NovelToon NovelToon
Petualangan Bintang ( Han Le)

Petualangan Bintang ( Han Le)

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Ilmu Kanuragan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: bang deni

karena Ayahnya tewas di tangan Arya saat melakukan Pemberontakan Nirmala pergi ke negeri Bharat, guna belajar ilmu kanuragan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dari Adik menjadi Paman

Di ruang Penebusan Han Le makin betah, mungkin bagi orang lain ruang penebusan hukuman yang berat, karena di sana di dalam ruang yang terbatas hanya bisa menyalin dan menghapalkan liangkeng, dan yang paling berat menghapal liangkeng nya di bawah tetesan air yang merembes di langit goa, dinginnya bukan kepalang, namun Han Le malah mendapat pencerahan, ilmu silat yang di kuasainya semakin mendalam bukan hanya luarnya saja ia kini mampu mengupas satu ilmu secara keseluruhan jika melihat sekilas , pil pusaka yang di minumnya menjadi semakin bermanfaat, tenaga dalamnya meningkat drastis, di usianya yang baru jalan 16 ia memiliki tenaga dalam yang setara dengan orang yang berlatih dengan tekun selama puluhan tahun.

Sementara itu, di luar ruang penebusan, ketegangan mulai meningkat. Kabar tentang seorang remaja yang meminum "Pil harta karun" masuk ke Shaolin telah bocor ke telinga mata-mata Dalai Lama. tetapi jelas Mereka tidak berani menyerang Shaolin secara langsung, namun mereka mulai mengepung jalur-jalur masuk di kaki gunung Song Shan.

Lim Hao, yang kini sudah menjadi murid resmi tingkat menengah, seringkali merasa cemas. Setiap kali ia mencari kayu bakar di hutan, ia melihat orang-orang asing dengan pakaian biara Tibet berkeliaran di batas Kuil.

" apa kamu yakin jika anak itu anak yang di bawa oleh tetua dari Jawa Dwipa?" seorang biksu Lama bertanya pada temannya

" Kita lihat dulu, lebih baik salah membunuh daripada kita kecolongan, menurut ramalan sesepuh, anak yang di bawa dari Jawa Dwipa akan membuat nama Besar di dunia persilatan, tetapi menjadi ancaman bagi kaum kita" sahut Biksu yang di tanya

tak Jauh dari sana Lim Hao yang sedang berpura pura membelah kayu, kaget mendengar percakapan kedua biksu Dalai Lama itu

"Han Te, apakah kau berasal dari tanah Jawa Dwipa, aku akan menyakan langsung saat Han Te menyelesaikan hukumannya," gumam Lim Hao sambil membelah kayu dengan sekali tebas. kekuatan Lim Hao juga naik dengan cepat, karena ia telah melihat ilmu meringankan tubuh milik Han Le , jelas ia tak mau kalah oleh adik Han nya

Enam bulan berlalu. Pintu besi Ruang Penebusan akhirnya dibuka oleh Tetua Kong Zhi. Ia terkejut saat melihat Han Le keluar. Remaja itu tidak nampak pucat atau kurus. Sebaliknya, kulit Han Le nampak berkilau sehat, dan sorot matanya sangat tajam namun tenang.

" Amitaba, kau berhasil melewati masa hukumanmu Han Le" Biksu Kong Hui menyapa Han Le

" Ya guru aku berhasil" sahut Han Le sambil memberi penghormatan pada Biksu Kong Hui dan Biksu Kong Zhi

"Mana kitab-kitab yang kau salin?" tanya Kong Zhi ketat.

Han Le menyerahkan tumpukan kitab. Saat Kong Zhi membukanya, ia tertegun. Setiap karakter huruf yang ditulis Han Le nampak seolah ingin melompat keluar dari kertas. Ada aura kekuatan yang terkandung dalam setiap goresan kuasnya.

"Amutaba... kau tidak hanya menyalin, kau telah meresapi filosofi di dalamnya," puji Kong Zhi secara jujur, sebuah hal yang jarang ia lakukan.

Kong Hui melangkah maju dan memberikan sebuah jubah abu-abu baru kepada Han Le. "Hukumanmu selesai, Han Le. Hari ini, kau bukan lagi tawanan. Kau kini murid penutupku. Pakailah jubah ini dulu, dan bersiaplah. Kita akan ke ruang utama" ucap Biksu Kong Hui

Han Le menerima jubah itu dan menjura dengan sangat dalam. "Terima kasih, Guru. Ke manapun saya pergi, nama Shaolin akan selalu ada di hati saya."

