"Mulai dari sekarang kamu adalah putraku, kamu yang akan menduduki tahta naga. Gantikan posisi kaisar, injaklah keparat itu."
Sang permaisuri berbisik sembari tersenyum, menatap ke arah seorang pangeran kecil berpakaian lusuh di istana terbuang.
Lin Krisan, merupakan putri tunggal dari jendral yang berkuasa. Diangkat menjadi permaisuri, setelah mendukung suaminya dari status pangeran hingga menjadi kaisar.
Namun, kasih sayang tidak didapatkannya. Kaisar lebih menyayangi para selirnya. Hingga pada akhirnya permaisuri Lin meninggal di istana dingin, setelah diracuni oleh kaisar.
Wanita yang terlahir kembali, kembali mengulangi waktu.
"Aku tidak akan berusaha merebut cintamu lagi. Tapi aku akan merebut tahtamu."
Menjadikan istana bagaikan papan catur, melucuti kekuasaan kaisar pengkhianat. Menjadikan putranya yang manis sebagai kaisar baru.
Tapi lebih dari itu, mata perdana menteri mengawasinya...atau menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bawa Sial
Sang permaisuri melangkah dengan cepat. Mengikuti langkah dayangnya, hingga langkahnya pada akhirnya terhenti.
Hwang Lian, atau lebih tepatnya pangeran kelima terlihat di sana. Tubuhnya yang kurus dipenuhi dengan luka memar, serta ada beberapa luka terbuka. Seorang tabib tengah merawatnya saat ini. Mengobati lukanya sedikit demi sedikit. Ringisan anak itu terdengar.
“Saat hamba memandikannya, hamba menyadari ada banyak luka di tubuhnya. Ini jelas benar-benar penyiksaan. Mereka memperlakukan seorang pangeran seperti memperlakukan budak.” Riri berucap kepada majikannya, benar-benar tidak tega melihat keadaan anak ini.
“Ibunya meninggal karena perebutan kekuasaan. Bagaimana seorang dayang biasa berharap dapat memanjat ke tempat tidur Kaisar. Pada akhirnya dia akan mati sebelum diangkat menjadi selir. Kamu mengira perlakuan mereka kepada putranya akan baik-baik saja? Seorang anak yang tidak memiliki dukungan keluarga. Tapi memiliki darah naga, sudah pasti akan dianiaya habis-habisan hingga mati.” Permaisuri menghela nafas, mendekati sang tabib.
“Pangeran kelima akan menjadi putraku. Biar aku saja yang mengobatinya.” Perintah yang diucapkan oleh permaisuri, barulah sang tabib undur diri. Menyerahkan obat yang pada awalnya dibawa olehnya.
Suara ringgisan anak itu terdengar. Tapi anak itu tidak menangis sama sekali. Benar-benar anak yang hebat menahan rasa sakitnya ketika diobati.
“Tapi ini sudah keterlaluan. Yang mulia pangeran kelima seharusnya tidak diperlakukan seperti ini.” Riri terlihat benar-benar kesal.
“Ayahnya sendiri tidak menganggapnya. Kamu pikir kenapa? Itu karena pangeran kelima tidak berguna sama sekali. Hanya anak seorang dayang, yang bahkan tidak memiliki darah bangsawan. Bagaimana Kaisar dapat puas dengannya?” Kalimat demi kalimat yang begitu menyakitkan, diucapkan oleh permaisuri tepat di hadapan anak itu.
“Apa ibu akan meninggalkanku? Aku tidak memiliki apa-apa.” Pada akhirnya anak itu menangis terisak, bukan karena rasa sakit saat diobati. Tapi lebih karena takut dibuang oleh wanita ini.
“Anakku tidak perlu memiliki apapun. Cukup memiliki rasa bakti dan sayang kepada ibunya. Ibumu ini adalah permaisuri, sudah memiliki uang dan begitu banyak kekuasaan dari keluarga Lin. Ibu tidak memerlukan semua itu, mungkin hanya satu hal yang Ibu perlukan. Anak manis yang bisa diasuh sepertimu.” Kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh sang ibu, meletakkan obat yang seharusnya diberikan kepada putranya.
