Aku tidak pernah menyangka pria yang kupanggil “Om” akan menjadi suamiku.
Pernikahan ini bukan karena cinta, tapi karena sebuah rahasia yang mengikat kami.
Dia dingin, kejam, dan penuh aturan. Tapi semakin aku mencoba menjauh… dia justru tidak pernah melepasku.
Di balik sikapnya yang kejam, ada sesuatu yang tidak bisa aku pahami. Apakah aku hanya permainan… atau benar-benar miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi
Tiga hari setelah amplop itu, suasana rumah berubah. Bukan perang terbuka. Bukan saling diam yang beku. Tapi ada jarak yang kembali tipis, hampir tidak terasa, tapi Zahra yang sudah belajar membaca ruang di antara mereka merasakannya dengan jelas.
Rafandra tidak memaksa percakapan. Zahra tidak membuka percakapan.
Mereka makan di meja yang sama, ada di rumah yang sama, bernapas di udara yang sama — tapi ada sesuatu yang menggantung di antaranya yang belum selesai dan keduanya tahu itu.
Yang memecahkan semuanya bukan Rafandra. Bukan Zahra. Tapi telepon dari Pak Irwan.
Zahra yang mengangkat nomor tidak dikenal lagi, tapi kali ini suaranya familiar. Suara yang pernah dia dengar di gala dinner itu. Ramah di permukaan, dingin di dasarnya.
"Zahra. Kita belum sempat ngobrol banyak waktu di acara Rafandra."
Zahra berdiri dari kursi baca, langsung waspada. "Maaf, ini siapa?"
"Irwan Soebrata." Senyum yang terdengar bahkan lewat telepon. "Kenalan lama keluargamu."
Bulu kuduk Zahra meremang.
'Rafandra pernah bilang kalau dia hubungi tanpa aku ada, jangan layani.'
"Maaf, Pak. Gue nggak bisa ngobrol sekarang." Zahra menjaga suaranya stabil. "Kalau ada keperluan bisa hubungi suami saya."
"Justru itu yang ingin aku bicarakan." Suara Pak Irwan tidak berubah tetap ramah, tetap dingin. "Kamu tahu dokumen perjanjian pranikah itu, kan? Yang revisi ketiganya?"
Zahra membeku. "Dia tahu soal dokumen itu?"
"Aku hanya ingin kamu tahu satu hal, Zahra." Pak Irwan melanjutkan tanpa menunggu respons. "Rafandra adalah pemain yang sangat baik. Selalu punya rencana berlapis. Pernikahan ini termasuk dalam rencananya. Kamu bagian dari kalkulasinya, bukan pengecualiannya."
Sambungan terputus.
Zahra berdiri di ruang baca yang tiba-tiba terasa sangat sunyi, HP di tangan, dengan kata-kata itu masih bergema. "Kamu bagian dari kalkulasinya. Bukan pengecualiannya."
Ia tak langsung turun ke studio.
Bukan karena percaya kata-kata Pak Irwan dia tidak bodoh, dia tahu pria itu punya agenda sendiri. Tapi kata-kata itu mendarat di tempat yang sudah rapuh sejak tiga hari lalu, di atas retakan yang belum sempat sembuh, dan hasilnya adalah sesuatu yang Zahra tidak bisa kendalikan.
Keraguan.
Bukan keraguan yang baru tapi keraguan lama yang selama ini sudah mulai mengecil, tiba-tiba diberi ruang untuk tumbuh lagi.
Zahra turun. Mengetuk pintu studio.
"Masuk."
Rafandra mendongak dari laptopnya. Membaca ekspresi Zahra dalam satu detik dan langsung meletakkan semua yang ada di tangannya.
"Ada apa?"
"Pak Irwan baru nelpon gue."
Sesuatu di rahang Rafandra mengencang. "Nomor berapa?"
"Nomor baru lagi." Zahra masuk, tapi tidak duduk di sofa sudutnya. Berdiri. "Dia tau soal dokumen perjanjian pranikah itu, Om. Revisi ketiganya."
