Xarena yang seorang anggota tingkat 1 di sebuah kelompok mafia harus terbunuh karna ledakan sebuah bom saat melakukan misi,namun bukannya meninggal,Xarena justru bertransmigrasi ke tubuh gadis yang memiliki nama dan wajah yang sangat mirip dengannya
" siapa sebenarnya gadis yang tubuhnya kini aku tempati..."
" kemana dia.... "
" dan kenapa wajah dan nama kita hampir sama..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risma Reyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Hati Xarena menghangat karna tak menyangka jika Daniel dengan suka rela membantunya,kini tak ada rasa canggung lagi antara mereka,perasaan sayang yang sudah ada di kehidupan Xarena yang sebelumnya seperti menemukan jalannya sendiri untuk bertemu dengan pemiliknya.
Begitu juga Daniel,lelaki itu sangat menikmati tiap detik waktu bersama gadis yang baru di kenalnya itu,dia benar-benar seperti kembali menemukan Xarenanya yang hilang dalam diri Queen,dan kali ini ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu melindungi Queen agar ia tidak kembali kehilangan belahan hatinya sekali lagi.
" oh ternyata ada tuan Daniel disini,saya baru tahu kalau anda ternyata mengenal tunangan saya " sapa Leon yang tiba-tiba saja datang menghampiri Xarena dan Daniel.
" tuan Leon....selamat malam,apa kabar..?" ucap Daniel basa-basi.
" tentu kabar saya.....sedikit kurang baik,apalagi setelah malam ini "
'' wow...tenanglah tuan Leon,aku hanya mampir sebentar untuk menjalankan tugas dari om Aditya,tidak lebih dari itu "
" oh ya...seharusnya kau tau tuan,di mansion ini aku adalah orang kedua yang punya wewenang kuat setelah tuan Aditya,dan kau juga Xarena,apa ini alasanmu tidak menghiraukan pesan dariku " ucap Leon yang mulai terpancing emosinya.
Xarena yang sedari tadi memendam kebencian pada Leon,hanya diam tak menjawab sepatah kata pun pertanyaan dari Leon,berkali-kali ia menghela nafas berusaha mengontrol emosinya,ingin rasanya ia memukul wajah Leon yang menurutnya super nyebelin itu.
Melihat suasana yang makin memanas,Daniel pun mau tak mau harus melerai pertengkaran sepasang kekasih itu,ia tak tega melihat Xarena terus-terusan di serang oleh kata-kata kasar Leon.
" sudahlah tuan Leon,anggap saja ini salahku yang tidak tau waktu untuk bertamu,jadi tidak bisakah kau lebih lembut pada tunanganmu...? "
" lebih lembut katamu...lihatlah belum jadi istri saja dia sudah berani mengabaikan ku demi laki-laki lain " ketus Leon tak mau kalah.
" sudahlah....kedatanganmu kesini pasti cuma untuk mengambil Smartwatch kan,tunggulah disini,aku akan meminta tolong pada siti untuk mengambilkannya..! " ucap Xarena yang sudah mulai bisa mengontrol emosinya.
Harga diri Leon seperti di injak-injak saat melihat Xarena tak bereaksi setelah melihat kemarahannya,seharusnya saat ini Xarena menangis dan memohon-mohon padanya agar tidak marah,tapi kenyataannya gadis itu malah bersikap cuek dan tidak berusaha menjelaskan apapun pada Leon.
Kini tempat itu sudah seperti medan perang antar Xarena dan Leon,sementara Daniel yang terjebak di antara keributan pasangan itu hanya diam dan mengamati agar tak ada hal buruk yang terjadi terutama bagi Xarena.
Teringat akan nasihat sang ayah,Leon mencoba sedikit merendahkan harga dirinya dengan berjalan mendekati Xarena lalu mencoba meraih tangan tunangannya itu
"apa kau marah padaku karna aku tak kunjung menghubungimu,sudah cukup sandiwaranya Xarena jangan libatkan tuan Daniel dalam pertengkaran kita "
Namun lagi-lagi Xarena kembali menunjukkan gestur penolakan,seketika darah Leon seperti mendidih setelahnya,emosinya memuncak lelaki itu pun mencengkeram kuat lengan Xarena hingga gadis itu meringis kesakitan,matanya menatap tajam pada Xarena berharap ia menemukan sedikit ketakutan disana.
Daniel sudah bersiap maju untuk menolong,tapi tak jadi karna melihat isyarat dari tangan Xarena yang menyuruhnya untuk berhenti,Daniel pun menuruti apa kata Xarena walaupun keinginannya untuk menghajar Leon sudah di ubun-ubun.
" kenapa kau hanya diam Xarena,jawab aku...sebaiknya kau minta maaf sekarang atau aku benar-benar tidak akan memperdulikanmu lagi "ucap Leon masih dengan di posisi yang sama.
Tawa Xarena menggema setelah mendengar apa yang di ucapkan Leon padanya,ia tak peduli walaupun kini bekas luka sayat di lengan kirinya mulai meneteskan darah segar,baginya lelaki di depannya ini sungguh lucu.
