NovelToon NovelToon
SKENARIO TUAN DANENDRA

SKENARIO TUAN DANENDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Duda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lovelyiaca

[TAHAP REVISI] [UPDATE 3 HARI SEKALI]

Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."

Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Badai di Perpustakaan

Cahaya lampu kristal di langit-langit perpustakaan mendadak menyala. Elleta tersentak, merasa tertangkap basah di sudut rak kayu ek yang tinggi. Tangannya mendekap sebuah buku bersampul marun di dadanya. Buku itu tipis, tapi rasanya seberat batu, satu-satunya tameng yang tersisa dari saat ia memasuki ruangan.

Steve berdiri di ambang pintu. Pria yang biasanya tampak seperti patung tanpa celah itu, malam ini terlihat berantakan. Kemeja putihnya tak terkancing di bagian kerah, lengannya digulung asal, dan rambut hitamnya yang acak-acakan. Matanya merah. Bukan cuma karena kurang tidur, tapi karena ada amarah yang siap meledak di sana.

Begitu pandangan Steve jatuh pada buku di pelukan Elleta, rahangnya mengeras. "Siapa yang memberi Anda izin menyentuh barang itu, Elleta?" Suaranya rendah, mirip geraman.

"Steve, aku... aku enggak sengaja menemukannya di balik tumpukan berkas..." Elleta mencoba membela diri, tapi suaranya bergetar payah.

"TARUH!" Steve menerjang maju.

Langkahnya lebar, menghapus jarak di antara mereka dalam hitungan detik. Aroma alkohol tipis bercampur parfum sandalwood berpaduan citrus miliknya langsung mengepung ruangan, menciptakan intimidasi yang menyesakkan.

"Itu milik Katrina," bisik Steve, tapi nadanya jauh lebih menyakitkan daripada teriakan.

"Satu-satunya hal yang dia tinggalkan untukku. Dan sekarang, kamu dengan tangan lancangnya..."

Steve menggantung kalimatnya. Matanya menatap buku itu dengan perpaduan antara rindu dan benci. Tangannya mengepal begitu kuat hingga sendi-sendinya memutih. Bagi Steve, Elleta baru saja mengoyak luka lama yang selama ini disemen rapat-rapat dengan dinding kekuasaan.

"Lancang?" potong Elleta, suaranya tiba-tiba meninggi. Rasa takut yang sedari tadi mencekik mendadak kalah oleh rasa muak. "Kamu bicara tentang kelancangan? Setelah aku di seret masuk ke kehidupanmu dan mengurungku di rumah mewah yang enggak lebih kayak penjara ini?!"

Elleta mengangkat buku itu tinggi-tinggi di depan wajah Steve yang murka. "Aku sudah membaca tulisannya, Steve. Semuanya! Sekarang aku tahu kenapa kamu kayak gini. Kamu cuma pria pengecut yang ketakutan! Kamu mengurungku di sini bukan karena cinta, tapi karena kamu terlalu takut untuk kehilangan lagi!"

BRAK!

Steve menyambar buku itu dengan kasar. Tenaganya yang tak terkontrol membuat buku harian itu terlepas dari tangan Elleta dan luruh ke lantai. Lembarannya terbuka, menampilkan sebuah foto lama Katrina yang kini tertelungkup di atas karpet mahal.

Steve terengah-engah, dadanya naik turun dengan liar. Tatapannya hancur, tapi ada sisa-sisa kegelapan yang berbahaya di sana. "Keluar," desisnya, suaranya serak dan pecah. "Masuk ke kamar kamu sekarang, Elleta. Sebelum aku melakukan sesuatu yang akan membuat kita berdua menyesal. Pergi!"

Elleta tidak menunggu perintah kedua. Ia langsung melangkah pergi dengan kaki lemas. Namun saat melewati sisi Steve, ia berhenti sejenak. Tanpa menatap pria itu, ia berbisik lirih, "Cara kamu mencintai itu salah, Steve. Kamu menganggap manusia sebagai barang milikmu. Itu enggak akan menyembuhkanmu, itu justru akan menghancurkan kamu sampai enggak ada yang tersisa."