Rafandra berdiri dari kursinya.
"Dia bilang apa?"
"Bilang Om pemain yang sangat baik." Zahra menatapnya langsung. "Bilang pernikahan ini bagian dari rencana Om. Dan gue bagian dari kalkulasi bukan pengecualian."
Ruangan itu sunyi.
Rafandra menatap Zahra dengan ekspresi yang tidak bisa langsung Zahra baca. Bukan marah. Bukan kaget. Sesuatu yang lebih kompleks dari keduanya.
"Dan kamu percaya dia?" tanyanya akhirnya.
"Gue nggak bilang gue percaya dia." Zahra mempertahankan tatapannya. "Tapi gue butuh Om kasih gue alasan untuk nggak percaya dia. Karena sekarang dengan dokumen itu, dengan semua yang masih belum Om ceritain gue nggak punya cukup alasan."
Rafandra menutup laptopnya.
Berjalan ke sisi meja. Berdiri di depan Zahra dengan jarak yang lebih dekat dari biasanya bukan mengancam, tapi seperti seseorang yang ingin memastikan setiap kata yang akan dia ucapkan sampai dengan benar.
"Irwan Soebrata adalah orang yang paling berkepentingan untuk membuat kamu tidak percaya padaku," katanya. Pelan. Tapi setiap kata ditimbang. "Dia tahu kalau kamu pergi kalau pernikahan ini gagal posisiku melemah. Dan itu yang dia inginkan."
"Gue tau itu, Om." Zahra tidak mundur. "Tapi itu nggak menjawab pertanyaan gue. Apakah gue bagian dari kalkulasi Om atau bukan?"
Hening. Panjang.
"Semua keputusan bisnis melibatkan kalkulasi," kata Rafandra akhirnya. "Termasuk keputusan untuk menikah."
Zahra merasakan sesuatu di dadanya turun.
"Tapi," Rafandra melanjutkan sebelum Zahra sempat bergerak, "tidak semua kalkulasi bebas dari perasaan. Dan tidak semua keputusan yang dimulai dari kalkulasi, tetap menjadi sekadar kalkulasi setelahnya."
Zahra menatapnya.
"Itu kalimat yang sangat hati-hati, Om."
"Karena situasinya membutuhkan kehati-hatian."
"Atau karena Om belum mau jujur sepenuhnya."
Rahang Rafandra mengencang tipis. "Aku sudah lebih jujur padamu dari yang pernah aku lakukan dengan siapapun."
"Tapi belum cukup." Zahra menarik napas. "Dan gue capek, Om. Gue capek nunggu waktu yang tepat. Gue capek ngumpulin puzzle satu per satu dan nggak pernah lihat gambar utuhnya." Suaranya tidak naik tapi ada sesuatu di baliknya yang lebih berat dari teriakan. "Gue butuh ruang untuk mikir. Gue mau pergi sebentar."
"Ke mana?"
"Belum tau. Mungkin rumah orangtua. Mungkin Sinta." Zahra sudah mengambil HPnya. "Gue nggak lari, Om. Gue cuma butuh jarak sebentar supaya bisa mikir jernih."
Rafandra menatapnya. Lama sekali dan Zahra melihat sesuatu bergerak di balik matanya sesuatu yang tidak biasa. Bukan ketenangan. Bukan kendali. Sesuatu yang terlihat sangat seperti kepanikan yang sangat terkontrol.
"Baik," katanya akhirnya. Satu kata yang terasa seperti biaya yang sangat mahal untuk dikeluarkan.
Zahra mengangguk. Berbalik.
"Zahra."
"Jangan buat keputusan apapun sebelum kita bicara lagi." Suaranya lebih rendah dari biasanya. Lebih dari sekadar permintaan. "Beri aku waktu untuk menjelaskan dengan benar. Semua yang perlu dijelaskan."
Zahra tidak langsung menjawab.
