NovelToon NovelToon
Penantang : Dari Sekolah

Penantang : Dari Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Action / Duniahiburan / Fantasi
Popularitas:791
Nilai: 5
Nama Author: Xdit

Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memburu Rivaldo - Selesai

Di lantai dua, pertarungan Kris dan Hans masih berlanjut. Langkah kaki Hans terdengar tergesa saat ia berlari menjauh, memilih lorong sekolah yang panjang dan terbuka sebagai arena berikutnya.

Dinding kelas berjajar rapi di kiri kanan, lantai memantulkan cahaya sore yang suram. Melihat itu, Kris justru tersenyum tipis, tubuhnya sedikit condong ke depan, seolah rasa sakit barusan tidak pernah ada.

“Kau menyiapkan panggung ini untuk ku?, kau baik sekali.”

Nada suaranya santai, meledek, namun kata-kata itu terasa dingin.

Tubuh Kris tampak tidak sepenuhnya tegak, bahunya sedikit turun, napasnya berat, tapi sorot matanya tajam seperti bilah pisau.

Hans berhenti di tengah lorong, menarik napas panjang sambil memasang kuda-kuda.

Telapak kakinya mencengkeram lantai, tangannya terangkat siap memukul. Ia masih ingin melanjutkan pertarungan ini, masih yakin bisa menang, meski dadanya naik turun tak beraturan.

Tanpa peringatan, Kris maju. Bukan berlari, bukan melompat, melainkan seperti menghilang dari tempatnya berdiri. Dalam sekejap mata, jarak di antara mereka lenyap hanya kurang dari beberapa detik.

Hans hanya sempat membelalakkan mata ketika Kris sudah berada di sampingnya, satu tangan mencengkeram pundaknya dengan kuat, tekanan itu membuat tubuh Hans refleks menegang.

lalu Kris mendekat kan mulutnya ke telinga Hans , seolah tidak terjadi apapun.

“Tapi maafkan aku, aku tidak suka bertarung dengan serangga..”

Kata-kata itu diucapkan pelan, nyaris berbisik, namun justru itulah yang membuatnya menusuk. Hans bisa merasakan penghinaan itu lebih menyakitkan daripada pukulan mana pun.

Amarah meledak. Hans mengayunkan tinjunya ke wajah Kris, penuh tenaga dan emosi. Namun pukulan itu hanya menghantam udara kosong. Kris sudah bergeser, tubuhnya berputar ringan, gerakannya mengalir seperti tarian yang dingin dan kejam.

Dalam putaran itu, tumit Kris melesat, menghantam rahang kanan Hans dengan presisi sempurna. Suara benturan terdengar singkat dan padat.

Tubuh Hans terangkat sedikit sebelum ambruk ke lantai lorong, matanya terpejam, kesadarannya padam seketika.

Kris berdiri tegak di atas Hans yg pingsan.

"Sudah selesai? Hanya itu kemampuanmu?. Kau runtuh bahkan sebelum aku mengingat namamu."

Lalu Kris berjalan menuju lantai Tiga ,dia menatap Hans yang terbaring pingsan.

"serangga Lemah sepertimu pantasnya bersyukur karena dikalahkan oleh ku."

...----------------...

Di lantai tiga, suasana berubah drastis. Tujuh orang yang tadi mengerubungi Riko kini tergeletak berserakan di lorong, beberapa menabrak dinding kelas, sisanya tertelungkup di lantai dengan napas terengah.

"Apakah dia ini benar-benar manusia!!?." kata Salah satu orang tersebut sebelum pingsan

Riko berdiri di tengah-tengah mereka, bahunya naik turun, tapi sorot matanya tenang. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi goyah. Pertarungan barusan seperti terlalu mudah, baginya.

“Ini tidak sesusah tadi…” gumamnya pelan.

Ia mengepalkan tangan, merasakan sensasi aneh merambat dari telapak hingga ke lengannya.

 “Ada yang berbeda dengan tubuh ku.”

