NovelToon NovelToon
Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Menggantikan Pengantin Yang Kabur

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Ketika kakaknya, Orla, kabur dari pernikahan dengan pria berbahaya bernama Lorcan, Pearl dipaksa menggantikannya demi menyelamatkan keluarga dari kehancuran.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria dingin yang seharusnya menikahi orang lain, Pearl harus hidup dalam kebohongan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja jika kebenaran terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Udara pagi di Berlin terasa berbeda dari Vienna.

Lebih sibuk, lebih anonim, kota yang cukup besar untuk membuat seseorang merasa tidak terlihat, dan Pearl membutuhkan itu lebih dari yang ia sangka sebelumnya.

Di sebuah unit apartemen sederhana, Pearl sedang menyiapkan sarapan. Aroma roti panggang dan teh mengisi ruangan yang didominasi warna putih bersih itu, tidak ada marmer dingin, tidak ada pelayan berseragam, tidak ada langkah kaki yang terdengar di koridor luar dan membuat bahunya otomatis menegang.

Di sini, Pearl bisa bernapas.

Setidaknya, itulah yang terus ia coba yakinkan pada dirinya sendiri setiap pagi.

"Ibu, obatnya sudah diminum?"

Perempuan paruh baya di kursi roda dekat jendela menoleh dan tersenyum, senyum yang lelah tapi nyata, senyum yang sudah Pearl rindukan jauh sebelum semua ini dimulai. "Sudah, Pearl. Kau tidak perlu sekhawatir itu. Ibu merasa jauh lebih baik sejak kita pindah ke sini."

Pearl duduk di sampingnya, mengusap tangan ibunya pelan.

Operasi jantung bulan lalu berjalan lancar. Fasilitas di sini luar biasa dan semua biaya, seperti yang dijanjikan, terbayar otomatis melalui yayasan medis tanpa Pearl harus berinteraksi dengan siapa pun yang tidak ingin ia hadapi.

Ia bersyukur untuk itu.

Meski rasa syukur itu selalu datang bersama sesuatu yang lain, sesuatu yang ia pilih untuk tidak beri nama.

"Pearl," suara ibunya pelan, "apa kau tidak merindukan Vienna?"

Pearl terdiam sebentar. Tangannya berhenti mengoles selai di atas roti.

"Tidak, Bu. Di sana terlalu banyak hal yang... ingin Pearl lupakan."

"Termasuk suamimu?"

Denyut di dada Pearl, pahit, cepat, tidak minta izin.

"Dia bagian dari masa lalu yang paling ingin aku tinggalkan, Bu," jawabnya pelan. "Dia memberikan kita kebebasan ini, dan itu sudah lebih dari cukup. Kita tidak punya hutang apa pun padanya."

Ibunya tidak menjawab.

Hanya memandang ke luar jendela dengan ekspresi yang tidak bisa Pearl baca sepenuhnya.

**

Pearl tidak tahu bahwa saat itu, di seberang jalan apartemennya, di dalam mobil sedan hitam dengan kaca gelap yang terparkir di sudut yang tidak mencolok, sepasang mata sedang memperhatikannya.

Lorcan terlihat jauh berbeda dari sosok yang Pearl kenal.

Jenggot tipis mulai tumbuh di rahangnya sesuatu yang tidak pernah ia izinkan sebelumnya. Matanya kusam dengan cara yang tidak bisa disembunyikan oleh kemeja mahal mana pun. Sudah seminggu ia di Berlin dengan alasan pertemuan bisnis, tapi setiap harinya dihabiskan dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan bisnis.

Di seberang jalan, Pearl keluar ke balkon kecil apartemennya, membantu ibunya makan di bawah cahaya pagi yang masuk miring. Pearl mengenakan gaun sederhana bermotif bunga sesuatu yang tidak pernah ia kenakan selama di mansion dan terlihat jauh lebih seperti dirinya sendiri dari yang pernah Lorcan izinkan ia menjadi.

"Dia terlihat baik," bisik Lorcan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada siapa pun.

Asistennya yang duduk di kursi depan tidak menjawab langsung. "Mungkin memang ini yang terbaik untuk kalian berdua, Tuan."

Lorcan tersenyum pahit. "Terbaik baginya. Tapi aku melihatnya setiap hari dari tempat yang tidak punya hak untuk lebih dekat dari ini." Ia menurunkan teropongnya dan bersandar ke jok. "Aku adalah bagian terburuk dari ceritanya. Aku tidak ingin merusak ketenangannya dengan kehadiranku."

"Tuan, pertemuan dengan klien--"

"Aku tahu." Lorcan memalingkan pandangannya dari jendela. "Pastikan kiriman bunga untuk ibunya hari ini tetap diantar. Atas nama yayasan rumah sakit."

**

Sore itu Pearl pergi ke taman kecil dekat apartemen.

Udara Berlin di musim seperti ini membawa dingin yang berbeda dari Vienna, lebih tajam di tepi-tepinya, tapi juga lebih segar. Pearl duduk di bangku kayu, menatap beberapa anak kecil yang berlarian mengejar burung-burung di sekitar air mancur.

Seorang pria paruh baya mendekatinya, turis, dari penampilannya, dengan peta lipat di tangan. Ia bertanya tentang arah dengan bahasa Inggris yang tidak terlalu lancar.

Pearl menjawab dengan sopan.

Tapi saat pria itu tidak sengaja menyentuh lengannya untuk menunjuk sesuatu di peta hanya sedetik, hanya sentuhan ringan yang tidak ada maksud apa pun di dalamnya — Pearl langsung tersentak.

Napasnya memburuk dalam hitungan detik.

Tangannya mendingin.

"Maaf... saya harus pergi."

