Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Alvaro
Matahari naik dari ufuk timur, menyinari halaman sekolah yang mulai riuh oleh suara tawa siswa dan siswi. Namun, bagi Aliya dan Adiba, sekolah bukan lagi tempat mereka belajar dan bermain, melainkan satu-satunya harapan untuk menyambung napas menuju ibunya.
Saat jam istirahat tiba, mereka berdua bergegas menemui Rani di sudut perpustakaan. Rani, gadis sederhana putri pemilik salah satu kantin di sekolah, menatap kedua sahabatnya itu dengan iba.
"Rani, tolong kami. Ayah telah menyita ponsel kami. Kami harus menghubungi Bunda," bisik Aliya dengan matanya yang berkaca-kaca.
Rani mengangguk cepat. "Ponselku kutitipkan pada Ibuku di kantin karena peraturan sekolah sangat ketat. Ayo, kita segera pergi ke sana sekarang!"
Di kantin yang mulai ramai, Rani membawa mereka ke area belakang meja saji. Bu Siti, ibunya Rani yang sedang sibuk menyiapkan bakso, menoleh heran melihat ketiga gadis itu tampak tegang.
"Bu, bolehkah Aliya dan Adiba pinjam ponsel Rani sebentar saja? Ada urusan darurat dengan Bunda mereka," tanya Rani memohon.
Bu Siti yang sudah mendengar desas-desus tentang masalah keluarga Hanum, ia menghela napas panjang. Ia merogoh laci di dalam gerobak dan menyerahkan sebuah ponsel pintar dengan layar yang sedikit tergores. "Gunakanlah, tapi ingat, harus sembunyi-sembunyi di bawah meja saja, ya. Jangan sampai guru lain lihat, nanti Ibu yang kena tegur."
"Terima kasih banyak, Bu Siti," ucap Adiba lirih.
Sementara itu, di ruangan VVIP rumah sakit yang tenang, Hanum duduk bersandar di tempat tidur dengan mata yang tak lepas dari ponsel miliknya. Layar ponselnya itu sudah retak cukup banyak akibat terjatuh di aspal kemarin, seolah mencerminkan hatinya yang sudah hancur.
"Masih belum aktif, Num?" tanya Alvaro yang duduk di sofa sambil memeriksa berkas-berkas bisnisnya.
"Sama sekali tidak aktif, Kak, Aku yakin Johan telah memblokir nomorku atau mematikan ponsel mereka," jawab Hanum dengan nada yang geram. Jemarinya gemetar saat kembali mencoba memencet tombol panggilan, namun hasilnya tetap sama saja.
Tiba-tiba, ponsel di genggamannya bergetar hebat. Sebuah nomor asing muncul di layar yang retak itu. Jantung Hanum berdegup kencang. Ia mempunyai firasat yang kuat.
"Halo?" suara Hanum bergetar saat mengangkat teleponnya.
"Bunda? Ini Aliya, Bun...."
Mendengar suara itu, pertahanan Hanum akhirnya runtuh. Air matanya langsung tumpah membasahi pipi. "Aliya? Sayang.... ini Bunda, kalian ada di mana?"
"Bun, aku ingin ikut sama Bunda saja! Aliya tidak betah tinggal sama Ayah!" ucap Aliya sambil menangis terisak. Suaranya terdengar kecil, seolah sedang berbisik.
"Adiba juga, Bun! Adiba gak mau tinggal sama Ayah... Ayah jahat, Bun. Sekarang Bunda di mana? Kami mau jemput Bunda," sambung Adiba yang tampaknya berebut ponsel dengan kakaknya yakni Aliya.
Hanum membungkam mulutnya sendiri agar isakan nya tidak terdengar terlalu keras. Ia melirik Alvaro yang kini sudah berdiri di samping tempat tidurnya, menatapnya dengan pandangan penuh simpati. Hanum tidak ingin anak-anaknya tahu bahwa ia sedang terbaring lemah di rumah sakit.
"Sayang, dengarkan Bunda ya," Hanum berusaha mengatur suaranya agar terdengar tegar. "Bunda ada di rumah seorang teman, kalian tidak perlu khawatir, Bunda aman kok di sini, tunggu Bunda, ya? Bunda janji, secepatnya kita akan berkumpul lagi seperti dulu. Kalian harus kuat dan tetap sekolah, mengerti?"
"Tapi Bunda...."
"Ssstttt, sudah ya, jangan sampai ketahuan Ayah ataupun Nenek. Bunda sangat mencintai kalian."
Panggilan itu telah berakhir tepat saat bel masuk sekolah berbunyi di seberang sana. Hanum memeluk ponselnya yang retak itu ke dadanya, ia menangis dalam diam.
Alvaro mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia bisa merasakan setiap tetes kepedihan yang dirasakan oleh Hanum. Sebagai pria yang tumbuh besar bersama Hanum, ia tidak bisa membiarkan adiknya tersiksa seperti ini.
