NovelToon NovelToon
Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Terlanjur Menikah Dengan Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:767
Nilai: 5
Nama Author: Leon Messi

Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.

Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.

Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12

[12] Perasaan Albiru

Langit melirik rumah Albiru yang sepi sebelum naik ke mobil Ezhar. Mobil Biru juga tidak ada. Itu artinya dokter magang itu tengah berada di rumah sakit. Artinya Biru menyempatkan mengikutinya saat pria itu harusnya dinas malam di rumah sakit.

Saat di dalam mobil, ia mencoba mengirimkan pesan. Namun belum ada balasan. Langit menghembuskan nafasnya. Tatapannya beralih menembus jendela.

"Kak Langit kenapa murung?" Ezhar menatapnya dari kaca spion sebelum membawa mobil. Gea yang duduk di samping langit menatap kakaknya. Sedang Gara yang duduk di depan tampak tidak terlalu peduli.

Langit buru-buru menoleh dan tersenyum.

"Enggak kok Pa. Enggak murung."

Oh ya semalam ia berhasil masuk lagi ke dalam rumah tanpa ketahuan. Selama ini

Langit balapan malam ia belum pernah ketahuan. Ia cukup bersyukur akan hal itu. Tapi untuk kedepannya ia jadi ragu. Albiru tidak menyukainya.

Kan Albiru lagi.

"Nanti jangan lupa les ya, Kak," pesan Ezhar lagi. Ia memberi anggukkan.

Kemarin pulang sekolah orang tuanya sudah mendaftarkan dirinya les. Langit sih ngikut aja karena yakin pilihan mereka pasti terbaik. Lagipula papanya seorang dosen. Untuk itu, mulai hari ini jadwalnya cukup padat. Sekolah sampai jam tiga kurang. Dari jam 4 sampai 6 sore jadwalnya les.

Les yang dipilihkan Ezhar dan Orlin tidak terlalu jauh dari sekolahnya. Hanya berjarak 3 km. Les yang cukup terkenal untuk membantu siswa kelas 12 menembus PTN impian sekalian bahas soal persiapan ujian sekolah.

"Kalau udah jam enam. Biar papa jemput."

Langit memberi anggukkan lagi. Setelahnya papanya berbicara dengan Gara

Dan Gea, Langit memilih menatap ke luar jendela dengan pikiran pada Albiru.

Mobil Ezhar merapat di sekolahnya setelah mengantarkan si kembar. Langit lekas salim dan turun.

"Dah papa!" Tangannya melambai pada Ezhar yang membuka kaca jendela. Pria 45 tahun itu tersenyum lalu mengklakson. Setelah mobil papanya melaju pergi, dia baru berbalik badan masuk ke gerbang.

"Beruntung bangett punya papa seganteng itu Ngit." Vanesa teman sekelasnya tidak mengalihkan tatap sama sekali dari mobil papanya yang kian jauh.

Langit tertawa.

"Kalau gak papa lo, terus duda. Gue kejar sih sampai dapat. Sugar dady." Langit melotot. Yang dipelototi malah terkekeh.

"Abis ganteng banget sumpah."

"Gak heran anaknya cakep kek gue."

Langit tersenyum manis dan mengedip-ngedipkan matanya.

Vanesa menatapnya berlagak mual. Langit tertawa dan mengamit cewek berambut sepunggung digerai itu berjalan masuk. Sahabat dekatnya memang satu. Bina. Tapi Langit akrab dengan temannya yang lain juga. Dia tidak menutup diri.

"Pagi ini Akuntansi ya?" Keduanya mengobrol seiring melangkah memasuki kelas.

***

"Langit sepatu lo injak lantai."

Hah? Langit sontak melihat kakinya.

Tersadar ia kan memang harusnya menginjak lantai. Netranya menatap sebal Bumi yang berdiri melipat tangan di Koridor depan kelas.

Bumi terkekeh. Cowok itu mendekat hingga berdiri di depannya. "Lo diantar selamat sampai rumah?" Kedua tangannya menyelip di saku celana. Tadi Langit baru balik dari kamar mandi. Saat balik, sudah ada Bumi yang berdiri.

