Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.
Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.
Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.
Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Smile Si Kucing Imut
Melody: Aku tahu.
^^^Noah: Ada orang yang perlu aku hukum di sekolah anak orang kaya tempatmu belajar sekarang?^^^
Pikiran Melody langsung melayang ke Adden dan teman-temannya. Mereka sering membicarakan hal tak jelas setiap Melody lewat di koridor.
Itu bukan masalah besar, Melody yakin bisa menanganinya sendiri. Masalahnya, dia tidak bisa bertindak gegabah. Hubungan sama Adden memang memburuk, tapi Melody yakin cowok itu tidak akan berani menyakiti dia secara fisik.
Lagipula, Melody pernah tampar dia dan dia cuma diam saja.
Melody: Gak ada yang gak bisa aku handle sendiri.
^^^Noah: Kita harus ketemu.^^^
Melody: Kenapa? Kangen ya?
^^^Noah: Aku bakal selalu kangen sama kamu, Melody.^^^
Melody: Nanti aja deh. Aku juga kangen nari bareng kamu dan jalan bareng.
Dulu mereka sering sekali nari bareng, mostly hip-hop. Noah aslinya orang timur. Ibunya meninggalkan dia saat umur empat belas tahun dan pulang ke sana.
Papanya dulu anggota geng juga dan ditembak mati. Ibunya kelihatannya kewalahan mengurus Noah yang karakternya keras dan tegas. Tapi buat Melody, Noah selalu baik.
Dialah yang menyemangati Melody agar tidak menyerah. Dia bilang Melody lebih baik dari orang-orang di sekitarnya, lebih baik dari ibunya sendiri, dan Papa kandungnya yang bahkan tak pernah mencarinya.
Melody merapikan diri, lalu turun tangga sambil simpan HP di saku jaket. Bersyukur dia masih hafal nomor Noah sejak dulu.
Pria itu pernah janji tak akan pernah ganti nomor, supaya Melody bisa hubungi dia kapan saja kalau dalam bahaya. Sayang sekali sekarang Noah bergaul sama pengedar narkoba dan anak jalanan lain.
Kadang Melody khawatir. Dia tahu, cuma masalah waktu sampai Noah masuk penjara ... atau yang lebih parah, tewas.
"Sudah siap?" tanya Tuan Lukita. Pria itu duduk di meja makan sambil minum kopi.
"Sudah."
Pria itu berdiri, ambil kunci mobil di meja dekat pintu. Dia tersenyum tipis ke arah Melody.
"Ayo berangkat."
...***...
Setelah belanja di apotek, mata Melody tertuju ke toko hewan. Ada tulisan besar, Adopsi Kucing Gratis.
Di balik kaca, ada seekor kucing belang hitam putih yang terus mencakar-cakar kaca. Melody mendekat, lalu tempelkan telapak tangannya ke kaca, dia mau tos sama hewan itu.
"Aku tahu rasanya di buang," batinnya.
Melody sangat ingin pelihara hewan, tapi dia tidak pernah punya kesempatan. Dulu ada kucing liar yang dia kasih nama Momo.
Kucing itu selalu menunggu Melody pulang sekolah, minta makan atau minta dielus. Rasanya jauh lebih enak disambut kucing lusuh, daripada harus cium bau obat terlarang dan rokok di rumah lamanya dulu.
Tapi Papa tirinya pernah melihat Melody elus kucing itu. Sejak hari itu, Melody tak pernah lihat Momo lagi.
Melody tahu alasannya. Itu salah dia karena menunjukkan kalau dia suka sesuatu. Dia sampai menangis seminggu penuh, bingung kemana perginya kucing itu.
Sejak saat itu, Melody makin benci Papa tirinya. Dia berjanji sama dirinya sendiri, tak akan pernah menunjukkan kalau dia suka apa-apa lagi. Kalau tidak, orang lain akan ambil itu dari dia.
"Kamu suka dia?"
Melody kaget dan menoleh. Itu Edgard. Jantungnya berdegup kencang, takut untuk menjawab.
Melody mau bilang iya, tapi dia tahu akibatnya kalau dia suka sesuatu. Selalu saja diambil atau dia yang harus mengalah.
