NovelToon NovelToon
Cinta Zaenab

Cinta Zaenab

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lari ke Jepara

Pernikahan Sidik dan Maryam berlangsung di bawah naungan pohon jati tua. Tidak ada pesta mewah, hanya suara rebana klasik yang ritmenya membawa kedamaian, seolah bumi Purwodadi ikut bersyukur atas bersatunya dua jiwa yang ditempa cobaan. Namun, tigq bulan setelah janji suci itu terucap, langit biru yang tenang berubah menjadi kelabu oleh deru mesin pesawat penjajah.

Desa yang tadinya damai mendadak mencekam. Ratusan tentara penjajah terjun payung dari langit, silih berganti seperti kawanan gagak hitam yang turun ke bumi.

Desa terkepung. Mereka menuntut penyerahan diri para warga di daerah tersebut.

Sidik berkumpul dengan anak buahnya di balik lumbung padi. Wajahnya tegang. Senjata mereka habis, peluru tinggal sisa-sisa. Strategi perang konvensional mustahil dilakukan melawan pasukan dengan persenjataan modern itu.

Tiba-tiba, Sidik terdiam. Ia teringat janji Allah dalam Al-Qur'an: In tanshurullaha yanshurkum—"Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong mu." Ia memejamkan mata, memohon petunjuk di tengah kepungan maut. Isyarat itu datang seperti kilat di siang hari.

"Buat mercon!" perintah Sidik tegas.

Anak buahnya saling pandang, bingung. "Mercon, Komandan? Untuk apa? Mengusir tikus?"

"Bukan mercon biasa! Buat yang sebesar batang pohon pisang, dan buat juga 'mercon terbang' yang bisa melesat ke udara!" jawab Sidik dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.

Secara Logika itu mustahil hanya menyiapkan petasan di saat pasukan militer datang dengan senjata berat.

Namun, Sidik tidak peduli. Di sela-sela merakit mercon-mercon itu, ia dan anak buahnya tidak berhenti melantunkan zikir. Sidik tahu, bukan mercon itu yang akan bekerja, melainkan kekuatan dari langit yang menumpang di dalamnya.

**

Saat pasukan penjajah mulai bergerak maju dengan angkuh, Sidik memberi komando. "Nyalakan!"

Sreng....! Dor!

Suara mercon itu menyambar udara. Namun, saat benda-benda yang Sidik sebut sebagai "mercon terbang" itu meluncur, sesuatu yang tidak masuk akal terjadi. Mercon terbang sederhana itu tidak meledak seperti petasan biasa, melainkan berubah menjadi kilatan cahaya yang membelah udara dengan kecepatan luar biasa, persis seperti rudal-rudal kecil yang menghujam barisan musuh.

DUARRR!

Ledakan dahsyat mengguncang bumi. Bukan sekadar ledakan suara, melainkan ledakan kekuatan yang menghancurkan kendaraan tempur penjaja. Seolah mereka terbuat dari kertas. Mercon-mercon besar yang ditanam di tanah pun meledak dengan dampak setara bom artileri berat.

Penjajah yang tadi tertawa kini menjerit ketakutan. Mereka melihat langit seolah mengirimkan amarah yang tak bisa mereka lawan. Mereka panik, kehilangan formasi, dan berlari tunggang-langgang kembali ke kapal-kapal mereka.

Bukan mercon yang menuntun arah ke sasaran,

Tapi Tuhan yang menjaga setiap harapan.

Mereka tertawa melihat mercon dan bubuk arang,

Tak tahu bahwa doa sedang memimpin di depan perang.

Sreng... lalu melesat membelah awan,

Menjadi api yang membuat musuh kehilangan kawan.

Bukan karena cerdiknya strategi manusia,

Tapi karena Allah yang menetapkan segala masa.

Ahmad, itulah saat Bapak tahu bahwa senjata terhebat,

Bukanlah baja yang tajam, tapi iman yang sangat pekat.

Penjajah lari membawa takut yang tak terperi,

Meninggalkan tanah ini, kembali ke negeri sendiri.

Mbah Sidik tersenyum puas melihat Ahmad yang mendengarkan dengan mulut ternganga. "Sejak hari itu, Ahmad, Bapak tidak pernah meragukan janji Tuhan lagi. Logika manusia memang terbatas, tapi kuasa Allah tidak punya batas."

"Jadi, mercon itu benar-benar jadi rudal, Pak?" tanya Ahmad takjub.

"Bukan lagi rudal, Ahmad," jawab Sidik sambil terkekeh. "Itu adalah bukti bahwa jika kau sudah berjuang di jalan-Nya, alam semesta pun akan ikut berperang bersamamu."

***

Berita tentang "Mercon terbang" yang menghancurkan pasukan penjajah di Purwodadi menyebar layaknya api di padang rumput kering. Kabar itu sampai ke Jakarta, menggemparkan markas penjajah dan tentara Indonesia pusat. Mereka tidak percaya pada logika ilmiah, namun laporan dari sisa-sisa tentara yang selamat begitu seragam: ada kekuatan gaib yang membela desa itu.

