Hutang budi karena pernah ditolong, seorang pria kaya berjanji akan menikahkan putrinya kepada pemuda bernama Kosim anak orang miskin yang menolongnya.
Di lain pihak istri seorang kaya itu tak setuju. Dia tak rela bermenantukan anak orang miskin dengan rupa kerap dicemooh orang desa.
Namun sang suami tak mau ingkar janji, ia menyebut tanpa ditolong orang miskin itu entah bagaimana nasibnya mungkin hanya tinggal nama.
Akhirnya sang istri merestui namun dalam hatinya selalu tumbuh rasa antipati kepada sang menantu, tak rela atas kehadiran si menantu orang miskin yang buruk rupa.
Bagaimana jadinya? Ya, "Mertua Kaya Menantu Teraniaya."
Lebih rincinya ikuti saja jalan ceritanya di buku kedua penulis di PF NToon ini.
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fendy citrawarga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. "Keluar Kau!!!!"
"Wah banyak juga ya ayamnya, Bah?" tanya Kosim sembari memperhatikan ayam-ayam Bah Omod, mulai pitik, 'jejangkar' (ayam menuju dewasa), induk, hingga ayam jago yang saling bersahutan berkokok riang menyapa mentari pagi yang muncul dari timur.
"Alhamdulillah, Den. Ini sejak si Fitri di sini ayam Abah terus berkembang biak," ujar Bah Omod bangga.
"Alhamdulillah ya Bah. Mungkin Fitri membawa berkah bagi Abah dan Ambu di sini," ujar Kosim.
"Ya begitulah kalau orangtua sayang anak, anak bakal membawa berkah kepada orangtuanya," timpal Bah Omod seraya mengambil wadah baskom bekas, lalu diisikan dedak. Itu pakan ayam-ayamnya yang rutin diberikan setiap pagi.
Bah Omod mencari-cari gayung wadah air untuk melunakkan dedaknya dengan air hangat bahkan panas. Jika hanya dengan air dingin ayam biasanya mematuk pakan kurang bersemangat.
"Ambu, Ambu, Ambuuuu......!" teriak Bah Omod memanggil-manggil Ambu Usih.
"Iya, ada apa Abah?" Ambu Usih muncul dari pintu dapur.
"Sudah ada air panas untuk menyiram dedak?"
"Ada, ada, sebentar," timpal Ambu Usih.
"Iya ya Bah, anak itu anugerah dari Allah," sambut Kosim menanggapi ucapan Bah Omod.
"Ya jelas, jangan disia-siakan, apalagi dimaki-maki dijadikan objek untuk kepentingan diri sediri," nasihat Abah Omod lagi.
Kosim sudah bisa menebak ke arah mana omongan Bah Omod, yakni ke mertua perempuannya yang begitu tega memperlakukan anaknya dengan semena-mena, dijadikan alat untuk kepentingan dirinya sendiri memperkaya diri. Padahal kurang bagaimana dan kurang apa kekayaan Pak Haji Soleh.
Sawah dan kebun dan ladang hektaran, punya pabrik huller dua. Punya mobil, rumah gedung boleh dikatakan mentereng untuk ukuran desa.
"Ini Abah air panasnya," tiba-tiba muncul Yani.
"Lho, kok Jeng Yani bukannya si Ambu yang bawakan gayung?" Abah Omod terkaget-kaget.
"Aku yang minta Abah. Biarin membantu karena si Ambu lagi ada kerjaan lain," timpal Yani.
"O ya? Terima kasih kalau begitu Jeng," ujar Bah Omod terharu melihat anak majikan menantunya mau membantu padahal dia anak orang kaya dan pastinya di rumahnya tidak disuruh-suruh bekerja seperti yang beginian.
"Abah coba bikin pakannya sama Kosim," Kosim pun meminta mengaduk dedak yang sudah dituangi air panas.
"Wah jangan, nanti tangannya kotor Den. Udah ke rumah aja duduk santai," tolak Bah Omod.
Si Abah tak mau ngerepotin Den Kosim walaupun dia tahu Kosim adalah pekerja keras, anak orang biasa yang tentunya sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini
Bahkan Bah Omod diberi tahu oleh menantunya Mang Koyod bahwa Kosim sehari-harinya diperlakukan layaknya seorang pembantu oleh mertua perempuannya sampai-sampai harus memberhentikan Mang Koyod agar Kosim mengerjakan segala macam.
"Enggak apa-apa Bah. Sudah tiga hari ini saya tidak mengerjakan apa-apa, tubuh terasa pegal begini," kata Kosim memberikan alasan.
"Udah biarin Abah saja. Den Kosim saatnya istrahat sejenak karena selama ini Abah dengar Den Kosim diperlakukan seperti pembantu saja oleh Bu Haji kan?" ujar Bah Omod.
Kosim terkejut juga ternyata apa yang dilakukan oleh mertua perempuannya selama ini kepada dirinya sudah diketahui oleh Abah Omod.
"Ya begitulah Bah. Tapi Kosim ikhlas Bah asal Amih tidak memperlakukan hal yang sama kepada putrinya, kepada Yani. Biarlah Kosim akan kuat menghadapinya, asal jangan kepada istri saya. Bahkan ketika istri saya bilang minta pindah, saya mencegahnya dan mencoba bertahan. Namun istri saya memaksa, ya apa boleh buat saya pun harus mengikuti keinginannya karena kalau terus bertahan pastinya istri saya akan terus tersakiti," tutur Kosim akhirnya dia curhat juga kepada Abah Omod.
