NovelToon NovelToon
Mertua Kaya Menantu Teraniaya

Mertua Kaya Menantu Teraniaya

Status: tamat
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Anak Lelaki/Pria Miskin / Tamat
Popularitas:68.6k
Nilai: 5
Nama Author: fendy citrawarga

Hutang budi karena pernah ditolong, seorang pria kaya berjanji akan menikahkan putrinya kepada pemuda bernama Kosim anak orang miskin yang menolongnya.
Di lain pihak istri seorang kaya itu tak setuju. Dia tak rela bermenantukan anak orang miskin dengan rupa kerap dicemooh orang desa.
Namun sang suami tak mau ingkar janji, ia menyebut tanpa ditolong orang miskin itu entah bagaimana nasibnya mungkin hanya tinggal nama.
Akhirnya sang istri merestui namun dalam hatinya selalu tumbuh rasa antipati kepada sang menantu, tak rela atas kehadiran si menantu orang miskin yang buruk rupa.
Bagaimana jadinya? Ya, "Mertua Kaya Menantu Teraniaya."
Lebih rincinya ikuti saja jalan ceritanya di buku kedua penulis di PF NToon ini.
Selamat membaca!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fendy citrawarga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. "Keluar Kau!!!!"

"Wah banyak juga ya ayamnya, Bah?" tanya Kosim sembari memperhatikan ayam-ayam Bah Omod, mulai pitik, 'jejangkar' (ayam menuju dewasa), induk, hingga ayam jago yang saling bersahutan berkokok riang menyapa mentari pagi yang muncul dari timur.

"Alhamdulillah, Den. Ini sejak si Fitri di sini ayam Abah terus berkembang biak," ujar Bah Omod bangga.

"Alhamdulillah ya Bah. Mungkin Fitri membawa berkah bagi Abah dan Ambu di sini," ujar Kosim.

"Ya begitulah kalau orangtua sayang anak, anak bakal membawa berkah kepada orangtuanya," timpal Bah Omod seraya mengambil wadah baskom bekas, lalu diisikan dedak. Itu pakan ayam-ayamnya yang rutin diberikan setiap pagi.

Bah Omod mencari-cari gayung wadah air untuk melunakkan dedaknya dengan air hangat bahkan panas. Jika hanya dengan air dingin ayam biasanya mematuk pakan kurang bersemangat.

"Ambu, Ambu, Ambuuuu......!" teriak Bah Omod memanggil-manggil Ambu Usih.

"Iya, ada apa Abah?" Ambu Usih muncul dari pintu dapur.

"Sudah ada air panas untuk menyiram dedak?"

"Ada, ada, sebentar," timpal Ambu Usih.

"Iya ya Bah, anak itu anugerah dari Allah," sambut Kosim menanggapi ucapan Bah Omod.

"Ya jelas, jangan disia-siakan, apalagi dimaki-maki dijadikan objek untuk kepentingan diri sediri," nasihat Abah Omod lagi.

Kosim sudah bisa menebak ke arah mana omongan Bah Omod, yakni ke mertua perempuannya yang begitu tega memperlakukan anaknya dengan semena-mena, dijadikan alat untuk kepentingan dirinya sendiri memperkaya diri. Padahal kurang bagaimana dan kurang apa kekayaan Pak Haji Soleh.

Sawah dan kebun dan ladang hektaran, punya pabrik huller dua. Punya mobil, rumah gedung boleh dikatakan mentereng untuk ukuran desa.

"Ini Abah air panasnya," tiba-tiba muncul Yani.

"Lho, kok Jeng Yani bukannya si Ambu yang bawakan gayung?" Abah Omod terkaget-kaget.

"Aku yang minta Abah. Biarin membantu karena si Ambu lagi ada kerjaan lain," timpal Yani.

"O ya? Terima kasih kalau begitu Jeng," ujar Bah Omod terharu melihat anak majikan menantunya mau membantu padahal dia anak orang kaya dan pastinya di rumahnya tidak disuruh-suruh bekerja seperti yang beginian.

"Abah coba bikin pakannya sama Kosim," Kosim pun meminta mengaduk dedak yang sudah dituangi air panas.

"Wah jangan, nanti tangannya kotor Den. Udah ke rumah aja duduk santai," tolak Bah Omod.

Si Abah tak mau ngerepotin Den Kosim walaupun dia tahu Kosim adalah pekerja keras, anak orang biasa yang tentunya sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini

Bahkan Bah Omod diberi tahu oleh menantunya Mang Koyod bahwa Kosim sehari-harinya diperlakukan layaknya seorang pembantu oleh mertua perempuannya sampai-sampai harus memberhentikan Mang Koyod agar Kosim mengerjakan segala macam.

