NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Bunga Desa

Terjerat Pesona Bunga Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss DK

Lyodra, bunga desa Wonosobo menanam tanaman herbal langka khas dataran tinggi. Namun, warga desa yang mayoritas petani tembakau tidak menyukainya. Karena tanaman tersebut memiliki manfaat yang membuat orang berpikir negatif. Afrodisiak pada akarnya. Padahal di dunia tehnologi modern, tanaman herbal ini dapat dimanfaatkan sebagai obat anti kanker dan anti bakteri yang berdaya jual tinggi.

Kemarahan warga makin menjadi-jadi setelah mendapati Lyodra bersama pria asing di lumbung desa. Warga menuduh mereka berbuat mesum.

Kesalah pahaman membuat kepala desa terpaksa meminta pria asing itu untuk menikahi Lyodra. Agar tidak mencoreng nama baik Lyodra. Namun, sebuah rahasia malah terkuak.

Rahasia apakah itu? Apakah rahasia itu akan mempengaruhi kisah cinta Lyodra ke depannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pendarahan Hebat

Beberapa jam yang lalu di Desa Wonosobo.

Langit masih gelap, kabut tebal turun menghalangi pandangan.

Dua insan yang sudah lama haus belaian asmara, belum juga puas menunaikan apa yang mereka mulai beberapa jam yang lalu. Nafas mereka memburu saling berpacu mengapai puncak.

Prang! Grobyak! Bruak!

Bunyi benda-benda berjatuhan, makin menambah semangat si jantan untuk mereguk kenikmatan dari si betina.

"Saya sudah gak kuat lagi! Tolong! Tolong, hentikan! Hentikan!" pekik si betina ketika si jantan makin brutal menggenjot. Padahal si jantan sudah tiga kali pelepasan di dalam rahim si betina.

Si betina juga sudah lemas, kecapekan dan kesakitan. Bahkan cairan merah mulai merembes tanpa bisa dikendalikan. Menetes deras membasahi keramik rumahnya.

"Aku belum puas, Lyodra. Aku belum puas!" Jemari tangan si jantan yang penuh kapalan langsung membekap mulut si betina agar tidak berisik. Si betina akhirnya pingsan tak sadarkan diri. Sementara si jantan masih saja menggenjot tanpa henti.

Dua jam kemudian, si jantan melenggang pergi, keluar dari rumah si betina.

Si jantan bukan pria bodoh, ia sudah merapikan isi rumah si betina. Juga tak lupa membersihkan semua percikan noda hasil perbuatan bejatnya semalam.

Lalu mengendap-endap masuk pekarangan rumahnya sendiri dengan hati-hati. Si jantan tak ingin ada saksi mata yang memergokinya sudah meninggalkan si betina yang sedang pingsan dan mengalami pendarahan.

Si jantan yakin si betina masih hidup saat ia pergi meninggalkannya.

Begitu sampai di kamar mandi, si jantan langsung membasuh tubuhnya yang ternoda darah. Membakar kaos dan sarung kotak-kotaknya agar tidak ada bukti yang menjeratnya jika si betina meminta pertanggung jawabannya.

***

Sekumpulan emak-emak tukang gosip dan bapak-bapak suka nyolot berjalan beramai-ramai menuju perkebunan. Mereka melewati rumah Pak Sewot dan Bu Rempong yang masih tertutup rapat.

"Tumben Pak Sewot dan Bu Rempong belum bangun, biasanya mereka sudah siap berangkat ke perkebunan," ucap Mbok Rumor langsung membelokkan langkahnya masuk ke pekarangan rumah Bu Rempong.

"Bu Rempong, ayo cepat! Nanti kesiangan!" Mbok Rumor menggedor pintu rumah Bu Rempong dengan keras.

Tak ada balasan. Malah sayup-sayup Mbok Rumor mendengar rintihan dan suara minta tolong dari dalam rumah Bu Rempong.

Mbok Rumor langsung menempelkan daun telinganya ke sela-sela pintu. Ingin memastikan lagi bahwa pendengarannya tidak salah dengar.

"Ada apa, Mbok Rumor?" tanya Mbok Gosip dari jalan depan rumah Bu Rempong.

Mbok Rumor segera memanggil rekan-rekannya untuk masuk ke teras rumah Bu Rempong.

"Kalian dengar suara minta tolong dari dalam rumah?" tanya Mbok Rumor pada Mbok Gosip yang ikut-ikutan menempelkan daun telinga ke sela-sela pintu.

"Dengar. Itu suara Bu Rempong minta tolong." Mbok Gosip yakin seyakin-yakinnya.

Tanpa diperintah, Mbok Rumor langsung berseru, "Bapak-bapak tolong dobrak pintu rumah Bu Rempong. Sepertinya Bu Rempong sedang sakit dan butuh pertolongan kita."

"Siaaap!" Bapak-bapak langsung bahu membahu mendobrak pintu. Sementara emak-emak berusaha mencongkel jendela agar bisa segera masuk ke dalam rumah Bu Rempong.

Brak! Pintu rumah Bu Rempong terbuka. Mbok Gosip dan Mbok Rumor langsung masuk mencari Bu Rempong.

Ternyata benar, Bu Rempong terkapar tak berdaya di atas pembaringan. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru, tubuhnya lemas.