Keringat mengalir di pelipisnya, rasa panas. Panas yang tidak wajar, seperti api kecil yang menyala dari dalam dagingnya sendiri.

Riko melangkah maju, melewati tubuh-tubuh yang sudah tidak bergerak. Setiap langkah terasa berat, namun tekadnya mendorongnya terus. Pandangannya tertuju ke arah tangga menuju lantai empat.

“Rio…tunggu lah!."

katanya lirih. Ia harus sampai ke sana. Apa pun yang terjadi, ia tidak boleh tertinggal.

Namun baru beberapa langkah, tubuhnya mendadak berhenti merespons. Otot-ototnya menegang seketika, lalu rasa sakit itu datang. Bukan seperti dipukul, bukan seperti ditusuk.

 Rasanya lebih ke arah tubuhnya sendiri yang memberontak.

“Arghhhkk!!!!!”

Teriakannya menggema di lorong kosong. Riko mencengkeram dadanya, punggungnya membungkuk tajam. Rasa panas tadi berubah menjadi nyeri yang brutal, seperti ada sesuatu yang mencabik-cabik dari dalam, memaksa keluar.

“Apa ini!!!?”

Napasnya terputus-putus, pandangannya berkunang. Dunia di sekelilingnya terasa berputar, dinding kelas seolah menjauh dan mendekat secara bergantian. Ia berusaha berdiri tegak, tapi kakinya bergetar hebat.

Setetes darah jatuh ke lantai. Lalu setetes lagi. Darah mengalir dari hidungnya tanpa bisa ia tahan. Riko terduduk, tubuhnya membungkuk, satu tangan menahan lantai agar tidak roboh sepenuhnya.

Giginya bergemeletuk, bukan karena dingin, melainkan karena rasa sakit yang terus meningkat.

Pikirannya kacau. Ingatan, emosi, amarah, tekad. semuanya bercampur jadi satu. Seolah ada sesuatu di dalam tubuhnya yang baru saja terbangun, tapi belum siap untuk dikendalikan.

Tenaganya akhirnya habis. Kepala Riko terkulai, tubuh besarnya jatuh perlahan ke samping. Di lorong lantai tiga yang sunyi, ia terbaring tak sadarkan diri, napasnya masih ada, tapi kesadarannya tenggelam dalam gelap.

"Aku harus pergi..."

Tangannya masih mencoba untuk bangkit ,tapi pada akhirnya itulah batasan nya.

...----------------...

Kris baru saja tiba di lantai tiga, langkahnya terhenti seketika. Matanya membesar, napasnya sempat tersangkut di tenggorokan. Lorong sekolah itu berubah seperti medan perang.

Tujuh orang terkapar dalam kondisi mengenaskan, darah tercecer di lantai dan dinding. Ada yang punggungnya menghantam tembok hingga tubuhnya tersangkut miring, ada yang tergantung lemas di pagar balkon, dan sisanya tergeletak tak bergerak dengan wajah babak belur.

Kris terdiam beberapa detik, mencoba mencerna pemandangan gila di depannya.

“Apa apaan dia ini…?”

gumam Kris pelan, nadanya campur antara kesal dan kagum.

“Dia melakukan ini sendirian…?!”

Pandangan Kris lalu turun ke arah tangga menuju lantai empat. Di sana, Riko terduduk pingsan, tubuhnya bersandar lemah, kepala tertunduk, napasnya masih naik turun tapi jelas tak stabil. Darah kering terlihat di sekitar hidungnya.

Kris mendekat cepat, berlutut di depan Riko, lalu merangkul tubuh besar itu dengan susah payah.

“Dasar bodoh… Kau memaksakan dirimu."

katanya sambil menghela napas panjang. Dengan sedikit tenaga Kris mengangkat Riko dan mulai membawanya naik menuju lantai empat, wajahnya kini serius, tidak ada lagi nada bercanda.

"Ini berat juga.."

Katanya, Kris mulai malas.

Di lantai empat, Rio terhempas ke lantai setelah terpental oleh pukulan tadi. Ia berguling sekali sebelum berhenti, lalu perlahan bangkit dengan satu lutut menyentuh lantai.

