Namanya Diandra,wanita berusia 27 tahun sudah menikah dengan suaminya yaitu Bagas berusia 30 tahun,dan usia pernikahannya sudah sampai di 4 tahun. Tetapi hingga kini mereka belum dikarunia seorang anak. Diandra dan Bagas bersabar karena mereka percaya semua itu adalah kehendak Tuhan. Tetapi tiba tiba Diandra merasa ada yang berubah dari suaminya terutama sikap Bagas. Diandra mencoba menepis perasaannya itu dan masih berpikir positif pada suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yasmin Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Memulai Kembali
Diandra bangun dari tidur siangnya, setelah pulang dari pengadilan agama dia langsung tertidur sampai sore menjelang.
Pikiran dan hatinya mulai merasa tenang saat ini. Diandra bangkit dari tempat tidurnya kemudian menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai dan berpakaian Diandra mengambil ponselnya yang sedari tadi dia offkan. Membuka kunci, kemudian menyalakan data. Dan tampak deretan pesan whatsapp dari Bagas masuk, begitu juga panggilan tak terjawab.
Diandra tidak membaca pesan pesan itu, malah menghapusnya karena dia benar benar tidak ingin lagi memperdulikan Bagas.
Kemudian Diandra membuka aplikasi pesan makanan, setelah mencari cari makanan yang yang ingin dia makan sore itu barulah dia memesan dan akan diantarkan oleh kurir.
Ponsel Diandra berdering lagi, Diandra menatap layar, tampak nama Bagas tertera. Sebenarnya Diandra sangat enggan untuk menjawab, tapi pada akhirnya dia harus menjawab demi mengakhiri sikap Bagas.
"Ada apa?" tanya Diandra dingin.
"Di,,,aku menyesal"
"Gimana bisa kamu bilang seperti itu? Kamu egois ya? Setelah apa yang kamu lakukan ke aku, sekarang kamu mau menyakiti Sinta juga? " ucap Diandra geram.
"Sejujurnya aku gak mencintai sinta" jelas Bagas.
"Ya itulah bodohnya kamu, sebagai laki laki kamu gak bisa menjaga iman kamu, dan sekarang dengan entengnya kamu menyesali semua perbuatanmu, gimana itu nasib Sinta?"
"Lagipula kamu sebentar lagi akan punya anak dari dia, bukannya itu keinginan kamu?"
"Aku khilaf Di"
"Lalu kamu mau melepas tanggung jawabmu? Jahat banget kamu ya? Seolah olah kamu gak menginginkan anak itu. Padahal saat berbuat dengan Sinta kamu gak memikirkan resikonya"
"Bukan begitu Di, aku akan tetap bertanggung jawab atas anak yang dikandung Sinta, tapi aku gak mencintai Sinta Di, aku hanya mencintai kamu" Bagas terus mencoba menjelaskan perasaannya pada Diandra. Tapi tentu saja Diandra sudah tidak akan pernah percaya lagi. Dia bercerai juga karena sudah keputusannya yang paling tepat, laki laki seperti Bagas memang harus ditinggalkan. Buktinya sekarang terlihat lagi dia berkata seolah tidak mencintai Sinta, sedang hubungan mereka sudah sangatlah jauh.
"Sudahlah aku sudah gak ingin mendengar apapun darimu, terima saja apa yang sudah kita jalani sekarang ini. Kita sudah bercerai, aku tidak mengharapkan apapun lagi darimu, aku tidak akan pernah mengusik hidupmu, aku tidak ingin lagi menganggap kamu pernah ada, walaupun aku tahu itu mustahil. Tapi caramu menyakitiku benar benar membuatku gak bisa memaafkanmu" jelas Diandra sambil berusaha menahan rasa sesak didadanya.
"Aku mencintaimu Di" ucap Bagas lirih dari ujung telpon.
Diandra menahan nafasnya, sesak sekali mendengar kalimat yang sudah tidak ingin dia dengar lagi. Sesakit ini rasanya.