Ia berdiri dan berjalan cepat, terlalu cepat, hampir berlari, menjauh dari bangku itu, menemukan pohon besar di sudut taman dan berhenti di sana, membelakangi jalan, menekan punggungnya ke batang kayu yang kasar.

"Tenang," bisiknya pada dirinya sendiri, matanya terpejam. "Kamu aman di sini. Itu bukan dia. Kamu aman."

Detak jantungnya butuh waktu yang terlalu lama untuk kembali normal.

**

Di sisi lain taman, di dalam mobil yang terparkir di jalur lambat, tangan Lorcan sudah memegang gagang pintu.

Ia melihat semuanya.

Melihat Pearl berlari. Melihat Pearl bersembunyi di balik pohon. Melihat bahunya naik turun dengan cepat saat ia mencoba menenangkan dirinya sendiri dari sesuatu yang bahkan bukan ancaman nyata.

Lorcan membuka pintu setengahnya.

Lalu berhenti.

Jika ia keluar sekarang, jika Pearl melihatnya apa yang akan terjadi? Ia tahu jawabannya. Ia sudah melihat ekspresi itu. Mata yang tersentak ketakutan. Tubuh yang secara otomatis mundur.

Lorcan menutup pintu kembali.

Ia mengepalkan tangannya di atas setir hingga buku-buku jarinya memutih.

"Lihat apa yang sudah kamu lakukan," gumamnya pelan, pada dirinya sendiri, dalam keheningan kabin mobil yang terasa jauh lebih sempit dari biasanya. "Bahkan sentuhan orang asing pun sudah cukup untuk membuatnya seperti itu."

Ia menatap Pearl dari kejauhan, sampai bahunya perlahan turun, sampai napasnya kembali teratur, sampai ia akhirnya berdiri dan berjalan pulang dengan langkah yang masih sedikit terburu-buru.

Lorcan tidak bergerak dari tempatnya sampai sosok Pearl menghilang di balik pintu gedung apartemennya.

Baru setelah itu ia mengangkat ponselnya.

"Pastikan keamanan di sekitar gedungnya diperketat. Tanpa sepengetahuannya."

**

Malam itu, hujan turun deras di Berlin.

Guntur menggelegar dan di dalam apartemennya, Pearl terbangun dengan napas yang tersengal dan keringat dingin di punggungnya.

Mimpi yang sama.

Balkon mansion. Hujan. Tatapan Lorcan yang penuh kebencian.

Pearl bangkit, berjalan ke dapur, menuangkan air dengan tangan yang tidak sepenuhnya bisa diam. Ia duduk di lantai dapur, punggung bersandar ke lemari bawah, lutut ditarik ke dada dan membiarkan dinginnya ubin masuk melalui pakaian tipisnya.

"Aku sudah bebas," bisiknya. "Aku sudah di sini. Aku aman."

Tapi kata-kata itu terasa seperti sesuatu yang masih harus ia latih, belum sepenuhnya menjadi keyakinan, masih sebatas kalimat yang ia ucapkan berulang dengan harapan suatu hari nanti terasa benar.

**

Di luar gedung apartemen itu, di bawah guyuran hujan yang tidak mau berhenti, Lorcan berdiri di trotoar seberang jalan.

Tanpa payung.

Ia membiarkan hujan membasahinya dari atas kepala hingga ke ujung sepatunya, kemeja mahalnya menempel di kulitnya, rambutnya rata oleh air dan menatap cahaya dapur Pearl yang menyala di lantai tiga.

Di sakunya, sebuah kotak kecil.

Ia mengeluarkannya. Membukanya.

Sebuah cincin berlian sederhana, bukan yang dulu, bukan yang melingkar di jari Pearl sebagai bagian dari kontrak yang tidak pernah memiliki rasa apa pun. Ini berbeda. Ini sesuatu yang ia beli tanpa paksaan, tanpa agenda, tanpa syarat yang tercetak di atas kertas.

Sesuatu yang mungkin tidak akan pernah sampai ke tangan yang seharusnya.

"Aku akan menunggu," bisiknya ke hujan yang tidak mendengar. "Meski harus lama. Aku akan menunggu sampai bayanganku tidak lagi membuatmu takut."

Ia menutup kotak itu kembali.

Dan berdiri di sana, basah, dingin, sendiri, menatap cahaya kecil di lantai tiga yang akhirnya padam saat Pearl kembali ke kamarnya.

Lorcan tahu bahwa penebusan bukan soal uang atau fasilitas atau keamanan yang ia kirimkan dari jauh. Penebusan adalah hal yang jauh lebih sunyi dan jauh lebih panjang dari semua yang pernah ia rencanakan, menunggu tanpa meminta, menjaga tanpa menunjukkan, dan belajar mencintai sesuatu yang mungkin tidak akan pernah kembali ke tangannya.

Hujan terus turun.

Dan di kota yang sama, di bawah langit yang sama, Pearl dan Lorcan berbaring di tempat masing-masing, terpisah oleh jarak yang bukan hanya soal jalan dan gedung.

Tapi soal luka yang belum tahu kapan sembuhnya.

1
Dede D
ceritanya sangat bagus
Dede D
lanjut kak
❤️⃟Wᵃf꧄ꦿV⃗a͢n꙰a͢a⃗ꦿᵏⁱᵉˡяᷢ⃞🐰
Gegara Kk nya, adikny jdi korban😭
Dan demi ibunya, pearl rela melaksanakan pernikahan yg ia sendiri tidak mau sbnrnya🙏😓
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Vaelisse: makasii kak, jangan lupa like dan komen nya ya 😀
total 1 replies
Juli Queen
bagus
Juli Queen
kaa kapan update nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!