Melody diam saja, sibuk merapikan bajunya. Matanya bolak-balik melihat Edgard dan kucing di balik kaca yang terus mengeong.
Melody menggigit bibir dengan gugup, melihat sepatunya yang kotor, lalu akhirnya mendongak menatap Edgard. Pria itu pasti tahu jawabannya.
Melody suka kucing itu, jelas sekali. Tapi Edgard sepertinya ingin dengar pengakuan itu langsung dari mulut Melody.
Tapi apa yang akan dia lakukan kalau Melody bilang iya?
Apa yang akan filakukan Papa kandungnya kalau tahu dia tertarik sama sesuatu?
Edgard tatap kaca etalase, lalu melihat pintu masuk toko, dan akhirnya menatap Melody lagi dengan tajam.
Sepertinya Melody akan segera tahu jawabannya.
...***...
Melody mengamati kucing hitam putih itu mendengkur pelan saat ia mengelus bulunya di atas kasur. Ia duduk tegak, dan kucing itu segera membalikkan badan, memamerkan perutnya yang minta digaruk. Melody memberinya nama Smile.
Edgard terlihat sangat antusias saat Melody memintanya mengadopsikan hewan itu. Jika pria itu tahu ini pertama kalinya ada seseorang memberinya sesuatu yang benar-benar diinginkan, mungkin Edgard akan semakin bahagia.
Melody sebenarnya belum tahu cara mencukupi kebutuhan kucing itu nantinya, tapi ia sebentar lagi menginjak usia delapan belas tahun. Ia yakin pasti ada jalan. Biaya adopsi gratis, mereka hanya perlu membeli perlengkapan seperti kotak pasir dan tempat makan. Toko itu bahkan memberikan satu karung makanan kucing secara cuma-cuma.
Senyum di wajah Melody sulit disembunyikan saat menerima kardus besar bertuliskan "AKU AKAN PULANG BERSAMA KELUARGA BARUKU". Perasaan itu hangat, membuatnya menatap Edgard dengan pandangan berbeda.
"Papa baik banget sih," gumam Melody pelan.
Melody tahu Edgard sedang berusaha mendekatinya dengan bersikap manis dan mengajaknya belanja. Tapi bagaimana mungkin ia bisa melupakan bertahun-tahun pria itu menghilang begitu saja tanpa kabar?
"Kenapa baru muncul sekarang?" batin Melody bertanya.
Bagaimana cara memaafkan kenyataan bahwa Edgard melanjutkan hidupnya tanpa pernah mencari tahu keberadaan anak darah dagingnya?
Jika pengadilan tidak mengirim surat karena ibunya mencantumkan nama Edgard di akta kelahiran, apakah mereka akan pernah bertemu?
Setelah puas bermain dan menaruh perlengkapan makan di kamar mandi, perut Melody berbunyi nyaring. Ia baru sadar seharian ini hanya makan sebungkus keripik dan minum air mineral.
Melody membereskan barang belanjaan, termasuk sepatu Converse baru yang dipaksakan dibelikan Edgard. Pria itu bilang sepatu lamanya melanggar aturan sekolah, jadi akhirnya Melody menurutinya saja.
"Yaudah deh, daripada ribet," pikirnya.
Biarlah Mihoy dan Luccy yang sok cantik itu mencibir. Melody sudah terbiasa dan tak peduli.
Suara suara berat pria terdengar samar dari lantai bawah, tapi rasa lapar yang menusuk sudah tak bisa ditahan. Tubuhnya memang terbiasa menahan lapar, tapi setelah makan teratur beberapa hari ini, perutnya menjerit minta diisi.
Melody mengecup kepala Smile, lalu memastikan semua barang berbahaya tersimpan aman. Ia menutup pintu kamar rapat-rapat agar kucing itu tidak kabur tersesat di rumah sebesar ini. Setidaknya sekarang ia punya teman, jadi tidak akan merasa kesepian di kamar.
Senyum itu perlahan memudar saat melihat ruang tengah. Adden duduk bersandar malas di sofa, tangan kekarnya terentang lebar sambil tertawa mendengar ucapan Messy. Pria itu sangat tinggi dan berotot, mendominasi seluruh ruangan.
"Apa yang dia lakukan di sini?" batin Melody terkejut.