Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.
Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.
Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.
Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**
Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TATAPAN MENANTANG ANA
Sejak pertemuan pertama yang menegangkan di kelas Psikologi Sosial, sebuah nama mulai menetap secara permanen dalam ingatan Adi.
Ana.
Awalnya, ketertarikan Adi murni bersifat visual. Tentu saja wajah cantik Ana sangat sulit untuk diabaikan. Lebih dari itu, Adi mengingat wajah Ana sebagai gadis di ruang tunggu sidang Ratih—seorang gadis dengan kemeja maroon yang menatapnya seolah ia adalah penjahat perang. Namun, setelah beberapa minggu berdiri di depan kelas sebagai dosen, Adi mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih dalam di balik paras cantik itu.
Ana bukan sekadar mahasiswi yang "numpang lewat". Ia adalah tipe yang memberikan kesan mendalam.
Di kelas, ia jarang sekali mengangkat tangan secara sukarela untuk meramaikan diskusi. Namun, Adi memperhatikannya; cara Ana mencatat, cara keningnya yang akan sedikit berkerut saat tidak setuju dengan sebuah teori, dan cara matanya tetap fokus meski suasana kelas mulai membosankan.
Dan tentu saja, ada satu hal yang tidak bisa Adi abaikan: Tatapan Ana.
Setiap kali mata mereka bertemu, ada kilatan tajam yang terpancar dari mata gadis itu. Sebuah tatapan yang seolah-olah mengirimkan pesan tersirat yang sangat jelas: "Saya tidak suka Bapak. Jangan cari gara-gara. Sana menjauh!."
Anehnya, bagi Adi yang biasanya haus akan rasa hormat dan kepatuhan dari mahasiswanya, dan tentu saja hal itu dia dapatkan dengan sukarela dari pada mahasiswanya, tatapan permusuhan Ana justru terasa menyegarkan.
Ada sesuatu yang nampak seperti kejujuran dari pancaran mata itu. Atau mungkin... karena tatapan itu muncul dari makhluk secantik Ana, makanya Adi peduli?.
Yang jelas, di mata Adi, ekspresi kesal Ana tidak terlihat kasar, justru terlihat sangat menarik, dan bahkan... sedikit menggoda. Jiwa kompetitif Adi yang selama ini terasah di dunia akademis yang keras, mendadak merasa tertantang.
Perang Dingin di Barisan Tengah
Suatu pagi, cahaya matahari masuk menembus celah gorden kelas, menciptakan garis-garis terang di lantai. Adi sedang berdiri di depan papan tulis, kapur di tangannya bergerak lincah menuliskan poin-poin tentang Interaksionisme Simbolik. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara gesekan kapur dan helaan napas mahasiswa yang mencoba mengejar catatan.
Tiba-tiba, Adi berhenti. Ia meletakkan kapur, lalu berbalik menghadap kelas dengan gerakan yang tenang namun penuh wibawa.
"Baik," katanya, suaranya yang bariton membelah kesunyian. "Kita coba lihat teori ini dari sudut pandang kalian sebagai generasi yang hidup di era digital."
Matanya menyapu ruangan. Ia melewati wajah-wajah yang menunduk—berharap tidak ditunjuk—dan mengunci sasarannya di tempat yang sudah ia hafal luar kepala. Barisan tengah.
"Ana."
Ana, yang saat itu sedang serius mencatat, langsung menghentikan gerakan pulpennya. Ia menarik napas pendek, lalu mengangkat wajahnya pelan. Tanpa senyum.
Tatapan mereka bertabrakan. Dingin bertemu panas.
"Menurut kamu," lanjut Adi sambil melipat tangan di dada, "apakah teori ini masih punya relevansi kuat dengan kondisi sosial kita sekarang, atau sudah waktunya kita simpan di museum sejarah?"
Beberapa mahasiswa langsung menoleh ke arah Ana. Suasana mendadak menjadi dramatis. Ana tidak langsung menjawab. Ia merapikan letak duduknya, menghela napas yang terdengar cukup keras untuk menunjukkan ketidaksenangannya, lalu berdiri.
"Masih relevan, Pak," jawab Ana tegas. "Tapi tentu dengan penyesuaian konteks. Interaksi simbolik sekarang tidak lagi terbatas pada tatap muka fisik, melainkan melalui simbol-simbol digital di media sosial. Maknanya tetap sama, tapi mediumnya yang berubah."
Adi mengangguk kecil, memberikan jeda sejenak seolah sedang menimbang jawaban itu. "Contoh konkretnya?"
Ana menjelaskan dengan lugas. Ia membawa contoh tentang bagaimana sebuah emoji bisa mengubah seluruh makna dari sebuah kalimat pesan singkat, menciptakan realitas sosial baru di dunia maya. Penjelasannya singkat, padat, dan sangat berdasar.
