Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 20
"Aku mau pulang!" Ajak Rani, tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak karuan
"Ya udah sayang, sebentar aku pamit sama Reya dulu!" Rani mengangguk "Gue sama Rani balik dulu yaa Re, kita udah kelamaan soalnya disini!"
Reya mengangguk "Makasih yaa karena kalian udah nyempetin dateng!"
"Iya Re"
Begitu Revan berbalik, bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka. Menampilkan seorang pria tampan dengan stelan jas mahalnya
"Darren!" Sapa Revan, sebenarnya ia cukup terkejut melihat kedatangan Darren mengingat disana juga ada Reyhan yang jelas-jelas suami dari Reya, wanita yang tengah diincar oleh rekan bisnisnya itu
Darren masuk dengan santainya, ditangannya terdapat sebuah paperbag berukuran cukup besar
"Kalian sudah mau pulang?" Tanya Darren pada Revan, pandangannya lalu tertuju pada wanita cantik yang berdiri di samping pria itu, ia seperti pernah melihatnya tapi dimana? Darren lupa
Melihat Darren yang terus menatap kearah calon istrinya membuat Revan berdehem untuk menyadarkan pria itu
"Dia calon istri gue!"
Darren berdecih, sejak kapan dirinya ini tertarik dengan wanita selain Reya. Harusnya Revan tau itu
"Saya juga tidak tertarik dengan calon istri kamu!" Darren mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Rani, ia malas mengingatnya
"Kita pulang aja sayang! Cowok ini gak normal, takutnya dia naksir kamu karena gagal dapetin istri orang!"
Darren menatap tajam, ia tahu jika Revan tengah mencoba menyinggung dirinya
Revan serta Rani benar-benar meninggalkan ruang perawatan Arlo, kini tinggallah Darren, serta Reya. Bagi Darren disana Reyhan tak terlihat sedikitpun
"Hay Arlo!" Darren mendekat kearah ranjang Arlo tanpa peduli dengan keberadaan pria yang merupakan ayah dari bocah laki-laki itu
"Hay om Darren" Sapa Arlo, Darren mendekat, melenggang tanpa rasa bersalah melewati Reyhan yang berdiri dihadapannya
"Om ada hadiah untuk Arlo!" Darren menyerahkan paperbag tersebut kepada putra Reya itu
"Apa ini om?"
"Buka aja!"
Wajah bocah enam tahun itu seketika berbinar begitu isi paperbag itu ia keluarkan
"Darren itu kan limited edition!" Reya ikut terkejut, Darren memberikan sebuah mainan robot keluaran terbaru, bahkan seri ini hanya dikeluarkan beberapa pieces saja di seluruh dunia
"Aku kan udah janji, kalau Arlo minum obatnya pinter akan diberi hadiah, dan ini hadiahnya!" Ujar Darren, Reyhan mengepalkan tangannya, senyuman yang diberikan pria tampan itu pada istrinya begitu manis
"Makasih yaa om Darren!"
"Sama-sama sayang!"
Darren yang terlampau senang bahkan memberikan mainan pemberian Revan pada sang Mama membuat Reya menggeleng
"Kamu dapet ini dari mana? Ini kan cuma ada beberapa pieces" tanya Reya
"Temen aku salah satu collector action figure dan dia baru aja beli ini dari luar negeri, jadi aku beli tiga kali lipat dari dia!" Jawab Darren dengan santainya, seolah uang sebanyak itu bukanlah masalah baginya
"Apa? Tiga kali lipat?"
"Apapun untuk Arlo, Reya. Uang segitu bukan masalah!" Ujarnya, tangannya mengusap lembut lengan wanita cantik itu
Reyhan yang tak tahan melangkah maju dan merangkul pinggang ramping istrinya itu, membuat Darren reflek menarik tangannya
"Terima kasih tuan Darren, saya dan istri saya sangat berterima kasih atas kebaikan tuan!" Reya menatap tajam wajah sang suami, ia tahu jika Reyhan sengaja melakukan ini
"Sama-sama Reyhan"
"Tapi setelah ini saya harap tuan tidak lagi bersikap baik kepada putra serta istri saya!" Reyhan sengaja menekan kata istri demi menyadarkan pria yang merupakan atasannya itu
"Jika kamu tidak bisa menjaga mereka dengan baik, maka saya jelas akan melakukannya!" Darren tersenyum mengejek
"Dan lain kali, kamu tidak perlu menggunakan kata lembur agar bisa bersenang-senang di luar sana!"
