NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Kehidupan kita yang beda

Mobil melaju membelah jalanan Kota J menuju area pinggiran tempat proyek perluasan cabang dilakukan. Keheningan di dalam kabin terasa jauh lebih pekat daripada semalam. Hanya ada suara deru mesin dan gesekan ban dengan aspal, namun di antara kami, ada ribuan kata yang tertahan di tenggorokan masing-masing.

Danendra menyetir dengan satu tangan, sementara tangan kirinya bersandar di atas tuas transmisi. Sesekali aku melirik dari sudut mataku,ia tampak fokus, namun rahangnya yang mengeras menunjukkan bahwa pikirannya tidak sepenuhnya tertuju pada jalanan.

Aku sendiri memilih untuk terus menatap ke luar jendela, meremas map revisi di pangkuanku seolah benda itu adalah pelampung di tengah badai.

Tiba-tiba, aku merasakan gerakan dari arah samping. Aku melihat tangan kiri Danendra perlahan terangkat dari tuas transmisi. Jemarinya bergerak ragu, perlahan mendekat ke arah tanganku yang sedang meremas map. Aku menahan napas. Jaraknya hanya tinggal beberapa sentimeter. Aku bisa merasakan radiasi panas dari tangannya yang ingin meraihku, ingin mencari kehangatan yang dulu pernah menjadi miliknya.

Namun, tepat sebelum kulit kami bersentuhan, ia menarik tangannya kembali. Ia mengepalkan jemarinya kuat-kuat dan mengembalikannya ke kemudi, menggenggam setir hingga kuku-kuku jarinya memutih.

"Zal," suaranya serak, memecah kesunyian dengan nada yang penuh penekanan.

Aku tidak menoleh. "Iya, Pak?"

Ia menghela napas berat, seolah baru saja membuang beban yang menyesakkan dada. "Bisa berhenti memanggilku 'Pak' kalau kita cuma berdua? Suara itu... terdengar seperti kamu sedang membangun tembok yang lebih tinggi lagi di antara kita."

"Kita sedang dalam perjalanan dinas, Nen. Aku cuma mencoba bersikap profesional," sahutku datar, meski hatiku bergetar menyebut namanya kembali.

"Profesional," ia terkekeh getir. "Kamu selalu punya alasan yang bagus untuk menjauh, ya? Bahkan saat jarak kita nggak lebih dari tiga puluh senti di mobil ini, kamu masih bisa bikin aku ngerasa kalau kamu ada di kutub yang berbeda."

Ia menginjak pedal gas sedikit lebih dalam, menyalip sebuah truk di depan kami dengan gerakan yang sedikit agresif—cerminan dari rasa frustrasi yang mulai meluap.

"Aku bukan menjauh, Nen. Aku cuma menempatkan diri di tempat yang seharusnya," balasku sambil menoleh kecil ke arahnya. "Kamu atasan, aku asisten teknis. Sesederhana itu."

Danendra mendadak memutar setir dan menepikan mobil di bahu jalan yang sepi, membuatku sedikit terlonjak. Ia mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya sepenuhnya menghadapku. Matanya berkilat, bukan oleh amarah, tapi oleh kerinduan yang nyaris membuatnya gila.

"Sesederhana itu?" bisiknya tajam. "Kamu pikir setelah semua yang terjadi semalam, setelah aku tahu kamu nangis karena aku, semuanya masih bisa sesederhana itu?"

Aku terdiam, tak mampu membalas tatapannya. Tangannya kembali bergerak, kali ini ia tidak ragu. Ia meraih jemariku yang kaku di atas map, menggenggamnya erat seolah-olah jika ia melepasnya, aku akan benar-benar menghilang ditiup angin.

"Jangan bohong lagi, Zal. Setidaknya, jangan di depanku."

