Kalista, seorang food blogger dengan ribuan penggemar dimana mana.
setiap konten yang di upload nya di media sosial akan selalu mendapat jutaan views.
tentu saja hobinya yang paling jelas adalah makan.
Aruna, putri dari seorang paruh baya pemilik restoran terkenal, dia bekerja ditempat ibunya sebagai latihan karena setelah lulus SMA dia akan meneruskan usaha ibunya itu.
salah satu kebiasaan nya adalah melakukan beatbox.
Luna, anak dari seorang petani, didesa nya orang tuanya adalah yang paling kaya.
mereka punya banyak tanah yang dijadikan kebun buah dan sayur, padi dan juga dijadikan tempat ternak hewan yang salah satunya adalah sapi dan kambing.
Luna sendiri punya satu sapi kesayangan yang dia berikan nama blackmoo, sapi nya hitam dan selalu lapar hingga terus berisik.
secara tidak terduga ketiga gadis itu mati dan berpindah ke masa lalu dijaman kuno, abad pertengahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
FLASHBACK ON
"Lu ngapa ngikut gua?" Tanya Caily sembari menggali tanah mengunakan ranting.
"Lah, lo nyari apaan disitu?" Rosetta balik bertanya.
"Cari hewan kontrak lah." Balas Caily santai, tangannya masih sibuk menggali tanah.
"Lo mau jadiin cacing sebagai hewan kontrak?" Sela Vione dengan malas, ia sudah jenuh dengan tingkah mereka berdua yang tak ada habisnya.
"Gak juga, gua cuma nyari-"
"Eh! APAAN NJIR!" Teriak Rosetta memotong perkataan Caily sambil menunjuk pada jejeran pohon yang malah membelah diri.
Vione menoleh dan ia juga terkejut hingga tidak sadar jika ia memutar enam elementalnya kearah pohon pohon itu hingga beberapa dari mereka hancur.
"Lu ngapain?! setan!" Teriak Caily sembari melarikan diri lebih dulu karena pohon-pohon itu malah mengejarnya.
Vione terbang dibantu oleh elemen anginnya sedangkan Rosetta yang tertinggal dibelakang sudah hampir kencing ditempatnya karena pohon itu sudah sangat dekat dengannya.
"Lo ngapain nangis, gua tanya."
Rosetta yang masih menjerit mendadak terdiam saat mendengar suara kecil nan cempreng itu.
Saat dia menoleh, ia malah terhuyung mundur dan merangkak menjauh saat melihat hanya ada pohon dibelakangnya, dia mengira jika yang baru saja berbicara padanya adalah pohon itu.
"Gua disini, Oasu!"
"ACCHOO!"
Rosetta bersin dengan keras saat ranting kecil ditusuk ke hidungnya sendiri, saat Rosetta mendongak dia melihat peri kecil bergaun putih berdiri diudara didepan wajahnya.
"Apaan?" Gumam Rosetta mendadak kaku.
"Gua peri, peri tersyantik sejagat Isekai ini." Ujar peri itu sambil mengibaskan rambutnya.
Mendengar balasan itu, Rosetta semakin merasa bingung, yang ada dalam pikirannya saat ini 'Mahluk apakah dia? kenapa bahasanya sangat gaul?'
"Gua tahu lo oon, tapi sebaiknya simpen aja dulu, gua lagi capek buat ngejelasinnya, intinya sekarang panggil dua temen goblok lo itu." Titah peri itu sambil duduk diatas bunga.
Rosetta menggaruk kepalanya. "Mereka udah lari jauh sih, gak tahu ada dimana."
"Goblok! gua cari sendiri aja!" Sembur peri itu dengan suara cemprengnya.
Beberapa menit kemudian, Vione, Rosetta dan Caily duduk melingkar dengan peri itu berada ditengah terbang diudara.
"Dengar wahai para wanita goblok nan bego, gua Lize, gua petualang dari abad 21, mati karena ambil madu dari sarang lebahnya langsung." Jelas peri keci itu yang menyebut dirinya Lize.