Tangan kanannya mengusap darah yang mengalir dari sudut mulutnya. Wajahnya tetap tenang, padahal baru saja terhempas dari pukulan Kariel.

“Apa itu?”

ucap Rio dingin.

“Itu tindakan pengecut?”

Ia berdiri sepenuhnya, menepuk-nepuk seragam dan almamaternya yang penuh debu, seolah membersihkan gangguan kecil saja. Tatapannya lalu terangkat, mengarah ke depan, menatap Kariel dan Rivaldo tanpa sedikit pun gentar.

“Hei,”

lanjut Rio dengan suara datar namun menusuk.

“Kalau tahu kau sepengecut ini… aku bahkan tidak akan repot-repot melawanmu.”

Kalimat itu seperti api yang disiram ke bara. Kariel langsung menggeram, urat-urat di pelipisnya menonjol. Tanpa aba-aba, ia melesat maju, langkahnya cepat, tinjunya mengarah lurus ke wajah Rio.

Namun pukulan itu hanya menghantam udara. Rio melompat ringan, tubuhnya naik melewati Kariel, bayangan kakinya melintas di atas kepala lawan. Dalam satu putaran cepat, tumit Rio menghantam sisi kepala Kariel dengan keras.

Tubuh Kariel langsung terjerembap, kepalanya membentur lantai balkon dengan suara berat.

“Rasakan Sendiri gerakan yang kau gagalkan itu..'

kata Rio dingin, matanya tenang seperti permukaan danau tanpa ombak.

Tubuh Rio belum sepenuhnya turun.

Di udara, ia melipat kedua kakinya, lalu menjatuhkan diri tepat ke arah Kariel. Kedua dengkulnya menghantam tubuh Kariel yang sudah jatuh, membuat lantai di bawah mereka bergetar pelan.

Debu kembali naik ke udara. Rio mendarat dengan stabil di atas Kariel, napasnya teratur, ekspresinya kosong.

"Satu... selesai."

Rivaldo hanya terdiam melihat Rio jadi begitu kuat.

...----------------...

Beberapa hari sebelum pertarungan itu terjadi, sore turun perlahan di sebuah sudut sekolah yang sepi. Rivaldo berdiri menyandar di pagar balkon, kedua tangannya terlipat santai, matanya memandang jauh ke halaman yang mulai lengang.

Angin menggerakkan seragamnya pelan, membawa suasana tenang yang terasa aneh bagi orang-orang di sekitarnya.

Di belakangnya, beberapa anak buah berkumpul. David melangkah sedikit ke depan, menyandarkan bahunya ke dinding sambil menatap Rivaldo dengan ekspresi ragu. Suaranya memecah keheningan.

"Jadi bagaimana?..apakah kau akan melepaskannya?"

tanya David, kepada Rivaldo yang sedang berdiri sambil bersandar.

Rivaldo tidak langsung menjawab. Ia menghela napas pelan, lalu memejamkan mata.

Senyum kecil muncul di wajahnya, bukan senyum mengejek, melainkan sesuatu yang jauh lebih lembut.

"Ya aku sudah lama melindunginya Selama ini. Mungkin ini lah saatnya..."

Nada suaranya tenang, hampir seperti orang yang sedang mengingat masa lalu.

Mata Rivaldo tertutup dia tersenyum tulus.

 "Saat Rio bilang, akan jadi 'Penantang', pada Hari itu aku sangat senang, Janji ku pada orang tuanya sudah ku tepati, Mungkin ini sudah cukup."

Beberapa anak buah saling pandang, suasana jadi canggung. Kariel yang sejak tadi diam akhirnya melangkah maju, berdiri sejajar dengan Rivaldo. Tatapannya tajam, lebih serius dari biasanya.

"Kau merundungnya untuk melindunginya selama ini. Tapi siapakah yang melindungi mu?"

tanya Kariel pada Rivaldo.