"Jangan sebut aku pembohong. Karena satu-satunya kejujuran yang kupunya saat ini adalah kenyataan bahwa kamu hanyalah masa lalu yang terpaksa masuk kembali ke hidupku," ucapku dengan suara yang sengaja kubuat sedingin es, meski di dalam sana jantungku terasa remuk.

Aku menarik tanganku dengan kasar dari genggamannya. Genggaman yang sebenarnya sangat kurindukan, namun sekaligus paling kutakuti. Aku kembali menatap lurus ke depan, menolak untuk melihat luka yang baru saja kutorehkan di matanya.

"Tolong lanjutkan perjalanannya, Pak Danendra. Kita sudah terlambat sepuluh menit dari jadwal peninjauan," imbuhku tanpa emosi.

Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti kabin mobil. Danendra tidak segera menyalakan mesin. Aku bisa merasakan tatapannya yang tajam masih menghujam sisi wajahku, seolah ia sedang berusaha mencari retakan di balik topeng yang kupasang.

"Begitu ya?" gumamnya lirih. Ada nada getir yang sangat dalam di sana. "Masa lalu yang terpaksa?"

Ia tertawa pendek, suara tawa yang lebih terdengar seperti rintihan. Tanpa kata lagi, ia menyalakan mesin mobil dengan sentakan kasar. Mobil melaju kembali dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan dengan suasana yang jauh lebih dingin dari sebelumnya.

Sepanjang sisa perjalanan, Danendra benar-benar bungkam. Ia kembali menjadi sosok atasan yang angkuh dan tak tersentuh. Namun, aku tahu satu hal: genggamannya pada setir mobil jauh lebih erat dari biasanya, dan rahangnya mengeras seolah ia sedang menahan ledakan besar di dalam dadanya.

Sesampainya di lokasi proyek, ia turun lebih dulu tanpa membukakan pintu atau menoleh ke arahku. Ia melangkah lebar menemui para pengawas lapangan, memberikan instruksi dengan nada bicara yang singkat dan tajam.

Aku mengikutinya dari belakang dengan langkah berat. Mengenakan helm proyek putih, aku sibuk mencatat segala hal yang ia katakan, berusaha mengabaikan debu yang beterbangan dan panas matahari yang menyengat. Kami bekerja seperti dua orang asing yang kebetulan berada di tempat yang sama. Profesional, dingin, dan mati rasa.

Namun, di tengah hiruk pikuk suara alat berat, aku sempat melihatnya berdiri diam di ujung area proyek, menatap hamparan lahan kosong dengan bahu yang tampak begitu lelah. Untuk sesaat, aku ingin berlari ke sana, memeluknya, dan menarik kembali semua kata-kata tajamku.

Tapi aku tidak melakukannya. Aku memilih tetap berdiri di tempatku, menggenggam buku catatan dengan erat. Karena bagiku, lebih baik dia membenciku sebagai orang asing, daripada dia hancur karena mencintai seseorang yang sudah lama kehilangan cara untuk mencintai kembali.

Aku membuang muka, menatap ujung sepatu keselamatanku yang mulai tertutup debu proyek. Pikiran itu menjadi mantra yang terus kurapalkan dalam hati,biarkan dia dengan kehidupannya yang cerah, dan aku dengan kehidupanku yang sudah lama berantakan.

"Azzalia!" suara Danendra memecah lamunanku. Ia tidak menoleh, tapi telunjuknya menunjuk ke arah tumpukan material di sisi kiri lahan. "Catat volume semen yang baru masuk. Pastikan sesuai dengan manifest vendor."

Aku tersentak, segera mendekat ke area yang ditunjuk. Langkahku sedikit goyah saat melewati jalanan tanah yang tidak rata. Matahari siang ini terasa begitu menyengat, seolah ingin mengupas paksa lapisan pertahanan yang susah payah kupasang sejak di mobil tadi.