Rosetta, Vione dan Caily terdiam karena memiliki pemikiran yang sama.
"Kita kita matinya ngenes amat, ya?" Gumam Rosetta sambil memijit betisnya yang keram karena terlalu lama duduk bersila.
"Sampek akhir hayat aja masih dijadiin komedian sama semesta." Sahut Caily sambil meluruskan kakinya karena juga lelah duduk bersila terlalu lama.
"Lagian lo aneh, madu mah tinggal beli aja disupermarket, banyak." Komentar Vione dengan heran.
Lize melempar segumpal tanah liat kearah wajah Vione.
"Eh goblok! lu gak denger gua ngomong apaan? gua seorang petualang, nyari madu disarangnya tuh yang dicari sensasi deg-deg kan-nya."
Vione meringis pelan sambil membersihkan tanah liat yang ada diwajahnya.
"Nah, sekarang apa?" Tanya Rosetta menyela pertengkaran diantara keduanya.
"Gua yang bakalan jadi roh kontraknya dia." Balas Lize sambil menunjuk kearah Vione menggunakan dagunya.
Vione, Rosetta dan Caily terdiam dengan rahang terbuka, bahkan Lize melempari mereka menggunakan tanah liat karena kesal dengan wajah bodoh mereka.
Vione tersadar dan memuntahkan tanah liat yang sempat masuk ke mulutnya.
"Lo kecil begitu mau jadi hewan kontrak gue?" Katanya dengan tidak yakin.
Dan sekali lagi dia mendapat lemparan tanah liat dari Lize.
"Gini-gini gua lebih tangguh dari Lo bertiga, otak gua lebih kepakek dibanding Lo bertiga, lo cari keliling Isekai ini juga gak bakalan ketemu yang macem gua!" Sembur Lize dengan suara cemprengnya.
"Iya iya sabar." Sela Caily sambil mengulurkan ranting kecil kearah Lize.
Lize menoleh dengan mata melotot. "Apaan?!"
"Kunyah, buat cemilan-"
"Goblok!" Umpat Lize memotong ucapan Caily sambil melempar tanah liat pada gadis itu.
"Udah, pokoknya gitu aja." Ujar Lize, dia terbang mendekati Vione lalu menampar pipinya.
"Lo ngapain sat?!" Seru Vione bingung.
"Itu perjanjian kontrak, gak usah berterima kasih." Balas Lize dengan santai.
Rosetta memandang ngeri pada peri kecil itu.
"Kecil-kecil plenger, njir." Bisiknya pada Caily.
"Untung bukan hewan kontrak gua." Balasnya juga berbisik.
Dan begitu saja dia mendapatkan lemparan tanah liat dari Lize.
"Gua roh peri, bukan hewan." Katanya dengan sinis.
FLASHBACK off.
Saat ini, Vione, Rosetta dan Caily tengah berjalan-jalan di kedalaman hutan.
Tentu saja mereka masih mencari hewan kontrak karena Rosetta dan Caily belum menemukannya.
"Kita keliling keliling gini gak ada gunanya." Oceh Lize sambil menghela napas panjang.
Kata-kata itu sudah ia katakan berulang kali bahkan lengkap dengan helaan napas panjangnya.
Peri itu banyak mengeluh padahal dirinya bahkan tidak menyentuh tanah sedikitpun.
"Lo bisa diem bentar, gak? ngoceh Mulu perasaan." Sinis Vione yang lama-lama merasa jenuh dengan keluhannya.
Lize memutar bola matanya dan melempar tanah liat kearah Vione dengan acak yang untungnya gadis itu sudah memiliki persiapan berupa perisai transparan yang dia buat dari elemen anginnya.
"Katanya hutan penuh hewan magis, lah ini apaan? satupun kagak ada yang bisa dijadiin hewan kontrak." Dumel Rosetta yang sudah lelah dengan hanya berkeliling hutan terus menerus.
"Lu kali yang gak berbakat." Sahut Vione.
Rosetta mendengus sinis yang membuat Vione semakin senang.