Kemudian menghapus air matanya menggunakan sapu tangan.
“Ingat! Statusmu adalah yang tertinggi saat ini diantara semua pangeran lainnya. Kamu boleh memukul ataupun menginjak mereka. Kalau mereka memukulimu, kamu boleh mengadu kepada ibu atau Kasim terdekat. Karena ada ibu di sini yang akan melindungimu. Mengerti? Dan jangan pernah menangis seperti ini. Menangis akan menunjukkan kelemahanmu. Tapi menangislah, kalau sudah saatnya untuk menangis…” Bagaimana anak ini dididik untuk menjadi anak berbakti.
Bagaimana anak kecil ini akan tumbuh. Itu tergantung dari didikannya. Dirinya akan menjadikan anak ini sebagai pewaris tahta selanjutnya. Segala hal akan diajarkan olehnya, mulai dari militer, sastra, hingga sistem politik. Menjadikannya Kaisar sempurna, sedangkan dirinya akan berada sebagai ibu suri, tempat sang Kaisar berbakti.
“Ibu…Lian menyayangimu…” anak kecil itu tiba-tiba memeluknya. Bagaikan kelinci putih imut, yang mendekap erat sang ibu.
Bahkan di kehidupan pertamanya, dirinya tidak melahirkan satu orang pun anak. Meninggal dalam keadaan masih suci, sama sekali tidak pernah menerima sentuhan dari Kaisar.
Inikah rasanya memiliki seorang anak? Anaknya harus hebat. Harus kuat seperti dirinya, tidak boleh lembek seperti pangeran-pangeran lainnya.
“Siapkan perjamuan dalam waktu dekat ini untuk menyambut putra baru permaisuri. Siapkan pesta penyambutan yang begitu besar.” Permaisuri tersenyum menyeringai. Status putra mahkota sedikit demi sedikit akan menjadi milik putranya.
Dirinya harus menyiapkan kemampuan, dan relasi untuk anak ini.
Sedangkan pangeran kelima mengeratkan pelukannya. Wanita ini adalah ibunya, benar-benar adalah ibunya. Dirinya tidak perlu iri lagi ketika pangeran lain dicintai dan disayangi oleh ibu mereka.
Karena saat ini, yang mulia permaisuri adalah ibunya. Wanita yang dianggapnya dulu paling kejam di istana belakang. Ternyata adalah seorang ibu yang baik, ibu yang paling mencintai dan menyayanginya.
“Ibu…Lian akan selalu berbakti kepada ibu. Akan selalu mengikuti kata-kata ibu. Lian benar-benar menyayangi ibu.” Kalimat demi kalimat yang begitu manis dari mulut kecil itu.
Bagaimana bisa anak itu begitu pandai merayu dan menggoda. Ya…benar! Ini adalah putranya, harus memiliki kemampuan psikologis, agar nanti dapat melawan para pangeran dan selir Kaisar.
Pakaian anak itu mulai dirapikan. Anak yang terlihat begitu tampan, putih dan manis. Setelah dibersihkan ternyata wajahnya mirip dengan Kaisar. Tapi versi mini, terlihat begitu tampan dan imut.
Kaisar sebenarnya rupawan, tapi kelakuannya benar-benar di luar akal sehat.
Hingga, seorang kasim mengumumkan.”Yang mulia Kaisar tiba…”
Pada akhirnya orang itu datang. Pasti sudah mendengar kabar aduan bahwa dirinya membawa pangeran kelima. Jika bukan selir Wen yang mengadu, maka pasti selir lainnya.
Pria yang begitu rupawan, menggunakan jubah naga bersulam kan benang emas. Wajahnya begitu dingin, menatap ke arah sang permaisuri yang tersenyum kepadanya.
“Hamba memberi hormat kepada yang mulia Kaisar. Semoga yang mulia Kaisar panjang umur 1000 tahun.” Sang permaisuri menunduk pelan.
“Hamba memberi hormat kepada yang mulia Kaisar. Semoga yang mulia Kaisar panjang umur 1000 tahun.” Pangeran kelima begitu pintar, mengikuti tata krama yang dilakukan oleh ibundanya.