Malam itu berlalu seperti mimpi buruk. Elleta baru bisa terlelap sebentar saat suara kicau burung di taman mansion mengusik tidurnya. Suasana rumah masih terasa mencekam, sisa kemarahan semalam seolah mengendap di udara.

*

*

*

Matahari cerah menyapanya. Suara kicuan menjadi alunan lagu di pagi harinya. Saat Elleta sedang merapikan rambut di depan cermin, ketukan kecil terdengar di pintu. Pintu terbuka sedikit, menampakkan kepala kecil dengan rambut klimis yang rapi. Alzio. Bocah itu sudah mengenakan seragam TK-nya yang berwarna cerah.

"Kak Elleta... bisa antar Alzio sekolah?" tanya bocah itu malu-malu. "Kata Daddy, hari ini Kak Elleta yang antar."

Melihat wajah polos Alzio, benteng amarah yang dibangun Elleta semalam agak runtuh. Anak ini tidak tahu apa-apa. Sambil menghela napas panjang, Elleta tersenyum tipis. "Boleh, Sayang. Ayo, kita berangkat."

Di ruang makan, Steve sudah duduk tegak di kepala meja. Setelan jas abu-abu gelapnya membuat dia kembali terlihat seperti Tuan Besar yang dingin dan terkendali. Seolah badai di perpustakaan semalam hanyalah halusinasi belaka.

"Duduk dan sarapan," ujar Steve tanpa mengalihkan pandangan dari tablet di tangannya.

"Aku enggak lapar," jawab Elleta pendek.

"Duduk, Elleta. Saya tidak ingin Alzio melihat Anda pingsan di sekolah hanya karena Anda ingin protes secara dramatis kepada saya."

Elleta menggeram dalam hati, tapi akhirnya duduk juga demi Alzio.a

"Setelah ini, antar Alzio," lanjut Steve sambil menyesap kopinya tenang. "Mobil BMW gold milikmu sudah ada di garasi. Aku menyuruh orang untuk menjemputnya dari rumahmu kemarin."

Elleta tertegun. Garpunya berdenting di atas piring. "Mobilku? kamu membawa mobilku ke sini tanpa izin?"

Steve akhirnya menurunkan tabletnya, menatap Elleta dengan pandangan intimidasi yang khas. "Anggap saja itu fasilitas. Tapi jangan berpikir untuk pergi jauh. Sistem navigasinya sudah saya ambil alih secara remote. Aku bisa mematikan mesinnya kapanpun Elleta, jangan coba keluar dari rute sekolah. Pahami itu, Elleta. Mobil itu memang milikmu, tapi kendalinya di hidupmu saat ini, ada di tanganku."

"Kamu benar-benar sakit, Steve!" Elleta membanting sendok. Nafsu makannya hilang seketika. Tanpa menjawab, Steve bangkit, merapikan jasnya, lalu berlalu begitu saja setelah mengusap kepala Alzio sekilas.

Di garasi, BMW emas milik Elleta memang terparkir di sana. Begitu masuk ke dalam, aroma interiornya campuran vanila dan sisa parfum lama membuat mata Elleta panas. Ini adalah potongan hidupnya yang lama, tapi sekarang ia merasa seperti orang asing di dalamnya. Ia tahu, di balik dashboard itu, mata Steve sedang mengawasinya.

Sesampainya di TK Permata Indah, Elleta berusaha bersikap senormal mungkin. Begitu Alzio menghilang di balik pintu kelas, ia langsung berbalik dengan jantung berdegup kencang. Ia harus menghubungi seseorang.

Elleta menghampiri salah satu guru yang sedang berjaga di dekat gerbang. "Ibu, maaf mengganggu," ia memasang wajah memelas.