"lihat gue dong, gak ngelakuin apa-apa, tiba-tiba ada sendiri."
Dan begitu saja dia mendapat lemparan tanah liat dari Lize yang merasa bosan dengan tingkah lakunya.
Caily mendesah pelan, ia lelah sudah berjalan jauh.
"Ini kapan baliknya sih?" Gumamnya sambil mengelus perutnya yang terasa mulai kekurangan isi alias lapar.
"Kalo lo berdua gak dapet, satu tahun pun mungkin gak bakalan pulang." Sahut Vione.
Rosetta memutar bola matanya.
Srek...
Ketiga gadis itu terdiam ditempat begitu juga dengan rombongan Alisa.
Mereka saling bertatap-tatapan sejenak hingga Rosetta lebih dulu berdehem dan menyadarkan keheningan sesaat itu.
Saat semua orang tersadar, tiba-tiba saja suasana disekitar mereka menjadi lebih berat dan terasa dingin.
Penyebabnya adalah tatapan tajam tiga pangeran itu terhadap Vione dan Caily.
Caily yang tidak tahu apa maksud kemarahan mereka hanya mengangkat bahu dan menatap dengan malas.
"Bermusuhan denganku bahkan disaat aku tidak tahu apa masalahnya?" Ujarnya dengan senyum sinis.
Vione tertawa hingga membuat Charlos menggeram tertahan.
"Ya, kan? mereka memang aneh." Komentarnya mengejek.
Rosetta menepuk pundaknya sambil tersenyum lebar.
"Maaf saja, tapi menurutku mereka agak idiot." Tambahnya juga ikut mengejek.
Dan mereka kembali tertawa terbahak bahak mengejek suasana tegang itu hingga suasana semakin terasa mencekam karena aura yang dilepaskan oleh Shanez.
Namun pangeran itu mengerutkan keningnya dengan samar dan kembali datar seperti semula, ia hanya merasa bingung mengapa mereka bertiga tidak terpengaruh oleh aura yang ia lepaskan disaat yang lainnya seharusnya sudah merasa tercekik dan sesak nafas.
Penyebabnya tentu saja karena Liz dan Rosetta menyadarinya karena buku ramalan miliknya menceritakannya dalam plot yang sekarang tertulis.
Dia menatap Vione dan tersenyum penuh arti pada gadis itu.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Celetuk Alisa yang menyadarkan keadaan tegang itu.
Vione menaikkan satu alisnya dan menatap dengan heran.
"Bukankah pertanyaanmu sedikit tidak berguna?" Komentarnya dengan nada yang tidak terdengar seperti pertanyaan.
"Apa maksudmu?!" Charlos menyela dengan suaranya yang kasar.
Rosetta menggaruk kepalanya dengan malas.
"Maksudnya, kita disini sudah jelas sedang mencari hewan kontrak, kan?"
Charlos menyilangkan tangannya dan tersenyum mengejek.
"Tapi dimana hewan kontrak milikmu?"
"Belum ditemukan." Balas Rosetta tanpa basa-basi.
Charlos tertawa. "Tentu saja, orang seperti dirimu menurutku tidak akan pernah memiliki hewan kontrak."
"Kenapa kau tidak pakai gaun?" Sahut Caily menyela pembicaraan.
Charlos menoleh dengan kening berkerut samar.
"Kau cerewet seperti perempuan, seharusnya kau pakai gaun Karena itu lebih cocok untukmu." Tambah Caily seolah mengerti akan tatapan Charlos.
Tinju kekar Charlos mengepal, ia hendak melangkah maju namun Chalios yang sedari tadi berdiam diri segera menahannya.
Tatapan Shanez beralih pada Caily, laki-laki itu terdiam dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
"Hewan kontrak apa yang kamu dapat, Vione?" Celetuk Alisa dengan nada ceria dan antusias.
Vione terdiam sesaat, dia menoleh kearah Rosetta dan gadis itu segera melirik kearah buku ramalan miliknya dan setelah itu ia mengangguk pelan.