Lim Hao berlari mendekat dan langsung memeluk Han Le. "Han Te! selamat! kau berhasil menjalani masa hukumanmu"

Mereka berdua tertawa, melepas kerinduan mereka selama 6 bulan berpisah

" Guru, apa aku juga akan di gunduli?" tanya Han Le tiba tiba, karena ia teringat dengan Lim Hao yang gundul dengan tanda enam titik di kepalanya

" takdirmu bukan di sini, kau hanya akan menjadi murid Luar ku, tetapi walau kau murid Luar kau harus menjunjung kebenaran dan keadilan " sahut Biksu Kong Hui

" Baik Guru, terima kasih" ucap Han le cepat

" Hmm, tahu begitu dulu aku juga jadi murid luar saja , jadi bisa bepergian bersama Han Te" gumam Lim Hao

" Kau bisa keluar bersama Han Le, tetapi nanti jika kalian sudah menguasai ilmu yang telah kau pilih" ucap Biksu Kong Hui . setiap Murid Shaolin memang akan mengambil satu ilmu khusus, baik jurus tangan kosong maupun bersenjata, Lim hao sendiri mengambil jurus Tongkat, dan ia baru saja bisa mempelajari beberapa gerakan dan itu juga masih kaku.

bersama dengan biksu Kong Hui dan Biksu Kong Zhi Han Le melangkah ke dalam aula utama. Aula Bodhidharma.

sedangkan Lim Hao menaruh kapaknya terlebih dahulu, karena untuk memasuki Aula Bodhidarma, tubuh harus bersih dan di larang membawa senjata

Saat berada di Aula para tetua dan murid yang lainnya sudah berkumpul. Han le di suruh duduk di bantal kecil yang ada di hadapan para tetua, dua biksu kecil berdiri di belakang nya dengan membawa nampan berisi teko air teh dan beberapa gelas , saat Han Le menghitung jumlah gelas itu sama dengan jumlah para tetua yang ada di hadapannya ada delapan tetua

" Amitaba" suasana aula langsung hening saat Biksu kong Hui mulai berkata

" Han Le, hari ini aku menerimamu sebagai murid, bersumpah lah kau, kau akan menjaga nama baik Kuil Shaolin di manapun berada, dan menjunjung Kebenaran dan Keadilan" Ucap Biksu Kong Hui tegas, wibawanya terasa menekan semua yang ada di aula itu

" Aku bersumpah akan menjaga nama baik Shaolin, dan berpegang pada keadilan dan kebenaran!" seru Han Le lantang tanpa ragu

" Tuang teh untuk Gurumu" ucap Biksu Kong Zhi

Biksu yang dari tadi berdiri di belakang Han Le

mendekat dan menyodorkan nampan yang dii bawanya

Suasana di dalam Aula Bodhidharma semakin khidmat. Udara yang dipenuhi wangi dupa cendana seolah berhenti berputar saat Han Le mengulurkan tangannya yang mantap untuk mengambil teko porselen dari nampan yang dibawa biksu kecil itu. Meskipun usianya baru menginjak enam belas tahun, setiap gerak-gerik Han Le kini memancarkan ketenangan seorang pendekar yang telah melalui penempaan batin yang hebat.

Ia menuangkan teh ke dalam cawan pertama dengan gerakan yang sangat halus. Aliran teh itu jatuh dengan suara gemericik yang teratur, tanpa ada satu tetes pun yang tumpah atau memercik keluar. Han Le mengangkat cawan itu dengan kedua tangannya, mengangkatnya setinggi alis, dan mempersembahkannya kepada Biksu Kong Hui.

"Guru, terimalah bakti muridmu," ucap Han Le dengan nada rendah namun penuh ketegasan.

Biksu Kong Hui menerima cawan itu dengan senyuman tipis, lalu meminumnya hingga habis. Setelah itu, Han Le beralih ke tetua berikutnya. Satu demi satu, delapan tetua Shaolin mendapatkan persembahan teh dari Han Le. Saat ia melayani Biksu Kong Zhi, sang tetua yang paling keras itu menatap dalam-dalam ke arah mata Han Le, seolah mencari sisa-sisa kegelapan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kejernihan seperti telaga gunung.