"Enggak apa-apa Bah. Sudah tiga hari ini saya tidak mengerjakan apa-apa, tubuh terasa pegal begini," kata Kosim memberikan alasan.

"Udah biarin Abah saja. Den Kosim saatnya istrahat sejenak karena selama ini Abah dengar Den Kosim diperlakukan seperti pembantu saja oleh Bu Haji kan?" ujar Bah Omod.

Kosim terkejut juga ternyata apa yang dilakukan oleh mertua perempuannya selama ini kepada dirinya sudah diketahui oleh Abah Omod.

"Ya begitulah Bah. Tapi Kosim ikhlas Bah asal Amih tidak memperlakukan hal yang sama kepada putrinya, kepada Yani. Biarlah Kosim akan kuat menghadapinya, asal jangan kepada istri saya. Bahkan ketika istri saya bilang minta pindah, saya mencegahnya dan mencoba bertahan. Namun istri saya memaksa, ya apa boleh buat saya pun harus mengikuti keinginannya karena kalau terus bertahan pastinya istri saya akan terus tersakiti," tutur Kosim akhirnya dia curhat juga kepada Abah Omod.

"Bagus, memang seorang suami itu harus bisa melindungi dan menjaga istrinya, apalagi istrinya baik-baik. Jangankan yang baik yang berperilaku buruk pun jika masih menjadi istri kita harus tetap melindungi dan menjaganya, tetapi dengan cara yang baik, artinya harus mengubah perilaku buruknya menjadi baik. Ini pun bentuk perlindungan dan penjagaan yang sangat penting," tambah Abah Omod.

Kosim manggut-manggut meresapi nasihat dari Bah Omod.

"Bah, itu kayu bakar kelihatannya masih geluntungan besar-besar? Ada patiknya enggak, biar Kosim belahin?"

Kosim melihat sebongkah kayu geluntungan yang masih besar dan tak memungkinkan untuk dimasukkan ke dalam tungku.

"Udah, biarin sama Abah saja Den," kata Bah Omod tak tega mempekerjakan anak majikan menantunya.

"Enggak apa-apa, tubuh Kosim makin pegal-pegal nih. Biasanya tak diam, ya nimbalah, yang menyapu sampahlah, mengakut barang-baranglah," kata Kosim setengah memaksa.

"Ya bolehlah, tapi hati-hati ya?" ujar Bah Omod sambil memberikan pakan kepada ayam-ayamnya yang berebutan mematu-matuk pakan.

"Ambu, tolong bawa patik ke sini," kata Abah Omod.

"Kan lagi memberi makan ayam sudah minta patik. Abah?"

"Ini katanya Den Kosim mau berolahraga," kilah Bah Omod.

"Lah jangan Den, nanti kena kaki luka," ujar Ambu Usih khawatir.

"Enggak apa-apa Ambu, mana patiknya?" Kosim pun bangkit meninggalkan Aba Omod lalu menghampiri pintu dapur untuk meminta patik.

Di kamar mandi tampak Yani sedang mencuci piring. Kosim bangga juga melihat sang istri tak bermanja-manja meski dia anak orang kaya.

Setelah mendapat patik, Kosim pun mulai mengerahkan segala tenaganya untuk memulai beraktivtas membelah bongkahan kayu bakar gelondongan dengan hati-hati.

Membelah kayu gelondongan dengan patik memang membutuhkan bukan saja tenaga ekstra untuk mengayunkan patik setinggi-tingginya agar menancap tajam ke batang kayu, tetapi juga butuh konsetrasi yang prima biar patik tidak meleset yang bisa-bisa kena kaki.

Namun Kosim bukan baru bertama kali membelah kayu bakar seperti itu, sejak ayahnya meninggal, dialah yang menjadi tulang punggung ibunya untuk memenuhi kayu bakar agar hawu (tungku) di dapur emaknya tetap menyala.

Kayu bakar gelondongan sepanjang satu meter setengah itu akhirnya berhasil diurai Kosim. Lalu dikumpulkan dan dibawa ke dapur.

"Oalah ini kayu bakarnya bagus-bagus, bisa masuk tungku ngepas. Jadinya banyak. Kalau hasil mematik si Abah masih besar-besar, sesak di dalam tngkunya." puji Ambu Usih melihat kayu bakar hasil mematik Kosim.

"Kebetulan saja tenaganya masih kuat Ambu. Kalau sudah tidak kuat mah Kosim juga mungkin hanya mampu mematik sedikit," ujar Kosim sembari tersenyum.

"Ya udah terima kasih ya Den. Silakan istirahat aja, nanti sebentar lagi ngopi jagung rebus," timpal Ambu Usih.

"Jeng udah cuci piringnya, ayo istrahat dulu, capai!" kini Ambu Usih mengingatkan Yani yang sedari tadi masih di dapur membantu Ambu Usih. Ada saja yang dikerjakannya.