Selama hampir tiga jam, kami terjebak dalam rutinitas teknis yang melelahkan. Danendra benar-benar menjelma menjadi sosok pemimpin yang perfeksionis. Ia tidak memberikan celah sedikit pun untuk percakapan pribadi. Ia membedah draf revisiku secara langsung di lapangan, membandingkannya dengan kondisi riil bangunan yang sedang berdiri.

"Poin ini," Danendra berdiri tepat di sampingku, menunjuk angka di buku catatanku. Jaraknya begitu dekat hingga aku bisa mencium campuran aroma debu semen dan sisa parfum wood-scent-nya yang mulai memudar. "Kamu salah input kode material. Perbaiki sekarang."

"Maaf, Pak. Saya perbaiki," jawabku tanpa berani menatap matanya.

Ia tidak segera beranjak. Untuk beberapa detik, aku merasakan tatapannya tertuju pada pundakku yang menegang, lalu pada tanganku yang memegang pulpen dengan gemetar.

"Kalau kamu lelah, istirahat di direksi keet. Jangan memaksakan diri kalau pikiranmu sedang kacau," ucapnya datar, namun kali ini suaranya tidak setajam tadi.

"Saya baik-baik saja, Pak. Kita bisa lanjut," sahutku keras kepala.

Danendra mengembuskan napas panjang, sebuah suara yang sarat akan kekecewaan yang tertahan. Ia berbalik, meninggalkanku tanpa sepatah kata pun untuk melanjutkan diskusi dengan kepala mandor.

Aku menatap punggungnya yang menjauh. Di bawah terik matahari, bayangannya tampak kokoh namun sekaligus terasa sangat jauh. Benar, hidupnya sudah tertata rapi. Dia adalah eksekutif muda yang sukses, dihormati, dan punya masa depan cemerlang. Sedangkan aku? Aku hanyalah gadis yang lari dari kenyataan, yang bahkan tidak tahu bagaimana cara memaafkan diri sendiri.

Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari arah area pengelasan. Aku menoleh refleks, dan di saat yang sama, debu tebal tertiup angin kencang ke arah kami. Mataku terasa perih luar biasa.

"Aww..." aku mengerang, refleks menjatuhkan buku catatan dan menutupi wajahku dengan kedua tangan. Rasa perih yang menyengat membuatku kehilangan keseimbangan di atas tanah yang licin.

Dalam kegelapan karena mata yang terpejam, aku merasakan sepasang tangan yang kuat menyambar bahuku sebelum aku jatuh ke tanah. Aroma yang sangat kukenal itu kembali menyelimuti indra penciumanku.

"Zal! Buka tangan kamu, jangan dikucek!" suara Danendra terdengar panik tepat di depan telingaku.

Aku tetap meringis, rasa perih di mata kananku terasa sangat menyiksa. "Sakit, Nen..." rintihku, tanpa sadar kembali menggunakan panggilan masa lalu kami karena rasa sakit yang menguasai akal sehatku.

Aku merasakan tubuhku diangkat, lalu didudukkan di atas sesuatu yang rata—mungkin tumpukan palet kayu. Danendra tidak melepaskan pegangannya pada bahuku.

"Buka perlahan, Zal. Biar aku lihat," perintahnya lembut, kali ini benar-benar tidak ada sisa suara "Pak Atasan" di sana.

Perlahan, aku membuka telapak tanganku. Sayup-sayup aku melihat wajah Danendra yang hanya berjarak beberapa senti dariku. Wajahnya penuh dengan kecemasan yang tidak bisa lagi ia tutupi dengan topeng profesionalitasnya. Tangannya yang kasar namun hangat menyentuh daguku, mengangkatnya agar aku menatapnya.

Pada detik itu, di tengah debu dan bising alat berat, zirah yang kupasang sekuat tenaga kembali terasa goyah. Karena aku tahu, sejauh apa pun aku mendorongnya, pria ini adalah satu-satunya orang yang akan tetap berlari menangkapku saat aku terjatuh.

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!