Setelah cawan terakhir kosong, Biksu Kong Hui bangkit berdiri. Ia meletakkan tangannya di atas kepala Han Le yang masih memiliki rambut panjang—sebuah pemandangan yang kontras di tengah kerumunan biksu gundul di aula tersebut.

"Han Le, aku tahu kau berasal dari tempat yang jauh, melintasi samudera luas untuk sampai ke sini. Kau telah meminum pil pusaka dan menebusnya dengan kesabaran di ruang penebusan. Maka hari ini, di hadapan para leluhur Shaolin, aku memberimu gelar sebagai murid luar penutupku," suara Kong Hui menggema di setiap sudut aula.

"Namamu dalam silsilah Shaolin mulai hari ini adalah Wu Kong."

Han Le tertegun sejenak. Wu Kong. Wu berarti Pencerahan atau Kesadaran, dan Kong berarti Kekosongan atau Langit. Nama itu sangat dalam maknanya, melambangkan seseorang yang telah mencapai kesadaran akan kekosongan dunia namun tetap memiliki jiwa seluas langit.

"Terima kasih, Guru. Murid akan menjaga nama Wu Kong dengan segenap jiwa," sahut Han Le sambil bersujud.

Biksu Kong Hui kemudian menoleh ke arah kerumunan murid yang berdiri di sisi aula. "Semuanya, dengarkan. Wu Kong adalah murid penutupku, yang artinya ia adalah adik seperguruan dari kalian para guru instruktur, dan merupakan tetua tingkat luar bagi murid generasi muda."

Mendengar hal itu, aula sempat diliputi bisik-bisik kecil sebelum akhirnya kembali hening.

Setelah upacara selesai, Han Le—yang kini resmi menyandang nama Wu Kong—melangkah keluar aula. Ia masih merasa agak canggung dengan jubah abu-abu barunya. Di luar, Lim Hao sudah menunggu dengan wajah yang terlihat sangat aneh. Ada perpaduan antara rasa bangga, senang, namun juga rasa sungkan yang luar biasa.

"Selamat, Han... eh, maksudku..." Lim Hao tiba-tiba membungkuk sangat dalam, hampir menyentuh lututnya sendiri. "Selamat atas pengangkatan Anda, Susiok (Paman Guru) Wu Kong!"

Han Le hampir saja melompat kaget. Ia segera memegang bahu Lim Hao. "Twako Lim Hao! Apa yang kau lakukan? Jangan bercanda seperti itu. Aku ini adikmu, Han Te!"

Lim Hao bangkit dengan wajah yang memerah, ia menggaruk kepalanya yang gundul dengan kikuk. "Aduh, Han Te... maksudku Susiok. Masalahnya bukan begitu. Di Shaolin, aturan silsilah itu sangat ketat. Kau diangkat langsung oleh Tetua Kong Hui sebagai murid penutup. Itu artinya kau satu angkatan dengan guru-guruku yang mengajar jurus toya dan tangan kosong. Secara urutan, aku dan semua murid seangkatanku harus memanggilmu Susiok!"

Han Le memegang keningnya. "Susiok? Aku paman gurumu? Tapi usiaku bahkan lebih muda satu tahun darimu, Twako!"

"Itulah statusmu, saat ini" Lim Hao berbisik sambil melirik ke kiri dan kanan.

"Tapi jujur saja, aku merasa sangat bangga. Paman guruku adalah sahabatku sendiri! Hanya saja, saat ada guru-guru lain, aku harus tetap memanggilmu Susiok, kalau tidak, aku bisa dihukum lari mengitari kuil seratus kali!"

Han Le menghela napas panjang, namun ia tidak bisa menahan tawa kecilnya. "Baiklah, Twako. Di depan orang lain aku akan menjadi Susiok Wu Kong yang berwibawa, tapi saat kita hanya berdua, aku tetaplah adik Han-mu yang sering kau kerjai saat mengambil air."

"Setuju" keduanya bercakap cakap sejenak, namun kini mereka tak bisa satu kamar lagi, Han Le mendapat satu kamar di bagian lain yang sama dengan para biksu yang bertugas mengajar para murid , dalam tatanan Kuil kini Han Le menjadi murid tingkatan ketiga

Tingkatan Pertama, sesepuh Kuil Shaolin, angkatan kedua biksu Kong Hui, dan angkatan ketiga Han Le, sedangkan Lim Hao menjadi angkatan ke empat

1
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!