Hidup Anaya tidak pernah beruntung, sejak kecil ia selalu di jauhi teman-temannya, dirundung, di abaikan keluarganya. kekacauan hidup itu malah disempurnakan saat dia di jual kepada seorang CEO dingin dan dinyatakan hamil setelah melakukan malam panas bersama sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa ayah mereka?
Setelah anak-anak kembali ke tikar, Farah mengambil handuk kecil lalu menyeka rambut keduanya yang basah karena air laut.
"Mainnya pelan-pelan ya, jangan jauh-jauh dari mama." ucapnya sambil membersihkan pasir di kaki Angkasa.
"Iya, ma." jawab angkasa
Anaya hanya mengangguk sambil menyuapkan biskuit ke mulutnya sendiri. Bermain air membuatnya perut mungilnya lapar.
Farah tersenyum, ia menyiapkan beberapa cemilan untuk mereka makan.
"Pelan-pelan, sayang." Ujar Farah saat melihat mulut Anaya penuh dengan biskuit.
Anaya hanya tersenyum sambil mengunyah biskuit di mulutnya.
"Cudah cepelti ikan buntal." Sindir angkasa melihat kedua pipi sang adik mengembung.
Anaya tak menghiraukan ucapan abangnya, ia begitu lapar sehingga tak memperdulikan apapun saat ini.
Diam sesaat sebelum Anaya berkata, "Ma, tadi kita beltemu cama nenek tantik. Nenek nya baik, loh."
"Telus, kata nenek nya kita beldua milip cama cucunya. Kacian nenek nya ma, acu lasa nenek itu Lindu cama cucu na." Lanjutnya dengan ekspresi iba.
Deg!
Tiba-tiba saja jantung Farah berdegup kencang. Namun, ia berusaha menutup kegelisahan itu.
Ia tersenyum menatap kedua anak kembarnya. "Nenek? Siapa?" tanya Farah sambil membersihkan sisa makanan di bibirnya.
"Yang tadi pakai topi lebal itu." jelas Anaya sambil menunjuk arah wanita paruh baya tadi.
Farah mengikuti arah telunjuknya, mata nya menatap tajam ke tepi pantai dimana anak-anak bermain tadi.
"Mana? Kok ngak ad?"
"Cudah pulang kali, ma." Sahut angkasa Santai.
"Yah.... Padahal acu belum celecai main." ucapnya menghela nafas kecil.
"Mungkin nenek nya ada urusan, sayang. kalau berjodoh lain kali pasti bertemu lagi." ucap Farah mencoba untuk tetap tersenyum sambil mengusap rambut putrinya.
Farah melanjutkan kegiatannya, Entah kenapa tiba-tiba ada perasaan aneh yang muncul begitu saja.
~
Wanita paruh baya tadi berjalan di tepi pantai dengan pikiran yang sulit dijelaskan.
Wajah dua anak kembar tadi terus mengusik pikiran nya. Ia berhenti sejenak menatap ombak yang menyentuh kakinya.
"Mirip sekali.... sungguh mirip, sampai aku merasa melihat Jackson kecil." gumamnya
"Cicit dan cucu menantuku sudah menghilang tiga tahun lebih. Apa mungkin ada kebetulan yang seperti ini?"
Pikirannya terus bergulung memikirkan kemungkinan anak-anak itu adalah cicitnya yang hilang.
"Aku harus memberitahu Jack, dia harus tahu dan melihat sendiri anak-anak itu. Tanpa tes DNA pun aku percaya dia cicitku." gumamnya lagi.
"Aku harus memastikan lagi"
Wanita bergegas kembali ke tempat dimana anak-anak tadi bermain sebelum ia pulang ke penginapan.
Beberapa saat kemudian suara langkah kaki mendekat.
"Permisi,"
Farah menoleh. Wanita paruh baya dengan topi lebar di kepalanya itu berdiri tepat di hadapannya.
Senyumnya ramah, namun matanya seolah menyimpan sesuatu.
Farah membalas senyuman itu ramah, "Ibu....Maaf, apa ibu yang tadi bermain sama anak-anak saya?" tanya Farah sopan.
Wanita itu mengangguk pelan, "Pantas saja mereka begitu ramah dan sopan, ternyata itu datangnya dari kamu." puji wanita itu.
Farah hanya tersenyum saja, ia menatap anak-anak nya lalu kembali menatap wanita itu.
"Maaf, bu, Apa anak-anak saya ada buat salah? Mereka itu memang sangat nakal."
Wanita itu langsung menyela nya, ia menggelengkan kepala. "Tidak... Malah mereka adalah anak-anak yang manis dan lucu." ucapnya sambil menatap anak-anak yang sedang bermain pasir.
Farah tersenyum tipis, wanita itu perlahan duduk di tikar dan wajahnya mulai serius.
Suaranya melembut, "Maaf, boleh saya bertanya sesuatu, nak?"
Farah menahan nafas, perasaannya mulai tak enak. "Boleh," jawab Farah ragu.
Wanita itu menatap si kembar yang sedang bermain pasir, "Anak-anak ini... Kalau boleh saya tahu... Siapa ayahnya?"
Pertanyaan itu membuat Farah terdiam, seluruh tubuhnya menegang.
Farah menurunkan botol minum yang tadi ia pegang, "Maaf, Bu... Pertanyaan itu cukup personal."
Wanita itu menunduk sebentar lalu menatap kembali. Tatapannya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.
"Saya tahu ini terdengar aneh. Tapi...Wajah mereka, sikap mereka, semuanya sangat mirip dengan cucu saya."
Deg!
Farah menelan ludahnya sendiri, nafasnya tercekat, tangannya mengepal kuat tanpa sadar.
"Cucu menantu dan cicitku pergi tiga tahun yang lalu. Sampai sekarang kami belum bisa menemukan keberadaan nya."
Farah membeku. Jantungnya semakin tak karuan.