Kosim pun akhirnya menyimpan patik ke dapur setelah semua kayu bakar hasil mematiknya disimpan di para-para dapur biar menjadi lebih kering karena terkena asap tungku dan ketika digunakan tak sulit menyalakannya.

***

Di tempat lain seorang perempuan tengah berjalan dengan langkah kaki agak dipercepat seolah ingin segera sampai di tempat yang akan ditujunya.

Tangan kanan si perempuan setengah baya itu mengepal seolah sudah siap ditonjokkan kepada orang yang akan ditemuinya, lalu orang itu terjengkang dan memohon ampun berkali-kali agar jangan terus disiksa.

Jika sampai terjadi hal itu, si perempuan itu akan merasa puas meski tujuan utamanya bukan menyiksa dia, melainkan akan menyiksa orang yang telah membuat luka hatinya selama ini.

Padahal jarak antara rumah dia dengan tempat yang akan dituju tidak begitu jauh ada sekitar satu atau setengah kilo meter, namun rumahnya menjorok ke dalam dekat sawah, tetapi dirasakan oleh si perempuan itu langkahnya lama untuk sampai ke tempat tujuan.

"Sutiah, Sutiah, Sutiah, keluar kauuuuuuu.....!" teriak si perempuan itu setelah sampai di tempat yang dituju.

(Bersambung)

1
Hadimulya Mulya
kata org Jawa,minggate adoh pitek
Hadimulya Mulya
org minggat kok ngerepotin org,udh berani keluar rumah harus berani tanggung resiko
Hadimulya Mulya
lelaki kok ngerjain kerjaan di rumah,klo bantu gk papa,lelaki itu cari nafkah
Hadimulya Mulya
lelaki kok ngerjain kerjaan di rumah,klo bantu gk papa,lelaki itu cari nafkah
Hadimulya Mulya
buat crita suaminya bekerja,trs kos atau ngontrak jangan numpang trs
Hadimulya Mulya
lelaki kok gk tanggung jwb,kok malah pusing tempat tgl,itu tanggung jwb suami
Hadimulya Mulya
klo saya yg punya menantu pemangguran,saya pegatin aja,karena tanggung jwb rumah ttg itu ada pada suami,bukan malah cuma berserah diri
Hadimulya Mulya
critamu salah bos,menantu benalu,gk tanggung jwb seharusnya judul nya,
Hadimulya Mulya
ini mantu dan suami gila,walo pun rupamu jelek to miskin yg penting nafkahi istrimu,krj cari uang walo jadi pemulung krj harga diri laki2 krj nyukupi kehidupan rumah ttg
Hadimulya Mulya
ini critanya lelaki gk tanggung jwb,gk beri nafkah istri,z bener klo gk punya harga diri,
Hadimulya Mulya
kok sabar,kn dh rumah ttg harus mandiri lah
Anisa Ratiba Hanum
Alhamdulillah, bagus, bahasa yg sederhana tapi banyak nilai positif nya,, semangat thor untuk menciptakan karya2 baru,, semoga thor sukses selalu,, Aamiin
fendy citrawarga: Terima kasih apresiasinya kak, kakak juga semoga sukses selalu. Aamiin
total 1 replies
Anisa Ratiba Hanum
gregetan saya bacanya
fendy citrawarga: Apalagi di Bab 94 Kosim dibilang kejam oleh putrinya dan Yani tak mau terima pemberian Kosim
total 1 replies
Anisa Ratiba Hanum
penasaran tingkat dewa ini
fendy citrawarga: Terima kasih dukungan dan setia komennya kak makin semangat menulisnya
total 1 replies
Anisa Ratiba Hanum
penasaran kelanjutan nya jangan lama2 up nya/Frown//Frown/
fendy citrawarga: Bab 92 lagi diedit Kak, mungkin baru up entar malam, maaf ya lama menunggu
total 1 replies
sora
hanya ada cerita ke bodohan di novel ini tidak berbobot
Anisa Ratiba Hanum
tambah penasaran
fendy citrawarga: Makanya terus ikuti cerbungnya biar gak penasaran ya kakak, makasih sudah komen/Good/
total 1 replies
Anisa Ratiba Hanum
sering 2 di update Thor, perasaan bacanya seperti cinta yg digantung /Sob//Sob/
fendy citrawarga: Siap, siap, diusahakan up-nya berdekatan, trimakasih apresiasinya sahabat
total 1 replies
Anisa Ratiba Hanum
lanjut Thor bagus cerita nya,,
fendy citrawarga: Terima kasih, siap lanjut
total 1 replies
Anisa Ratiba Hanum
bagus cerita nya Thor,tapi masih sedikit ya, lagi enak2 baca dah putus
fendy citrawarga: tinggal
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!