"Oh, aku juga belum dapat." Balas Vione santai.
Rombongan Alisa terdiam sejenak, mereka seolah tidak percaya jika seorang genius seperti Vione bahkan belum mendapatkan hewan kontrak miliknya.
"Apa? tidak percaya?" Vione menaikkan satu alisnya dan tersenyum sinis.
"Kenapa kau terlihat bangga? jika seluruh murid akademi tahu, kau mungkin akan ditertawakan." Chalios tampan khawatir padanya, karena bagaimanapun Vione adalah sahabat masa kecilnya.
Vione mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh.
"Lalu?"
Chalios terdiam karena tidak tahu harus merespon seperti apa, ketidak pedulian Vione pada awalnya sedikit mengganggu pikirannya, tapi sekarang dia sadar jika kekhawatirannya sudah kian bertambah, ia merasa kehilangan sesuatu dalam dirinya, tapi ia masih tidak tahu apa yang sudah terlepas dari hidupnya, karena ia melihat Vione masih ada dalam pandangannya, didepan matanya dalam keadaan baik-baik saja.
"Lalu bagaimana dengan nona Caily?" Alisa menoleh kearah Caily dengan senyumnya yang tidak pernah pudar.
"Aku mungkin tidak akan pernah punya itu." Balas Caily sambil merapikan gaunnya yang kusut karena tadi belum sempat ia bersihkan.
Shanez masih diam dengan tatapannya yang masih mengarah pada gadis berambut putih itu.
"Tentu saja, aib seperti dirimu tidak akan pernah memilikinya." Sahut Charlos, ia masih benci dan marah karena ejekan gadis itu.
Rosetta menatap Vione dan Caily dengan tatapan penuh arti, dan itu disadari oleh Shanez yang sedikit merasa penasaran, ia bingung karena sedari tadi mereka tampak aneh dan tenang, yang ia ingat mereka bahkan bisa dibilang hampir tidak pernah bertemu tapi sekarang mereka terlihat sangat akrab seolah menjadi teman sedari kecil.
"Kami pergi dulu, semoga tidak bertemu lagi." Ucap Caily sambil membungkuk memberikan salam karena mereka masihlah seorang pangeran.
Begitu juga dengan Rosetta dan Vione.
"Tunggu-" Chalios seolah ingin mengatakan sesuatu tapi ia menahannya saat melihat tiga gadis itu melambaikan tangannya dengan malas dan berbalik pergi dengan wajah datar.
Perubahan ekspresi pada wajah mereka disadari oleh Shanez.
.
.
.
"Roh iblis?"
Rosetta mengangguk sambil menginjak ranting dibawah kakinya.
"Hewan kontrak itu sebenarnya adalah jasad dari pegasus asli, tapi sesuatu yang mungkin adalah tuan dari Alisa melakukan sesuatu pada jasadnya."
Vione mendongak dan menatap pada langit yang ditutupi oleh rimbunnya pepohonan.
"Tapi, apa hewan kontrak Alisa di plot aslinya?"
"Fenrir." Sahut Rosetta singkat.
"Hewan legendaris itu?" Sahut Caily.
"Ya, hewan kontrak milik Charlos adalah Hydra, hewan kontrak milik Chalios adalah Phoenix api dan hewan kontrak milik Shanez adalah naga langit."
"Hydra? apa Chalios akan kebal racun?"
"Tentu saja."
"Dan naga langit itu, apa maksudnya?"
"Naga langit kedudukannya lebih tinggi dari naga manapun, bisa dibilang naga langit dulunya adalah seorang dewa yang tinggal didunia atas sana namun mendapatkan hukuman karena suatu kesalahan yang dia lakukan."
"Beruntung sekali si sialan itu, sedangkan kita malah dapat peri plenger kek dia."
Sahut Vione sambil melirik kearah Lize melalui sudut matanya.
Tanah liat langsung terbang kearah wajahnya namun ditepis oleh elemental angin milik Vione sendiri, ia sudah hapal dengan kebiasaan peri pemarah itu.