Permaisuri melirik ke arah putranya, benar-benar begitu pintar dan manis untuk seukuran anak berusia 5 tahun.
“Kamu mengadopsi pangeran kelima?” Tanya sang Kaisar terdengar begitu dingin.
“Benar! Yang mulia terlalu sibuk mengurusi urusan politik. Hamba menjadi kesepian di istana Phoenix ini. Jadi, ketika melihat pangeran kelima yang begitu mirip dengan yang mulia Kaisar, hamba berpikir untuk mengadopsinya. Mengangkatnya menjadi anak kesayangan hamba.” Sang permaisuri berucap begitu cepat dengan nada yang ceria.
Sedangkan Kaisar mengangkat sebelah alisnya. Matanya melirik ke arah anak ini, mengapa dirinya baru sadar, pangeran kelima yang memang tidak begitu diperhatikan olehnya memang memiliki wajah yang mirip dengannya.
Pantas saja permaisuri mengadopsinya. Apa dirinya berpikiran terlalu berlebihan bahwa ini adalah manuver politik?
“Ekm…nanti malam adalah tanggal 15. Nanti malam aku akan menghabiskan waktu di istana Phoenix.” Itulah keputusan yang diambil oleh kaisar, mengingat perilaku aneh permaisuri hari ini. Dirinya harus mengawasi wanita yang benar-benar berbahaya ini.
“Oh…itu? Sebenarnya tidak usah, tugas itu sudah aku berikan kepada selir Wen. Aku benar-benar ikhlas memberikannya. Karena malam ini aku harus mengajari pangeran kelima, bagaimana menggunakan sumpit sebaiknya. Dia begitu manis dan imut, benar-benar mirip dengan Kaisar versi mini. Hamba Jadi tidak kesepian lagi…” permaisuri benar-benar memeluk pangeran kecil itu.
Sedangkan wajah sang pangeran memerah. Tentu saja karena kasih sayang ibu pada akhirnya didapatkan olehnya. Dan tanpa diduga, itu dari wanita yang paling dingin dan kejam di istana belakang. Wanita itulah ibunya saat ini, dirinya akan setia kepada ibunya ini.
Kaisar mengangkat sebelah alisnya. Pangeran kelima tidak memiliki pengaruh politik apapun. Bahkan tidak memiliki kakek dari pihak ibu yang berkuasa. Jadi ini pasti bukan karena manuver politik.
Wanita ini benar-benar hanya kesepian di istana Phoenix. Dirinya berpikiran terlalu berlebihan.
“Jadi, apa yang mulia memiliki keperluan yang lain?” Tanya sang permaisuri pada pria di hadapannya.
“Tidak ada! Hanya saja kamu berpenampilan terlalu mencolok.” Sang Kaisar menelan ludahnya. Tapi memang orang tercantik di istana belakang adalah permaisuri. Itu sama sekali tidak dipungkiri olehnya. Jika bukan karena ingin menghancurkan kekuasaan keluarga Lin. Mungkin dirinya akan tertarik pada permaisuri.
“Kebetulan hamba suka dengan warna merah. Itu sangat cocok untuk hamba. Anggaran istana Phoenix juga sudah hamba tingkatkan. Kini hamba sudah memiliki seorang putra, sudah cukup bahagia. Yang mulia tidak perlu sering-sering mengunjungi istana Phoenix.” Wanita ini benar-benar berucap dengan begitu ringan, penuh senyuman dan tawa.
“Kamu mengusirku dari tempat ini?” Sang Kaisar berusaha keras untuk tersenyum. Ada apa dengan permaisuri? Biasanya wanita ini akan memohon memohon agar dirinya tinggal lebih lama di istana Phoenix.
“Mana berani hamba mengusir yang mulia Kaisar… hanya saja, yang mulia Kaisar ingin menyampaikan apalagi kepada hamba?” Pertanyaan yang diucapkan oleh permaisuri, ingin Kaisar brengsek ini segera meninggalkan istananya. Agar dirinya bisa menaburkan garam untuk menghilangkan sial.
Kaisar mengepalkan tangannya. Menghirup nafasnya dalam-dalam. Kemudian berucap…
kalau Indomie baru selera ku🤭🤣🤣
🤣🤣🤣