Diandra harus benar benar bisa melepaskan Bagas, menjauh dari Bagas. Diandra menghapus semua akses yang bisa menghubungkannya dengan Bagas. Dia akan memblokir semua kontak dan media sosmednya dan akan mengganti nomor whatsapp nya dengan nomor yang baru.
Dan seketika Diandra mematikan pembicaraannya dengan Bagas, kemudian segera saja dia memblokir kontak Bagas agar Bagas tidak bisa lagi menghubunginya.
Setelah itu Diandra cepat membuka sosmednya yang lain, untung saja dia bukan orang suka bersosial media, dia hanya memiliki satu sosial media, kemudian mencari kontak Bagas dan segera memblokirnya juga, kemudian dia juga menonaktifkan sementara akunnya agar Bagas tidak bisa mencoba menghubunginya lagi dengan cara apapun. Dan seketika Diandra merasa tenang, dia tidak perduli dengan Bagas lagi.
"Aku tidak mungkin berada di sini untuk saat ini" guma Diandra pelan.
" Bagas pasti bakal kemari mencariku, aku tahu dia bukan orang yang gampang menyerah, aku harus pergi dari sini, jauh dari tempat ini, memulai lagi hidupku dengan kehidupanku yang baru" gumam Diandra.
Diandra memutuskan bertemu dengan Nina dan akan membicarakan hal ini pada Nina. Diandra ingin Nina mendukung rencananya.
Malamnya Diandra mengunjungi Nina di rumahnya, Nina sedang bercengkrama dengan keluarga kecilnya saat dirinya tiba di rumah Nina.
"Hai Di, yuk masuk" ajak Nina saat Diandra sudah berada diambang pintu. Diandra tersenyum dan segera masuk kedalam mengikuti Nina dari belakang menuju langsung ke ruang tengah.
Tampak suami Nina, Tomi sedang bermain dengan kedua anak mereka.
"Hallo Di,, apa kabar?" tanya Tomi menyapa sambil menghampiri Diandra dan menjabat tangan Diandra.
" Baik Tom" jawab Diandra sambil tersenyum. Kemudian Diandra menghampiri kedua putri Nina yang tampak malu malu melihat Diandra.
"Hai sayang,,," sapa Diandra kemudian sambil merengkuh kedua anak kecil itu, dan tampak dia mengeluarkan 2 kotak hadiah untuk kedua gadis mungil itu.
"Ini buat anak anak cantiknya mama Nina yaa" seru Diandra sambil menyerahkan hadiah itu.
Kedua anak Nina menyambut senang dan tertawa tawa.
"Terimakasih tante Didi,,," ucap mereka kemudian memeluk Diandra erat.
"Kamu ini apa apaan sih Di, mau ke sini aja harus bawa hadiah segala" seru Nina tampak tidak enak dengan sikap Diandra.
"Ya gak papa lah Nin,,,jarang jarang juga aku ketemu mereka" jawab Diandra.
"Kamu sudah makan?" tanya Nina sambil berjalan kearah meja makan diikuti Diandra.
"Sudah" jawab Diandra singkat.
"Aku mau ajak kamu makan bareng, kebetulan aku masak agak banyak nih" jelas Nina sambil menaruh piring bersih diatas meja.
"Aku masih kenyang, sebelum kesini aku makan dulu tadi" jelas Diandra lagi sambil duduk dikursi.
Nina tersenyum mendengar penjelasan Diandra dan ikut duduk bersama Diandra dikursi meja makan.
"Nin,,," seru Diandra sambil menatap Nina.
"Yaa,, ada apa Di?" tanya Nina pelan.
"Aku sudah memutuskan untuk pindah dari kota ini"
Nina sedikit terhenyak mendengar penuturan Diandra.
"Maksudnya?" tanya Nina kemudian.