"Kalau gak selamat gue gak di sinilah."

Bumi mengedikkan bahu. "Itu cowok yang

Lo suka? Biru?"

Langit memberi anggukkan.

"Lucu ya. Bapak bukan, pacar bukan. Kenapa dia yang marah?"

"Lucu lagi. Kenapa lo yang sibuk?" herannya.

"Gue gak sibuk. Cowok yang lo suka aneh."

"Seengaknya lebih baik dari lo."

"Karena dia dokter dia lebih baik?"

"Kenapa lo jadi bahas Kak Biru?" Ingat Biru dia jadi merasa sedih lagi pesannya tidak dibaca.

Bumi terdiam sesaat. Ia kemudian mengeluarkan amplop dari balik jaketnya. "Lo lupa ambil uang," ucapnya membahas yang lain.

Langit melihat amplop itu lalu memberi gelengan. "Gue gak ambil uang balapan."

Sebelah alis Bumi naik.

"Gue hobi aja."

"Kan lumayan."

"Kasih yang membutuhkan aja," respon Langit tak acuh. Ia lalu berjalan masuk ke dalam kelas. Bumi menatap punggung Langit. Ia ikut menyusul.

"Ke siapa?"

"Anak yatim mungkin?" Langit melipat tangannya di depan dada lalu duduk di bangkunya. Sedang Bumi malah nangkring di atas meja Langit.

"Ya udah lo aja yang kasih. Uang lo."

"Lo aja deh. Gue bawa uang itu pulang, entar mama kelihatan. Kena tanya."

"Lo diam-diam kabur buat balapan dari rumah?"

"Sekali-sekali."

"Kalau gue jadi bokap lo, udah gue ikat di tiang rumah. Kalau bisa gue keluarin dari KK,"decak Bumi seraya menyimpan lagi amplop tadi.

"Ngeri. Untung lo gak bokap gue," ucapnya bergidik.

Bumi menarik satu sudut bibirnya.

"Anak-anak duduk di tempat masing-masing." Pak Aryo tiba-tiba datang membawa buku pelajaran. Berdiri di depan kelas dan mengedarkan pandang.

Bumi sontak beranjak dari posisinya.

"Sebelum memulai pelajaran. Saya akan bagi kelompok dulu untuk tugas dua minggu ke depan. Satu kelompok 4 orang. Dengarkan saya baik-baik." Pria berumur kepala enam itu mengambil sebuah kertas dan membacanya.

"Kelompok 1 Bina Latasha, Liam Dawala Pradipa, Mahendra Ghabumi Adelard dan Qanita Langit Zoe."

"Kelompok 2 ... " Pak Aryo terus membacakan nama kelompok hingga akhir. Langit sudah lemas duluan karena sekelompok sama Bumi. Bukan kerjain tugasnya yang banyak, tapi ya ributnya.

"Aa senangnya kita sekelompok." Bina di sampingnya kesenangan.

***

Calon suami

[Kak Biru?]

[Kak?]

[Kak Biru beneran marah ya sama Langit?"

Langit menatap lama chatnya yang tidak ada balasan. Ia menghembuskan nafas panjang. Mau nemuin Biru, dia mesti les sepulang sekolah. Mau tidak mau Langit terpaksa mengurungkan niatnya.

"Bolos dulu kali ya?" bisikan jahat tiba-tiba terlintas. Langit lalu menggeleng keras. "Nggak nggak. Gak boleh Langit." Tangannya bergerak menolak.

"Aduuh kak Biru bikin gak tenang."

"Kenapa lo Ngit?"

Bina duduk di sampingnya seraya menyerahkan minuman kaleng. Saat ini keduanya tengah berada di bangku semen tepi lapangan basket. Langit cemberut. Ia taruh ponselnya dan menatap Bina.

"Kemarin itu Kak Biru."