Mbok Gosip segera menolong Bu Rempong. Membantunya bangun dari kasurnya. Begitu selimut tersibak, Mbok Gosip berhenyak kaget.

Seprai kasur Bu Rempong penuh bercak darah.

"Ya ampun, kamu datang bulan banyak bener?" tanya Mbok Gosip tak percaya dengan pengelihatannya.

Bu Rempong tak berani menjawab pertanyaan Mbok Gosip, ia malu kalau ketahuan berbuat mesum dengan Pak Sewot semalam. Ia memilih merintih kesakitan dengan suara lebih menyayat hati. "Tolong! Sakit sekali. Tolong saya!"

"Ayo, kita bawa Bu Rempong ke puskesmas. Dia bisa mati kehabisan darah kalau tidak segera ditolong." Mbok Rumor langsung meminta bapak-bapak untuk menggendong Bu Rempong ke puskesmas.

Mbok Gosip juga meminta bapak-bapak untuk memastikan lebih dahulu Dokter Hans ada di puskesmas atau tidak. Jika Dokter Hans tidak ada, bapak-bapak harus segera menjemput Dokter Hans dan perawat untuk menolong Bu Rempong di puskesmas.

Bu Rempong pun segera digendong ke puskemas oleh Pak Juaji. Pak Juaji terpilih karena tubuhnya yang besar dan kuat. Pasti sanggup menggendong Bu Rempong yang tubuhnya montok berisi ke puskesmas.

Syukurlah saat rombongan pengawal Bu Rempong tiba di puskesmas, Dokter Hans dan perawat sudah siap praktek dan menerima pasien. Mereka sudah menunggu di depan halaman puskesmas begitu mendapat kabar kalau Bu Rempong pendarahan hebat.

"Ya, tolong segera dibawa masuk ke dalam, Pak. Sebentar saya pasang alas dulu biar darahnya tidak merembes ke kasur," ucap perawat langsung mencari underpad, perlak tipis untuk mencegah bocor.

Setelah menghamparkan underpad di kasur, Pak Juaji langsung membaringkan Bu Rempong di kasur.

Dokter Hans segera memeriksa pasien dengan stetoskop dan memeriksa pupil mata Bu Rempong dengan lampu senter kecil. Pupil mata Bu Rempong sudah kurang beraksi terhadap cahaya. Namun, Dokter Hans tetap tenang menangani pasien.

"Pendarahannya terlalu banyak, sepertinya sudah terlalu lama dan tidak segera dibawa ke puskesmas. Sekarang saya akan memberikan infus dan suntikan untuk menghentikan pendarahan lebih dahulu. Apakah kalian tahu golongan darah bu Rempong?" tanya Dokter Hans.

Mbok Gosip dan Mbok Rumor saling berpandang-padangan. Mereka memang akrab dengan Bu Rempong namun mereka tidak pernah tahu golongan darah Bu Rempong. Mereka pun segera mengedikkan bahu tanda tak tahu.

"Kalau tidak ada yang tahu, saya tranfusikan darah golongan O saja ya. Perawat, tolong ambil infus dan obatnya. Setelah saya menginfus dan menyuntikkan obat, saya akan mendonorkan darah saya ke Bu Rempong." Dokter Hans langsung menurunkan titah.

Mbok Gosip dan Mbok Rempong menghela nafas lega.

"Sekarang, tolong emak-emak dan bapak-bapak keluar dari ruang pemeriksaan ya. Bu Rempong sudah mendapat penanganan medis yang tepat. Silahkan emak-emak dan bapak-bapak menunggu di depan agar kami dapat mengobati Bu Rempong dengan baik," pinta perawat dengan sabar.

"Tolongin teman saya ya, Dok. Jangan sampai kenapa-kenapa rahimnya. Kasihan dia masih perawan, belum pernah beranak. Amit-amit, jangan sampai diangkat rahimnya walaupun pendarahan hebat seperti Bu Juaji," pinta Mbok Rumor memelas kasihan.

Dokter Hans mengerjabkan matanya. "Bu Rempong masih perawan? Ah yang bener, Mbok."

Mbok Gosip melotot kesal. "Dokter Hans jangan menghina ya, walaupun menurut kami warga desa, Bu Rempong itu perawan tua, tapi umurnya masih belum kepala tiga. Jadi masih bisa datang bulan. Belum mampet seperti kami."

Dokter Hans meringis. Dia bingung harus berkata apa. Pendarahan hebat seperti ini bukan pendarahan karena datang bulan. Tapi karena Bu Rempong baru saja melepas status perawannya dan kebablasan digenjot oleh kekasihnya hingga pendarahan hebat.

Perawat berdehem keras.

Melihat kelakuan Dokter Hans yang tidak seperti biasanya, perawat menyimpulkan kalau Dokter Hans takut diserbu emak-emak jika sampai salah memberikan diagnosa. Dokter Hans memilih untuk menunggu Bu Rempong sadar. Jujur menceritakan apa yang terjadi hingga mengalami pendarahan hebat.

"Iya, Mbok Rumor dan Mbok Gosip jangan khawatir ya. Dokter Hans akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan Bu Rempong. Sekarang biarkan Dokter Hans bekerja dengan tenang ya." Perawat mengajak Mbok Rumor dan Mbok Gosip keluar ruangan.

Dokter Hans menghembuskan nafas lega. Perawatnya memang top markotob.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!