Rivaldo membuka matanya perlahan. Ia menoleh sedikit ke arah Kariel, namun tidak sepenuhnya menghadap. Angin kembali berembus, membuat suasana terasa semakin sunyi.

"Melindungi siapa?, Rio?, aku tidak melindunginya,aku hanya memegang sebuah janji..."

Senyum tulus itu kembali muncul di wajahnya, tanpa beban, tanpa penyesalan.

David menunduk pelan, seolah baru memahami sesuatu yang selama ini luput dari pikirannya. Anak buah lain terdiam, tidak ada yang berani menyela. Untuk sesaat, Rivaldo tidak terlihat seperti pemimpin yang ditakuti, melainkan seseorang yang sedang menutup satu bab panjang dalam hidupnya.

Rivaldo kembali memandang ke kejauhan, ke arah gedung sekolah yang berdiri diam. Dalam hatinya, ia tahu, saat janji itu dilepas, tidak ada lagi perlindungan, tidak ada lagi alasan.

"Aku merundung nya untuk melindungi Rio dari para orang Itu,Dan itu hanya untuk sebuah janji...."

Rivaldo tersenyum lalu ingin tertawa pelan.

"Ini kisah yang cukup lucu untuk di tertawakan...bukan?."

Rivaldo tertawa bahagia di ikuti dengan temannya, Matahari sore yang indah itu di ikuti oleh tawa Rivaldo.

......................

kembali ke saat ini..

Rio melompat ke arah Rivaldo dengan satu dorongan penuh tenaga. Tubuhnya berputar di udara, lalu tendangan keras menghantam dada Rivaldo tanpa ampun.

Suara benturan terdengar berat, Rivaldo terpental dan jatuh tergeletak di lantai atap, napasnya tercekat seketika.

Rio mendarat tepat di sampingnya. Tanpa ragu, ia membungkuk, mencengkeram kerah seragam Rivaldo dengan tangan kirinya, menarik tubuh itu setengah terangkat dari lantai.

Tangan kanannya mengepal erat, urat-urat menegang, bahunya bergetar menahan amarah yang sudah lama dipendam.

"Inilah pembalasan ku..!"

Pukulan pertama mendarat di wajah Rivaldo. Disusul pukulan kedua, ketiga, dan seterusnya. Setiap hantaman penuh dendam, penuh luka lama yang akhirnya menemukan jalannya keluar.

Kepala Rivaldo terayun ke samping, darah mengalir dari sudut bibirnya, tubuhnya tak lagi memberi perlawanan.

Rivaldo hanya bisa menerima. Tangannya terkulai, matanya setengah terbuka, napasnya semakin berat.

"Kau-..."

Ia mencoba berbicara, namun suaranya terputus.

Tinju Rio kembali menghantam, memaksa kata-kata itu tenggelam bersama rasa sakit.

Tatapan Rio kosong. Tidak ada amarah yang meledak, tidak ada kepuasan, hanya kehampaan yang dingin.

Tangannya terus bergerak seolah tubuhnya berjalan sendiri, seolah pikirannya sudah berhenti mendengar dunia. Pukulan demi pukulan mendarat tanpa jeda.

"Kau-..Sudah...-kuat yah....."

Suara Rivaldo keluar lirih dan lemah, nyaris tenggelam oleh napasnya sendiri.

"Apa yang kau katakan?..,aku tidak bisa mendengar nya."

Rio tidak tersenyum, tidak pula mengerutkan dahi. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, sementara tinjunya kembali menghantam wajah Rivaldo.

Di kejauhan, Arya berlari mendekat. Langkahnya tergesa, matanya membesar melihat pemandangan di depannya.

Ia sudah mengetahui kebenarannya, semua yang selama ini tersembunyi. Fariel telah menceritakan segalanya saat ia dikalahkan. Dan kini, melihat Rio seperti ini,

Arya sadar satu hal.

"Ini akan berbahaya Jika di biarkan!."

Rio hendak kembali menghujani Rivaldo dengan pukulan berikutnya, namun tiba-tiba lengannya tertahan.