"Ponsel saya tertinggal, dan ada urusan keluarga yang sangat mendesak. Apa saya boleh meminjam ponsel Ibu sebentar? Cuma untuk satu pesan singkat."

Guru itu tersenyum iba melihat wajah pucat Elleta. "Oh, tentu saja, Mbak. Silakan."

Dengan tangan gemetar, Elleta menerima ponsel itu dan dengan gesit mengetik nomor WhatsApp Daniel.

Elleta : Daniel, ini Elleta. Aku di TK Permata Indah. Steve menyekapku di

Baru saja jemari Elleta mau menekan tombol kirim, aroma familiar itu menusuk hidungnya. Wangi sandalwood dan citrus yang tajam.

SRET!

Ponsel itu dirampas dari tangannya. Elleta membeku. Steve sudah berdiri di belakangnya, auranya begitu gelap hingga seolah suhu di sekitar mereka mendadak turun.

Steve tidak menatap Elleta. Dia justru tersenyum tipis pada sang guru yang kebingungan. "Maaf, Bu. Tunangan saya sedang sedikit emosional pagi ini. Kami sedang ada sedikit perselisihan keluarga. Terima kasih bantuannya." Guru itu mengangguk kikuk, lalu segera menjauh.

"Aku bukan tunanganmu!" desis Elleta tertahan, wajahnya memerah karena malu dan marah.

"Pulang ke mobil, Elleta. Sekarang. Sebelum saya kehilangan sisa kesabaran saya," perintah Steve dengan suara rendah yang penuh ancaman.

Namun, drama pagi itu belum selesai. Sebuah SUV hitam mendadak berhenti tepat di depan gerbang, bannya mencit keras di atas aspal. Michael, kakak Elleta, keluar dari sana dengan wajah merah padam. Dia melangkah lebar dan langsung menerjang Steve, merenggut kerah kemeja mahal pria itu.

"Bajingan! Jadi benar desas-desus itu?! Kamu menyembunyikan adikku di rumahmu?!" teriak Michael, tidak peduli pada tatapan orang tua murid lain.

"Dia adikku, Steve! Berani-beraninya kamu membawa dia pergi?!"

Steve tidak membalas. Dia hanya melepaskan cengkeraman Michael dengan satu gerakan tenang tapi bertenaga. "Adik?"

Steve mencemooh sambil merapikan kerahnya. "Ke mana aja kamu saat Elleta butuh perlindungan, Michael? Kamu terlalu sibuk dengan proyekmu sampai enggak sadar betapa rapuhnya dia."

"Kurang ajar!" Michael melayangkan pukulan ke arah rahang Steve, tapi Steve dengan sigap menepisnya.

"CUKUP!" Teriakan Elleta memecah ketegangan. Ia berdiri di antara kedua pria itu dengan tubuh gemetar. "Kalian berdua bikin malu! Seperti anak kecil!"

Elleta menatap Michael dengan mata berkaca-kaca. "Bang Michael, pergi dari sini sekarang! Jangan buat keributan di sekolah!" Lalu ia beralih pada Steve, menunjuk dadanya dengan jari telunjuk.

"Dan kamu, Steve... kalau kamu memang mengaku ingin menjagaku, jangan pernah lagi buat kekacauan di sekolah anakmu. Kamu bilang mencintai memori Katrina? Katrina enggak akan pernah suka melihat suaminya menjadi monster seperti ini!"

Tanpa menunggu jawaban, Elleta berbalik dan berjalan cepat menuju mobilnya. Di tengah perebutan dua pria egois ini, Elleta menyadari satu hal, ia bukan lagi manusia. Ia cuma sebuah pion yang sedang diperebutkan di atas papan catur yang sudah hancur berantakan.

1
Maryati ramlin
cerita bagus di tunggu kelanjutan
Lovelyiaca: Terima kasih sudah membaca karyaku, di tunggu kelanjutannya ya 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!