.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PaRaS_Sllh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21~
*Melani bangunlah, apa kamu tidak mau melihat keluargamu lagi? Aku mohon bangunlah, setidaknya kamu bangun demi keluargamu, kalau kau tidak ingin bangun demiku. Aku mohon bangunlah. Aku minta maaf padamu. Tuhan, apakah ini karma bagiku karena aku telah menyia-nyiakan istri pertamaku dan juga tidak menerima anak itu? Setidaknya biarkan dia tetap hidup ya, Tuhan. Ayah mohon maafkan ayah nak, ayah sangat menyesal. Ayah ingin sekali melihatmu, menggendongmu, memelukmu, dan menciummu. Ayah sangat menginginkanmu memanggilku dengan sebutan ayah. Apa jenis kelaminmu, kapan kamu lahir, bagaimana keadaanmu? Ayah tidak tahu, Ayah tidak tahu apapun tentangmu, bahkan namamu saja ayah tidak tahu. Ayah macam apa aku ini, bahkan aku sudah membuang darah dagingku sendiri. Aku tidak hanya melakukan kesalahan besar tapi aku juga sudah melakukan dosa yang sangat besar. Kesalahan dan dosaku ini tidak pantas untuk di maafkan, bahkan kedua orangtuaku saja sangat kecewa padaku, dan mereka sangat membenciku. Mama, papa aku minta maaf, karena aku tidak bisa menjaga putri kalian, aku siap apapun yang akan kalian katakan nanti padaku, bahkan kalau kalian mengamuk padaku, aku siap menerima semuanya nanti. Aku bodoh sekali, aku benar-benar bodoh telah melepaskan bidadari sepertimu Des, aku sangat bodoh karena telah menyia-nyiakanmu. Aku benar-benar merasa kehilangan saat kau pergi meninggalkanku. Aku sangat kesepian, Des.*batin Candra.
Candra menangis tanpa suara, dadanya sangat sesak, dia menyesali semua perbuatannya, dia sangat-sangat menyesal akan semua yang telah dia lakukan terhadap Desi mantan istrinya dan juga anaknya.
Dia tidak tahu apakah itu cinta atau apalah. Akan tetapi yang jelas, dia sangat merasa kesepian, merasa kehilangan, dan hatinya terasa kosong, sejak dia dan Desi bercerai. Dia merasa sangat hampa, hari-harinya terasa sangat suram dan tidak berwarna lagi seperti dulu dan perlahan-lahan keceriaan yang sebelumnya di rasakannya, sudah menghilang entah kemana.
Walau dia tersenyum, dan tertawa di depan Melani, tapi sebenarnya semua yang di lakukannya itu hanyalah palsu dan hanya di buat-buat saja.
Candra pun pergi dan masuk ke dalam kamar mandi ruang rawat Melani. Dia mengunci pintu itu dari dalam. Lalu dia meluapkan segala emosi yang dia tahan dari tadi, dia benar-benar sudah tidak tahan lagi menahan rasa di dadanya yang terasa teramat sangat sesak, dan akhirnya tangisnya oun pecah.
Dia menangis sambil memukul-mukul dinding kamar mandi tersebut. Dia berteriak di dalam sana.
Arrrrrgggggh, dia berteriak sekencang mungkin dan mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Apa yang sudah aku lakukan? Aku tidak hanya menyakiti Desi, dan yang menanggung akibat dari perbuatanku anakku sendiri. Dasar bodoh, aku sangat bodoh. Apa yang telah aku lakukan? ibu memberikan seorang bidadari dan aku malah menyia-nyiakannya? Ibu, Bapak, maafkan Candra karena Candra sudah menjadi anak yang sangat durhaka pada kalian. Setelah Desi bercerai dengan Candra, hidup Candra semakin suram dan tidak berwarna lagi. Setelah aku kehilangan istri dan anakku, kini aku harus mengalami kehilangan lagi. Bagaimana keadaanmu saat kau mengandung anak kita? Apa kamu sulit dalam hal membiayai persalinanmu? Bagaimana cara mu membesarkan anak kita? Aku tahu kau pasti mencari uang dengan hasil jerih payahmu sendiri, karena yang aku tahu kau tak akan mau menerima uang orang tuamu. Apa yang akan kau katakan pada anak itu saat dia menanyakan ayahnya? Aku tahu kamu adalah wanita yang hebat dan kamu adalah wanita yang tangguh dan kuat. Dan aku berharap suatu saat nanti anakku akan tumbuh menjadi anak yang penyayang, penyabar, baik, taat beribadah, dan juga menjadi orang yang hebat dan sukses sepertimu, Des. Kenapa baru sekarang aku menyadari semuanya? Kenapa? Kenapa tunggu semuanya tersakiti baru aku sadari kesalahan dan dosa yang aku lakukan selama ini? Hah. Dasar b*j*ng*n, br*ngs*k, b*j*t, dasar bodoh kau Candra, dasar pria tidak bertanggung jawab kau. Nak, ayah sangat membutuhkanmu. Ayah menyayangimu nak, Ayah mencintaimu sayang. Maafkan ayah karena sudah jahat padamu, ayah sudah membuangmu dan menyia-nyiakanmu. Sekali lagi maafkan ayahmu ini nak.