Arya sudah berada di belakangnya, memeluk tubuh Rio dengan kuat, menahan gerakannya sebelum tinju itu sempat jatuh lagi. Nafas Arya berat, dadanya naik turun, tapi pelukannya sama sekali tidak longgar.

"Apa ini!!."

Rio menggeram, tubuhnya menegang seperti binatang terluka yang terpojok. Otot-ototnya berkontraksi, amarahnya mendidih, seolah sentuhan itu justru menyulut api baru.

"Rio!!, Hentikan dulu, dengarkan lah penjelasan ku!."

Suara Arya terdengar tegas namun penuh urgensi. Ia tahu satu detik keterlambatan saja bisa berakhir fatal, bukan hanya untuk Rivaldo, tapi juga untuk Rio sendiri.

Namun Rio tidak mendengar. Atau lebih tepatnya, ia menolak mendengar.

Tubuhnya berputar tiba-tiba, kaki terangkat dan menendang ke belakang dengan refleks brutal. Tendangan itu mengarah lurus ke wajah Arya yang berada tepat di belakangnya. Dengan susah payah Arya menghindarinya dan mundur kebelakang.

"Cepat sekali!!."

Gumam Arya

"Kau menghalangi ku!."

Sorot mata Rio menyeramkan, pupilnya menyempit, wajahnya kosong namun penuh tekanan.

Rasa takut, amarah, dan dendam yang selama ini terkubur seperti melebur menjadi satu, menguasai seluruh tubuhnya.

Rivaldo yang tergeletak di lantai menatap pemandangan itu dengan napas tersengal. ketakutan murni menyelimuti dirinya. Bukan karena pukulan, melainkan karena melihat Rio yang seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Di saat yang sama, Kris baru saja tiba di atap sambil merangkul tubuh Riko yang pingsan. Langkahnya terhenti seketika ketika melihat Rio menyerang Arya. Matanya membesar, napasnya tertahan.

"Apa yang terjadi?!."

Tanpa berpikir panjang, Kris menurunkan Riko dengan hati-hati ke lantai. Tangannya menahan bahu Riko agar tidak terjatuh, lalu ia menoleh tajam ke arah Rio yang masih mengamuk.

"Kau di sini sebentar, Riko, biar aku yang mengatasi mereka."

Kris langsung berlari ke arah Rio dan Arya. Tatapannya dingin, fokus, dan serius.

Kris menghentikan langkahnya tepat di samping Arya, matanya bergerak cepat antara Rio yang mengamuk dan Rivaldo yang terkapar.

 Keningnya berkerut, jelas ia tidak memahami situasi yang baru saja berubah arah ini.

"Apa yang terjadi?."

Kris mendekati Rio dan Arya, kebingungan bercampur heran karena yang saling berhadapan justru dua orang yang seharusnya berada di sisi yang sama.

"Kris, nanti akan ku jelaskan...! Untuk saat ini lebih baik kita menghentikan nya."

Suara Arya terdengar berat. Keringat mengalir di pelipisnya, tekanan yang menyesakkan dari sosok di depan mereka.

Rio berdiri dengan tubuh sedikit condong ke depan. Matanya gelap sepenuhnya, hitam tanpa pantulan cahaya, seperti lubang kosong yang menelan segalanya.

Saat ia bergerak satu langkah saja, niat membunuhnya menyebar liar, menekan udara di sekeliling mereka. Rivaldo, Arya, dan Kris sama-sama berkeringat dingin, napas mereka berat, insting bertahan hidup berteriak keras.

Rio yang mereka lihat saat ini bukanlah Rio yang biasanya. Tidak ada emosi manusia di wajahnya, tidak ada keraguan, hanya dorongan untuk menghancurkan apa pun yang ada di hadapannya.

"Tekanan apa ini!!!."

Kris tertawa kecil, tawa tipis yang jelas dipaksakan.

"Ketua..!, kau yakin akan menaklukkan nya."

Tanya Kris kepada Arya, sambil mengelap keringat dengan lengannya.

