Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20.Undangan
Semburat cahaya senja menyusup melalui jendela kaca patri ruang OSIS, menciptakan bayangan panjang yang tajam di atas karpet merah tua. Ruangan itu terasa lebih dingin dari biasanya, bukan karena pendingin udara, melainkan karena dua kutub energi yang berbeda sedang saling beradu dalam diam. Sona Sitri duduk di kursi kebesarannya, jemarinya yang ramping mengetuk meja mahoni dengan irama yang sangat pelan, sementara di hadapannya, Bibi Dong duduk dengan punggung tegak tanpa menyentuh sandaran kursi sedikit pun.
Ren berdiri di samping Bibi Dong, tangannya bersedekap di dada, bersandar santai pada pilar ruangan seolah-olah dia hanyalah penonton dalam pertunjukan teater yang menarik. Kacamata hitamnya memantulkan cahaya lampu gantung, menyembunyikan tatapan Six Eyes yang sedang membedah setiap jebakan sihir yang dipasang Sona di bawah meja.
"Aku sudah memeriksa formulir pendaftaranmu, Bibi Dong-san," suara Sona memecah keheningan, datar dan sangat profesional. "Semuanya terlihat sempurna. Terlalu sempurna, hingga terasa seperti diciptakan oleh tangan yang bukan berasal dari dunia ini."
Bibi Dong tidak bergeming. Ia menatap Sona dengan pandangan yang tenang namun meremehkan. "Tujuanmu memanggilku bukan untuk membahas kertas-kertas membosankan itu, bukan? Katakan saja apa yang ingin kau uji, Iblis Muda."
Sona sedikit mengernyit mendengar sebutan 'Iblis Muda'. Sebagai keturunan keluarga Sitri yang agung, jarang ada yang berani meremehkan kedudukannya. "Sebagai Ketua OSIS, aku memiliki kewajiban untuk menempatkan setiap siswa pada kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai. Mengingat auramu... aku menyarankan Klub Ilmu Anggar atau Seni Bela Diri. Namun, ada satu prosedur standar: tes bakat fisik."
Tsubaki Shinra, yang berdiri di samping Sona, melangkah maju sambil membawa sebuah bola kristal bening yang dilingkari oleh ukiran logam kuno. "Ini adalah alat ukur kapasitas energi. Kami perlu memastikan bahwa kehadiranmu tidak akan merusak sirkuit sihir yang melindungi sekolah ini."
Ren terkekeh pelan dari sudut ruangan. "Sona, kau tahu alat itu akan hancur jika dia menyentuhnya, bukan? Jangan mencoba menggunakan alat mainan untuk mengukur lautan."
"Ini adalah prosedur, Saiba-kun," balas Sona tegas.
Bibi Dong berdiri perlahan. Gaun seragamnya jatuh dengan sempurna di kakinya. Ia berjalan mendekati meja Sona, setiap langkahnya memancarkan otoritas yang membuat Tsubaki secara tidak sadar menahan napas. Bibi Dong menatap bola kristal itu, lalu beralih menatap Sona dengan senyum tipis yang mematikan.
"Kau ingin mengukur kekuatanku?" Bibi Dong mengangkat tangan kanannya. Jemarinya yang putih porselen menyentuh permukaan kristal itu hanya dengan ujung kuku. "Baiklah. Akan kutunjukkan sedikit tentang apa itu 'kapasitas'."
[SISTEM: Deteksi aliran energi Roh tingkat kaisar. Bibi Dong melepaskan 0.01% tekanan jiwanya ke dalam media kristal.]
Seketika, bola kristal itu tidak memancarkan cahaya. Sebaliknya, kristal itu mendadak menjadi hitam pekat, seolah-olah seluruh cahaya di dalam ruangan tersedot ke dalamnya. Ruangan OSIS bergetar hebat. Retakan-retakan halus mulai muncul di permukaan meja mahoni yang mahal itu. Suara denging frekuensi tinggi menusuk telinga, membuat Tsubaki terpaksa menutup telinganya dengan wajah pucat.
"Cukup!" seru Sona, suaranya sedikit pecah karena panik.
Bibi Dong menarik tangannya kembali. Begitu sentuhannya lepas, bola kristal itu hancur menjadi debu halus yang bahkan tidak menyisakan pecahan tajam. Keheningan kembali menyerbu, namun kali ini dengan rasa takut yang jauh lebih nyata bagi pihak OSIS.
"Alatmu terlalu rapuh untuk menampung keinginanku, apalagi kekuatanku," ucap Bibi Dong dingin. Ia kembali ke samping Ren, menyandarkan tubuhnya dengan anggun pada suaminya.
Ren merangkul pinggang Bibi Dong, menatap Sona yang kini tampak sangat lelah. "Sudah cukup tesnya, Ketua? Istriku tidak suka melakukan hal yang sama dua kali. Dan soal ekstrakurikuler... dia akan ikut bersamaku. Di mana pun aku berada, dia ada di sana."
Sona menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Ia menatap tumpukan debu kristal di mejanya dengan pandangan kosong. "Baiklah. Bibi Dong-san secara resmi dibebaskan dari kewajiban klub standar. Kalian bisa pergi."
Saat Ren dan Bibi Dong berjalan menuju pintu, Ren berhenti sejenak. "Sona, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Kau melakukan pekerjaan yang bagus untuk ukuran seseorang yang mencoba mengurung naga di dalam sangkar burung."
Pintu tertutup dengan bunyi klik yang elegan. Di dalam ruangan, Sona merosot di kursinya, melepaskan kacamata yang kini sedikit berembun karena keringat dingin.
"Tsubaki..." bisik Sona.
"Ya, Ketua?"
"Laporkan pada Serafall-oneesama. Beritahu dia bahwa ada 'Tamu Agung' yang tidak bisa kita sentuh, bahkan dengan ujung jari sekalipun. Dan beritahu dia... jangan pernah berpikir untuk datang ke sini hanya karena penasaran."
Sementara itu, di koridor yang mulai gelap, Bibi Dong menggandeng tangan Ren dengan erat. "Mereka sangat gigih, ya?"
"Mereka hanya takut kehilangan kendali, Dong'er," jawab Ren sambil menatap bulan yang mulai muncul. "Tapi mereka tidak sadar, bahwa sejak awal, kendali itu tidak pernah ada di tangan mereka."
Bibi Dong tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Ren saat mereka berjalan pulang menuju asrama, meninggalkan aroma melati yang tertinggal di lorong-lorong sunyi Akademi Kuoh.