"Berapa lama?" tanyanya tanpa berbalik.
"Tiga hari," kata Rafandra. "Beri aku tiga hari."
Zahra menarik napas.
"Tiga hari," ulangnya. Pelan. Seperti menimbang. Lalu ia melangkah keluar.
Dia naik ke kamarnya, membuka koper kecil, memasukkan baju seadanya dengan tangan yang bergerak autopilot sementara kepalanya masih di studio masih di kalimat terakhir Rafandra, masih di matanya yang untuk pertama kali memperlihatkan sesuatu yang selama ini tidak pernah dia izinkan terlihat.
"Beri aku tiga hari."
Bukan "jangan pergi." Bukan larangan atau instruksi. Tapi permintaan dan dari Rafandra, permintaan adalah sesuatu yang sangat jarang keluar.
Zahra menarik resleting kopernya.
Berdiri. Menatap kamar ini sebentar kasur yang terlalu besar, ruang baca di sudut, jendela yang menghadap taman belakang yang sudah mulai dia sayangi tanpa sadar.
Lalu turun. Rafandra ada di foyer.
Berdiri dengan tangan di saku, menatap Zahra yang turun tangga dengan koper kecilnya. Ekspresinya tidak bisa dibaca tapi Zahra sudah cukup kenal dia untuk tahu bahwa ekspresi paling datar Rafandra biasanya menyembunyikan sesuatu yang paling dalam.
Mereka berdiri di foyer itu, dua meter di antara mereka, dengan semua yang belum terselesaikan menggantung di udara.
"Supir—"
"Gue pesan ojek." Zahra memotong tapi kali ini tanpa ketajaman. Lebih ke kebiasaan. "Om nggak perlu repot."
Rafandra mengangguk. Zahra berjalan ke pintu.
"Zahra."
Untuk terakhir kalinya malam itu, dia berhenti.
"Hati-hati."
Dua kata. Bukan "jangan lama-lama." atau "segera balik." Hanya dua kata itu tapi di dalamnya ada sesuatu yang membuat Zahra harus menarik napas sebentar sebelum membuka pintu.
Udara malam Jakarta menyambutnya di luar. Di belakangnya, pintu menutup pelan dan di dalam sana Zahra tahu tanpa melihat Rafandra Surya Wibowo yang selalu punya kendali atas segalanya berdiri sendirian di foyer rumahnya yang terlalu besar, dengan tiga hari yang baru saja dia minta dan tidak tahu apakah cukup.
.
.
.
Di jalan, di antara lampu-lampu Jakarta yang bergerak di luar helm, Zahra menatap ke depan.
HPnya bergetar. Bukan Rafandra tapi Sinta.
Sinta: Gue udah siapin kasur. Lo mau makan apa?"
Zahra mengetik balik dengan satu tangan.
Zahra: Apapun. Yang penting makan.
Sinta: Gue beliin baso. Lo cerita nanti dan Zah... lo kuat.
Zahra meletakkan HP ke saku jaketnya.
Menatap jalanan Jakarta yang tidak pernah benar-benar sunyi.
"Tiga hari," ulang Zahra dalam hati.
Cukup untuk apa ia belum tahu.Tapi cukup untuk satu hal yang dia tahu dengan pasti, perasaan yang sudah tumbuh selama dua bulan lebih ini yang sudah berakar terlalu dalam untuk dicabut begitu saja tak akan selesai dalam tiga hari.
Tidak akan selesai dengan satu amplop putih. Tidak akan selesai dengan kata-kata Pak Irwan yang licin seperti minyak.
"Gue belum mau menyerah," pikir Zahra.
"Tapi gue juga belum siap untuk tetap dan mungkin, hanya mungkin jarak ini bukan untuk melarikan diri."
"Tapi untuk memastikan bahwa waktu gue kembali, gue tau kenapa gue kembali."
.
.
.
plisss lanjut ceritanya kak🥰🙏🏼🙏🏼