"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.
Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.
Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 Malam yang Mengerikan
Malam semakin larut. Hujan turun dengan deras disertai angin kencang yang menerpa dinding-dinding rumah besar itu, menciptakan suasana yang mencekam dan menyeramkan. Seolah alam pun turut merasakan ketegangan yang ada di dalam rumah.
Setelah kejadian mengerikan siang tadi, Arga memerintahkan seluruh staf dan satpam untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra. Pintu dan jendela dikunci rapat-rapat. Sistem keamanan rumah diaktifkan maksimal.
Namun, rasa lelah dan syok membuat tubuh Kirana akhirnya menyerah. Di bawah buaian tangan suaminya yang terus mengelus punggungnya, perlahan mata wanita itu terpejam. Ia tertidur dengan posisi masih memeluk pinggang Arga erat-erat, seolah takut jika dilepaskan sedikit saja suaminya akan hilang.
Arga memandang wajah damai istrinya dengan tatapan penuh kasih sayang dan tekad yang membara.
"Tidurlah, Sayang... biar Ayah yang jaga," bisiknya pelan, lalu mencium kening Kirana lama. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kalian."
Arga mencoba memejamkan mata, tapi pikirannya terus waspada. Setiap suara gemerisik atau suara hujan yang menghantam kaca membuatnya selalu waspada. Ia tidak bisa tidur nyenyak. Instingnya mengatakan bahwa bahaya belum benar-benar berlalu. Natasha bukan tipe wanita yang akan menyerah hanya karena satu kegagalan.
Pukul 01.30 dini hari.
Tiba-tiba...
TET... TET... TET...
Bunyi alarm sistem keamanan rumah berbunyi nyaring! Namun bukan bunyi alarm bahaya, melainkan bunyi singkat yang menandakan bahwa salah satu sensor pintu belakang telah dinonaktifkan atau dibuka paksa dari luar!
Mata Arga langsung terbuka lebar. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak berteriak agar tidak membangunkan Kirana, tapi ia langsung bangun dan meraih benda berat di dekat meja samping tempat tidur untuk berjaga-jaga.
Siapa yang masuk?!
Dengan langkah pelan dan hati-hati, Arga berjalan menuju pintu kamar. Ia mengintip dari celah kecil. Koridor di luar gelap gulita. Listrik... mati!
Seketika Arga sadar. Mereka tidak hanya didatangi pencuri biasa. Ini serangan terencana. Pemadaman listrik dilakukan agar mereka buta dan tidak bisa melihat gerakan musuh.
"Arga..." suara lembut memanggil dari ranjang. Kirana terbangun karena suasana yang berubah menjadi gelap pekat dan dingin. "Kenapa gelap banget, Sayang? Listriknya mati ya?"
Arga segera berbalik dan berjalan cepat kembali ke sisi istrinya.
"Shhh... jangan keras-keras, Sayang," bisik Arga serak, suaranya rendah namun tegas. "Dengerin aku baik-baik ya. Ada orang masuk ke rumah. Tapi kamu tenang, jangan takut. Aku di sini."
Kirana langsung terkejut dan gemetar. Tangannya mencengkeram baju Arga kuat-kuat. "A... apa? Orang siapa, Ar? Natasha?!"
"Mungkin. Atau orang suruhannya. Pokoknya sekarang kamu ikut aku. Kita sembunyi di tempat aman," bisik Arga. Dengan cepat ia mengambil selimut tebal, membungkus tubuh Kirana, lalu menggendong istrinya itu keluar dari kamar tidur utama.
Arga tahu persis setiap sudut rumah ini. Ia membawa Kirana menuju ruang penyimpanan barang antik yang memiliki pintu baja rahasia dan tidak memiliki jendela. Tempat itu kedap suara dan sangat sulit ditemukan orang yang tidak hafal denah rumah.
"Masuklah ke dalam sini. Kunci dari dalam. Jangan keluar sampai aku panggil nama kamu lengkap dan pakai kode rahasia kita, paham?" pesan Arga tegas sambil menyalakan senter kecil di HP-nya.
"Terus kamu gimana? Aku nggak mau pisah sama kamu!" tangis Kirana mulai pecah, rasa takut luar biasa menyergapnya. Apalagi dalam kondisi dia yang sedang hamil muda dan rapuh.
"Aku harus hadapi mereka, Sayang. Kalau aku tidak lawan, mereka bakal cari kita sampai dapat. Aku harus lindungi kamu dan anak kita," Arga menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya. "Dengerin aku. Aku janji aku bakal baik-baik saja. Sekarang masuk, kunci pintu! CEPAT!"
Dengan berat hati dan air mata, Kirana masuk ke dalam ruang kecil itu. Pintu baja tertutup rapat dan terdengar bunyi klik tanda terkunci. Arga menghela napas panjang, menyalakan senter HP-nya, dan memutar badannya menghadap kegelapan koridor.
"Datanglah... kalian pikir aku akan tinggal diam?" geramnya pelan.
Di lantai bawah, terlihat bayang-bayang tiga orang pria bertubuh kekar dan bertopeng sedang berjalan mondar-mandir dengan membawa senter dan alat-alat yang mencurigakan.
"Cari sampai dapat! Si cewek harus dibawa hidup-hidup! Si cowok kalau melawan... habisin saja!" teriak salah satu pria itu dengan suara parau.
Tiba-tiba...
BRUKK!!!
Salah satu pria itu tersungkur roboh ke lantai setelah kepalanya terkena hantaman benda keras dari belakang!
"Aduh!!"