Aku juga minta maaf padamu, Mel atas semua kesalah dalam perlakuanku padamu. Jujur saja, rasanya aku tidak rela untuk berpisah denganmu dan itu pun untuk selamanya, tapi Tuhan lebih menyayangimu di bandingkan diriku"Gumam Candra di dalam kamar mandi dengan air matnya yang metes dari pelupuk matanya seraya menghela nafasnya dengan begitu berat.
Dia pun dengan segera menghapus air matanya. Lalu dia mencuci mukanya dengan air kran yang berada di wastafel. Setelah di rasa cukup segar dia pun mengambil beberapa lembar tissue lalu melap wajahnya hingga kering lalu membuangnya ke tempat sampah.
Lalu dia pun keluar dari dalam kamar mandi dan menutup pintu kamar mandinya kembali. Dia pun kemblai dudukdi samping ranjang Melani. Dia menatap Melani dengan wajah yang sendu, melihat Melani yang terbaring tak berdaya di atas ranjang pasiennya.
Lama ia terdiam di sana dan menatap kondisinya Melani dan dia tampak berpikir sejenak untuk memanggil orang tuanya Melani agar mereka datang ke rumah sakit dan melihat keadaan putri mereka.
Dan dengan hati yang mantap, dia pun memutuskan untuk memanggil orang tuanya Melani, karena bagaimanapun mereka harus tahu bagaimana keadaan dan kondisi anak mereka sekarang. Dengan segera Candra merogoh ponselnya yang ada di dalam saku celananya, dia pun menekan nama Mama Melani dan langsung memanggil ibu mertuanya itu.
Dia pun menelepon nomor ibunya Melani. Tak berapa lama kemudian teleponpun tersambung dan terdengar dari seberang sana suara ibunya Melani.
(Halo, nak)kata mama dari seberang sana
(Halo, ma)balas Candra
(Ada apa? kok kamu tiba-tiba menelepon mama? Apa semuanya baik-baik saja?Bagaimana keadaannya Melani?)tanya mama pada Candra
(Ma, sebelumnya Candra minta maaf pada mama karena tidak bisa menjaga putri kalian demgan baik dan tidak bisa menjadi suami yang baik buat Melani. Aku menelepon mama untuk mengabari bahwa Melani kini tengah di rawat di rumah sakit. Dan Candra harap kalian bisa berada di samping Melani terus dan jangan pernah meninggalkan Melani)jawab Candra dengan suara bergetar menahan tangisnya.
(Apa maksud kamu? Kenapa kamu mengatakan hal itu pada saya? Katakan bagaimana keadaan putri saya? tolong jelaskan kepada saya) tanya mama kepada Candra dengan menangis.
(Candra tidak bisa mengatakannya kepada mama melalui telepon, tapi Candra janji ketika kalian datang nanti, Candra akan mengatakan dan menjelaskan semuanya kepada mama dan papa. Candra mohon tolong kalian datang dengan cepat ke rumah sakit dan kabari papa agar papa juga ikut dengan mama ke rumah sakit)jawab Candra
(Sekarang Melani dibrawat di rumah sakit mana? Saya akan segera datang bersama suami saya ke sana.)tanya mama kepada Candra
(Melani di rawat di Rumah Sakit Bakti Husada, kamar VIP Ruang Anggrek No.12,ma)jawab Candra. Setelah mendengar jawaban Candra mama pun langsung memutuskan panggilan teleponnya.
Lalu dia pun menekan kontak suaminya dan langsung meneleponnya. Setelah tersambung, dia pun langsung mengatakan apa yang di sampaikan Candra padanya tadi dan meminta suaminya untuk segera pulang dan mereka pergi ke rumah sakit.
Tak lama kemudian papa pun sudah sampai di rumah dan dia langsung membantu mama membereskan pakaian ganti mereka ke dalam tas yang akan mereka pakai selama mereka menginap di rumah sakit nanti.
Selesai beres-beres, mereka pun keluar dari rumah mereka dan mengunci rumah mereka lalu masuk ke dalam mobil. kemudian papa pun menjalankan mobilnya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, papa pun memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit
Selesai memarkirkan mobilnya, mereka pun turun dari mobil membawa tas mereka dan berjalan menuju ruangan yang sudah di katakan Candra tadi pada mama.