau dia tidak datang dan berkeras bahwa aku harus bertanggung jawab, maka aku tidak akan mengenal Emi. Itu artinya aku melewatkan kesempatan mengetahui keberadaan keponakanku.”
Caelan melemparkan tatapan tajam pada Joan. “Soal pertunangan kami, semuanya murni karena kami saling jatuh cinta. Tidak ada satu pihak yang dimanfaatkan atau memanfaatkan. Sebab tanpa bantuanku pun, Amelia bisa bertanggung jawab untuk masa depannya dan Emi.”
Mata Amelia berkaca-kaca mendengar pembelaan Caelan. Ia merasa dicintai dan dilindungi oleh tunangannya itu.
“Joan, tolong berhentilah,” ucap Anna. “Aku minta maaf. Mungkin kau kesal karena makan malam hari ini tidak berjalan seperti yang kita rencanakan sebelumnya, tapi semua ini bukan kesalahan Amelia. Semua ini kesalahanku karena telah membuat janji dan ternyata semua itu tidak bisa menjadi kenyataan. Aku minta maaf.”
Joan langsung menutup mulutnya, begitupula Clara.
Amelia bertanya-tanya mengenai rencana yang sudah disusun Anna dan Joan, apakah memang seperti yang ia pikirkan sebelumnya bahwa Anna dan Joan berniat menjodohkan anak-anak mereka.
Amelia penasaran, tapi tidak enak untuk bertanya. Ia merasa menanyakan hal itu benar-benar tidak sopan. Namun, Caelan tidak berpikir demikian, pria itu langsung bertanya, “Memangnya apa yang Mama rencanakan?”
Anna tersenyum canggung dan terlihat bingung untuk memberikan jawaban pada Caelan. Simon segera turun tangan membantu Anna dengan berkata, “Akan Papa ceritakan nanti. Sekarang kita lanjutkan makan malamnya.”
Caelan berdiri. “Silakan kalian lanjutkan makan malamnya, aku dan Amelia ada hal lain yang harus dikerjakan.” Caelan menoleh pada Amelia lalu mengulurkan tangan. Amelia menyambut uluran tangan itu, lalu berpamitan. Kemudian Amelia mengikuti langkah Caelan meninggalkan ruang makan.
“Aku bahkan belum sempat mencicipi sup jamur tadi.” Amelia memprotes ketika sudah keluar dari ruang makan.
“Akan kuajak kau makan sup jamur yang lebih enak,” sahut Caelan tanpa menghentikan langkah. Caelan membawa Amelia menyusuri koridor menuju sebuah pintu kayu yang ternyata terhubung dengan garasi.
“Kita akan pergi? Bagaimana dengan Emi?” Amelia menghentikan langkah, membuat Caelan melakukan hal yang sama.
“Kita akan makan di luar,” jawab Caelan. “Hanya sebentar. Sandra akan mengurus Emi selama kita pergi.”
“Siapa Sandra?” tanya Amelia. Ia bergeming, tidak melangkah lagi kecuali Caelan menjawabnya.
“Wanita yang tadi membawa Emi namanya Sandra. Dulunya dia adalah pengasuhku dan Henry. Dia akan menjaga Emi dengan baik,” Caelan menjelaskan.
“Tapi-“ Amelia masih ragu.
“Kita harus pergi Amelia, aku tidak bisa menahan emosiku lebih lama. Orang-orang itu membuatku marah.”
Amelia tidak membantah, ia mengikuti langkah Caelan menelusuri paving parkiran, lalu masuk ke mobil saat Caelan membukakan pintu.
Sebelum melajukan mobil, Caelan menghubungi seseorang melalui ponsel dan menyalakan pengeras suara.
“Sandra, aku dan Amelia akan pergi sebentar. Tolong jaga Emi, semua kebutuhan Emi ada di dalam tas di ruang duduk.”
“Kalian tenang saja, aku akan menjaga Emi,” sahut Sandra di seberang line.
“Maaf merepotkanmu, kami akan segera kembali,” kata Amelia.
“Tenanglah, Nona. Emi aman bersamaku.”
Panggilan diputuskan, lalu Caelan mulai melajukan kendaraan keluar dari halaman rumah dan masuk ke dalam lalu lintas kota yang cukup padat malam itu. Mereka berkendara tanpa suara hampir seperempat jam.
Amelia sengaja diam agar Caelan bisa mengatur emosi terlebih dahulu. Ia menunggu hingga Caelan yang bicara lebih dulu.
Namun, Caelan memilih untuk diam sampai mereka masuk ke parkiran sebuah restoran. Tampilan restoran itu terlihat cukup mewah. Dari namanya, ArcoVento, Amelia menduga itu adalah restoran yang menyajikan masakan khas Italia.
“Kita makan dulu,” ujar Caelan.
Amelia mengikuti Caelan masuk ke restoran. Pramusaji di bagian depan langsung mengenali Caelan dan mengantarkan mereka ke sebuah meja di bagian sudut ruangan.
Restoran cukup ramai pengujung, tapi suasananya tenang. Hanya terdengar suara obrolan samar-samar dan denting alat makan. Ini jenis restoran yang belum pernah Amelia kunjungi sebelumnya, terkesan mewah dan elegan, membuatnya merasa salah kostum karena hanya memakai blus dan celana bahan.
Amelia membuka buku menu yang diberikan padanya oleh seorang pramusaji. Ia membaca nama-nama makanan di buku tersebut, mengamati gambarnya, dan memutuskan tidak tahu ingin memesan apa. Semua makanan itu belum pernah ia coba. Bruschetta, arancini, caponata, dan nama makanan lainnya di menu itu asing bagi Amelia yang terbiasa memesan ayam goreng, burger, nasi kari, kimbab, dan berbagai makanan yang umum tersedia di restoran keluarga.
“Sayang sekali mereka tidak punya sup jamur yang kau inginkan,” ujar Caelan. “Apa kau mau mencoba makanan pembuka yang lain? Bruschetta di restoran ini sangat enak, rotinya renyah. Atau mau caponata, tumis terong dengan rasa asam manis.” Caelan memberikan saran.
“Karena kau sudah terbiasa makan di restoran ini, aku akan serahkan pilihan makananku padamu,” ujar Amelia karena tidak tahu harus memesan apa.
“Hum, ujian pertamaku sudah tiba,” kata Caelan sambil menelusuri buku menu.
“Ujian?” tanya Amelia kebingungan.
“Iya, ujian pertama sebagai tunanganmu, memastikan aku tahu makanan yang kau suka dan ingin kau makan saat ini.”
“Caelan, aku tidak-“
Caelan mengangkat tangan menghentikan kalimat Amelia. “Akan kupastikan, aku bisa melewati ujian ini,” janji Caelan.