Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.
cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.
maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.
maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.
akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sedikit gangguan
Kegiatan warga desa mulai kembali normal meski ada satu keluarga tetap mencari keberadaan anggota keluarga mereka yang menghilang tanpa jejak.
Hari berlalu, minggu berganti.
Ini bulan kedua setelah Maharani hilang tanpa jejak.
Bahkan petugas yang dikerahkan tak bisa menemukannya dan pencarian resmi dihentikan.
Meski begitu, Rahman tetap berharap bisa menemukan putrinya walaupun dalam keadaan apapun.
Hidup terus berlanjut, demikian pula dengan Andrean dan Meri.
Pasangan itu terlihat makin mesra hari ke hari.
Andre masih bisa menutup rapat rahasia kejahatan yang telah dia lakukan terhadap Rani kekasihnya.
Kehidupannya berjalan normal layaknya pengantin baru tapi menunggu kelahiran bayi mereka yang diperkirakan berjenis kelamin perempuan.
Usia kandungan Meri telah menginjak usia 6 bulan yang artinya, saat menikah Meri telah hamil 4 bulan.
Tidak ada yang tahu kecuali keluarga inti. Meski banyak desas-desus, tapi baik keluarga Andre ataupun keluarga Meri tak memperdulikannya.
Toh siapa yang berani mengusik keluarga mereka. Ayah dari Andre adalah kepala desa sementara ayah Meri adalah juragan kaya raya dikampung itu.
Andre bekerja seperti biasa.
Kali ini dia mendapat tugas untuk memantau perbaikan jalan desa disekitaran hutan pinus yang terkenal angker karena sering melihat penampakan seorang nenek tua yang duduk manis diatas pohon dengan kaki berjuntai dan berayun-ayun.
Ada laporan warga yang jatuh karena jalanan tersebut berlubang.
Bersama empat orang rekannya, Andre menyusuri jalanan yang dimaksud.
Ada tiga titik lubang yang cukup dalam yang membuat beberapa sepeda motor warga jatuh.
Andre memantau pekerjaan anak buahnya.
Dia memilih duduk di bangku panjang dekat tepi pohon pinus.
Hidungnya mencium aroma melati nan khas.
"Stop...! Apa kalian mencium sesuatu?Aroma bunga melati?" tanya Andre kepada para pekerja.
Pekerja satu menggeleng "Tidak ada pak. Hanya bau aspal yang masih basah" jawabnya yang disetujui oleh rekannya lain.
"Mungkin hidungmu lagi sensitif Ndre" timpal Bimo yang juga ikut bersamanya.
Andre tak lagi berucap. Ia yakin ini aroma melati, tapi kenapa hanya dirinya yang mencium sedangkan rekannya yang lain tidak.
Apa benar hidungnya sedang sensitif seperti dugaan Bimo barusan?
Andre lalu bersikap acuh dan sibuk dengan ponselnya.
Tak lama kemudian, kembali hidungnya mencium aroma dan kali ini melati bercampur aroma amis darah.
Andre mual seketika karena baunya begitu tajam menusuk hidung.
Melihat Andre yang berjongkok dengan keringat membanjiri kening, Bimo bergegas menyusulnya.
"Woi... Andre? Kau kenapa? Kenapa muntah-muntah?" tanya Bimo saat membantu Andre mengusap punggungnya.
"Bau amis darah" erang Andre disela mualnya.
"Heh...." Bimo mengendus-endus seperti dogi.
"Nggak ada...! Cuma aroma rumput basah. Iyakan?" Bimo mencari pendapat kepada rekan-rekan yang mendekati mereka.
"Iya benar. Aroma rumput basah" timpal yang lain membenarkan.
Bimo menghela nafas kasar. "Sana balik ke mobil! Kau mungkin sedang tak enak badan. Atau jangan-jangan, kau sedang ngidam karena Meri hamil?" duga Bimo yang dibenarkan oleh yang lain.
Dengan wajah yang pucat, Andre berjalan tertatih menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari posisi mereka.
Didalam mobil, Andre terus menghirup udara sebanyak-banyaknya seolah paru-parunya kosong.
Sebotol air mineral ia teguk hingga tandas.
Kepalanya bersandar di jok mobil.
Baru saja Andre memejamkan mata, ada suara aneh yang mengusiknya.
"Mas Andre... Aku hamil. Kenapa mas bunuh aku dan bayi kita?" suara Rani terdengar jelas di telinga Andre.
"Argghhhh.....Rani!!! Pergi!! Pergi!!" Andre menjerit dengan mata terpejam. Keringat besar mengalir di wajah dan lehernya.
Bimo yang mendengar teriakan Andre berlari menyusul.