Rahang pria itu mengeras, Darren mengatakan itu saat Reya berada disana
"Sekarang Arlo makan dulu yaa sayang! Setelah itu Arlo minum obat" Reya melepaskan tangan sang suami dari pinggangnya, ia ingin menghindari pertengkaran dua pria itu
"Obatnya pait Mah!"
"Arlo sayang! Arlo minum obatnya yaa sayang! Kan om udah kasih hadiahnya" Mendengar bujukan Darren, bocah tampan itu mengangguk, seolah hanya kata-kata Darren saja yang membuatnya tunduk
"Mau om suapi?" Tanya Darren dan bocah tampan itu mengangguk
Darren telah duduk disisi tempat tidur, ditangannya terdapat sebuah mangkuk berisi bubur
"Pinter banget sih!" Darren mengusap kepala putra dari wanita pujaannya itu
Reyhan yang kesal mengambil alih mangkuk bubur tersebut dari tangan Darren
"Biar Papa aja yaa sayang!" Darren berdiri, tempat yang semula ia duduki kini terdapat Reyhan
"Maaf yaa Darren!" Bisik Reya pada sahabat-sahabatnya itu, Darren tersenyum seolah semuanya tidak masalah
"Pinter banget sih anak Papa!" Reyhan sengaja memperlihatkan kedekatannya bersama sang anak agar Darren sadar jika dia bukan bagian dari Reya dan putranya
"Arlo mau minum!"
"Minum?" Reyhan beralih menatap istrinya "Sayang, tolong minumnya!"
Sebenarnya ia bisa saja mengambilnya sendiri, tapi Reyhan ingin memperlihatkan kehangatan keluarga kecilnya itu pada Darren
Pria lancang itu harus mengubur perasaan cintanya pada sang istri, Reyhan tidak ingin jika istri serta putranya dimiliki oleh pria itu
Reya meraih gelas air, membantu putra semata wayangnya itu untuk minum, setelah itu Arlo minum obat dengan bantuan kedua orang tuanya
Darren sungguh merasa kesal, ingin rasanya ia melenyapkan pria yang telah menyakiti wanita pujaannya itu
"Reya!"
"Ya" Reya berbalik, menatap pria yang tadi memanggilnya
"Aku pulang dulu yaa, tadi cuma mampir sebentar sekalian makan siang soalnya!" Darren pamit, kesal juga saat melihat wanita yang kita cintai begitu dekat dengan suaminya
"Om Darren disini aja! Arlo suka kalau om disini!"
Darren tersenyum meledek kearah Reyhan "Maaf yaa sayang, tapi om harus kerja lagi! Besok om dateng lagi, Arlo mau dibawain apa?"
"Gak usah, robotnya bagus banget soalnya!" Tolak Arlo, Darren lalu mengusap kepala anak kecil itu dengan lembut
"Om pulang dulu yaa!" Pamit Darren "Aku pulang yaa Reya, kalau butuh apapun kamu langsung kabari aku!"
"Terima kasih Darren, terima kasih juga untuk robotnya, kamu WA aja harganya nanti aku ganti!" Reya benar-benar merasa tidak enak, terlebih Darren membayar tiga kali lipat untuk mendapatkan robot mainan itu
"Kalau uangnya kamu ganti artinya bukan hadiah Reya"
"Tapi aku gak enak"
"Enakin aja!" Keduanya tertawa lalu Darren keluar dari ruangan tersebut, sekarang tinggllah keluarkan kecil itu saja
"Robotnya disimpen dulu yaa Arlo! Arlo harus bobo!" Ujar Reyhan, ia kesal karena sejak tadi putranya tak melepas robot pemberian Darren itu
"Gak mau, Arlo mau bobo sama robotnya!" Arlo merubah posisi yang semula duduk menjadi berbaring lalu Reya membantu menyelimuti sang putra
"Dia mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk mengambil simpati kamu!" Sarkas Reyhan membuat Reya mendengus