"Bagus, memang seorang suami itu harus bisa melindungi dan menjaga istrinya, apalagi istrinya baik-baik. Jangankan yang baik yang berperilaku buruk pun jika masih menjadi istri kita harus tetap melindungi dan menjaganya, tetapi dengan cara yang baik, artinya harus mengubah perilaku buruknya menjadi baik. Ini pun bentuk perlindungan dan penjagaan yang sangat penting," tambah Abah Omod.
Kosim manggut-manggut meresapi nasihat dari Bah Omod.
"Bah, itu kayu bakar kelihatannya masih geluntungan besar-besar? Ada patiknya enggak, biar Kosim belahin?"
Kosim melihat sebongkah kayu geluntungan yang masih besar dan tak memungkinkan untuk dimasukkan ke dalam tungku.
"Udah, biarin sama Abah saja Den," kata Bah Omod tak tega mempekerjakan anak majikan menantunya.
"Enggak apa-apa, tubuh Kosim makin pegal-pegal nih. Biasanya tak diam, ya nimbalah, yang menyapu sampahlah, mengakut barang-baranglah," kata Kosim setengah memaksa.
"Ya bolehlah, tapi hati-hati ya?" ujar Bah Omod sambil memberikan pakan kepada ayam-ayamnya yang berebutan mematu-matuk pakan.
"Ambu, tolong bawa patik ke sini," kata Abah Omod.
"Kan lagi memberi makan ayam sudah minta patik. Abah?"
"Ini katanya Den Kosim mau berolahraga," kilah Bah Omod.
"Lah jangan Den, nanti kena kaki luka," ujar Ambu Usih khawatir.
"Enggak apa-apa Ambu, mana patiknya?" Kosim pun bangkit meninggalkan Aba Omod lalu menghampiri pintu dapur untuk meminta patik.
Di kamar mandi tampak Yani sedang mencuci piring. Kosim bangga juga melihat sang istri tak bermanja-manja meski dia anak orang kaya.
Setelah mendapat patik, Kosim pun mulai mengerahkan segala tenaganya untuk memulai beraktivtas membelah bongkahan kayu bakar gelondongan dengan hati-hati.
Membelah kayu gelondongan dengan patik memang membutuhkan bukan saja tenaga ekstra untuk mengayunkan patik setinggi-tingginya agar menancap tajam ke batang kayu, tetapi juga butuh konsetrasi yang prima biar patik tidak meleset yang bisa-bisa kena kaki.
Namun Kosim bukan baru bertama kali membelah kayu bakar seperti itu, sejak ayahnya meninggal, dialah yang menjadi tulang punggung ibunya untuk memenuhi kayu bakar agar hawu (tungku) di dapur emaknya tetap menyala.
Kayu bakar gelondongan sepanjang satu meter setengah itu akhirnya berhasil diurai Kosim. Lalu dikumpulkan dan dibawa ke dapur.
"Oalah ini kayu bakarnya bagus-bagus, bisa masuk tungku ngepas. Jadinya banyak. Kalau hasil mematik si Abah masih besar-besar, sesak di dalam tngkunya." puji Ambu Usih melihat kayu bakar hasil mematik Kosim.
"Kebetulan saja tenaganya masih kuat Ambu. Kalau sudah tidak kuat mah Kosim juga mungkin hanya mampu mematik sedikit," ujar Kosim sembari tersenyum.
"Ya udah terima kasih ya Den. Silakan istirahat aja, nanti sebentar lagi ngopi jagung rebus," timpal Ambu Usih.
"Jeng udah cuci piringnya, ayo istrahat dulu, capai!" kini Ambu Usih mengingatkan Yani yang sedari tadi masih di dapur membantu Ambu Usih. Ada saja yang dikerjakannya.
Kosim pun akhirnya menyimpan patik ke dapur setelah semua kayu bakar hasil mematiknya disimpan di para-para dapur biar menjadi lebih kering karena terkena asap tungku dan ketika digunakan tak sulit menyalakannya.
***
Di tempat lain seorang perempuan tengah berjalan dengan langkah kaki agak dipercepat seolah ingin segera sampai di tempat yang akan ditujunya.
Tangan kanan si perempuan setengah baya itu mengepal seolah sudah siap ditonjokkan kepada orang yang akan ditemuinya, lalu orang itu terjengkang dan memohon ampun berkali-kali agar jangan terus disiksa.
Jika sampai terjadi hal itu, si perempuan itu akan merasa puas meski tujuan utamanya bukan menyiksa dia, melainkan akan menyiksa orang yang telah membuat luka hatinya selama ini.
Padahal jarak antara rumah dia dengan tempat yang akan dituju tidak begitu jauh ada sekitar satu atau setengah kilo meter, namun rumahnya menjorok ke dalam dekat sawah, tetapi dirasakan oleh si perempuan itu langkahnya lama untuk sampai ke tempat tujuan.
"Sutiah, Sutiah, Sutiah, keluar kauuuuuuu.....!" teriak si perempuan itu setelah sampai di tempat yang dituju.
(Bersambung)