"Aku tidak yakin..!!!"

jawab Arya jujur, tanpa basa-basi.keyakinan tenangnya runtuh di hadapan satu orang.

Saat Rio hendak bergerak lagi, tubuhnya tiba-tiba oleng. Langkahnya terhenti, bahunya turun, lalu seluruh badannya ambruk ke depan. Ia pingsan begitu saja, tergeletak tak berdaya di lantai atap sekolah, tepat di depan Arya dan Kris.

Keheningan jatuh seketika. Tekanan menghilang seperti kabut yang tersapu angin. Rivaldo terengah, Arya mengendurkan bahunya, dan Kris menarik napas panjang.

"Huh… huh… Apa itu tadi..."

gumam Kris, masih mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri.

"Hahhh ." Arya membuang nafas panjang."Akhirnya..."

Arya mengusap wajahnya dengan satu tangan.

"Mungkin tadi karena dirinya benar-benar marah dan tenggelam dalam emosi. Aku juga menghalangi balas dendam nya… itu mungkin yang membuat kesadarannya tenggelam sepenuhnya."

Di sisi lain, Riko yang sudah sadar sejak tadi menatap Rio dengan ekspresi rumit. Pemandangan itu terasa terlalu familiar baginya.

"Aku pernah melihat kejadian itu satu kali… tidak ku sangka aku melihatnya untuk kedua kalinya,"

ucapnya pelan.

"Yang pertama adalah saat adiknya di culik."

Tidak ada yang langsung menanggapi. Angin sore menyapu atap sekolah, sementara mereka semua berdiri diam.

Riko berdiri dan menghampiri Rio yang terbaring lemah.

“Dia biar aku saja yang membawanya pulang.”

Tanpa menunggu jawaban, ia mengangkat tubuh Rio dengan hati-hati. Arya dan Kris menatap pemandangan itu dengan perasaan campur aduk, lalu pandangan mereka beralih ke satu sosok yang masih tergeletak di atap.

Riko mendekati Rivaldo dan berdiri di sampingnya. Wajahnya dingin, suaranya tegas.

“Ini sudah berakhir. Lebih baik kita tidak menimbulkan masalah lagi di masa mendatang.”

Tidak ada ancaman berlebihan, namun maknanya jelas. Setelah itu, Riko berbalik dan berjalan pergi bersama yang lain.

"Aku bukan Pria yang akan mengingkari janji ku..."

Kata Rivaldo lirih lalu dia pun tergeletak, layaknya orang yang sudah pasrah dan kalah.

Mereka berhenti di gerbang sekolah. Langit sore terbentang luas, matahari perlahan tenggelam, meninggalkan warna jingga yang hangat. Angin berembus pelan, membawa ketenangan setelah kekacauan panjang yang baru saja terjadi.

“Itu… indah…”

suara Rio muncul tapi terdengar lemah. Ia sudah sadar, namun tubuhnya tak lagi bisa digerakkan. Matanya menatap langit, seperti baru pertama kali melihat dunia dengan tenang.

“Ya,.....Memang indah."

Arya,Riko dan Kris mengucapkan nya secara bersamaan.

mereka berempat menatap langit tanpa berkata apa-apa.

Rasanya tenang, tidak ada pertarungan, tidak ada dendam, hanya keheningan yang jujur.

Mereka pun berjalan pulang bersama. Langkah mereka semakin menjauh, tubuh mereka perlahan berubah menjadi siluet di bawah cahaya senja. Hari itu pun berakhir yang menjadi malam.

1
DANA SUPRIYA
kasihan Rio, sabar ya walaupun sabar itu membuat hati kesal
lyks kazzapari
ya saya bantu dg like dan hadiah 😄
Rdt: wah makasih banyak,aku jadi ngerepotin kamu jadinya 😅
total 1 replies
Hans_Sejin13
jangan lupa bantu saya kak
Rdt: oke ,udah ku bantu
total 1 replies
Rdt
peak
Anisa Febriana272
Mampir, jangan lupa mampir juga ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!