Tepat saat penjajah menyiapkan pasukan elite untuk "membersihkan" Purwodadi dan memburu siapa pun di balik serangan mercon maut tersebut, Mbah Sidik—tengah duduk tenang di serambi masjid.

"Komandan!" seorang anak buahnya datang terengah-engah, nafasnya memburu setelah berlari dari perbatasan desa. "Telik sandi kita di perbatasan mengirim pesan. Ada satu batalion tentara pusat bergerak ke arah sini. Mereka membawa persenjataan lengkap dan anjing pelacak!"

Sidik tidak terkejut. Sejak ia mengenal Mbah Pupus dan menguasai ilmu kebatinan, indra keenamnya selalu bekerja lebih cepat dari radio komunikasi mana pun. Ia tahu fitnah Jenderal pengkhianat itu belum padam. Mereka bukan hanya ingin memburu pemberontak, tapi ingin merebut "teknologi rudal" itu untuk kepentingan pribadi.

"Tidak ada gunanya kita melawan saudara sendiri di sini," gumam Sidik dengan mata tajam. "Jika kita tetap di Purwodadi, penyamaranku sebagai santri akan terbongkar, dan Maryam akan jadi sasaran."

Sidik berdiri, wibawa komandan veteran yang bertahun-tahun ia sembunyikan kembali muncul. "Dengar! Segera lari. Bubarkan diri, hilangkan jejak, dan kita bergerak ke Jepara malam ini juga!"

Tanpa banyak tanya, anak buahnya yang setia segera membakar sisa-sisa petunjuk di gubuk mereka. Sidik berlari menuju rumahnya, mendapati Maryam yang sedang menunggu dengan wajah cemas.

"Maryam, ambil barang seperlunya. Kita harus pergi. Sekarang," perintah Sidik.

**

Dalam gelapnya malam, mereka memboyong Maryam yang tengah mengandung anak pertama. Mereka tidak menggunakan jalan raya. Sidik memimpin rombongan melewati hutan-hutan jati, menembus pekatnya malam dengan pengawalan ketat anak buahnya yang menyebar di setiap sisi.

"Kenapa kita ke Jepara, Kang?" tanya Maryam dengan nafas tersengal namun tetap tabah.

"Di sana, ada tempat untuk menyembunyikan identitas kita. Kita akan kembali menjadi rakyat jelata, menjadi petani, menjadi orang yang tidak dikenal dunia," jawab Sidik sambil menggenggam tangan istrinya erat-erat.

Mereka bergerak bagaikan bayang-bayang. Sidik menggunakan ilmunya untuk menutup jejak kaki mereka agar tidak bisa dilacak oleh anjing pelacak tentara pusat. Setiap ada suara ranting patah, mereka berhenti total, membaur dengan kegelapan malam.

Jakarta mengirim badai ke arah desaku,

Namun aku sudah tahu arah langkah mereka yang kaku.

Bukan lari karena takut pada seragam yang congkak,

Tapi lari agar rumah tanggaku tetap tegak.

Purwodadi kutinggalkan dengan rahasia yang terkubur,

Membawa Maryam menembus hutan yang mulai luntur.

Kita kembali menjadi butiran pasir di pesisir,

Menghilang dari peta sebelum musuh sempat berpikir.

Jepara memanggil dengan debur ombak yang biru,

Tempat kita menunggu hingga zaman berganti baru.

Jadilah bayangan, wahai kawan-kawan seperjuangan,

Sebab nama Sidik kini hanyalah bisikan dalam kenangan.

Lima hari perjalanan yang sangat melelahkan akhirnya berakhir. Dari kejauhan, mereka melihat garis pantai Jepara yang tenang. Sidik menarik nafas lega. Ia telah berhasil mengecoh mereka.

Sementara... Tentara pusat tiba di Purwodadi hanya untuk menemukan gubuk-gubuk kosong dan sisa debu mercon yang sudah tidak berbekas.

"Sampai di sini, kita selamat," bisik Sidik kepada Maryam. "Mulai hari ini, kita hidup sebagai keluarga yang merdeka, meski dunia menganggap kita sudah tiada."

Sidik menatap laut dengan mata berkaca-kaca. Ia telah menukar segala kejayaan militer dan kebanggaan sebagai komandan hanya demi keselamatan wanita yang dicintainya. Dan di Jepara itulah, kehidupan baru mereka dimulai dengan nama-nama yang baru.

1
Ariasa Sinta
q yakin ini cerita asli, begitupun mbah sidik, iya kan thor ?
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
Ariasa Sinta
ya Allah ...
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
Ariasa Sinta
loh loh loh ....
q berasa kaya lagi ngaji thor

siapa kah sebenarnya kang sidik ?
SANTRI MBELING: hehe he. makasih mampir disini juga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!