"Temanmu panggil siapa?" suara dingin Arga terdengar dari kegelapan. "Aku di sini!"
Dua pria lainnya kaget dan langsung menyorotkan senter ke arah suara itu.
"Arga Wijaya! Rupanya kamu di situ!" seru pria itu. "Bos kita mau ketemu kamu. Ayo ikut kami tanpa perlawanan!"
"Natasha yang suruh kalian kan?" tanya Arga dingin, tubuhnya siap siaga. "Kalian tahu nggak kalau mengganggu keluarga saya itu sama dengan menandatangi surat kematian kalian sendiri?"
"Banyak omong! Serang!!"
Perkelahian pun tak terhindarkan!
Arga meskipun tidak membawa senjata, ia memiliki ilmu bela diri yang sangat mumpuni yang ia pelajari sejak muda. Dalam gelap, ia bergerak lincah menghindari serangan tongkat dan tinju para penyerang.
BUGH! PLAKK! DUG!!
Suara pukulan dan teriakan terdengar memecah keheningan malam. Arga berhasil menjatuhkan satu orang lagi dengan tendangan karate yang kuat tepat ke arah ulu hati. Namun, lawannya bertiga dan sangat brutal.
Salah satu pria berhasil memukul bahu Arga dengan tongkat kayu.
ARRGH!!
"Aww!!" Arga meringis kesakitan, bahunya terasa panas dan nyeri. Tapi rasa sakit itu justru memicu amarahnya semakin besar.
"Jahanam!!"
Arga membalas dengan pukulan keras ke wajah pria itu hingga hidungnya berdarah. Perkelahian itu sangat sengit. Perabotan rumah rusak berantakan, vas bunga hancur, meja terbalik. Arga terluka di beberapa bagian tubuh, keningnya bahkan tergores dan mengeluarkan darah, namun semangatnya tidak padam.
Ia bertarung bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk nyawa istri dan anaknya yang sedang bersembunyi di balik dinding baja itu.
Sementara itu, di dalam ruang persembunyiannya, Kirana bisa mendengar jelas suara keributan, pukulan, dan teriakan dari lantai bawah. Suara itu membuatnya menangis tersedu-sedu ketakutan.
"Argaaaa... Argaaaa..." isaknya pelan, memukul pelan dinding. "Jangan kenapa-napa ya... please... aku takut..."
Ia sangat ingin keluar membantu, tapi ia ingat pesan suaminya. Ia harus tetap di sini demi keselamatan bayi di kandungannya. Ia hanya bisa berdoa dan menangis memohon pada Tuhan agar melindungi suaminya.
Di luar rumah, di dalam mobil yang diparkir agak jauh, Natasha duduk dengan gelisah. Ia melihat lampu rumah mati total, dan sesekali terdengar suara gaduh dari dalam.
"Bagus... hancurkan saja semuanya..." bisiknya gila. "Arga harus menderita. Kirana harus mati. Dan nanti aku yang akan menghibur Arga sampai dia lupa sama wanita itu."
Namun tiba-tiba, sirene polisi terdengar melengking memecah malam!
TUUUUUT... TUUUUUT...
Lampu biru dan merah menyala terang menerangi seluruh halaman rumah!
"MAAF?! POLISI!! KELUAR DENGAN TANGAN DI ATAS KEPALA!!"
Natasha terbelalak kaget. "GILA! DARI MANA POLISI TAU?!"
Ternyata, saat kejadian siang tadi, Arga sudah memasang aplikasi pelacak dan sistem darurat yang terhubung langsung dengan kantor polisi. Saat alarm berbunyi dini hari tadi, otomatis sinyal bahaya langsung terkirim.
Polisi datang dalam jumlah banyak dan segera mengepung seluruh area rumah.
Di dalam rumah, para penyerang yang sudah babak belur dan melihat polisi datang langsung panik.
"Kabur!! Polisi datang!!"
Mereka mencoba lari lewat pintu belakang, tapi sudah ditutup rapat oleh personel bersenjata lengkap. Akhirnya, ketiga pria itu menyerah dan ditangkap hidup-hidup.
Arga berdiri terhuyung-huyung di tengah kekacauan. Tubuhnya penuh luka lebam dan keringat bercucuran. Napasnya memburu. Namun saat melihat polisi masuk, ia tersenyum tipis lega.
Krisis... sudah berlalu.
"Pak Arga! Anda tidak apa-apa, Pak?" seru petugas polisi mendekat.
"Aku... aku baik-baik saja..." jawab Arga lemah, lalu matanya langsung menatap ke arah dinding tempat istrinya bersembunyi. "Tapi istriku... tolong jaga istriku."
Arga berjalan tertatih-tatih menuju ruang penyimpanan itu. Ia mengetuk pelan.
"Sayang... ini aku. Kode rahasia... 'Matahariku'... buka pintunya, Sayang..."
Beberapa detik kemudian, pintu baja terbuka perlahan. Kirana keluar dengan wajah pucat dan mata bengkak menangis. Saat melihat kondisi Arga yang berdarah-darah dan babak belur, ia langsung menjerit histeris.
"ARGA!!!!"
Kirana berlari dan memeluk suaminya erat-erat, menangis sejadi-jadinya.
"Ya Allah... kamu kenapa begini?! Arga... sayang... maafin aku... maafin aku..."
Arga tersenyum lemah, mengusap rambut istrinya meski tangannya gemetar.
"Udah... udah aman, Sayang... mereka sudah ditangkap. Kamu sama anak kita aman..." bisiknya, lalu pandangannya kabur dan tubuh tegap itu perlahan ambruk ke depan.
"ARGA!!!"