Bina mengerjap. Dia yang mau meneguk minumannya, Fresh tea membulatkan mata kaget. Bina sampai mengurungkan niatnya minum. "Hah? Itu yang namanya Kak Biru?"

Langit mengangguk. Bina memang tahu soal Biru, tapi tidak pernah tahu yang mana Biru.

"Gue mesti gimana dong. Kak Biru kecewa banget sama gue. Chat aja gak dibales." Langit melemaskan bahunya seraya melirik ponsel.

"Tapi Ngit. Lo bilang dia cuek. Kenapa dia marah? Kenapa pula dia ngikutin lo sampai ke sana? Apa jangan-jangan kak Biru suka lo?" Bina mengeluarkan argumennya. "Secara cowok itu gak akan peduli kalau gak ada rasa."

Wajah murung Langit berubah cerah. "Menurut lo gitu?"

Bina mengangguk. "Misalkan aja lo. Lo kalau gak suka Hugo. Lo bakal peduli kalau dia keluar malam dan pergi bahayain diri?"

"Ih kenapa Hugo sih!"

"Contoh cantik," ucap Bina gemas.

"Iya enggak. Gue gak bakal peduli. Untuk apa?"

"Nah!" Bina menjentikkan jarinya. "Kak Biru gak akan peduli lihat lo keluar malam. Dia harusnya gak ngikutin sama semarah kemarin."

Langit terdiam. Ia mencoba memahami maksud Bina. Masuk akal, hanya saja apa benar Biru menyukainya? Tapi selama ini dokter magang itu ketus dan tidak menganggap keberadaannya.

"Kalau Kak Biru suka gue. Kok selama ini gak kelihatan? Perhatian aja gak ada. Dingin malah. Gue mah udah kayak nyamuk yang ngejar darah manusia. Kak Birunya hindar terus."

"Sepengetahuan gue ya, dia gak nunjukin terang-terang kayak lo. Dingin-dingin gitu aslinya suka. Ya gengsi aja atau emang gak tahu cara nunjukkin."

"Hem gitu ya?"

"Coba lo tes deh."

"Tes gimana?"

"Dia suka lo apa gak?"

"Caranya? Sekarang aja lagi marah."

"Pura-pura punya pacar depan dia."

"Ampuh?"

"Ya gak tahu. Coba lihat reaksi kak Biru."

"Atau pura-pura sakit deh. Lihat dia langsung datang apa gak. Bilang lo kecelakaan gitu."

Saran Bina menjadi angin segar baginya.

Langit tersenyum merekah. Ia lalu menggoyangkan kedua bahu Bina sampai tubuh cewek itu terguncang.

"Woi organ tubuh gue bisa berantakan!"

Bina memukul lengan Langit. Gadis itu terkekeh.

"Emang guna lo jadi teman Bin,"

kekehnya.

"Woi." Bumi yang tiba-tiba datang dan merebut minuman kaleng milik Langit. Tanpa bersalah cowok itu duduk dan membuka tutupnya.

Langit sontak menoleh dan merebut kembali. Tapi Bumi gesit. "Bumi luknut. Punya gue!!"

"Minta dikit."

Setelah meneguk Bumi menyerahkannya kembali.

"Dikit apanya. Ringan begini," dumel Langit karena air itu tinggal sepertiga. Ia menaruh malas kaleng minuman itu karena tidak shalat mungkin minum bekas Bumi.

Cowok itu tidak merasa bersalah. "Liam ngajakin kerjain tugas di kafe. Pada bisa?" Bumi menatap keduanya bergantian.

"Gue les," sahut Bina meneguk minumannya.

"Gue juga les," jawaban Langit membuat keduanya kompak menoleh.

"Les?" Beo mereka.

"Hooh."

"Sejak kapan lo ikut dan mau les?" dua alis Bumi menyatu.

"Hari ini. Kan udah gue bilang, bakal ngalahin lo, Bum."

Bumi pikir Langit tidak serius.

"Woah akhirnya bestie gue tobat." Bina menepuk tangan takjub.

Langit tersenyum. "Senakal-nakalnya gue, gue masih pengen sukses."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!