"Aku harus pindah, aku tahu Bagas masih terus menggangguku, dan aku gak mau itu berlarut larut"
Nina diam, masih menanti penjelasan Diandra.
" Dia terus saja menelponku, dan aku sudah memblokir semua akses dia, dan aku juga berniat mengganti nomor telponku"
"Apa mau Bagas sebenarnya?" tanya Nina geram.
" Entahlah Di,, aku juga bingung. Dia sudah mendapatkan keinginannya, aku sudah melepas dia agar dia bisa melanjutkan hidupnya bersama Sinta, aju sudah bisa menerima keadaan ini, tapi kenapa dia masih terus saja mengusikku, aku bener bener terganggu dengan tingkahnya itu"
" Kamu mau ke mana Di?" tanya Nina pelan.
"Yang jelas aku harus keluar dari kota ini, jauh dari sini"
"Aku sudah gak punya orang tua, gak mungkin aku kembali ke kampung orang tuaku,,dan aku gak mau menyusahkan keluarga dari kedua orang tuaku" jelas Diandra.
"Aku hanya mau lepas dari Bagas, aku gak mau tahu lagi soal dia Nin"
"Ya Di, aku paham, apapun keputusan kamu qku cuman bisa mendukung, kamu sendiri yang tahu mana yang terbaik buatmu saat ini" jelas Nina pelan sambil menggenggam jemari sahabatnya itu.
"Nanti setelah aku memutuskan ke mana aku pergi, aku mohon jangan beritahu Bagas apapun yang terjadi, aku yakin dia pasti bakan mencecar kamu, pasti bakal sering menghubungi kamu buat menanyakan aku"
"Pasti Di, dia gak akan mendapatkan informasi apapun tentangmu dari aku" janji Nina.
"Kapan kamu mau pergi Di?"
"Secepatnya, dan rumah itu juga akan aku jual Nin, tapi aku tetap pergi meskipun rumah itu belum terjual"
"Syukurlah rumah itu rumah kamu, jadi saat menjual rumah itu kamu gak perlu persetujuan Bagas, kamu gak perlu membagi uang hasil menjual rumah" seru Nina merasa lega.
"Iya Nin,, Bagas tidak membawa apa apa saat kami menikah, entahlah mungkin karena aku secinta itu sama dia jadi aku bisa terima dia apa adanya. Sebenarnya sampai kapanpun aku bisa nerima dia, tapi kalau soal perselingkuhan aku sudah gak bisa lagi memaafkan" jelas Diandra sambil mengingat kembali saat dia memilih menikah dengan Bagas.
"Waktu kamu memilih menikah dengan Bagas kamu lagi pacaran kan sama Wisnu?" tanya Nina tiba tiba dan mengingatkan masa lalu Diandra.
Diandra menatap Nina sedikit terkejut, kemudian dia tersenyum.
'Iya Nin,,aku ingat banget Wisnu nangis saat aku minta putus dari dia"
"Aku aja kaget banget waktu kamu memutuskan menikah dengan Bagas, padahal Wisnu sebaik itu, dia sayang banget sama kamu" jelas Nina sambil mengingat masa lalu Diandra dan Wisnu.
"Sekarang apa kabar dia ya? Sejak itu dia kan gak pernah ada kabarnya lagi" gumam Nina.
"Entahlah,,,sudahlah aku gak mau bicarain soal dia" jelas Diandra tampak malas mengingat masa lalunya.
"Nin,, aku pulang ya. Besok aku kabari kamu lagi. Aku harus beres beres di rumah" pamit Diandra kemudian sambil berdiri dari duduknya.
"Emmm,,oke" jawab Nina singkat dan ikut berdiri. Kemudian keduanya melangkah kekuar setelah Diandra berpamitan pada suami Nina dan ke dua anak mereka.
Di depan pintu Diandra dan Nina berpelukan, kemudian Diandra pergi meninggalkan rumah Nina dengan menaiki ojek online.