"Cukup, Num," suara Alvaro terdengar rendah namun penuh penekanan. "Besok, setelah kondisimu stabil, aku akan menyiapkan pengacara terbaik dari Sanjaya Group. Kita tidak hanya akan mengambil hak asuh Aliya dan Adiba, tapi kita akan memastikan Johan kehilangan segala hal yang ia banggakan. Aku bersumpah demi nama besar Papah."
*
*
Sinar matahari di sore hari belum sepenuhnya meredup saat Alvaro berdiri di area balkon rumah sakit, ia mencoba menjauh sejenak dari tempat tidurnya Hanum. Di tangannya, sebuah ponsel aktif sudah terhubung dengan seseorang di seberang sana. Matanya menatap tajam ke arah hiruk-pikuk kota Jakarta yang menyesakan, seolah sedang mengincar mangsanya.
"Cari tahu semua tentang Johan. Bukan hanya jadwal kantornya, akan tetapi setiap sudut apartemen milik Monica, setiap notaris yang dia temui, dan siapa pria yang telah mengaku sebagai asisten dari Tuan Jason itu," perintah Alvaro dengan suara rendah namun dingin.
"Tapi Tuan, Johan cukup waspada setelah kejadian kemarin dengan Non Hanum," suara di seberang sana menjawab dengan ragu.
"Aku tidak peduli seberapa waspada dia, setiap manusia licik pasti punya celah, dan celah Johan adalah kesombongannya sendiri. Buntuti dia selama 24 jam. Ambil foto, rekam suaranya, dan jangan biarkan satu detail pun terlewatkan. Aku ingin bukti yang begitu kuat hingga dia tidak bisa berkutik bahkan sebelum mulutnya terbuka di pengadilan."
Alvaro menutup teleponnya, Ia tahu ini semua terlalu berisiko, namun baginya, menyerang Johan secara langsung hanya akan membahayakan posisi Hanum. Ia harus bermain di bawah bayangan, sama seperti cara Johan yang telah menghancurkan adiknya.
Beberapa saat kemudian, Alvaro kembali ke dalam ruangan. Ia mendapati Hanum sedang duduk tegak, meski wajahnya masih masih pucat, tatapan matanya sudah jauh lebih tajam dari sebelumnya. Di depannya, selembar kertas catatan berisi poin-poin penting kini sudah tersusun rapi.
"Kak Al," panggil Hanum tegas. "Aku sudah memutuskan. Aku tidak akan membiarkan skandal kotor itu menghancurkan hidupku, Aku harus memenangkan hak asuh Aliya dan Adiba, mereka adalah segalanya bagiku."
Alvaro mendekat, ia duduk di kursi samping ranjang. "Itu tidak akan mudah, Num, Johan sudah memegang kartu perselingkuhan itu di tangannya. Dia akan menggunakannya untuk menyerang karaktermu di depan hakim."
"Itulah sebabnya aku butuh bukti balik, Kak," Hanum mengepalkan tangannya. "Aku yakin pria yang mengaku sebagai asisten Tuan Jason itu adalah orang bayaran. Dan aku yakin Monica adalah kunci utamanya. Jika kita bisa membuktikan bahwa Johan sudah merencanakan ini semua sejak lama untuk menguasai aset dan menyingkirkanku, maka tuduhan dia akan gugur demi hukum."
Hanum menatap Alvaro dengan penuh permohonan. "Aku ingin bukti perselingkuhan mereka kak. Aku ingin rekaman suara di apartemen itu. Aku tidak mau kedua putriku jatuh ke tangan pria yang memperlakukan wanita seperti barang pajangan yang bisa ditukar tambah."
Alvaro tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung janji pembalasan. Ia meraih tangan Hanum dan menggenggamnya kuat.
"Kau tenang saja, Num, Kak Al sudah bergerak. Kita akan mengumpulkan setiap kepingan dosanya si bedebah Johan. Kita akan buktikan bahwa dia bukan hanya suami yang telah berkhianat, tapi juga penjahat yang memanipulasi hukum."
"Terima kasih, Kak," bisik Hanum tersenyum tipis.
"Jangan berterima kasih sekarang, Simpan tenaga mu itu untuk melihat wajahnya saat dia kehilangan segalanya. Ingat, Num, bahwa keluarga Sanjaya tidak akan pernah kalah dalam sebuah negosiasi, apalagi dalam sebuah perang. Johan sudah salah memilih lawan."
Malam itu, di saat Hanum mulai beristirahat dengan harapan baru, di sekotar sudut kota Jakarta, orang-orang suruhan Alvaro mulai bergerak dalam senyap. Mereka masuk ke celah-celah kehidupan Johan, bersiap untuk menarik tali jeratan yang akan mencekik pria sombong itu di meja hijau nanti.
Bersambung...
2 dalam perahu,diluar malu padahal didalam hatinya mau, saking nyaman sama Alvaro,Hanum nggak sadar nyender ke Alvaro 🤔🤔🤔