" kau sangat pintar mengarang cerita,seharusnya kau menjadi sutradara atau produser saja, karna imajinasimu benar-benar bagus " sarkas Xarena.
" apa maksudmu Xarena...sebaiknya jangan membuatku makin marah atau..."
" atau apa..kau akan memukulku...ayo pukul aku..! "
Leon tidak mau terpengaruh dengan provokasi yang Xarena berikan padanya,ia melepas cengkramannya dengan kasar namun matanya tetap menatap tajam kearah Xarena.
Saat ini hampir seluruh penghuni mansion menyaksikan pertengkaran mereka,walaupun tidak ada Aditya dan Rani disini,Leon tetap tak bisa berlaku seenaknya karna ada banyak pasang mata pelayan yang siap menjadi saksi.
Tentu ia tak mau kalau rasa simpati para pelayan padanya hilang jika ia sampai kehilangan kontrol dan menyakiti Xarena.
" ya ampun..lengan nona Xarena berdarah "
" iya,kasihan sepertinya non Rena kesakitan "
ucap Rina dan Siti yang berhasil menciptakan keributan di antara kerumunan pelayan yang menonton pertengkaran itu.
Menyadari itu,Leon perlahan mundur menjauh dari Xarena yang masih tetap berdiri di tempat semula.
sial...padahal aku sama sekali tidak melukainya,darimana datangnya darah itu,apa jangan-jangan ini akal-akalan Xarena saja untuk mengerjaiku.
" ayo...biar aku bantu mengganti perbanmu,atau mau kerumah sakit lagi,kurasa jahitan di lukamu terbuka " tawar Daniel pada Xarena.
Xarena hanya mengangguk pelan sebagai tanda kalau ia menyetujui tawaran dari Daniel untuknya,lagi pula seluruh penghuni mansion sudah melihat pertunjukkan drama antara wanita lemah dan kekasih kasarnya yang sengaja ia buat agar citra Leon memburuk di hadapan para pelayan.
Aneh sekali,padahal menurut cerita om Aditya di rumah sakit tadi,dia mampu berkelahi melawan 3 orang sekaligus,tapi...kenapa dia hanya diam saat Leon bersikap kasar padanya,apa dia sengaja supaya....Leon terlihat jelek di mata para pelayan disini.
Segera Daniel menggandeng lembut tangan Xarena,mengajaknya pergi dari kerumunan itu,tapi tidak semudah itu,Leon kembali bereaksi dengan menarik tangan Xarena dengan kuat hingga Xarena hampir terjatuh.
" apalagi....?" tanya Xarena dingin.
" kenapa kau malah ikut dengannya...apa kau ini bodoh,dia cuma orang asing sedangkan aku tunanganmu,bukankah seharusnya kau membelaku " hardik Leon.
" bukankah dia sudah bilang padamu,kalau papa menyuruhnya untuk mengawalku,itu berarti dia bertanggung jawab atas keselamatanku,termasuk dari dirimu"
" tidak...aku tidak akan membiarkanmu pergi semudah itu,dengar Xarena,aku calon suamimu dan kau harus patuh padaku mengerti " ucap Leon yang makin mempererat genggamannya hingga kulit putih Xarena terlihat memerah.
" lepas sekarang juga....atau "
'' atau apa...tidak ada yang bisa membelamu disini,dan soal tuan Aditya,dia pasti lebih percaya dengan ceritaku dari pada keluhan gadis manja sepertimu,jadi sebaiknya kau menurut sayang.."
Kali ini emosi Xarena seperti sudah di ujung dan tidak bisa di tahan lagi,ia memberi kode pada Daniel agar melepaskan genggamannya,lalu ia menarik kasar tangannya hingga Leon yang masih menggenggam pergelangan tangan Xarena terjatuh karna tidak siap dengan tarikan Xarena.
Karna terlanjur malu,membuat Leon tidak peduli lagi akan citranya,masa bodoh dengan semua orang yang sedang menperhatikannya dan Xarena,saat ini ia hanya ingin mempertahankan ego dan harga dirinya sebagai lelaki,sekaligus calon suami Xarena.
" Xarena.....dasar cewek sial "
teriaknya seraya melayangkan tangannya ke arah Xarena hendak menampar wajah gadis yang menjadi tunangannya itu.
Xarena yang memang sudah terlatih,tentu bisa dengan mudah menghindarinya,namun saat ia hendak membalas,Xarena terkejut saat melihat Leon sudah tergeletak pingsan di lantai.
'' kau bilang aku juga bertanggung jawab atas keselamatanmu dari dia kan..jadi aku memukulnya...apa aku salah..? " tanya Daniel yang kebingungan melihat Xarena tiba-tiba melotot padanya.
" kau tidak salah,hanya saja aku tadi sudah bersiap untuk memukulnya,tapi kau malah mendahuluiku " gerutu Xarena.
" apa ini bukan yang pertama kali dia memperlakukan mu seperti tadi..? " tanya Daniel heran melihat Expresi Xarena yang santai seolah sudah sangat terbiasa dengan sikap kasar Leon.
" yah,love language kami memang saking pukul tenang saja " jawab Xarena singkat.