Ketika Ana selesai bicara, Adi tidak melepaskannya begitu saja. Ia justru melangkah satu langkah lebih dekat ke arah barisan Ana. "Jawaban yang cerdas," puji Adi, namun nada suaranya mengandung jebakan. "Kalau begitu, pertanyaan berikutnya untuk kamu, Ana. Menurutmu, apa kelemahan utama dari teori ini jika diterapkan pada masyarakat yang sangat terpolarisasi seperti sekarang?"
Ana menatap Adi lagi. Kali ini lebih lama. Matanya yang jernih menyipit sedikit, seolah sedang mengirimkan protes: Bapak sengaja ya, ngerjain saya terus? Kenapa nggak tanya ke yang lain aja sih?
Adi menahan senyum tipis di sudut bibirnya. Ia sangat menikmati momen ini. Momen di mana ia bisa melihat "api" menyala lebih terang di mata mahasiswinya itu.
Ana akhirnya menjawab lagi, kali ini dengan argumen yang lebih tajam, seolah ia sedang melampiaskan kekesalannya melalui teori Psikologi Sosial.
Diskusi itu berlanjut selama hampir sepuluh menit, mengubah kelas yang tadinya pasif menjadi debat intelektual yang hidup antara dosen dan mahasiswa.
Setelah diskusi itu berakhir dan Ana duduk kembali, Andini, teman dekatnya yang duduk di samping kanan Ana, berbisik dengan nada penuh selidik. "Na, serius deh... kenapa ya kok rasanya Pak Adi kaya sengaja 'nyiksa' kamu pakai pertanyaan? Perasaan dia nggak segitunya kalo nanya ke orang lain."
Ana hanya mendengus, matanya tetap tertuju pada buku catatan tanpa menoleh ke depan. "Mana aku tahu. Mungkin dia dendam kali ya gara-gara dulu aku melototin dia waktu sidang Mbak Ratih."
"Hah? serius kamu melototin dia?" cecar Andini memastikan.
"Iya, lagian rese banget jadi penguji." Ana memastikan.
Andini tersenyum getir sambil geleng-geleng kepala tidak menyangka dengan keberanian temannya.
Di depan kelas, Adi tersenyum dalam hati. Ia kembali melanjutkan materi, tapi fokusnya sudah berbeda. Mengajar di kelas ini bukan lagi sekadar kewajiban profesional untuk menggantikan almarhum Pak Umar. Namun sepertinya akan ada sebuah rutinitas baru yang diam-diam ia tunggu-tunggu.
Seiring berjalannya waktu, Adi mulai menyadari bahwa ia menantikan momen saat ia memanggil nama "Ana". Ia menunggu ekspresi apa yang akan Ana berikan sebagai reaksi dipanggil dirinya. Ia ingin melihat kening yang berkerut saat berfikir, bibir yang terkatup rapat karena menahan kesal, dan tatapan tajam yang mematikan namun juga... Menggoda.
Ada satu hal lagi yang menarik perhatian Adi: Ana tidak pernah tersenyum padanya.
Padahal, Adi tahu Ana adalah gadis yang cukup murah senyum. Ia sering melihat Ana tertawa lepas saat mengobrol dengan teman-temannya di kantin atau di koridor sebelum kelas dimulai. Namun, selama masuk di kelas dan berhadapan dengan Adi, wajah itu berubah menjadi "tembok besar China" yang kokoh.
Bahkan ketika Adi mencoba melemparkan humor kecil di tengah kuliah—yang biasanya sukses membuat mahasiswa lain tertawa demi mengambil hati dosen—Ana tetap bergeming. Ia hanya menatap papan tulis atau pura-pura sibuk dengan pulpennya.
Sikap dingin itu justru membuat Adi semakin penasaran. Ia merasa tertantang untuk meruntuhkan tembok yang dibangun Ana. Ia ingin tahu, apa yang harus ia lakukan agar gadis itu tidak lagi menatapnya dengan penuh kebencian. Atau mungkin, Adi hanya menikmati perhatian yang diberikan Ana, meskipun perhatian itu berbentuk rasa kesal.
Kelas Psikologi Sosial bukan lagi soal teori struktur sosial bagi Adi. Ini adalah soal interaksi personal yang terbungkus rapi dalam etika akademis. Dan bagi Ana, setiap pertemuan adalah ujian kesabaran untuk tidak melemparkan buku catatannya ke wajah dosen ganteng tapi menyebalkan itu.
Pertempuran mereka baru saja dimulai, namun keduanya sama-sama tidak sadar bahwa kebencian dan ketertarikan seringkali hanya dipisahkan oleh selembar kertas tipis.
-
-
-
-
NOTE AUTHOR: Bau-baunya sudah mulai ada bumbu ketertarikan antara pak dosen killer dan si jutek, kira-kira apakah rasa tertarik itu akan saling bersambut?
-
-
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
lanjut kak....🤭🙏👍