"Woi Ndre!!!! Bangun...!!!" Bimo menepuk-nepuk kasar pipi Andre hingga akhirnya dia sadar.
Nafas Andre memburu. Dadanya naik turun.
"Kau kenapa lagi? Mimpi buruk?Atau ada hantu perawan yang mengusikmu?" tanya Bimo terkesan mengejek.
Andre berdecak. Dia tak menjawab. Andre melirik pada semua orang yang berkumpul mengitari mobilnya.
Seakan paham, Bimo langsung bertindak.
"Kalian kembali bekerja! Dia cuma mimpi buruk" usir Bimo pada yang lain.
Hanya ada Bimo bersama Andre dimobil saat ini.
"Kau kenapa? Tadi muntah karena bau amis, sekarang menjerit karena mimpi. Ada apa sebenarnya?" tanya Bimo yang semakin penasaran.
Andre belum bercerita. Matanya melirik kesegala arah memastikan bahwa tidak ada yang menguping.
Setelah dipastikan hanya ada Bimo, Andre baru bercerita.
"Aku dengar suara Rani. Disini, tadi dia disini" jelas Andre dengan wajah serius menunjuk sisi belakang jok mobil.
Kening Bimo menyatu. Matanya berkeliling mencari sosok yang dikatakan oleh sahabatnya Andrean.
Matanya memicing.
"Rani? Maharani yang menghilang dua bulan lalu?Karyawan kebersihan kantor?" Bimo memastikan yang diangguki cepat oleh Andre.
Bimo merubah posisi duduknya jadi sedikit menyerong kepada Andre.
"Kok bisa? Kalian ada hubungan apa? Jangan-jangan, gadis polos itu sudah kau tiduri?" tebak Bimo tajam.
"Hanya beberapa kali dan dia juga mau" elak Andre seolah Rani gadis murahan.
"Dia mau pasti kau merayunya dengan iming-iming cinta!" ucapan Bimo sungguh nyelekit.
Bimo kemudian menatap Andre dengan tatapan tak biasa.
"Jangan-jangan, kau yang menghilangkan Rani!?" duga Bimo asal.
Wajah Andre pucat seketika.
"Aku hanya minta orang buat bawa dia karena Rani membuatku kesal. Dia mengaku hamil sementara aku akan menikah dengan Meri...."
"Kau gila!!!"teriak Bimo geram.
Andre panik.
Kepalanya tertoleh ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada orang yang mendengar.
"Kau bisa diam tidak!" erang Andre menyumpal mulut Bimo dengan telapak tangannya.
"Lepas!!" Bimo menyingkirkan tangan Andre dari mulutnya dengan kasar.
Bimo menyugar rambutnya.
Otaknya tak bisa berfikir.
"Dimana kau menghilangkannya?"
"Bukan aku, tapi orang-orang yang aku sewa" ralat Andre.
"Ya terserah! Siapapun itu, tapi pada dasarnya ini atas perintah darimu!" geram Bimo karena Andre tetap mengelak perbuatannya.
"Aku nggak tahu mereka membawa kemana...! Aku nggak lagi ada kontak dengan para preman itu setelah kejadian hilangnya Rani" Andre masih saja berkilah.
Ujung matanya menelisik reaksi Bimo.
"Kau harus jujur pada pak Rahman. Kasihan mereka karena putus asa atas kehilangan putri sulung mereka. Lagian kau ini kenapa sih? Hobi sekali meniduri para gadis dan tanpa pengaman lagi. Saat kuliah kau meniduri Dini hingga perempuan gila karena kehilangan bayinya. Lalu Sisi yang untungnya kabur setelah melakukan ab*rsi... Sekarang Rani. Beruntung Meri kau nikahi. Coba saja itu Meri, bisa-bisa kau hanya tinggal nama karena juragan Kardi tidak akan membiarkan putrinya kau lukai..." kesal Bimo yang membaca semua kelakuan Andre.
"Ckk... kau jangan membuatku tambah pusing..." decak Andre kasar.
"Makanya kau bilang pada keluarganya agar mereka bisa mencari keberadaan Rani...! Kau harus minta maaf dan berterus terang pada mereka... Kalau tidak, kau akan tetap dihantui rasa bersalah. Bisa saja para preman itu memperk*s*nya dan bisa saja mereka... iiiihhhh.... aku nggak bisa bayangkan...." Bimo bergidik ngeri dengan isi pikirannya sendiri.
"Kau diamlah...! Nanti aku akan cari cara lain... Aku akan cari para preman itu..." putus Andre akhirnya.
"Terserahlah...! Aku sudah memberimu solusi" seru Bimo tak lagi mendesak.
bersambung....