Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Di dalam UKS yang fasilitasnya lebih mirip klinik VIP rumah sakit itu, Melody akhirnya mengerjapkan mata. Bau aromaterapi dan AC yang sejuk menyambut kesadarannya.
"Aduh... pinggang gue serasa mau copot!" rintihnya sambil mencoba duduk.
Hal pertama yang ia lakukan adalah mengecek kancing seragamnya. Matanya melotot, tangannya meraba-raba dadanya dengan panik. Begitu sadar pakaiannya masih utuh dan tertutup jaket hitam besar yang beraroma parfum maskulin, ia langsung menghela napas lega yang luar biasa panjang.
"YA YUHANNNN!!Hampir aja gue udah kagak suci gara-gara aki-aki cabul itu," omelnya sendirian di ruangan yang sepi. Ia mengusap dadanya. "Kalo sama pangeran berkuda mah, adek relaaa lahir batin! Lah ini, sama siluman kumis!"
Melody terdiam sejenak, menatap jaket hitam yang menyelimutinya. "Tapi bentar... siapa yang nolongin gue ya? Mana ini jaket siapa lagi? Wanginya enak banget, kayak bau-bau orang kaya yang nggak pernah kena matahari," gumamnya sambil menghirup aroma jaket itu tanpa sadar. "Tapi siapapun elo, kamsahamnida deh! Besok gue traktir bakso urat."
Dengan susah payah, Melody turun dari ranjang. Kakinya gemetar dan jalannya sedikit pincang karena pinggangnya masih terasa sangat nyeri akibat hantaman ke rak besi tadi. Sambil memegangi pinggang dengan satu tangan, ia berjalan pelan keluar menuju parkiran di mana mobil mewahnya sudah stand-by.
"Aduh, Pakkk! Bapak telat sedetik aja tadi saya udah tamat!" keluhnya langsung begitu supir pribadinya membukakan pintu.
"Loh, Non Melody kenapa jalannya begitu? Tadi saya cari ke dalam kok belum keluar?" tanya sang supir panik melihat majikannya yang berantakan.
"Bapak kagak tau? Saya tadi hampir jadi korban pelecehan, Pak! Mau dijadiin perkedel saya sama guru olahraga!" ceritanya dengan menggebu-gebu meski wajahnya masih agak pucat.
"Hah?! Gimana bisa, Non? Saya lapor ke Tuan besar sekarang ya?" tanya sang supir kaget bukan main.
"Ehh jangan dulu! Itulah Pak, nanti saya ceritain detailnya kalau nyawa saya udah kumpul semua," ucap Melody sambil berusaha masuk ke mobil dengan gaya jompo. "Sekarang saya mau pulang. Tolong ya Pak, nanti panggilin dukun urut langganan yang paling jago. Kagak bisa kalau pakai dokter-dokteran, tulang saya butuh sentuhan mistis ini mah!"
Sang supir hanya bisa melongo mendengar permintaan "ajaib" majikannya yang sekarang lebih suka ke tukang urut daripada ke spesialis tulang.
Di dalam mobil, Melody menyandarkan kepalanya ke jendela. Ia kembali teringat momen sebelum ia pingsan. Ada suara pintu hancur dan bayangan seseorang yang sangat tinggi. "Apa mungkin si Kaisar ya?" pikirnya. "Ah, mana mungkin si Psiko itu mau nolongin gue. Palingan juga dia cuma lewat mau malak guru itu."
"Aduhhh! Mak, eh, Momy! Ampuunnn! Sakittt! Aakkkkhhh!"
Teriakan Melody menggema sampai ke seluruh penjuru rumah, mengalahkan suara TV di ruang tengah. Dia sedang tengkurap di atas matras bulu, sementara seorang dukun urut senior pilihan supirnya sedang beraksi menekan titik-titik saraf di pinggangnya.
Momy-nya yang baru saja pulang lembur dan mendengar cerita singkat dari supir, langsung panik luar biasa. Wajah cantiknya merah padam karena marah. "Kenapa bisa begini sih, Melody?! Kamu itu anak perempuan satu-satunya, kalau tulang kamu geser gimana?!"
"Aduh, My... sakitnya beneran bukan kaleng-kaleng! Itu guru kalau saya ketemu lagi, saya racun minumannya pakai air comberan!" rintih Melody sambil mencengkeram bantal sekuat tenaga.
"Pokoknya Momy harus laporin guru itu sekarang juga! Enggak ada ampun! Mau dia guru senior atau apa, sudah berani main fisik sama anak Momy!" Momy langsung berdiri, menyambar ponselnya dengan gerakan elegan namun penuh emosi. "Momy telepon kepala sekolah kamu sekarang!"
Momy langsung keluar kamar dengan langkah tegas, meninggalkan Melody yang masih harus berjuang di bawah tekanan tangan sang dukun urut.
KREKK!
"AKHHHHH! MOMMY, COPPOTTT!" teriak Melody sampai matanya berair. "Pak Dukun, pelan-pelan atuh Pak! Ini tulang manusia, bukan tulang ayam geprek!"
"Sabar, Non. Ini uratnya melilit, kalau nggak dibalikin sekarang nanti jalannya jadi miring kayak kepiting," sahut sang dukun kalem sambil terus memijat dengan tenaga dalam.
Melody hanya bisa menggigit bantal sambil meratapi nasibnya. Sialan si kumis itu, batinnya. Gue udah capek-capek mau hidup damai, malah dikasih ujian fisik begini. Tapi di tengah rasa sakitnya, dia kembali teringat jaket hitam yang tadi dia bawa pulang.
Siapa sih yang nolongin gue sebenernya? Kenapa jaketnya bau mahal banget, bikin pengen meluk terus tapi ngeri kalau yang punya ternyata monster, gumamnya dalam hati sebelum teriakan berikutnya kembali pecah saat dukun urut itu menekan bagian punggungnya yang lain.